Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Kepulangan Rinaldy


__ADS_3

Wina yang hari ini libur kuliah, di tugaskan untuk menjemput kakaknya Rinaldy di bandara.


"Koq aku sih Ma yang jemput, sopir kan ada", protes Wina.


"Sopir kita lagi banyak kerjaan jadi karena kamu libur kamu saja yang jemput", ujar sang mama.


"Taksi banyak, Wina malas Ma", tukas Wina.


"Wina kamu perhitungan banget jadi orang, yang mau di jemput itu kakak kamu bukan orang lain, ngerti!", kata sang mama dengan suara sedikit tinggi.


"Iihh mama, iya udah Wina jemput sekarang", kata Wina sambil ngedumel.


Wina menjemput sang kakak di bandara. Walau sempat membantah tapi perintah sang mama masih tetap di laksanakannya juga.


Wina tiba di bandara. Di lihatnya sang kakak sudah menunggu di sana.


"Halo cantik", kata Rinal pada adiknya Wina.


Wina langsung lari menghambur dalam pelukan sang kakak.


"Kakak kangen dengan kamu", kata Rinal seraya mengucek rambut Wina.


"Aku juga, pesanan aku ada kan?", kata Wina langsung.


"Ada dong, yang spesial buat adik kakak yang cantik jelita mewangi sepanjang hari", canda Rinal.


"Aseekk", kata Wina manja.


"Kenapa lama jemputnya?", kata Rinal seraya mengangkat kopernya ke bagasi mobil.


"Biasalah, kota ini tak akan luput dari pemandangan macet. Jadi ya gitu deh, telat", kata Wina membantu sang kakak memasukkan barang-barangnya ke mobil.


"Oh gitu, ya sudah yuk kita let's go", kata Rinal.


"Kakak ya yang nyetir, aku ingin santai", kata Wina.


"Baiklah", kata Rinal.


Wina memberikan kunci mobil kepada Rinal. Rinal menerimanya. Mereka menaiki kendaraan dan Rinal mulai melajukan kendaraannya menyusuri jalan hitam yang panjang.


"Wah anak mama dah sampai", kata Liana sang mama ketika melihat kedatangan anaknya Rinal.


Rinal memeluk mamanya. Kerinduan yang selama ini tersimpan akhirnya terbayarkan. Pak Harto membawa barang-barang Rinal ke kamar yang empunya.


"Papa mana Ma?", tanya Rinal setelah tak melihat papanya di situ.


"Mungkin di belakang, papamu sekarang rajin tanam menanam", kata Liana.


"Lah mau ada acara sempat-sempatnya berkebun, gimana sih?", tanya Rinal.


"Kita kan acaranya di gedung bukan di rumah, jadi tak ada persiapan khusus yang kita lakukan. Semua pihak gedung yang urus", kata sang mama.


"Kakak mana?", tanya Rinal menanyakan keberadaan Jimmy.


"Di rumahnya", kata sang mama.

__ADS_1


"Lah trus mbak Nina gimana Ma?", tanya Rinal penasaran.


"Dengan kakak kamu. Prili di rumah orang tuanya", jelas Liana.


"Acara nanti gimana urusannya?pasti mbak Nina kan tahu juga nantinya", sela Rinal.


"Papamu ingin mereka berdua di sandingkan, tapi entahlah kita dengar dari kakakmu dulu, gimana ceritanya ", jelas Liana.


"Kakak kakak, cari istri koq kompoi", canda Rinal.


Rinal tertawa ringan. Wina hanya mengangkat kedua bahunya. Sedangkan sang mama senyum menyeringai.


"Mama juga sih orang sudah punya pilihan malah di jodohkan, gini nih jadinya repot urusannya", kata Rinal kecewa.


"Yang bodoh itu kakak kamu, ikan kakap ada malah nyantap ikan teri", sang mama bela diri.


"Kadang-kadang menyantap makanan itu juga harus ada selera makannya dulu mama, terus penyajiannya dan juga rasanya. Nah kalau ketiganya ada baru di sikat, lah kalau cuma tampilan doang, atau rasanya doang yang enak tapi tidak ada selera makannya, yaaa gimana mau dimakan, iya kan?", kata Rinal membela sang kakak.


"Kamu sekarang sudah pintar berdalih ya, sudah sana mandi dulu nanti baru makan. Mama siapkan makanan kesukaan kamu, ayam kecap dan sop iga", ujar sang mama.


"Wiiiihh pasti mantul, mau banget Ma", kata Rinal seraya mendekati meja makan.


"Eeiiitt mandi dulu sana", kata Liana.


"Laper Ma", kata Rinal manja.


"Gak boleh mandi dulu sana, bau!", kata Liana.


Mulut Rinal mencucuh. Wina tertawa renyah melihat sang mama dan kakaknya beradu mulut.


"Ada suara ribut-ribut, ada apa sih Ma?", tanya Purnama pada isterinya yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Oh iya lp kasih tahu papa, Rinal udah tiba di rumah", kata Liana isterinya.


"Rinal nya mana?", tanya Purnama lagi.


"Mandi", jawab Liana singkat.


"Halo papa", suara Rinal datang dari atas.


Purnama dan Liana saling pandang. Rinal turun dengan berlari. Dia ingin memeluk sang papa. Purnama merentangkan tangannya. Papa dan anak berpelukan bak Teletubbies.


"Mamamu bilang kamu mandi, cepat banget", ujar Purnama.


"Mandi itu melalukan air di tubuh, mubazir dong buang air banyak-banyak. Jadi buang airnya ala kadarnya saja", kata Rinal sambil terkekeh.


"Dasar! bilang saja kalau kakak memang jarang mandi", kata Wina mencibir.


Rinal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bagaimana kuliah kamu?", tanya Purnama pada Rinal anaknya.


"Mudah-mudahan tahun depan selesai Pa, sudah gak sabar pengen cepat selesai", ujar Rinal.


"Syukurlah, ayo Ma kita makan papa udah laper banget ini", kata Purnama.

__ADS_1


"Laah papa kan baru selesai tanam menanam, apa gak sebaiknya bersih-bersih dulu, mandi gitu", ucap Liana.


"Papa sudah cuci tangan pakai sabun, sudah bersih. Laper ini", kata Purnama seraya mengambil tempat duduk di kursi makan.


"Papa sama anak sama saja", kata Liana melirik suaminya dan Rinal anaknya.


Kedua lelaki kesayangannya itu hanya tersenyum. Liana geleng-geleng kepala.


Mereka mulai dengan ritual makannya. Rinal yang sudah lama tidak mencicipi masakan sang mama, kini makan dengan lahapnya. Seperti dua hari tidak makan. Wina bengong melihat cara makan sang kakak.


"Enak Ma, mantul", kata Rinal sambil terus menyantap makanan tersebut.


"Kamu kenapa gak makan Win?", tanya sang papa yang melihat Wina hanya memegang sendoknya.


"Sepertinya melihat cara makan kakak perutku jadi kenyang mendadak", ucap Wina.


"Bilang saja kalau kamu malu sama kakak", kata Rinal pada Wina.


"Aku sih makannya gak banyak, cuma porsinya sering ", ujar Wina.


"Itu sih sama saja, cuma bedanya elu bertahap", kata Rinal.


"Beda lah", kata Wina membantah.


"Sudah sudah makan saja gak usah ribut, gitu aja di permasalahkan ", ujar sang mama.


Rinal dan Wina terdiam. Wina mulai ritual makannya. Sedangkan Rinal makannya terus berlanjut.


Tak ada suara lagi di meja makan, cuma ade dentingan sendok dan piring yang terdengar. Mereka menyelesaikan ritual makan mereka. Rinal yang paling lama makan, akhirnya selesai juga. Dia memegangi perutnya yang terasa penuh.


"Masakan mama memang tiada tandingannya, top markotop. Terima kasih Ma, pelanggan puas", canda Rinal.


"Mama gitu lho", ujar sang mama menanggapi candaan Rinal.


Rinal memang anaknya suka bercanda, bersenda gurau. Ada-ada saja bahan obrolan atau sekedar candaan yang di lakukannya. Suasana akan selalu hidup kalau ada Rinal. Beda sekali dengan Jimmy yang tak banyak bicara dan keras kepala.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku sayang.


Jangan lupa beri likenya. Komen positifnya selalu di nanti. Votenya tolong di bantu ya.


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


"

__ADS_1


__ADS_2