Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Judes


__ADS_3

Seperti janji dokter, Prili akhirnya keluar dari rumah sakit. Prili sangat senang akhirnya dia bisa menjauh dari gedung serba putih tersebut. Rumah sakit membuatnya tambah sakit. Tidak bisa kemana-mana. Semua serba tidak boleh.


"Akhirnya, senang banget bisa keluar dari tempat ini Ma", ucap Prili.


"Tapi ingat pesan dokter kamu itu tidak boleh capek, tidak boleh stres atau banyak pikiran dan yang pasti jatuhnya jangan terulang lagi, hati-hati setiap ada kegiatan", jelas sang mama.


"Iya Ma pastilah", ucap Prili.


"Besok kamu akan bersanding, jadi kamu butuh perawatan", ujar sang mama.


"Tapi Ma kondisi Prili belum fit betul Ma', bantah Prili.


"iya tapi kamu harus perawatan loh biar segar", kata mamanya.


"Seseorang akan tetap cantik di tangan orang yang terampil dan profesional, begitu juga dengan Prili. Yang penting sekarang aku mau istirahat dulu ", kata Prili seraya merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.


"Iya udah deh terserah kamu, kalau begitu mama tinggal dulu ya", ujar sang mama.


Prili hanya mengangguk. Hanny keluar dari kamar Prili.


"Anak itu memang keras kepala, hhhh..", kata Hanny seraya menghela nafasnya.


*****


Rinal jalan-jalan menikmati suasana sore harinya. Sudah lama dia tidak jalan-jalan melihat hiruk pikuknya suasana kota.


Rinal melajukan kendaraannya sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Rinal ikut bernyanyi mengiringi lantunan lagu di mobilnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Rinal memperlambat laju kendaraannya. Di lihatnya ada yang menelpon di ponselnya.


"Wina", gumam Rinal.


"Iya ada apa?",tanya Rinal langsung.


"Nanti beliin Wina bengkuang ya kak", ucap Wina.


"Aduh maaf ya adikku sayang, kakak tidak ke pasar ya, kakak hanya mutar-mutar doang ini", ujar Rinal.


"Iyaaaa kakak pelit amat sih ehh tapi di toko buah biasanya ada lho yang jual", ucap Wina cepat.


"Iya udah kalau ketemu toko buah nanti kakak beliin, mau berapa karung?", tanya Rinal bercanda.


"Kalau ada satu biji pun cukuplah", jawab Wina enteng.


"Susah payah nyari itu barang, belinya cuma satu buah?!", tanya Rinal.


"Iya perlunya cuma segitu", jawab Wina.


"Emangnya buat apa sih?", tanya Rinal heran.


"Udah beliin aja gak usah banyak tanya", jawab Wina seraya menutup teleponnya.


Rinal mengkerutkan alisnya. Rinal meletakkan kembali ponselnya di tempatnya.


Rinal terus melajukan kendaraannya.


"Mana nih toko buah, dari tadi belum lihat ada toko buah di sekitar sini", gumam Rinal.

__ADS_1


Rinal celangak celinguk mencari toko buah dari dalam mobilnya. Tiba-tiba ada seorang wanita menyebrang jalan tanpa melihat ke arah datangnya mobil. Wanita itu sama kagetnya dengan Rinal. Rinal mengerem mobilnya dengan cepat. Sedangkan si wanita tersebut karena kagetnya kantong plastik yang ada di tangannya terlempar. Buah jeruk lemon yang berasal dari kantong plastik wanita tersebut berhamburan kemana-mana.


Rinal memarkirkan mobilnya di sisi jalan. Rinal cepat turun membantu wanita tersebut.


"Kamu tidak apa-apa?", tanya Rinal pada wanita tersebut.


Wanita tersebut menatap wajah Rinal garang.


Rinal terpaku.


"Ala mak wajahnya cantik kali", batin Rinal.


"Hei bung jangan mentang-mentang pakai mobil, seenaknya saja kamu melajukan kendaraan", kata wanita itu kesal.


"Eeh iya maaf, nanti buahnya aku ganti saja. Kebetulan aku juga mau ke toko buah", ujar Rinal.


"Gak perlu, aku bisa beli sendiri",katanya ketus.


Wanita tersebut kembali menuju ke tempat toko buah. Untung jalan itu tidak terlalu ramai kendaraan. Jadi tidak membuat kemacetan.


Rinal cepat mengiringi langkah wanita tersebut menuju toko buah. Rinal melihat-lihat, matanya sedang mencari pesanan adiknya Wina. Rinal tersenyum.


"Untung ada", batin Rinal.


"Ini Pak sekalian bayarnya sama yang mbak ini", kata Rinal seraya memberikan satu ikat bengkuang dengan uang seratus ribuan.


Penjual buah menerima uang dan membungkus belanjaan Rinal.


"Ini kembaliannya ", kata penjual buah pada Rinal.


Wanita tersebut langsung putar badan setelah mengambil kantong berisi jeruk lemonnya. Rinal tak mau kalah. Rinal langsung menyambar kantong belanjaannya. Dia mengejar si wanita menyusulnya sampai keluar.


"Eiiitt tunggu dulu!", kata Rinal seraya merentangkan kedua tangannya.


"Mau apa lagi? urusan kita sudah selesai", katanya ketus.


"Kita belum kenalan, boleh tahu namanya siapa?", tanya Rinal hati-hati.


"Buat apa?", tanyanya penuh curiga.


"Iya kalau ketemu lagi kan enak tegur sapanya",kata Rinal memberi alasan.


"Rinaldy panggil saja Rinal", kata Rinal mengulurkan tangannya.


Si wanita hanya memandangi tangan Rinal.


"Marsya",katanya tanpa menyambut uluran tangan Rinal dan tanpa ekspresi.


"Boleh tahu di mana rumahnya?", tanya Rinal lagi.


Marsya tak menggubris lagi pertanyaan Rinal. Ia langsung menuju motor kesayangannya. Dan meninggalkan Rinal yang masih bengong di sana.


"Jual mahal, wanita menarik, penuh sensasi", gumam Rinal.


Rinal mengangkat kedua bahunya dan kembali ke mobilnya. Rinal melajukan kembali mobilnya. Baru saja beberapa meter dia melajukan mobilnya hampir saja dia menyerempet sebuah sepeda motor.


"Woii kalau gak bisa nyetir gak usah sok-sokan bawa mobil, ini jalan umum bukan punya pribadi", teriak pengendara motor tersebut.

__ADS_1


Rinal membuka kaca mobilnya. Dia tersenyum saat melihat pengendara yang ternyata seorang wanita.


"Iya maaf deh gak sengaja, apa ada yang rusak?", tanya Rinal sambil memperhatikan motor si pengendara.


"Otak kamu tuh yang rusak, main serobot aja jalur orang", kata si wanita sambil berlalu.


Rinal memoncongkan bibirnya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa iya otakku yang rusak?!kenapa juga hari ini berurusan sama wanita-wanita ya? cantik-cantik lagi tapi judes-judes ya", gumam Rinal.


Rinal kaget saat bunyi klakson di belakang mobilnya. Rinal baru tersadar kalau mobilnya di posisi di tengah jalan. Rinal cepat melajukan kendaraannya. Pulang!.


"Ini pesanan kamu", kata Rinal seraya melempar kantong plastik berisi bengkuang tersebut ke sofa di samping Wina.


"Terima kasih, tapi koq jutek gitu sih kak wajahnya, susah ya nyarinya?",canda Wina.


"Gara-gara itu tuh aku sampai dua kali berurusan dengan dua wanita, ribet", kata Rinal seraya pergi meninggalkan Wina di ruang tengah yang masih tak mengerti dengan ucapan Rinal.


Sementara itu Adel menggerutu setelah sampai rumah.


"Seenak jidatnya aja bawa mobil, emang jalan punya nenek moyangnya apa. Untung bebekku gak kenapa-napa", gerutu Adel sambil mengelus motor kesayangannya.


"Tapi sepertinya aku pernah lihat tuh orang, dimana ya?!", gumam Adel sambil mengingat-ingat.


"Aahh sudahlah mungkin aja ada yang mirip, kalau pernah ketemu pasti aku ingat", gumam Adel.


Adel masuk ke dalam rumah tanpa melihat kiri kanan lagi. Adel tak menyadari kalau sang ibu duduk di ruang tamu.


"Kalau masuk itu ucap salam ,main nyelonong aja", ucap Ratmi sang ibu.


Jantung Adel terasa copot. Suara sang ibu mengagetkannya.


"Ibu bikin kaget aja", kata Adel seraya menghampiri sang ibu.


"Pulangnya koq sore nak?", tanya sang ibu.


"Ada kegiatan tambahan tadi Bu, Adel mandi dulu ya bu, gerah...", kata Adel.


"Iya sudah mandi sana, bau!", kata sang ibu bercanda.


"Iyaa", kata Adel sambil berlalu.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku sayang. Jangan lupa kasih like dan komennya juga ya.


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2