
Kehamilan Marsya sudah memasuki trimester kedua. Itu artinya jenis kelamin pada sang orok sudah mulai terlihat. Seperti biasa Rinal menemani sang isteri untuk kontrol ke dokter kandungan. Dokter mengatakan kalau bayi yang sedang di kandung oleh Marsya adalah berjenis perempuan. Walau sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan keinginan sang mama tapi bagi Rinal dan Marsya sudah sangat bahagia karena bisa di karuniai seorang anak.
"Perempuan lagi perempuan lagi", ucap mama Liana di depan Marsya dan Rinal.
"Ma, kehamilan Marsya sudah suatu anugerah buat kami. Kami sudah sangat bersyukur karena akhirnya bisa memiliki seorang anak setelah sekian lama menanti. Bagaimana bisa mama bicara seperti itu?kami tidak mempermasalahkan mau itu laki-laki ataupun perempuan. Yang penting bagi kami itu sudah menjadi hal yang paling terindah buat kami berdua", ucap Rinal sedikit kesal dengan kelakuan sang mama.
"Iya mama tahu Nal. Mama ngerti tapi mama cuma pingin keluarga ini mempunyai penerus dan kamu tahu bahwa yang laki-laki itu lebih bisa diandalkan daripada perempuan", ucap sang mama lembut, tapi bagi Marsya kata-kata sang mertua merupakan pukulan baginya.
Sang mama pergi begitu saja setelah berkata demikian. Marsya duduk di sofa dengan mata sudah berlinang airmata. Rinal berusaha menghibur sang isteri dengan memeluknya.
"Tak usah dengarkan omongan mama. Dia lagi terobsesi saja dengan cucu laki-laki. Nanti juga normal kembali", ucap Rinal seraya mengelus punggung sang isteri.
Tangis Marsya akhirnya pecah juga. Ia menangis dalam pelukan sang suami. Hatinya begitu pilu. Airmata yang tadi di bendungnya akhirnya tumpah juga.
"Sudah jangan menangis, mas jadi ikut sedih kalau kamu begini", ucap Rinal seraya melerai pelukannya dan menghapus air mata Marsya yang masih mengalir.
"Mas, sebaiknya kita cari rumah. Kita pindah aja dari sini. Aku tidak apa-apa walau harus mengontrak. Aku tidak mau anak kita ikut stress gara-gara suasana hatiku yang tidak baik. Itupun kalau mas setuju", ucap Marsya sambil menyeka airmatanya.
"Nanti kita pikirkan lagi. Yang penting kita ke kamar dulu", ajak Rinal.
"Mau ngapain?aku sumpek di kamar terus", ucap Marsya.
"Kamu tahu kamu tambah cantik sekarang, aku suka gak tahan kalau sudah lihat wajah cantik kamu", bisik Rinal di telinga Marsya.
"Gombal sotong", jawab Marsya.
"Sotongnya enak lho", balas Rinal.
Marsya dengan masih sedikit menangis memukul gemas punggung Rinal. Rinal menangkap tangan Marsya dan menggandeng tangan Marsya menuju kamar mereka. Selanjutnya hanya mereka yang tahu apa yang mereka kerjakan di dalam kamar terkunci.
****
Nina mendapat telepon dari mama mertuanya. Nina yang lagi mau tidur siang di samping si Iza, cepat mengambil ponselnya dan menjauh dari Iza. Takutnya Iza terbangun karena mendengar suara ponselnya.
"Iya ma ada apa ma?", tanya Nina setelah tersambung dengan sang mama mertua.
__ADS_1
"Mana Jimmy ponselnya gak aktif?', tanya mama Liana.
"Katanya tadi mau ketemu klien ma. Ada apa ma?nanti ku sampaikan", jawab Nina.
"Kalian sudah tahu belum kalau anak Rinal berjenis perempuan?", tanya mama Liana.
"Belum ma. Baru tahu dari mama inilah. Emang kenapa ma?", tanya Nina penasaran.
"Bilang ke Jimmy kalau mama mau cucu laki-laki dari dia", ucap mama Liana.
"Tapi gimana caranya ma?kami sudah berusaha tapi belum dapat-dapat juga ", kata Nina.
"Mama tak mau tahu gimana caranya. Yang jelas kalian harus memberi mama cucu laki-laki", kata mama Liana seraya menutup obrolan mereka.
Nina mengerutkan alisnya. Ia kembali ke tempat tidur dan berbaring di sebelah Iza. Pikiran Nina menerawang. Ia tidak habis pikir dengan mama mertuanya yang sangat menginginkan seorang cucu laki-laki. Nina mencoba menghubungkan Jimmy. Ternyata ponsel Jimmy memang tidak aktif.
" Abang kemana ya?kenapa ponselnya tidak aktif", batin Nina.
Lama berpikir yang tidak jelas akhirnya Nina tertidur di samping si imut Iza.
"Abang udah pulang. Abang dari mana?",tanya Nina seraya membenahi posisi tidurnya.
"Tadi pagi kan sudah abang bilang sama kamu kalau pagi tadi mau ketemu klien", jawab Jimmy.
"Kenapa ponselnya gak aktif?", tanya Nina lagi.
"Masa sih?coba ambil ponsel abang di dalam tas itu. Abang gak memperhatikannya", kata Jimmy.
Dengan agak malas Nina mengambil ponsel suaminya Jimmy di dalam tas kerjanya. Untuk memastikannya Nina memencet tombol samping dan menyentuh layar ponsel Jimmy. Ternyata memang ponselnya mati.
"Mati bang", kata Nina.
"Coba kamu charger", ucap Jimmy pada Nina.
Nina mencharger ponsel Jimmy dan benar saja ponselnya lowbatt. Nol persen.
__ADS_1
"Benarkan lowbatt", kata Jimmy.
Nina mengangguk.
"Tadi mama telepon katanya ponsel kamu nggak aktif. Mama langsung telepon ke aku", kata Nina seraya kembali rebahan.
"Ada apa mama nelpon?", tanya Jimmy seraya memiringkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan tangannya.
"Mama ngasih tahu kalau anak yang di sedang kandung Marsya berjenis kelamin perempuan", kata Nina tanpa memandang wajah Jimmy.
"Lha terus masalahnya apa?", tanya Jimmy.
"Mama ingin cucu laki-laki dari kamu karena Rinal anaknya perempuan", ucap Nina memandang tepat bola mata Jimmy.
Jimmy tertawa. Dan tawa Jimmy membangunkan si imut Iza yang tadi tertidur dengan pulas. Iza duduk dan memandangi mama dan papanya yang berbaring di kiri dan kanannya. Jimmy menghentikan tawanya. Iza kembali berbaring dengan posisi menelungkup.
Jimmy mengangkat tubuh gembul Iza dan membetulkan posisi tidur Iza. Jimmy memeluk gadis kecilnya tersebut. Iza juga memeluk papanya. Nina menghela nafasnya. Ia heran melihat Jimmy yang tidak menghiraukan ucapan mamanya. Jimmy terlihat santai, tidak ada beban dengan perkataan mamanya yang menginginkannya cucu laki-laki dari mereka.
"Bang kita harus bagaimana?", tanya Nina yang melihat Jimmy mulai memejamkan matanya.
"Kita akan buatnya nanti malam", sahut Jimmy dengan santai.
"Bang", kata Nina memanggil Jimmy.
Tak ada sahutan lagi dari Jimmy. Iza kembali tertidur dalam pelukan Jimmy. Dan Jimmy pun akhirnya ikut tertidur. Nina kembali menghela nafasnya secara kasar. Jimmy benar-benar tidak perduli dengan kata-kata mamanya. Dia tertidur. Terlihat wajah lelahnya. Nina tak berani lagi komentar. Ia membiarkan Jimmy beristirahat. Suara nafas Jimmy yang teratur menandakan kalau dia sudah tertidur dengan nyenyaknya.
.
.
.
.
Lanjut lagi bacanya ya readersku. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya..
__ADS_1
Salam bahagia selalu...