
Pagi itu Rinal sengaja mendatangi kantor kakaknya Jimmy. Dia ingin menjumpai Marsya di kantor sang kakak. Rinal sepertinya sudah kepincut hatinya dengan sekretaris sang kakak.
"Aku harus menemui dia terlebih dahulu sebelum kembali ke luar negeri", gumam Rinal sambil melangkahkan kakinya menuju ruang sang kakak.
Marsya melihat ada orang yang datang langsung menyapa.
"Siang p..", kalimat Marsya tidak bisa berlanjut ketika ia melihat siapa yang datang.
"Hai", sapa Rinal langsung.
"Mau ketemu bos ya?dia lagi tak mau di ganggu", kata Marsya sigap.
"Siapa bilang mau ketemu bos kamu, aku mau ketemu sama situ", kata Rinal tanpa basa-basi.
"Aku?mau ngapain?masalah kita sudah selesai ", ujar Marsya bingung.
Rinal maju mendekati meja kerja Marsya.
"Urusan kita masih berlanjut", kata Rinal setengah berbisik.
"Jangan macam-macam ya, aku bisa laporkan kamu ke atasanku", kata Marsya dengan mundurkan kursinya sedikit ke belakang.
"Hei santai gak usah panik, aku cuma memberi tahu padamu bahwa urusan kita belum selesai", ujar Rinal.
"Apa maksud kamu?", tanya Marsya tak mengerti.
"Dengar, kamu sudah membuat kesalahan besar padaku, aku mau kamu sedikit berbaik hati padaku", kata Rinal sedikit berbelit.
"Hei bung yang salah itu kamu, kamu yang hampir menabrak aku. Kenapa aku yang jadi salah?!", Marsya Protes.
"Karena kamu telah menjerumuskan aku", kata Rinal lagi setengah berbisik.
"Hei bocah, kamu jangan cari masalah di sini, silakan keluar. Aku akan teriak kalau kamu macam-macam", kata Marsya mulai terusik.
"Jangan kencang-kencang dong, gak cocok sama wajah kamu yang lucu", kata Rinal menggoda Marsya.
Mendengar ada suara di luar, Jimmy menjadi penasaran. Dia pun keluar dari ruangannya.
"Ada apa ini?", tanya Jimmy bingung.
"Kakak", ucap Rinal refleks.
"Kakak?", batin Marsya tak mengerti.
"Rinal?ngapain kamu kemari, bukannya sore ini kamu berangkat ke luar negeri", tanya Jimmy.
"Kan sore nanti berangkatnya, sekarang aku masih ada urusan", kata Rinal santai.
"Urusan apa? kamu kenapa ada di sini?", tanya Jimmy seraya melirik Marsya yang salah tingkah.
__ADS_1
"Pak Jimmy permisi saya mau ke toilet sebentar", kata Marsya.
Jimmy mengangguk. Melihat Jimmy mengangguk, Marsya cepat-cepat berlalu dari hadapan Jimmy dan Rinal.
"Ada urusan apa kamu kemari?", tanya Jimmy mengulang pertanyaannya pada Rinal.
"Beberapa hari yang lalu aku hampir menabrak seorang gadis, setelah itu aku kembali bertemu dengan gadis tersebut di acara resepsi pernikahan kakak dan aku baru tahu kalau gadis itu adalah sekretaris kakak", kata Rinal panjang lebar.
"Sepertinya Marsya baik-baik saja. Jadi maksud kedatangan kamu kemari mau ngapain?", tanya Jimmy.
"Itu masalahnya kak, aku tak tahu harus bilang apa ke dia", kata Rinal.
"Bilang aja minta maaf, kasih uang ganti rugi selesai ", kata Jimmy enteng.
"Baiklah aku nyusul dia ke toilet saja, bye kak", kata Rinal sambil berlalu.
Jimmy hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya. Jimmy kembali ke ruangannya.
Rinal menuju toilet. Baru saja dia datang, terlihat Marsya keluar dari kamar kecil tersebut. Melihat Rinal datang, Marsya cepat mengambil langkah seribu tapi sayang aksi Marsya kalah cepat dengan Rinal. Rinal cepat menghadang Marsya.
"Tunggu Marsya! please jangan menghindari aku, aku tidak untuk menyakiti kamu, aku hanya..", Rinal tak meneruskan kalimatnya.
"Hanya apa?hanya ingin memberi tahu bahwa kamu adik seorang pengusaha terbesar di kota ini, dan kamu bisa berbuat semau kamu gitu iya?!", tanya Marsya.
"Marsya dengar, aku kemari ingin mengatakan sesuatu pada kamu, entah ini terlalu cepat atau ini mungkin lelucon bagi kamu tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku jatuh cinta sama kau", kata Rinal langsung.
Marsya tercengang. Dia tak menyangka Rinal akan berkata seperti itu padanya. Bagaimana mungkin, Rinal adalah adik bosnya dan lagi pula Rinal lebih muda darinya.
"Mungkin ini lucu bagimu tapi aku serius, aku sudah menyukaimu sejak kejadian waktu itu", kata Rinal lagi.
Marsya menghentikan tawanya. Sekarang wajahnya berubah serius.
"Hei bocah, kamu itu salah sasaran. Aku ini cuma sekretaris dan aku ini lebih tua dari pada kamu, jangan sembarang kalau ngomong. Udah aahh aku mau balik ke ruanganku, minggir!", kata Marsya menganggap Rinal hanya bercanda dengannya.
Rinal cepat menyambar tangan Marsya.
"Aku tidak sedang bercanda Marsya, pandang aku. Aku tulus", kata Rinal.
Marsya menatap mata Rinal. Ia ingin mencari kebenaran di sana.
"Pulanglah, katanya kamu mau balik ke luar negeri, pergilah", kata Marsya mengelak.
"Katakan padaku kalau kamu juga suka padaku ", kata Rinal menggugat.
"Perjalanan kamu masih panjang, aku juga pengen santai dulu, belum mau terikat. Pulanglah, kamu perlu persiapan untuk berangkat ke luar negeri ", kata Marsya.
"Boleh aku minta nomor ponsel atau WhatsApp kamu?", tanya Rinal.
"Atau kalau kamu masih takut tak apalah, aku bisa minta sama kakak nanti", ujar Rinal lagi.
__ADS_1
"Silakan simpan, biar aku sebutkan", kata Marsya akhirnya mengalah.
Marsya menyebutkan nomor ponselnya. Rinal pun menyimpannya.
"Baiklah sudah ku simpan, sore ini aku berangkat. Doain ya biar selamat sampai tujuan. Dan kalau aku dah sampai aku akan telepon kamu", kata Rinal.
"Iya udah hati-hati ya", kata Marsya.
Rinal mengacungkan kedua jempolnya. Rinal pulang dan Marsya kembali ke ruang kerjanya
Marsya duduk termenung mengingat kata-kata Rinal. Seumur-umur baru kali ini ada laki-laki yang berumur lebih muda darinya sanggup menyatakan cinta padanya yang usianya lebih muda tersebut.
"Aku sih senang banget ada laki-laki ngucapin cinta padaku tapi gak brondong juga kalee", ucap Marsya.
"Gimana kalau ku tolak saja? bagaimana kalau dianya nekad?tambah panjang urusan",gumam Marsya.
Marsya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Anak bau kencur", gumam Marsya.
"Siapa yang bau kencur?", tanya Tika yang tiba-tiba ada di dekat Marsya.
Marsya kaget bukan alang kepalang. Kehadiran Tika yang tiba-tiba membuat jantung Marsya seakan copot dari tempatnya.
"Tika bikin kaget orang saja", celetuk Marsya.
"Kamunya yang asik melamun, sampai-sampai kehadiranku saja kau tak tahu", kata Tika.
Marsya masih mengelus dadanya.
"Lagian anak siapa sih yang bau kencur?", tanya Tika penasaran.
"Ahh sudahlah tak usah di bahas, ngomong-ngomong kamu kenapa kemari?", tanya Marsya.
"Mau nemuin bos, mau bilang kalau gudang kita yang lama sepertinya gak cukup lagi. Perlu penambahan gudang sepertinya", kata Tika.
"Iya udah sana, temui bos. Kalau nemui aku pasti tak ada Ujungnya", ujar Marsya sambil terkekeh.
"Iya deh, aku masuk dulu ya ke ruangan bos", kata Tika.
Marsya membentangkan telapak tangannya menunjuk ke arah ruangan bos mereka.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya readers ku sayang.
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku lainnya ya:
Masih Ada pelangi (tamat).