
Dua hari berada di kediaman Wibowo membuat Jimmy merindukan Nina. Nina sengaja tidak menghubungi Jimmy karena ia mengira pasti Prili masih membutuhkan Jimmy.
"Hari ini aku pulang dulu ya. Besok atau malam nanti kesini lagi", kata Jimmy pada Prili.
"Aku kan masih sakit mas, masih butuh kamu", rengek Prili.
"Iya tapi aku mau pulang bentar. Mama kan ada. Mau ke kantor juga nanti. Sudah seminggu gak ke kantor pasti Marsel butuh aku", kata Jimmy.
"Kantor apa Nina?", Prili mulai kesal.
"Kamu kenapa sih? cemburu sama Nina?", tanya Jimmy.
"Iya udah kalau mau pulang pulang aja sana",ucap Prili kesal.
"Jangan marah gitu dong, hilang tuh cantiknya", goda Jimmy.
"Udah pergi sana!", usir Prili.
"Baik aku pergi dulu ya, senyumnya mana?dikit aja", goda Jimmy lagi.
"Bodoh", kata Prili sengit.
Jimmy mencium kening Prili untuk menenangkan wanitanya itu. Prili hanya diam.
"Jangan lupa minum obatnya biar cepat sembuh", kata Jimmy lagi.
Prili hanya mengangguk. Jimmy meninggalkan Prili di kamarnya. Prili sangat sedih. Hatinya memberontak. Lagi sakit seperti ini harus di tinggal suami demi menjumpai isteri yang lainnya.
"Harusnya dia juga mati saat itu bukan hanya janinnya", gumam Prili.
"Siapa yang mati?", tanya Jimmy yang tiba-tiba masuk kembali kedalam kamar.
Prili bagai di sengat kalajengking ketika mendengar suara Jimmy kembali.
"Koq balik lagi mas?", tanya Prili gugup.
"Ponselku ketinggalan. Kamu tadi ngomongin siapa?",tanya Jimmy sambil menggenggam ponselnya.
"Iya ngomongin aku lah mas. Harusnya aku juga ikut bersama anakku biar tidak seperti ini. Sendirian. Anak hilang, suami juga pergi ", gerutu Prili.
"Ngomong apa sih?sudah jangan aneh-aneh. Istirahat, makan, minum obat. Biar cepat sembuh. Jangan banyak pikiran. Kalau kamu cepat sembuh kita bisa bikin lagi", kata Jimmy.
"Bikin apa sih?", tanya mama Hanny yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Eh mama. Ini ma aku mau pulang dulu. Titip Prili ya ma. Bilangin dia nya ma, jangan banyak pikiran biar cepat sembuh ", kata Jimmy.
"Iya sayang suami kamu benar. Jangan banyak pikiran. Istirahat saja biar cepat sembuh", ujar mama Hanny.
"Dengar tuh apa kata ma, iya udah ya ma Jimmy pamit dulu ", kata Jimmy seraya mencium punggung tangan mama mertuanya.
"Iya hati-hati ", ucap mama Hanny.
Jimmy keluar dari kamar Prili. Prili berpikir keras.
"Dia sepertinya gak dengar tadi. Kalau dia dengar bisa panjang urusannya", batin Prili.
__ADS_1
"Ini mama buatin sop kesukaan kamu. Kamu harus banyak makan biar cepat sembuh", kata sang mama.
Prili hanya menatap sop yang di pegang sang mama. Mama Hanny segera menyuapi Prili.
"Ma biar Prili yang coba sendiri. Tapi makannya nanti. Mama letakin aja dulu di situ", kata Prili menunjuk meja kecil di samping mamanya.
"Oh tidak tidak tidak. Ini sop kalau udah dingin rasanya kurang sedap. Jadi harus di makan dalam keadaan masih hangat biar segar", ucap sang mama seraya mengulurkan sendok yang berisi sop ke mulut Prili.
Prili dengan agak malas menerima suapan dari sang mama.
****
Nina lagi asik duduk di tamannya sambil memainkan bunga yang ada di dekatnya. Nina menoleh ke depan saat ada suara mobil di sana. Nina tersenyum saat tahu siapa yang datang. Nina menyambut kedatangannya.
"Tumben duduk di luar", sapanya.
"Bosan di rumah terus. Abang juga sih nggak boleh aku ngapa-ngapain kan bosan. Aku ke toko juga gak boleh", kata Nina manja.
"Abang lakuin untuk menjaga anak kita, kamu lihat sendiri kan ulah Prili. Akibat terlalu aktif akhirnya...jadi turuti sajalah. Itu juga demi kebaikan kamu. Ayo ahh kita masuk. Abang rindu sama masakan kamu", kata Jimmy seraya menggandeng tangan Nina.
"Masakannya apa orangnya?", canda Nina.
"Dua-duanya", kata Jimmy gemas.
Nina masuk bersama suaminya Jimmy. Mbak Yuni senyum-senyum melihat Nina bergelayut manja di lengan Jimmy.
"Duh yang lagi kangen-kangenan", goda mbak Yuni.
"Ssttt!", Nina meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Mbak Yuni terkekeh.
"Mandi dulu deh, biar segar", ujar Jimmy.
Jimmy menggandeng tangan Nina menuju kamar mereka.
"Yang mau mandi kan abang, koq aku di bawa ke kamar", canda Nina.
"Aku sudah tiga hari gak masuk kamar, temani abang", kata Jimmy sekenanya.
Nina terpaksa mengiringi langkah Jimmy. Setelah tiba di kamar, Jimmy langsung menuju kamar mandi. Tak lama terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Sayang ambilin handuk dong. Tadi lupa bawa", kata Jimmy dari dalam kamar mandi.
"Bagaimana bisa mandi lupa bawa handuk. Ada-ada saja nih orang", gumam Nina.
Nina mengambilkan handuk Jimmy.
"Ini bang handuknya letakkan di mana?", tanya Nina.
"Letakkan di dalam, masuk saja gak di kunci, kalau abang keluar nanti basah", kata Jimmy lagi.
Nina menghela nafasnya. Nina membuka kamar mandi dan bermaksud meletakkan handuk di gantungan yang ada di dalam kamar mandi. Tiba-tiba tangan kekar Jimmy melingkar di pinggangnya yang sudah mulai berisi.
"Bang apa yang kamu lakukan?basah ini", kata Nina.
"Temani abang mandi ya", kata Jimmy pelan di telinga Nina.
__ADS_1
"Tapi aku sudah mandi bang", kata Nina menolak secara halus.
"Air kita banyak, mandi empat sampai lima kali sehari gak bakalan habis", kata Jimmy berseloroh.
"Iihhh abang ahh, udah ahh aku mau keluar ", kata Nina seraya melepaskan tangan Jimmy dari pinggangnya.
Jimmy tertawa senang melihat Nina yang mukanya bersemu merah. Nina keluar dari kamar mandi. Tawa Jimmy masih terdengar di dalam sana.
"Iiss dasar suami modus. Main nyosor aja. Basah kan jadinya", gerutu Nina.
Nina membuka bajunya yang basah dan mengambil baju yang lain sebagai gantinya. Nina tak menyadari kalau Jimmy sudah keluar dari kamar mandi.
"Kamu sengaja ya menggoda aku", kata Jimmy langsung memeluk Nina dari belakang.
Nina kaget. Nina bermaksud memakai baju yang sudah ada di tangannya.
"Gak usah di pakai, abang suka lihat kamu begini", kata Jimmy seraya memutar tubuh Nina agar berhadapan dengannya.
Jimmy memandangi Nina dari atas sampai bawah.
"Bang, malu haii", kata Nina seraya menutup dadanya dengan baju yang ada di tangannya.
Dalam keadaan masih memakai handuk, Jimmy menggendong Nina menuju tempat tidur. Nina di dudukkan di pinggir tempat tidur. Jimmy duduk di samping Nina. Jimmy mendekatkan wajahnya ke wajah Nina.
"Abang mau ngapain?", tanya Nina pura-pura tidak mengerti.
Jimmy berbisik di telinga Nina.
"Mau makan kamu", kata Jimmy dengan nafas yang mulai memburu.
Jimmy sudah tak tahan ketika melihat gunung kembar yang menyembul di depan matanya.
"Pemandangan indah, sayang kan kalau tidak di nikmati", bisik Jimmy.
Nina merinding. Nina menggeliat saat tangan kekar itu menyentuh daging kenyal tersebut.
Jimmy semakin liar. Namun Jimmy tetap hati-hati. Karena beda, saat ini Nina sedang berbadan dua.
Tangan Jimmy sudah bergerilya kemana-mana. Keduanya kini telah rebahan di tempat tidur. Tak ada suara lagi. Hanya nafas memburu yang terdengar. Kerinduan yang mendalam, terkikis sudah dalam untaian sentuhan kasih asmara.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku.
Salam hangat selalu.
Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).