Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Untuk orang yang suka cemburu


__ADS_3

Pernikahan Nova sangat meriah. Para tamu rata-rata di hadiri oleh orang-orang penting dari kalangan pejabat dan pengusaha sukses. Orang tua Nova adalah pengusaha sukses yang banyak di kenal oleh orang-orang yang punya kekuasaan.


Nova menikah dengan lelaki pilihan sang ayah yang merupakan anak seorang pejabat penting yang sangat berpengaruh dalam usaha sang ayah. Hadi Kusuma pemilik perusahaan Citra Lestari yang merupakan ayah dari Nova itu, sangat di segani oleh orang-orang penting. Kiprahnya di dunia bisnis tidak bisa di pandang sebelah mata. Maka tidak heran kalau di acara pernikahan Nova ini sangat ramai di penuhi oleh orang-orang penting dan terkenal.


Tanpa terkecuali Jimmy dan Nina juga turut hadir di acara tersebut. Dengan baju batik modern terbaru, Jimmy terlihat sangat gagah dan tampan. Sedangkan Nina dengan gaun berwarna hitam yang sedikit longgar, sedikit menyamarkan pinggang dan perutnya yang kini sudah mulai membuncit tapi tetap telihat cantik dan elegan.


"Bang, katanya si Nova di jodohin ya?", kata Nina setelah melihat sang pengantin yang kini duduk di singgasananya.


"Mungkin", jawab Jimmy singkat.


"Emangnya abang gak dengar atau baca berita tentang Nova?", tanya Nina lagi.


"Nggak", jawab Jimmy.


"Syukurlah ya bang, akhirnya Nova bisa menemukan pendamping hidupnya", kata Nina lagi.


"Setidaknya saingan kamu sudah gak ada", sahut Jimmy sambil terkekeh.


"Oohhh jadi waktu itu kamu memang suka ya sama dia", kata Nina mulai merajuk.


"Iya suka sih tapi kan cuma sebatas teman gak lebih", jawab Jimmy.


Nina diam. Jimmy tahu kalau Nina lagi kesal. Jimmy merangkul pinggang Nina. Namun Nina cepat menepis tangan Jimmy. Jimmy tak kehabisan akal, Jimmy merangkul bahu Nina sambil berbisik di telinga Nina.


"Sudah gak usah marah, malu di lihat orang", bisik Jimmy.


Nina diam tak berkutik. Jimmy tersenyum.


"Di kiranya aku ini anak kecil apa?!", batin Nina.


Jimmy fokus mengikuti acara demi acara. Sampai tiba pada akhirnya, dia melepaskan rangkulannya pada Nina untuk memberikan tepuk tangan pada kedua pengantin yang sedang melantunkan sebuah lagu.


"Senang banget sepertinya", gumam Nina sambil melirik Jimmy.


"Senang melihat orang senang itu wajar sayang, nahh takutnya susah melihat orang senang itu yang tak wajar", dalih Jimmy.


"Bilang aja kamu menikmati wajah Nova yang cantik itu", ucap Nina sembarang.


Jimmy beralih memandang wajah Nina. Wajahnya sedikit memerah mendengar ucapan Nina. Nina pura-pura tak tahu. Nina mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jimmy menahan kekesalannya. Jimmy menghela nafasnya dalam-dalam dan menghempaskan nafasnya secara kasar. Terdengar suara giginya yang gemeretak akibat giginya yang bertemu karena menahan emosinya.


"Sabar Jim, hormon isteri kamu lagi gak baik", batin Jimmy berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Tak lagi terdengar suara keduanya. Mereka diam seribu bahasa mengikuti alur pikiran masing-masing.


Acara akhirnya selesai. Tiba saatnya makan siang bersama. Jimmy menggandeng Nina menuju meja makan. Nina mengikuti langkah sang suami.

__ADS_1


Selesai makan, mereka bersalaman dengan pengantin.


"Terima kasih pak Jimmy, bu Nina atas kehadirannya", ucap Nova dengan senyum ramahnya.


"Selamat ya semoga langgeng", ucap Nina pada Nova.


"Aamiin. Kita foto dulu ya", kata Nova dan suaminya serentak.


"Nggak usah, takut nanti jadi selebritis", tolak Nina secara halus.


Jimmy hanya diam. Kemudian Jimmy dan Nina berlalu dari hadapan Nova dan suaminya. Mereka kembali ke mobil dan pulang.


Setiba di kamar, entah setan apa yang merasuki Jimmy. Setelah mengunci pintu kamar. Jimmy mendekati Nina. Dia membuka gaun Nina secara kasar. Nina sempat berontak.


"Bang, apa-apaan ini", protes Nina.


Dan dalam sekejap Nina telah polos tanpa pakaian. Dan tanpa ba-bi-bu Jimmy menggendong Nina dan di dudukkan di tempat tidur. Jimmy melepas pakaian bagian bawahnya saja. Lalu dengan ganas Jimmy meraup bibir Nina. Nina ingin protes tapi Jimmy tak memberi kesempatan kepada Nina. Tubuh Nina di rebahkan Jimmy.


Bak orang yang haus ****, Jimmy menelusuri setiap inchi tubuh Nina. Nina berusaha untuk melepaskan diri tapi kungkungan Jimmy terlalu kuat.


"Bang hentikan, ahhh..", Nina melenguh saat Jimmy menyentuh daerah sensitifnya. Tiba-tiba senjata Jimmy menyelusup masuk tanpa permisi. Nina kembali melenguh indah.


Jimmy langsung melakukan gerakan maju mundurnya. Nina tak bisa berbuat banyak, di samping perutnya memang sudah mulai membesar, tenaganya juga sudah tidak kuat lagi untuk berontak. Nina membiarkan Jimmy bermain sepuasnya. Setelah merasa puas Jimmy akhirnya menyerah juga, Jimmy melenguh panjang saat lahar panasnya menyebur ke dalam rahim Nina.


Jimmy terkulai lemas di samping tubuh Nina. Nina memiringkan tubuhnya menghadap kepada sang suami.


"Bilang aja masih mau", jawab Jimmy enteng.


"Sepertinya tadi ada yang kerasukan", kata Nina seraya bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


"Itu hukuman untuk orang yang suka cemburu", jawab Jimmy.


"Siapa juga yang cemburu, abang aja yang kegatelan", ucap Nina seraya masuk ke kamar mandi.


"Apa kamu bilang?", kata Jimmy berusaha mengejar Nina ke kamar mandi. Tapi Nina cepat mengunci pintu kamar mandi dan Jimmy tidak berhasil masuk.


"Buka pintunya sayang", bujuk Jimmy.


"Nggak akan", jawab Nina dari dalam.


"Ayolah abang juga mau mandi", kata Jimmy memohon.


"Modus", jawab Nina.


Terdengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Dengan langkah gontai Jimmy kembali ke tempat tidur. Baru saja Jimmy mau merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Jimmy mengambil ponselnya dan di sana tertera nama Rinal di layar ponselnya. Jimmy mengangkat telepon dari Rinal sang adik.

__ADS_1


"Iya Nal ada apa?", tanya Jimmy setelah tersambung.


"Kak, temani aku di rumah sakit ya, Marsya mau lahiran. Aku takut banget", kata Rinal dari seberang sana dengan nada cemas.


"Sekarang?", tanya Jimmy.


"Lah iya sekarang, emangnya tahun depan", kata Rinal.


"Iya sudah aku ke sana, rumah sakit mana?", tanya Jimmy.


"Rumah sakit dekat rumah", jawab Rinal.


"Iya sudah, aku kesana", kata Jimmy seraya menutup obrolan mereka.


Jimmy menuju kamar mandi.


"Sayang buka pintunya, abang mau mandi. Rinal nelpon katanya Marsya mau lahiran", kata Jimmy.


"Pasti modus lagi", kata Nina dari dalam.


"Nggaklah sayang, kita lanjut nanti malam aja tempurnya", kata Jimmy seraya mengetuk pintu kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka, Nina keluar dengan handuk melilit di tubuhnya. Jimmy dengan kejahilannya tak urung meremas buah dada Nina yang terbungkus handuk tersebut.


"Dasar ganjen", ucap Nina sambil berlalu.


Jimmy masuk ke kamar mandi dan tertawa mendengar ucapan Nina isterinya. Nina mengambil pakaiannya dan menyiapkan pakaian untuk Jimmy sang suami tercinta.


.


.


.


.


.


Lanjut lagi bacanya ya readersku sayang.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


Terima kasih banyak untuk yang sudah like dan komennya.


Mampir juga yukk ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2