Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Terlanjur


__ADS_3

Jimmy bangun dari tempat duduknya. Jimmy mondar-mandir dalam ruangannya. Beberapa kali Jimmy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Jimmy menggebrak meja kerjanya. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Pikirannya kalut. Dia tidak bisa berpikir jernih. Jimmy melihat ke arah luar jendela. Tatapannya nanar. Dia tidak menyadari kalau ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya. Dan memeluknya dari belakang.


"Apa aku bisa membantumu?", kata suara tersebut.


Jimmy kaget bukan alang-kepalang.


"Kau!apa yang kau lakukan di sini?", kata Jimmy gugup.


Jimmy menepis tangan orang tersebut dan mundur beberapa langkah.


"Koq kaget gitu?apa aku terlihat seperti hantu di mata kamu?", tanyanya seraya mendekat kembali ke arah Jimmy sehingga Jimmy tersudut ke dinding ruangannya.


"Prili please pergilah, aku tidak berminat bicara sama kamu", elak Jimmy.


Prili nekad merapatkan tubuhnya kepada Jimmy sehingga benda kenyalnya menyentuh dada Jimmy. Jimmy kaget. Darahnya berdesir. Bagaimanapun dia adalah lelaki normal.


"Apakah aku tidak menarik di mata kamu?",kata Prili seraya mengelus lembut wajah Jimmy.


"Prili hentikan keluar dari ruanganku!", bentak Jimmy seraya mendorong tubuh Prili secara kasar.


"Auuww", teriak Prili seraya memegangi bahunya yang terasa sakit akibat dorongan Jimmy yang sedikit keras.


"Sudah ku bilang keluar dari sini!", teriak Jimmy kesal.


Prili malah tertawa mendengar teriakan Jimmy.


"Silakan teriak biar semua orang tahu, aku akan bilang sama mereka bahwa kamu mau memeluk dan mencium aku", tantang Prili.


Jimmy menahan amarahnya. Mukanya terlihat merah padam. Jimmy menghela nafasnya dan bicaranya melunak pada Prili.


"Prili kamu wanita terhormat, kamu cantik dan pintar, carilah lelaki yang pantas untuk kamu", kata Jimmy kehabisan kata-kata.


"Apa kamu merasa tidak pantas untukku?", kata Prili seraya duduk di kursi depan mejanya Jimmy.


"Begini, aku saat ini sudah menikah dan sekarang Nina sedang mengandung anak aku, jadi berhentilah berharap padaku Prili, aku sudah berstatus suami orang", jelas Jimmy pada Prili.


Prili bagai di sengat kalajengking mendengar pengakuan Jimmy. Tiba-tiba air matanya jatuh membasahi pipinya yang putih bersih. Dada Prili terasa sesak. Hatinya hancur. Bagaimana tidak, lelaki yang sudah di jodohkan dengannya telah menikah dengan wanita lain. Dan sakitnya lagi wanita tersebut telah mengandung. Prili sangat kecewa. Ia sudah terlanjur mencintai Jimmy.


"Prili kamu tidak apa-apa kan?", tanya Jimmy panik melihat Prili yang terlihat lemah setelah mendengar pengakuannya.


"Aku terlanjur mencintaimu Jimmy, aku bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta, bagiku kamu sudah menjadi bagian hidupku, aku hanya ingin menjadi milikmu secara utuh bukan hanya karena perjodohan ini", kata Prili sambil menangis.


"Prili tolong hentikan, jangan menangis di sini", bujuk Jimmy tambah panik.


"Kalau kamu memang tidak mau menikah denganku, tolong temani aku untuk hari ini saja", pinta Prili.


"Emangnya kita mau ke mana?", tanya Jimmy tak mengerti.


"Bantu aku melupakan kamu", pinta Prili lagi.


"Tapi apa yang harus aku lakukan?", tanya Jimmy bingung.

__ADS_1


"Iya kemana saja, makan , minum, sekedar jalan-jalan gitu", kata Prili seraya menghapus air matanya.


"Baiklah tapi aku tak bisa lama-lama menemani kamu, Nina menungguku di rumah", kata Jimmy.


"Baiklah aku setuju", kata Prili.


Jimmy mengambil ponselnya dan mengajak Prili untuk keluar dari kantor.


"Kita ke pantai ya tapi sebelumnya mampir dulu ke apotik aku mau beli minyak atau apalah untuk menghilangan sakit di bahuku yang tadi kamu dorong", kata Prili setelah masuk ke dalam mobilnya Jimmy.


"Baiklah, oke aku minta maaf aku tidak sengaja", kata Jimmy seraya melajukan mobilnya.


Jimmy menghentikan mobilnya tepat di depan salah satu apotik yang terlihat di pandangannya.


"Ini apotiknya", kata Jimmy bermaksud untuk turun dari mobilnya.


"Tunggu saja di mobil, aku cuma bentar", kata Prili menghentikan Jimmy.


"Baiklah", kata Jimmy mengurungkan niatnya.


Dengan langkah pasti Prili menuju apotik tersebut. Tak butuh waktu lama Prili kembali ke mobil.


"Yuuk berangkat", ajak Prili serya tersenyum penuh arti pada Jimmy.


Tanpa menunggu, Jimmy melajukan kendaraannya menuju pantai yang di maksud Prili. Satu jam kemudian mereka sampai pada tujuan. Prili turun dari mobil di iringi oleh Jimmy.


"Ke sana yuk", ajak Prili pada Jimmy.


"Kamu yakin?lihat pantainya indah banget, kita ke sana ya, ingat janji kamu tadi", kata Prili mengingatkan Jimmy.


"Sial!nih anak banyak banget permintaannya", batin Jimmy.


"Iya deh tapi lihat tuh cuacanya mendung, apa tak sebaiknya kita cari tempat lain saja?", pinta Jimmy yang malas untuk memenuhi permintaan Prili.


"Gampang, kalau hujan kita bisa ke sana", kata Prili seraya menunjuk sebuah tempat istirihat untuk wisatawan.


Jimmy ikuti arah telunjuk Prili. Benar saja di situ ada tempat istirahat atau sekedar nongkrong untuk m areakan minum.


"Yuk ahh katanya jangan lama-lama, koq malah bengong", kata Prili seraya menarik tangan Jimmy. Jimmy yang dalam keadaan tidak siap akhirnya harus rela tangannya di tarik oleh Prili menuju bibir pantai.


Prili lari-lari kecil di ikuti oleh Jimmy. Jimmy terpaksa mengikuti kemauan Prili. Jimmy berharap setelah ini Prili akan melepaskannya. Dan rumah tangganya bisa terselamatkan.


Prili menjipratkan air ke wajah Jimmy. Jimmy kaget. Jimmy tidak mau pulang dalm keadaan basah. Nina pasti mencurigainya.


"Prili hentikan, kamu mau buat aku basah kuyup ya?", ujar Jimmy.


"Cuma gitu doang koq, tenang aja di sini banyak koq yang jual pakaian", kata Prili santai.


"Aku tidak mau Nina berprasangka buruk padaku nanti", kata Jimmy kesal.


"Iya iya", kata Prili menghentikan aktivitasnya.


Hari mulai gelap. Sepertinya hujan akan segera turun.

__ADS_1


"Prili sepertinya hujan akan segera turun, kita cari tempat untuk berteduh dulu", kata Jimmy.


"Kita ke sana saja", tunjuk Prili.


"Terserah kamu saja yang penting kita bisa makan dan beristirahat", kata Jimmy asal.


Prili tersenyum. Ia menarik tangan Jimmy dan menuju tempat tersebut.


"Mau minum dan makan apa mbak mas?" tanya pelayan di situ.


"menu andalan di sini pokoknya, minumnya yang hangat ya", kata Prili.


"Baik mbak", kata sang pelayan.


Prili mengajak Jimmy duduk di pojok. Jimmy seperti sapi di cucuk hidungnya. Menurut saja apa yang di mau oleh Prili. Jimmy memutar pandangannya. Prili memandang ke arah Jimmy. Jimmy pura-pura tak tahu.


"Apa yang sedang di pikirkannya?", batin Jimmy.


"Aku akan buat kamu berlutut padaku hari ini", batin Prili.


Lamunan keduanya buyar saat sang pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Silakan mbak mas di cicipi", kata sang pelayan sopan.


"Iya ma kasih ya", kata Prili.


"Mas toiletnya di mana ya?",kata Jimmy pada sang pelayan.


"Kanan kemudian belok kiri mas", jawab sang pelayan seraya menggerakan arah tangannya.


"Ohh okelah, terma kasih ya", jawab Jimmy.


Pelayan berlalu dari hadapan mereka.


"Aku ke toilet dulu ya bentar",kata Jimmy pada Prili.


"Jangan lama-lama ya", kata Prili.


Jimmy mengangguk. Jimmy menuju toilet sesuai arahan sang pelayan.


.


.


.


.


Bantu like, komen, votenya ya readers.


Selamat membaca ya, jangan lupa mampir ke karya ku yang lain:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2