Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Tersanjung


__ADS_3

Marsel malam itu tak bisa tidur. Badannya bolak-balik masih belum juga bisa memejamkan matanya. Marsel duduk dan menyenderkan tubuhnya. Marsel melihat jam di ponselnya, jam 23.00 waktu indonesia bagian barat.


"Jam sebelas, tumben nih mata gak bisa di ajak kompromi", gumam Marsel.


"Buka sosmed aja kali ya, kali aja ada obat tidurnya", gumam Marsel lagi.


Marsel membuka whatsappsnya.


"Naahh ini dia obat tidurnya", gumam Marsel setelah melihat Sofi sedang aktif.


Marsel mencoba menghubungi Sofi.


"Hai", sapa Marsel menelpon di WhatsApp nya.


"Hai juga", jawab Sofi.


"Koq belum tidur, nungguin aku ya?", goda Marsel.


"Ge-er amat jadi orang. Gak bisa tidur nih, mungkin efek tidur siang tadi kali ya. kamu sendiri kenapa gak bisa tidur?", tanya Sofi.


"Mungkin karena rindu sama kamu", goda Marsel.


"Mulai muncul deh sifat aslinya", ledek Sofi.


"Ehh di rinduin malah gak mau, entar nyesel loh", kata Marsel.


"Gak akan", kata Sofi singkat.


"Iya udah deh jangan sebel terus gitu sama aku, besok ada kerjaan gak?", tanya Marsel.


"Nggak ada, emangnya ada apa?", tanya Sofi.


"pengen ketemu sama kamu, lama gak ketemu",kata Marsel enteng.


"Jam berapa?", tanya Sofi.


"Besok kan libur, gimana kalau jam 10 pagi?", tanya Marsel.


"Pagi amat, jam makan siang aja ya, sekalian kamu bisa traktir aku", jawab Sofi sambil terkekeh.


"Okelah, awas jangan telat ya. Nanti aku telepon lagi", kata Marsel.


"Ashiaapp", kata Sofi.


Obrolan berakhir. Marsel meletakkan kembali ponselnya. Marsel menghela nafasnya.


"slSepertinya aku harus memikirkan masa depan, aku suka gaya Sofi. Dia orangnya apa adanya, cantik, baik juga gak neko-neko", gumam Marsel.


Marsel memejamkan matanya, tak lama akhirnya Marsel pun terlelap juga. Nafasnya mulai teratur. Menandakan tidurnya sudah sangat nyenyak.


*****


Seperti yang sudah di janjikan Marsel, dia dan Sofi sepakat untuk bertemu. Marsel menelpon Sofi kembali.


"Dah siap belum?udah jam makan siang nih, aku jemput ya?", tanya Marsel.

__ADS_1


"Udah", kata Sofi singkat.


"Iya udah aku jemput sekarang",kata Marsel.


Obrolan berakhir. Marsel menjemput Sofi di rumahnya. Setelah Marsel sampai, Sofi sudah menunggu di depan rumahnya. Marsel membukakan pintu mobil untuk Sofi. Sofi masuk dan Marsel melajukan kembali kendaraannya.


"Mau ke mana nih?", tanya Sofi membuka suara.


"Menurut kamu?", tanya Marsel.


"Koq balik nanya sih?", Sofi merengut.


"Iya kita makan dulu lah, setelah itu terserah kamu kita mau kemana", jawab Marsel tanpa mengalihkan pandangannya.


"Bolehlah", kata Sofi.


Marsel mengajak Sofi di tempat makan favoritnya. Marsel mengambil tempat yang strategis. Lokasi yang bisa melihat ke segala arah. Sofi menurut saja tanpa banyak protes. Rumah makan ala Italia tersebut tentu saja terlihat sangat indah. Penampilan gedungnya saja sudah membuat yang datang sudah sangat senang. Apalagi menu yang mereka sediakan, pastilah menu-menu istimewa. Sofi yang juga notabene anak orang berduit, sudah biasa makan di tempat mewah seperti ini. Tapi sebagai wanita yang hidup di ekonomi berkelas, tentu saja dia pandai membawa diri. Selalu bisa menempatkan diri di berbagai suasana.


"Mau makan apa?", tanya Marsel pada Sofi setelah menerima buku menu dari pramusaji


"Terserah kamu aja deh, apa pun yang kamu pesan aku pasti makan", kata Sofi.


Sebuah kalimat yang sederhana tapi sangat bermakna bagi Marsel.


"Baiklah kalau begitu", kata Marsel.


Marsel memesan beberapa makanan. Makanan istimewa di restoran itu. Pramusaji berlalu. Tak butuh waktu lama pramusaji tersebut datang kembali dengan membawa berbagai makanan di tangannya.


"Oke sekarang kita eksekusi makanannya", kata Marsel setelah makanan sudah selesai terhidang.


"Lucu banget lihatnya, cuek tapi romantis", batin Sofi sambil mengunyah makanannya.


Marsel melihat kepada Sofi, Sofi pura-pura mau mengambil tissue. Melihat itu Marsel segera membantu Sofi mengambil tissuenya.


"Kamu koq lambat banget makannya?", tanya Marsel sambil mengelap sudut bibir Sofi yang ada bekas makanannya. Sofi jadi malu di perlakukan Marsel seperti itu.


"Ayo di habiskan makanannya, atau mau aku suapin?", tanya Marsel enteng.


"Apaan sih?", kata Sofi dengan raut wajah bersemu merah.


Marsel tersenyum senang bisa menggoda Sofi. Marsel menghabiskan sisa makanannya. Di lihatnya Sofi masih makan makanannya. Sofi bermaksud menghentikan makannya setelah melihat Marsel telah salesai dengan makannya.


"Eiitt mau ngapain?habiskan dulu makannya,sini aku suapin ya", kata Marsel.


Marsel mengambil alih sendok di tangan Sofi. Sofi ingin menolak tapi dia tidak ingin Marsel kecewa, akhirnya Sofi mau di suapin oleh Marsel.


"Udah ahh makan sendiri aja, malu di lihatin orang tuh", kata Sofi seraya mengambil sendok dari tangan Marsel.


Sofi dengan sigap dan cepat menghabiskan makanannya.


"Romantis amat ni anak pantesan banyak yang kecantol", bisik batin Sofi.


Sofi mengambil tissue untuk membersihkan bekas makanan di bibirnya.


"Sini ku bantuin", kata Marsel mengambil tissue dari tangan Sofi. Marsel membersihkan bekas makanan di bibir Sofi dengan halus.

__ADS_1


Sofi terpana atas perlakuan Marsel. Hatinya merasa tersanjung. Baru kali ini Sofi di perlakukan mesra oleh seorang lelaki. Dulu waktu masih pacaran dengan kekasihnya, cowoknya tak seromantis Marsel. Marsel bukan kekasihnya saja bisa seromantis ini.


"Aahhh kamu mikir apa si Fi", batin Sofi pada dirinya sendiri.


"Udah bersih", kata Marsel enteng.


"I i iya ma kasih ya", kata Sofi tergagap.


Marsel malah tersenyum manis pada Sofi. Sofi balas tersenyum.


"Duhh mati aku, bisa kecantol kalau begini terus", batin Sofi.


"Yuuk kita keluar kalau udah selesai", kata Marsel pada Sofi.


Setelah membayar tagihannya, Marsel dan Sofi meninggalkan tempat tersebut.


"Kita kemana lagi?", tanya Sofi penasaran.


"ada dua pilihan sih, pantai atau nonton", kata Marsel menatap Sofi.


Sofi di tatap seperti itu jadi salah tingkah.


"Eee terserah kamu deh", kata Sofi mengalihkan pandangannya.


"Pantai ya, dah lama gak ke sana", kata Marsel.


"Boleh, aku juga dah lama gak kesana", kata Sofi.


Marsel menghidupkan mesin mobilnya. Dan perlahan melajukan mobilnya di jalan hitam tersebut.


"Emangnya kamu sering ke pantai?", tanya Marsel setelah lama berdiam.


"Nggak juga sih, itu pun rame-rame sama teman-teman aku", kata Sofi.


"Oohh kirain dengan pacar kamu", kata Marsel sedikit kesal


"Aku udah lama putus", kata Sofi.


"Loh kenapa?", tanya Marsel, pada hal di dalam hatinya dia sangat senang. Itu artinya ada peluang baginya untuk masuk ke dalam kehidupan Sofi.


"Gak apa-apa, gak jodoh aja", kata Sofi malas untuk membahas masalah pribadinya.


"Ohh gitu", kata Marsel tak mau memperpanjang cerita. Baginya Sofi sekarang harus bisa di taklukkannya. Jiwa playboynya bangkit kembali. Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia ingin menjadikan Sofi pelabuhan terakhirnya.


.


.


.


Tolong bantu like, komen dan vote nya ya readers yang baik hati.


Mampir juga ke karyaku yang lain;


Masih ada pelangi(tamat).

__ADS_1


__ADS_2