Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Rasa benci


__ADS_3

Jimmy menghela nafasnya. Dia mengangguk membenarkan ucapan papanya dan adiknya Rinal.


"Baiklah aku menuruti saran kalian tapi kalau terbukti dia melakukannya, aku tak akan tinggal diam lagi", ucap Jimmy emosi


"Yang penting urus Nina dan anak kamu, biar cepat pulih dan sehat", ucap sang mama.


"Iya ma", jawab Jimmy.


Saat mereka sedang berbincang-bincang, Bu Ratmi dan Adelia datang dengan setengah berlari.


"Bagaimana keadaan Nina, Jim?", tanya bu Ratmi pada Jimmy menantunya.


"Alhamdulillah baik bu, bayi kami belum sepenuhnya dikatakan sehat karena masih di dalam inkubator. Menurut dokter bayinya belum cukup umur sehingga perkembangan pada paru-parunya belum begitu sempurna. Tapi beratnya sudah mencapai berat normal. Mereka di ruangan terpisah. Nina belum bisa di jenguk", jelas Jimmy.


"Syukurlah. Yang penting keduanya dalam keadaan baik-baik saja. Semoga cepat membaik", ujar bu Ratmi sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.


"Dimana ruangan bayinya?ibu pingin lihat keadaannya", ujar bu Ratmi lagi.


"Di sebelah sana bu, mari kita kesana ", ajak Jimmy.


Mereka melihat keadaan bayinya Nina tapi mereka tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan. Jimmy, Rinal, Wina, Adel, bu Ratmi mertuanya dan kedua orang tuanya hanya bisa melihat bayi tersebut dari kaca jendela ruangan tersebut. Mata Jimmy berlinang. Rasa haru, bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.


Rasa haru dan bahagia karena anaknya terlahir dengan selamat walau harus masuk dalam kotak kaca. Sedih karena anak tersebut lahir dengan terpaksa dan kondisi Nina yang sangat lemah. Tapi Jimmy tetap bersyukur karena kedua orang terkasihnya selamat dan masih bisa menghirup udara segar.


Setelah menunggu beberapa jam akhirnya Nina siuman juga. Perawat memberitahukan kondisi Nina pada dokter yang menangani Nina. Setelah dokter tersebut memeriksa keadaan Nina, dokter tersebut tersenyum kepada Nina.


"Dokter gimana anak saya dok?",tanya Nina lemas.


"Anak ibu baik-baik saja. Anaknya perempuan, sangat cantik. Syukurlah ibu sudah sadar. Kondisi ibu sudah mulai membaik. Silahkan istirahat dulu, nanti usahakan bergerak biar badannya tidak terasa kaku", jawab sang dokter.


"Iya dok",ucap Nina.


Sang dokter dan perawatnya keluar dari ruangan Nina setelah memberi wejangan pada Nina. Di luar dokter bertemu Jimmy dan keluarganya.


"Bagaimana isteri saya dok?", tanya Jimmy.


"Isteri bapak sudah siuman, sekarang sudah bisa untuk ditemui. Oke silahkan kami permisi dulu",ucap sang dokter.


"Baik dok, terima kasih banyak dok", kata Jimmy.


Setelah dokter tersebut berlalu, Jimmy diikuti papa dan mamanya, Rinal dan juga Wina menemui Nina di ruangannya.

__ADS_1


"Bang, ibu, pa, ma, Ri...", ucap Nina tapi belum selesai Nina bicara sudah dipotong oleh Jimmy.


"Ssuuuttt jangan banyak bicara dulu, kamu baru saja siuman", ucap Jimmy.


"Syukurlah kamu sudah sadar, mama takut banget. Lihat kamu seperti sekarang ini mama sudah sangat senang", ucap mama Liana sang mama mertua.


Nina tersenyum. Wajahnya masih terlihat pucat. Melihat perhatian dan kasih sayang orang-orang yang dicintainya sangat besar padanya, Nina merasa sangat bahagia.


"Ibu sangat bersyukur kamu sehat dan anak kamu juga selamat. Ibu yang sudah tua ini sangat khawatir dengan kondisi kamu", ujar ibu Ratmi.


"Mbak Na juga sih kenapa juga perkedel itu di beri hati, mbak Na juga kan yang repot", kata Adel pada Nina.


"Yang paling terpenting Nina dan bayinya gak kenapa-kenapa. Kita juga gak tahu kan, apa Prili benar bersalah atau tidak. ", celetuk pak Purnama.


"Iya Rat yang penting mereka berdua sehat dan selamat", sambung mama Liana.


"Karena Nina sudah siuman sebaiknya kita pulang aja dulu ya ma, gerah papa pakai pakaian ini", ujar pak Purnama pada mama Liana.


"Iya pa. Sayang, kami pulang dulu ya. Pakaian kalian berdua biar Rinal yang ambil", ujar mama Liana kepada pak Purnama dan Nina.


"Iya ma, ma kasih banyak ma", ucap Nina.


"Iya sayang, sama-sama", ucap mama Liana seraya mengelus bahu Nina.


Tak lama kemudian bu Ratmi ibunya Nina dan juga Adel adiknya juga pulang ke rumah mereka. Tinggal Jimmy yang masih menunggui Nina disana.


Kelahiran anak Nina sampai ke telinga Prili. Ia tak habis pikir Nina bisa melahirkan anaknya dengan selamat. Prili terlihat sangat geram.


"Sialan. Kenapa juga tuh bayi bisa selamat. Kenapa hanya Nina yang berhak bahagia, aku juga berhak. Lihat saja nanti, aku tak akan membiarkan kalian hidup tenang", gumam Prili di kamarnya.


Prili mengamuk di kamarnya. Barang-barang yang ada di dekatnya menjadi sasaran empuk bagi Prili. Barang seperti bantal, guling dan boneka di lempar begitu saja olehnya. Rasa kesal yang menyinggap di hatinya begitu sangat besar. Sehingga yang timbul sekarang adalah rasa marah yang muncul.


Mama Hanny yang ada di ruang tengah mendengar suara amukan Prili di kamarnya. Mama Hanny masuk ke kamar Prili. Hampir saja sebuah boneka mengenai kepala mama Hanny.


"Sayang kamu kenapa?", tanya mama Hanny tak mengerti.


"Aku benci sama Nina ma, kenapa keberuntungan selalu berpihak kepadanya", jerit Prili.


"Maksud kamu apa?mama tidak mengerti", kata mama Hanny sambil matanya menjelajahi kamar anaknya yang seperti baru saja terjadi gempa tersebut.


"Ahh mama tidak akan mengerti. Bayi Nina lahir ma. Bayinya selamat", ucap Prili tanpa bisa mengontrol kata-katanya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang?jangan bilang kalau kamu yang tadi melakukannya", tanya mama Hanny.


Mama Hanny mendekati putri semata wayangnya tersebut.


Di tanya sang mama Prili bukannya menjawab, ia malah tertawa sangat kencang.


"Dia pantas menerimanya ma. Aku benci sama dia", jawab Prili sembari kembali tertawa.


Plaakkk...


Tamparan keras mendarat di pipi Prili yang putih mulus. Prili membelalakkan matanya. Ia seakan tak percaya apa yang baru saja di lakukan sang mama terhadapnya. Prili mengelus pipinya yang terasa panas.


"Bodoh! anak bodoh!kamu pikir dengan mencelakainya kamu bisa merebut hati Jimmy, hhahh!yang ada Jimmy malah akan membenci kamu dan kalau Jimmy tahu maka kamu akan di singkirkan dari kehidupannya. Ngerti kamu!", bentak mama Hanny.


"Tenang aja ma, semua ku lakukan dengan halus. Jimmy tidak akan tahu", jawab Prili enteng.


"Dengar, mama bukan malaikat yang bisa selalu melindungi kamu. Kalau kamu ingin tetap bersama Jimmy selamanya, kamu harus menerima takdir kamu dan berdamai dengan Nina. Kecuali kamu tidak ingin rumah tanggamu bertahan sampai akhir. Ada baiknya berdamai dengan hati, maka kamu akan bahagia", nasihat sang mama.


"Mama sama saja dengan mereka, aku muak",


Prili keluar dari kamarnya seraya membawa kunci mobil, ponsel dan tas kecilnya.


"Prili tunggu!",


.


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku semuanya.


Yuuukk tinggalkan jejak.


Like, komen dan votenya di nanti ya.


Mampir juga yuukk ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2