
Bang kamar mandinya mana?", tanya Nina pada Jimmy.
"Itu!kamu mau ngapain?",tanya Jimmy.
"Pipis, mau ikut?", tanya Nina kesal.
"Ohh kirain mau mandi, kalau mandi aku ikut", kata Jimmy berseloroh.
"Dasar!", kata Nina sambil berlalu.
Tanpa sepengetahuan Nina Jimmy sudah menunggunya di pinggir pintu kamar mandi. Nina keluar dari kamar mandi. Jimmy dengan sigap langsung menggendong Nina dan di bawanya ke tempat tidur.
"Bang", kata Nina kaget.
"Kamu bagai magnit sayang, aku maunya nempel terus sama kamu", bisik Jimmy.
Nina kegelian ketika kumis tipis Jimmy menyentuh pipinya.
Jimmy menengadahkan wajah Nina. Jimmy memandangi bibir Nina yang merah. Begitu ranum bak stroberi yang sudah matang.
"Boleh aku mencicipinya?", kata Jimmy menyentuh bibir Nina dengan telunjuknya.
"Gak boleh", kata Nina seraya mendorong tubuh Jimmy. Jimmy tertelentang di tempat tidur.
Jimmy yang memang sudah kepincut, tak mau melepaskan Nina dari serangannya. Jimmy tak kehabisan akal. Di tariknya tangan Nina sehingga Nina kini berada di atas tubuhnya.
Mata keduanya saling pandang. Jimmy mengelus pipi Nina.
"Anggap saja kita lagi berbulan madu, nikmatilah", kata Jimmy seraya menarik wajah Nina untuk lebih mendekat ke wajahnya.
Bibir Jimmy menyentuh bibir Nina. Nina memejamkan matanya. Merasa kurang nyaman Jimmy bangun dari tidurannya dan duduk dengan berselonjor kaki. Tubuh Nina di angkatnya untuk duduk di pangkuannya. Nina merangkulkan tangannya di leher Jimmy. Aroma harum dari tubuh Nina menambah gairah **** Jimmy.
Jimmy tak mau berlama-lama lagi. Bibir Nina di lahapnya. Tangannya sudah berada di dada Nina. Nina menggelinjang. Nina mengimbangi gerakkan Jimmy. Lidah keduanya saling melilit. Jimmy bermain dengan lihainya. Nina hampir kehabisan nafas. Jimmy melepas ciumannya. Kini leher jenjang Nina jadi sasaran. Jimmy menyusuri leher Nina. Jimmy asik bermain di leher Nina. Jimmy ingin memberi stempel di sana tapi di tolak Nina.
"Malu Bang, kalau mau kasih tanda jangan di tempat terbuka", kata Nina.
"Kamu memang pintar", kata Jimmy kembali beraksi.
Jimmy menyusuri tubuh Nina di setiap inchi nya. Tak lupa Jimmy meninggalkan tanda di sana. Nina seperti cacing kepanasan. Tubuhnya meliuk-liuk karena ulah Jimmy. Jimmy terus bermain, sampai akhirnya dia menyentuh tempat Nina yang paling sensitif.
Nina melenguh.
Pakaian sudah berserakan di lantai. Keduanya saling serang, saling kejar. Sejenak mereka melupakan kemelut yang ada.
Jimmy terus bermain di bawah sana. Nina bagai terbang di langit ke tujuh.
"Oohhh", lenguhan panjang Nina.
Jimmy terus membuai Nina. Jimmy ingin hari ini berkesan untuk Nina dan dirinya. Permainan panjang tak membuat keduanya lelah. Keringat sudah membanjiri keduanya. Nina terlihat lebih seksi di mata Jimmy dengan keringat yang membasahi tubuh Nina. Jimmy semakin bersemangat. Nina tak mau kalah dia mendorong tubuh Jimmy sehingga Jimmy tertelentang. Nina bak kuda betina liar naik ke atas tubuh Jimmy. Dan mulai beraksi.
__ADS_1
Jimmy melolong panjang. Aksi Nina yang brutal membuatnya bak terbang tinggi.
"Tambah pintar sekarang ya", puji Jimmy.
"Kamu yang ngajari", kata Nina terus beraksi.
"Sayang ohh..",:kata Jimmy seperti sedang menahan.
Jimmy membalikkan tubuh Nina sehingga posisi kini Jimmy yang berada di atas tubuh Nina.
"Bersiaplah", kata Jimmy.
Nina memberikan senyuman termanisnya. Jimmy tertantang. Jimmy mulai gerakan maju mundurnya yang awalnya pelan, lama kelamaan semakin di percepatnya. Tubuh Nina terguncang mengikuti gerakan Jimmy. Jimmy semakin bersemangat. Ritmenya semakin cepat, Jimmy berpacu tanpa kenal lelah. Dan sampai akhirnya keduanya mencapai puncak klimaksnya.
Arghhh...
Keduanya berpelukan sangat erat. Pelepasan itu membuat otot keduanya mengejang. Jimmy membuat satu hentakan lagi, sehingga lenguhan panjang lolos dari mulut Nina.
Ouwwhhh...
Jimmy terkulai di atas tubuh Nina. Nina memeluk suaminya dengan rasa cinta. Jimmy terkulai di samping Nina. Keduanya saling pandang. Nina memberikan senyuman termanisnya untuk Jimmy.
Jimmy menarik selimutnya dan memeluk tubuh Nina. Keduanya akhirnya tertidur dengan saling berpelukan.
****
Sementara itu Prili uring-uringan di rumahnya. Maklum bawaan wanita hamil. Jimmy tak datang padanya hari ini. Ponselnya di hubungi tidak aktif. Di telepon ke kantor katanya tak ada di tempat.
"Awas ya kalau macam-macam sama aku", gumam Prili lagi.
Prili ingin mencari Jimmy tapi dia tidak tahu harus mencari kemana.
"Kenapa juga ponselnya gak aktif sih", kata Prili kesal.
Prili turun ke bawah.
" Ma, Prili jalan-jalan dulu ya", kata Prili pada mamanya.
"Mau kemana?kamu itu lagi hamil lho, lagian acara kamu kan tinggal tiga hari lagi, pamali sayang. Lagian ini sudah sore loh", kata sang mama.
"Malas ahh Ma di rumah terus, aku mau cari angin dulu", bantah Prili.
"Sayang kamu nanti capek lho", kata sang mama.
"Nggak Ma, Prili kuat koq", bantah Prili sambil berlalu.
Hanny hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anak semata wayangnya.
"Anak itu keras kepalanya kebangetan, lagi hamil maunya jalan-jalan melulu", gerutu Hanny.
__ADS_1
"Anak cuma satu tapi bikin pusing tujuh keliling ", kata Hanny seraya menghela nafasnya yang terasa berat.
Prili melajukan mobilnya menuju jalan hitam yang panjang. Hatinya benar-benar runyam. Prili menuju sebuah taman, berharap di sana dapat bertemu dengan Jimmy. Tapi ternyata nihil. Jimmy tak ada di sana. Prili menuju sebuah mall. Dia ingin sekedar jalan atau makan di sana. Prili menuju tangga eskalator. Ia naik menuju salah satu tempat makan di sana.
Prili memesan cemilan dan minuman ringan. Ia memperhatikan orang-orang yang lalu lalang berharap dia dapat melihat Jimmy di antara orang-orang tersebut. Tapi hanya kekecewaan yang Prili rasakan. Jimmy tak ada di sana.
Prili menuju mall. Dia melihat baju-baju di sana. Lama dia melihat-lihat tapi satu pun tak ada yang menarik hatinya.
Hati Prili masih belum lega karena tidak menemukan Jimmy. Prili kembali menelepon Jimmy tapi tetap ponsel Jimmy tak bisa di hubungi.
"Iisshhh", Prili mendesis kesal.
"Apa aku ke rumahnya saja kali ya?tapi gimana kalau Jimmy marah dan... ahhh", ucap Prili kesal sendiri.
Prili akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Prili bermaksud menuruni eskalator tersebut tapi sepatu tergelincir sehingga ia terduduk dengan pantat terhempas ke lantai.
"Aahhh....", jerit Prili.
Beruntung Prili cepat di bantu seseorang sehingga tubuhnya tidak terseret oleh eskalator tersebut.
"Mbak tidak apa-apa?",tanyanya.
"Sakit sedikit tapi tidak apa-apa, terima kasih ya", jawab Prili.
"Iya mbak, hati-hati mbak kalau jalan jangan sambil melamun", katanya lagi.
"Oh iya nama kamu siapa?", tanya Prili.
"Aku Adel mbak", katanya yang ternyata adalah Adel adiknya Nina.
"Ohh Adel, sekali lagi terima kasih ya Del", kata Prili.
"Iya mbak, mari mbak", kata Adel mengajak Prili untuk turun bareng.
Kedua wanita yang baru saling kenal itu akhirnya berpisah jalan.
.
.
.
.
.
Kasih like dan komentarnya ya readersku.
Jangan lupa mampir ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).