
Sudah tiga bulan pernikahan Jimmy dan Prili. Perut Prili perlahan mulai terlihat membuncit. Prili semakin banyak permintaan pada suaminya Jimmy.
"Sayang aku pengen makan rujak, beliin dong", kata Prili manja.
"Kenapa gak bilang saat pulang kantor tadi sih?", kata Jimmy sedikit dongkol.
"Pengennya kan baru sekarang", elak Prili.
"Besok aja deh, capek ini. Badanku pegal-pegal semua", ujar Jimmy.
"Bilang aja kamu gak menginginkan anak ini", ucap Prili kesal.
"Apa hubungannya rujak sama anak?gak usah mengada-ada", ucap Jimmy merebahkan tubuhnya di kasur Prili.
"Jelas ada lah, orang yang pengen kan anak kamu, gimana kalau dia ileran gara-gara keinginannya gak terpenuhi", dalih Prili.
"Kan tadi udah di bilangin, besok aja. Sekarang aku capek banget ini", ujar Jimmy.
"Aku maunya sekarang!", ucap Prili dengan nada suara agak tinggi.
"Mau nyari dimana?ini sudah sore, pasar pasti udah tutup", jelas Jimmy.
"Cari dulu kenapa sih, atau kita beli buah aja biar gak ribet nyari",ujar Prili.
"Emang kamu bisa buat bumbunya?", tanya Jimmy gak yakin.
"Bibik kan ada, dia bikin rujaknya sedap mantap", puji Prili.
"Ayo", ajak Prili lagi.
"Sekarang?", tanya Jimmy malas.
"Lah iya sekarang ", kata Prili seraya menarik tangan Jimmy.
Jimmy walau berat rasanya untuk berjalan karena badannya pegal-pegal semua, tapi akhirnya menuruti kemauan Prili.
Setelah mendapatkan keinginannya, Prili mengajak Jimmy untuk belanja di sebuah mall favoritnya.
"Kita mau ngapain kemari?kamu kan lagi hamil muda, gimana kalau nanti kenapa-kenapa?", tanya Jimmy.
"Kan ada kamu, kalau capek tinggal gendong", ucap Prili sekenanya.
Jimmy menghela Prili bergelayut manja di lengan Jimmy. Mereka terus menyusuri setiap lorong mall tersebut. Tapi belum ada barang satu pun yang mereka beli.
Di kejahuan nampak Adel lagi jalan-jalan sama teman-temannya. Adel melihat kemesraan yang di pertontonkan oleh Prili dan Jimmy.
"Kalau ku tahu waktu itu dia adalah pelakor bagi mbak Na , aku tak akan membantunya saat dia terjatuh", batin Adel.
"Del, kamu koq ngelamun sih?", tanya salah satu temannya.
__ADS_1
"Ahh gak papa, aku tadi seperti melihat kuntilanak di sana", ucap Adel sekenanya.
"Iihh benaran luh?", tanya teman satunya yang paling takut kalau ada yang nyebut hantu.
""Iya benar", jawab Adel dengan muka serius.
"Mana ada kuntilanak di siang hari, pada ngawur kalian", celetuk salah satu teman Adel yang dari tadi hanya diam saja.
"Udah dong jangan cerita yang seram-seram", kata teman Adel yang paling penakut.
Adel terkekeh. Mereka meninggalkan mall tersebut dan pulang ke rumah masing-masing.
****
Prili menikmati rujak buatan asisten rumah tangganya. Prili sampai keringatan akibat makan rujak yang sedikit pedas tapi enak menurutnya itu.
Jimmy yang tak suka makan rujak membiarkan Prili untuk makan rujak yang di idam-idamkannya tersebut. Jimmy lebih memilih memainkan ponselnya.
"Kamu tidak mau mencoba, sungguh ini enak banget", ujar Prili sambil terus mengunyah.
Gigi Jimmy terasa ngilu melihat Prili makan buah asam tersebut.
"Habiskan aja, lihatnya saja gigiku ngilu boro-boro mau memakannya",ucap Jimmy.
"Kamu belum nyobain, bumbunya super duper lezat", ucap Prili.
"Kamu makan saja, aku mau pulang dulu", kata Jimmy bangun dari tempat duduknya.
"Sudah makan saja, habiskan. Aku juga mau istirahat capek banget", ujar Jimmy.
"Istirahat di sini juga bisa kan, ini juga rumah kamu", tutur Prili.
"Aku harus pulang karena ada berkas yang harus di bawa besok pagi",ujar Jimmy.
"Iya udah deh, yang penting kamu selalu ada tiap hari untuk aku", kata Prili.
"Iya akan aku usahakan", ucap Jimmy.
Jimmy pergi meninggalkan Prili. Selera makan Prili tiba-tiba hilang. Mangga muda yang ada di tangannya pun di letakkannya kembali ke piring.
Sementara itu Jimmy pulang menuju rumahnya. Di rumahnya Jimmy tak melihat keberadaan Nina di rumahnya.
"Belum pulang jam segini", gumam Jimmy melihat jam di tangannya sudah hampir magrib.
"Coba ku telpon saja", gumam Jimmy seraya merogoh ponselnya di saku celananya.
"Kamu di mana?", tanya Jimmy.
"Sudahlah tinggalkan saja, karyawan kamu kan ada?", kata Jimmy kemudian.
__ADS_1
"Iya buruan, aku laper ini", ucap Jimmy lagi di teleponnya.
Jimmy menutup teleponnya. Dia melempar tasnya ke kasur dan melepas pakaiannya. Jimmy menuju kamar mandi. Tak lama terdengar bunyi gemericik air menandakan Jimmy mulai dengan ritual mandinya. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil Jimmy menikmati guyuran air shower di tubuhnya. Tak butuh waktu lama Jimmy akhirnya menyelesaikan ritual mandinya.
Jimmy melihat ponselnya berdering. Marsel menelponnya. Terlihat perbincangan cukup serius antara keduanya. Tak lama pembicaraan di telepon pun berakhir.
Jimmy kembali melihat jam, sudah jam enam tiga puluh sore. Hari mulai merangkak malam. Namun Nina belum juga tiba di rumah. Jimmy menghela nafasnya. Jimmy menuju tempat tidur. Jimmy merebahkan tubuhnya di samping tas kerjanya.
Jimmy membuka ponselnya dan dia mulai main game favoritnya. Jimmy terus main sampai lupa waktu. Hari sudah pukul delapan malam. Nina pulang dengan membuka pelan pintu kamarnya. Di lihatnya suaminya fokus bermain game sehingga tidak menyadari kehadiran Nina di kamar tersebut.
Nina geleng-geleng kepala melihat suaminya.
"Koq masih pakai handuk, apa sepreinya gak ikut basah kena handuk kamu", kata Nina yang melihat Jimmy asik dengan ponselnya dan berbaring masih dengan menggunakan handuk.
"Jam berapa sekarang?", tanya Jimmy protes.
"Tadi kan udah ku bilang ngurusi barang yang baru datang", kata Nina.
"Karyawan kamu kan ada, kenapa juga repot-repot", kata Jimmy tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bang, aku kan gak mungkin lepas tangan sepenuhnya, lagian dia juga sendiri di toko. Jadi harus di bantu juga kalau ada barang yang datang atau kerjaannya lagi numpuk", ucap Nina.
"Kamu kan bisa menundanya besok", protes Jimmy.
"Gak bisa Bang, besok kan aku ada kerjaan lain juga, gak papalah kali Bang, kan nggak juga tiap hari aku pulang malam", bantah Nina.
"Mulai besok kamu cari karyawan baru lagi, aku tak mau kamu sampai pulang jam segini lagi", ujar Jimmy.
"Tapi Bang, usaha kita belum terlalu ramai pengunjungnya. Nanti lah nambah karyawannya kalau usaha ini maju pesat baru kita nambah karyawan ", ucap Nina.
"Jangan lupa aku juga butuh pelayanan kamu", kata Jimmy dingin.
"Mbak Yuni kan sudah siapkan semuanya, abang tinggal makan kalau aku terlambat pulang", ucap Nina lagi.
"Tugas kamu itu melayani, apa pun yang aku butuh, kamu harus bisa dan mau melakukan yang aku suruh, tidak ada kata bantahan, ingat aku ini seorang direktur perusahaan", kata Jimmy dengan nada tinggi.
Nina tersentak. Ucapan Jimmy sangat menusuknya.
Jimmy terlihat kesal. Dia meninggalkan ponselnya di kasur dan mengambil celana pendeknya dan melempar handuk tersebut ke tempat tidur. Jimmy keluar dari kamar meninggalkan Nina yang masih bengong.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan votenya juga ya readers...
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).