Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Atas nama cinta


__ADS_3

Sore itu Jimmy pulang lebih awal. Kepalanya pusing. Badannya panas tapi Jimmy menggigil kedinginan. Jimmy langsung menuju kamarnya. Tapi Jimmy tak mendapati Nina di sana. Jimmy keluar dari kamarnya mencari keberadaan Nina.


"Ada apa tuan?", tanya mbak Yuni bingung karena melihat tuannya seperti uring-uringan.


"Mana Nina mbak?", tanya Jimmy dengan raut wajah masam.


"Gak tahu juga tuan, dia cuma bilang mau keluar sebentar, tidak bilang mau kemana", kata mbak Yuni pelan.


"Kemana tuh orang, pergi gak bilang-bilang", kata Jimmy sambil berlalu dari hadapan mbak Yuni.


Mbak Yuni bengong. Tidak biasanya majikannya uring-uringan seperti itu. Mbak Yuni cepat-cepat kembali ke dapur.


Jimmy kembali ke kamarnya. Dia mencari minyak angin atau apalah yang bisa di gunakannya untuk memijat kepalanya yang terasa pusing. Tapi Jimmy tak menemukan apapun di laci maupun meja rias Nina. Jimmy mengambil ponselnya mencoba menghubungi Nina tapi ponsel Nina tidak aktif. Beberapa kali Jimmy mencoba tak Nina tetap tidak bisa di hubungi.


"Hhaaahh", jerit Jimmy kesal.


Jimmy mengobrak-abrik tempat tidurnya. Dia sangat kesal karena tak bisa menghubungi Nina. Jimmy merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berantakan tersebut. Dia ingin memejamkan matanya, ingin tidur. Badannya terasa sangat tidak bersahabat. Lama-kelamaan Jimmy akhirnya tertidur juga.


Satu jam dari situ Nina pun akhirnya pulang ke rumah.


"Bang Jimmy jam segini udah pulang", gumam Nina setelah melihat mobil Jimmy ada di garasi.


"Mbak, bang Jimmy di mana?", tanya Nina setelah melihat mbak Yuni datang menghampirinya.


"Di kamar Nya, tadi tuan uring-uringan gak ada nyonya di rumah", kata mbak Yuni seadanya.


"Iya sudah, ambil barang di mobil, aku masuk dulu", kata Nina.


"Baik Nya", kata mbak Yuni.


Nina cepat-cepat masuk ke kamarnya. Jimmy pasti mencarinya. Nina bengong ketika tiba di kamarnya. Ia melihat pemandangan yang tak biasa. Bantal dan guling berserakan di lantai. Seprei acak-acakan. Jimmy tidur dengan kaki menjuntai dengan sepatu masih di kakinya. Nina mendekati Jimmy dengan sangat hati-hati takut mengganggu tidur suaminya.


Nina melepasi sepatu Jimmy. Terdengar erangan dari mulut Jimmy. Nina memperhatikan wajah suaminya yang lagi tertidur dengan pulasnya. Nina mengambil kursi rias nya. Kaki Jimmy di angkatnya dan di letakkan di atas kursi tersebut dengan pelan dan hati-hati sekali. Tak sengaja tangan Nina menyentuh kulit kaki Jimmy.


"Panas, jangan-jangan dia demam", batin Nina.


Nina naik ke tempat tidur dan menempelkan tangannya di dahi Jimmy.


"Ternyata dia demam, pantesan pulang lebih awal", batin Nina.


Nina turun kembali dari tempat tidur dengan sangat pelan. Nina ke dapur mengambil air hangat-hangat kuku untuk mengompres Jimmy. Nina mengambil handuk kecil di lemarinya. Nina naik kembali ke tempat tidur. Ia mulai mengompres Jimmy.


Tiba-tiba Jimmy membuka matanya. Merasa ada yang menempel di dahinya akhirnya Jimmy terbangun juga.


"Abang demam, kompres dulu ya nanti minum obat penurun panasnya", ujar Nina.


"Dari mana kamu?", tanya Jimmy ketus tanpa mempedulikan ucapan Nina.

__ADS_1


"Tadi ke toko sebentar, setelah itu ke rumah ibu", kata Nina menjelaskan.


"Ponsel kamu gak aktif, buang saja ke laut kalau gak di pakai", ujar Jimmy lagi.


"Ponselnya lowbat Bang, aku baru lihat kalau ponselnya mati", kata Nina memberi alasan.


Jimmy memutar posisi tidurnya. Dia membelakangi Nina. Nina tahu kalau Jimmy lagi marah. Nina mengambil minyak gosok yang selalu di bawanya di dalam tasnya. Nina membuka baju Jimmy tanpa suara. Dengan telaten Nina memberikan minyak gosok tersebut ke tubuh belakang Jimmy. Jimmy menikmati pijatan Nina. Jimmy merasa sangat nyaman. Nina turun dari tempat tidur menuju dapur. Tak lama Nina kembali dengan membawa teh hangat untuk Jimmy.


"Minumlah biar lebih segar", kata Nina seraya menyodorkan segelas teh hangat di tangannya.


Jimmy menerima teh tersebut dan di teguk habis oleh Jimmy.


"Abang makan dulu ya, setelah itu minum obat", ucap Nina.


"Bawa ke sini aja makannya, sedikit saja", kata Jimmy sudah tidak marah lagi.


Nina kembali ke dapur. Ia mengambil sedikit nasi dan lauk pauknya untuk di makan oleh Jimmy.


"Ini makan dulu", kata Nina seraya memberikan piring yang sudah berisi makanan tersebut ke Jimmy suaminya.


Jimmy menerimanya tapi tak memakan makanan tersebut.


"Kenapa gak di makan?abang harus minum obat biar cepat sembuh", kata Nina.


Jimmy tak bergeming. Nina menghela nafasnya. Nina mengambil alih piring tersebut.


Jimmy memandang wajah Nina.


"Ayo di makan", kata Nina menyadarkan Jimmy.


Jimmy membuka mulutnya dan menerima suapan dari Nina. Satu suap, dua suap akhirnya makanan di piring tersebut ludes juga. Nina memberikan segelas air putih kepada Jimmy. Jimmy meminum setengahnya. Nina memberikan obat yang tadi di bawanya dari belakang.


"Sekarang minum obat, setelah itu abang mandi ya pakai air hangat biar panasnya cepat turun", ujar Nina.


"Nanti saja mandinya, dingin. Abang mau istirahat dulu", kata Jimmy.


" Iya sudah abang istirahat ya, aku mandi dulu", kata Nina.


Jimmy menahan pergerakan Nina dengan memegang pergelangan tangan Nina.


"Ada apa?", tanya Nina.


"Aku sudah bicara sama Prili, minggu nanti kita akan bersanding bersama. Aku tidak mau bersanding kalau kamu tidak ikut, mulai besok kamu perawatan ya biar saat bersanding nanti kamu terlihat lebih cantik lagi", kata Jimmy.


Nina diam. Dia tidak membantah atau mengiyakan. Pandangannya terlihat kosong.


Jimmy mengerti perasaan Nina, tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur.

__ADS_1


Jimmy merengkuh bahu Nina.


"Maafkan aku, aku tak punya pilihan. Sekarang Prili hamil anakku dan kamu adalah cintaku, aku tidak bisa berpikir jernih. Yang ku inginkan sekarang kamu bersedia bersanding denganku nanti", ujar Jimmy.


Air mata Nina tak tertahankan lagi. Buliran air tersebut meluncur bak peluru panas. Mengalir menjelajahi pipinya. Jimmy merengkuh Nina ke dalam pelukannya.


"Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu, tidak akan pernah percayalah", bisik Jimmy di telinga Nina. Nina semakin terisak.


Nina memukul-mukul bahu Jimmy. Jimmy merasakan bekas lukanya berdenyut nyeri. Jimmy mempererat pelukannya. Nina akhirnya luluh. Dia membalas pelukan Jimmy.


"Mau kan minggu nanti?", ulang Jimmy seraya meregangkan pelukannya.


Jimmy menghapus air mata Nina yang masih mengalir. Nina tak punya pilihan, dia akhirnya mengangguk menyetujui permintaan Jimmy suaminya.


Jimmy mencium dahi Nina. Di belainya pipi Nina.


"Berdirilah di sisiku selamanya", pinta Jimmy.


Nina hanya bisa mengangguk, walau pelan tapi terlihat pasti.


"Ayo kita mandi bareng, badanku sudah merasa enakan", ajak Jimmy.


Nina tak menolak saat Jimmy menggendongnya menuju kamar mandi. Dia terlihat begitu pasrah.


Entah karena terlalu cinta atau terlalu bodoh, sehingga seseorang masih berdiri di samping orang yang di cintainya. Atau karena terlalu cinta hingga seseorang terlihat bodoh.


Kata-kata itulah yang lebih tepat menggambarkan seorang Nina. Karena terlalu cinta hingga Nina terlihat bodoh. Ibarat buah simalakama, di makan mati emak, tak di makan mati bapak. Nina tetap bertahan atas nama cinta.


Begitulah, setiap orang mengukir certa cinta dengan caranya sendiri.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku sayang.


Jangan lupa like dan komennya. Kasih votenya juga dong ya.


Jangan lupa juga mampir ke karyaku lainnya ya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2