Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Semua ada hikmahnya


__ADS_3

Nina buru-buru meninggalkan rumahnya. Ia ingin ke salah satu butik untuk membeli kado untuk sang mertua. Nina memilih satu set baju bercorak sederhana dengan warna hijau army. Sangat elegan. Cocok di pakai ke acara apa saja.


"Ini mbak", kata Nina seraya memberikan baju tersebut pada pegawai butik.


Nina membayar sesuai tarif yang tertera.


"Semoga mama suka", gumam Nina setelah melangkah jauh dari butik tersebut.


Nina masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Nina tiba di rumah kediaman Purnama setelah satu jam perjalanan.


"Assalamualaikum", sapa Nina setelah melihat orang-orang terkasihnya sedang berkumpul.


"Wa'alaikum salam", jawab mereka serempak.


Nina langsung menuju pada mama mertuanya yang sedang asik menikmati kue tart nya. Nina langsung mencium punggung tangan mama mertuanya dan memberikan cium pipi kiri cium pipi kanan.


" Selamat ulang tahun ma. Semoga panjang umur, sehat selalu dan selalu menjadi mama yang super buat kami", ucap Nina.


"Terima kasih sayang. Maafkan mama kalau selama ini mama telah menyakiti hati kamu", ujar mama Liana.


"Setiap orang tua pingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Nina ngerti ketakutan mama. Tapi Nina akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk anak mama", ucap Nina berusaha menahan air matanya.


"Harus dong", celetuk Jimmy.


"Main nimbrung aja. Belum di minta sudah kasih komentar", ledek Wina pada Jimmy.


" Anak kecil gak boleh ikut bicara, ini khusus dua puluh satu tahun keatas ",sengit Jimmy.


"Koq jadi ribut sih, kita lanjut makan-makannya. Hari ini mama masak spesial. Mama sendiri yang masak", kata mama Liana.


"Bentar ma, ini Nina bawa sesuatu buat mama. Semoga mama suka ya", kata Nina seraya menyerahkan paper bag pada mama mertuanya.


"Waah jadi pada repot ini. Terima kasih sayang. Hadiahnya mama letakin dulu ya, sekarang kita menuju meja makan, kita makan bersama dulu. Jarang-jarang bisa kumpul begini", kata mama Liana.


"Kebetulan ini ma, laper..", kata Jimmy pada sang mama.


"Ayo", ajak mama Liana.


Mereka menuju meja makan. Mereka makan bersama.


"Yang banyak makannya biar cucu mama sehat", ucap mama Liana pada menantunya Nina.


"Iya ma", jawab Nina.


Nina sangat bersyukur karena akhirnya dia bisa di terima dalam keluarga Purnama. Nina merasakan makanan yang di makannya hari ini di keluarga tersebut seperti makanan terenak, terlezat. Benar kata orang, apapun itu jika suasana hati lagi baik maka semua akan terasa baik juga. Itu juga yang di rasakan oleh Nina sekarang.


Indah pada waktunya. Semua ada hikmahnya. Ambil baiknya saja. Tidak boleh berburuk sangka dengan keadaan. Karena ada sang maha pembolakbalik hati. Ikuti hidup seperti air mengalir. Apa adanya dan jalani semampunya.


Selesai dengan ritual makannya Nina bermaksud mrmbereskan bekas makan mereka.

__ADS_1


"Eehh jangan. Kamu istirahat saja. Biarkan saja nanti ada yang beresin. Jimmy, bawa isteri kamu ke kamar mungkin dia butuh istirahat", seru sang mama pada Jimmy.


"Oke ma", jawab Jimmy.


"Mama tahu banget kemauan anaknya", bisik Jimmy di telinga Nina.


Nina hanya tersenyum mendengar ucapan Jimmy. Jimmy membawa Nina menuju kamarnya. Masih tertata rapi dan bersih walau sudah tidak di tunggu yang empunya kamar.


"Ini kamar kamu?", tanya Nina.


"Iya dulu", jawab Jimmy singkat.


"Laah sekarang jadi kamar siapa?", tanya Nina merasa tak enak.


"Sekarang jadi kamar kita lah", jawab Jimmy sambil mencolek dagu Nina.


"Apa Prili sudah pernah tidur di kamar ini?", tanya Nina sedikit nyeleneh seraya mengusap kasur empuk tersebut.


"Kalau sudah kenapa?", tanya Jimmy sengaja memancing.


"Aku tak mau tidur di sini", jawab Nina tegas.


Jimmy mendekat kepada Nina. Dia memeluk Nina dari belakang.


"Kenapa harus tempat tidur pun jadi masalah?", tanya Jimmy seraya mengelus perut Nina yang membuncit.


"Aku telah menerima dia menjadi rivalku, tapi tidak dengan tempat tidur. Mengertilah ", kata Nina seraya berusaha melepaskan pelukan Jimmy.


Jimmy tersenyum. Rasa cemburu yang di tunjukkan Nina membuat Jimmy tambah gemas padanya.


"Hhmmm benarkah?", kata Nina tidak langsung mempercayai omongan Jimmy.


Jimmy mengangguk. Jimmy duduk di pinggir tempat tidur dan mengambil gulingnya. Karena gemas Jimmy memukulkan guling tersebut ke pantat Nina lembut dan pelan.


"Koq di pukul si bang", protes Nina.


"Pukulnya kan lembut, pakai guling lagi", kata Jimmy.


"Jangan pukul dong, elus kenapa sih", kata Nina.


"Nanti bukan elusan lagi yang abang beri tapi kita akan main kuda-kudaan di sini", jawab Jimmy sekenanya.


Muka Nina bersemu merah.


"Dasar otak kriminal", kata Nina seraya melangkah menuju meja kecil yang ada di samping tempat tidur. Nina meletakkan tas kecilnya di sana.


"Kamar mandinya mana bang?"tanya Nina.


"Tuh di sana, atau kamu minta abang antar", kata Jimmy sambil menunjuk ke arah kamar mandi.


"Modus. Aku bisa sendiri", kata Nina sambil melangkah.

__ADS_1


Jimmy tertawa dan merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Nina keluar dari kamar mandi. Di lihatnya Jimmy sudah rebahan di tempat tidur.


"Koq rebahan si bang, apa kita belum mau pulang ke rumah?", tanya Nina yang melihat Jimmy bermalas-malasan.


"Abang capek banget sayang. Malam ini kita tidur di sini saja ya", Jawab Jimmy dengan mata terpejam.


"Tapi besok kamu kan mau ke kantor, pakaian kamu di rumah", kata Nina.


"Pakaian di lemari masih ada, biar pakai yang itu aja", jawab Jimmy tanpa membuka matanya.


"Trus aku pakai apa?", tanya Nina gundah.


Jimmy bangun dari rebahkannya. Dia menarik tangan Nina.


"Duduk", perintah Jimmy pada Nina.


Nina duduk di samping Jimmy.


"Soal pakaian gak usah di permasalahkan. Pakaianku masih banyak di lemari itu, kamu pilih aja. Kaos oblong sama celana pendek ada di situ. Kamu tinggal pilih", kata Jimmy seraya menggenggam tangan Nina.


"Entar gak muat, badanku kan udah melar sekarang", protes Nina.


"Kamu coba dulu. Cek di lemari. Cari yang ukurannya besar. Atau...", Jimmy tidak meneruskan kalimatnya.


"Atau apa?", tanya Nina.


Jimmy tersenyum nakal pada Nina. Nina mengernyitkan alisnya.


"Atau aku lebih suka lihat kamu tanpa pakaian", bisik Jimmy di telinga Nina.


"Iiss dasar mesum", kata Nina memalingkan wajahnya.


"Eiitt itu pahala lho buat kamu", kata Jimmy berdalih.


Nina hanya diam.


"Kita kan belum pernah tidur di sini. Anggap saja ini malam pertama kita. Tunjukkan pesonamu malam ini", kata Jimmy seraya kembali mencolek dagu Nina.


Nina gemas dengan kata-kata suaminya. Nina menggelitik pinggang Jimmy. Jimmy menggeliat bak cacing kepanasan. Keduanya pun tertawa renyah.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku terkasih.


Jangan lupa like, komennya ya.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2