
Sejak kejadian malam itu sikap Jimmy jadi berubah dingin. Dia jarang mengajak Nina untuk bicara atau sekedar bercanda. Nina jadi menyesal telah membuat suasana hati Jimmy berubah menjadi tidak baik.
"Bang makan yuk", ajak Nina kepada Jimmy.
Jimmy tak komentar tapi tetap menuju meja makan. Mereka makan bersama. Tak ada suara. Iza yang sedang melihat kedua orang tuanya hanya diam saja jadi turun dari kursi dan memanggil mbak Yuni yang ada di dapur.
"Bude, Iza tidak mau makan. Iza mau sama bude aja", kata Iza yang bicaranya sudah mulai lancar.
"Lha kenapa sayang? katanya tadi mau makan sama mama dan papa", kata mbak Yuni.
"Makan sama mama dan papa gak seru, kayak di tengah hutan, sepi. Iza mau makan sama bude aja", ucap Iza seraya menggandeng tangan mbak Yuni.
"Baiklah sayang, tunggu dulu ya biar bude ambilin nasi dan lauknya dulu", ujar mbak Yuni.
"Iya bude", jawab Iza tanpa membantah.
Mbak Yuni yang mengerti akan suasana di dalam rumah itu hanya menghela nafasnya. Mbak Yuni memberi Iza makan di taman belakang.
"Bang, besok abang ada kerjaan gak?", tanya Nina.
"Ke kantor, kenapa?", tanya Jimmy tanpa memandang wajah Nina.
"Kita ke mall yuk ngajak si Iza, udah lama gak jalan bareng", kata Nina berusaha mencairkan suasana.
"Masih banyak kerjaan, kamu sama Iza aja. Ajak mbak Yuni sekalian", kata Jimmy seraya mengelap mulutnya dengan tissue dan pergi begitu saja meninggalkan Nina sendiri di meja makan. Ada sakit di hati Nina melihat perlakuan Jimmy yang cuek dan seperti tak peduli.
Nina menyelesaikan makannya. Nina baru sadar kalau Iza sudah tidak ada di tempatnya lagi.
"Iza kamu dimana sayang?", seru Nina seraya mencari Iza di setiap sudut ruangan.
"Ya Allah Iza kamu dimana?", kata Nina cemas.
"Iza sayang, kamu dimana nak?", seru Nina lagi.
Iza yang makan sambil bermain di belakang tak mendengar suara Nina yang sedang memanggilnya.
Nina mencari mbak Yuni ke belakang. Di lihatnya pintu belakang terbuka. Nina mencoba keluar melalui pintu belakang. Di lihatnya Iza sedang bermain bersama mbak Yuni disana.
"Ahh syukurlah ternyata kamu disini rupanya", ucap Nina ketika melihat keberadaan Iza.
Iza tak melihat keberadaan sang mama. Ia asyik bermain dengan mbak Yuni. Melihat Iza asyik bermain, Nina kembali masuk ke dalam rumah menuju kamar mereka.
Tiba di kamar Nina melihat Jimmy sudah tidur dengan nyenyaknya. Jimmy tidur dengan membelakanginya. Nina kembali keluar kamar dan kembali ke meja makan. Membersihkan sisa-sisa makan mereka tadi.
****
Seminggu tak ada cerita, tak ada tawa. Nina dan Jimmy saling diam seribu bahasa. Nina bersyukur dengan adanya Iza hidupnya lebih berwarna dan bermakna. Cuma Iza yang bisa membuatnya tertawa sekarang. Iza bak penolong disaat suasana rumah tak kondusif seperti ini.
Nina lagi asyik bermain dengan Iza tiba-tiba Nina merasakan pinggangnya hangat dan pegal. Perutnya bagian bawah terasa melilit.
"Kenapa ya?aduh sakit banget", kata Nina seraya mengambil minyak angin yang selalu tersedia di lacinya.
__ADS_1
Nina memoleskan minyak tersebut pada perut dan pinggangnya. Terasa hangat dan menyegarkan.
"Agak enakan", gumam Nina setelah beberapa menit.
Nina merasakan seperti ada yang mengalir hangat di area sensitifnya. Nina menuju kamar mandi dan melihat ****** ********.
"Darah. Darah apa ya?apa aku mens?",gumam Nina.
Nina mencoba mengingat waktu mens terakhirnya.
"Sudah hampir tiga bulan, baru ini mens lagi. Tapi apa ini benaran darah mens ya?", gumam Nina.
"Sebaiknya aku ke dokter aja", kata Nina seraya mengganti pakaian dan memasang pembalutnya.
Nina menemui dokter yang waktu itu memeriksanya.
"Pagi bu Nina, gimana keadaannya sekarang?", tanya sang dokter ramah.
"Baik dok", kata Nina setelah duduk di kursi yang ada di depan Bu dokter.
"Ada perkembangan?", tanya sang dokter langsung.
"Tadi pagi perut dan pinggangku sakit banget dok, ternyata aku mens. Cuma aku gak tahu apa itu memang darah mens atau bukan?", tanya Nina.
"Yuk kita periksa dulu", ajak sang dokter menuju tempat tidur yang tersedia.
Nina menuruti perintah sang dokter. Nina berbaring di tempat tidur tersebut. Bu dokter membuka baju Nina bagian perutnya.
Sang dokter tersenyum lebar. Wajahnya menampakkan kesenangan.
"Gimana dok?", tanya Nina cemas.
Dokter menyudahi pemeriksaannya. Ia mengajak Nina kembali ke tempat semula.
"Obat yang saya berikan seminggu yang lalu sudah bereaksi. Sel telur yang tidak di buahi dan mengakibatkan penebalan pada dinding rahim akhirnya luruh dan akibatnya mengeluarkan darah. Itu proses menstruasi. Dan yang ibu alami sekarang benar darah mens. Kita lihat dulu bulan depan kalau menstruasi sudah teratur berarti PCOS ibu sudah hilang tapi bukan berarti sudah sembuh. Ini bisa saja PCOS nya muncul lagi di kemudian hari. Yang terpenting saat ini siklus mentruasi ibu bisa teratur kembali", jelas sang dokter.
Nina manggut-manggut. Nina secercah harapan di hatinya untuk bisa memiliki momongan lagi.
"Saya kasih obat lagi ya. Minum secara teratur. Nanti kita lihat bulan depan perkembangannya", kata sang dokter.
"Iya dok. Tadinya saya sangat takut. Terima kasih banyak untuk semuanya dok", kata Nina seraya menerima kertas putih kecil dari sang dokter.
"Iya sama-sama bu. Makan buah dan sayur, jaga pola tidur dan hindari stres ya bu", kata sang dokter.
"Iya dok, kalau begitu saya permisi dok", kata Nina seraya bangun dari tempat duduknya dan menjabat tangan sang dokter.
"Mari bu silakan. Tetap semangat", ucap sang dokter.
"Iya dok", kata Nina sambil tersenyum.
Nina keluar dari ruangan tersebut dan pulang. Nina sangat senang mendengar kata-kata dokter tadi. Harapannya untuk bisa hamil sudah ada walau masih kemungkinannya sangat kecil.
__ADS_1
Nina menyusuri jalan hitam nan panjang tersebut. Nina tidak langsung pulang. Ia menuju pasar dan berbelanja sayur dan buah-buahan di sana. Setelah puas berkeliling Nina menuju rumah ibunya. Sudah lama ia tidak berkunjung ke rumah sang ibu.
"Ibu apa kabar?", kata Nina setelah tiba di rumah sang ibu.
Bu Ratmi tak menyangka akan kedatangan putri sulungnya tersebut, ia merasa sangat bahagia karena dia pun sangat kerindukan anak sulungnya itu.
'Anak ibu. Baik sayang. Ibu baik-baik saja. Kamu terlihat gemuk sekarang", kata bu Ratmi sambil memeluk Nina.
"Ahh ibu bisa aja. Aku jadi minder di sebut gemuk", ucap Nina.
"Gak papa itu artinya hidupmu bahagia, ibu senang lihatnya", ucap bu Ratmi.
"Adel mana bu?", tanya Nina sambil celangak celinguk.
"Di kamarnya. Katanya lagi buat apalah itu ibu gak ngerti", kata bu Ratmi.
"Ohh gitu. Biar aku yang ke kamarnya. Oh iya bentar", kata Nina seraya kembali ke mobilnya.
Nina membawa macam-macam buah dan sayur yang di kemas dalam tiga kantong plastik besar.
"Ini bu, Nina cuma bawa ini", kata Nina seraya membawa tiga kantong plastik besar tersebut ke dalam rumahnya.
"Kamu beli ini untuk makan atau untuk jualan sih?", tanya bu Ratmi melongok melihat sayur dan buah sebanyak itu.
"Ibu sayang, ini semua untuk di makan. Yaaa untuk persediaan di rumah aja bu", kata Nina enteng.
Bu Ratmi geleng-geleng kepala.
"Ibu, Nina kan gak tiap hari, gak tiap minggu kemari. Sekali-kali juga koq", kata Nina seraya menuju dapur.
"Nina ke kamar Adel dulu ya bu", kata Nina setelah meletakkan kantong plastik yang tadi di bawanya.
Bu Ratmi mengangguk. Nina menuju kamar Adel. Terdengar suara musik dari kamar Adel. Nina membuka kamar Adel yang tidak terkunci. Di lihatnya Adel bukannya mengerjakan tugas seperti yang tadi di bilang ibunya. Adel tidur dengan menelungkup. Bunyi musik mengalun lembut di kamarnya membuat Adel terbawa suasana. Ia akhirnya tertidur.
"Woii bangun ada gempa", kata Nina dengan suara tinggi seraya memukul kasur di samping wajah Adel.
Adel langsung terlonjak dan berlari keluar kamar...
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku semuanya.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya.
Luuppss you semuanya. Jangan lupa bahagia.
__ADS_1
Wassalam...