Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Diskusi


__ADS_3

Seperti hari biasanya Jimmy kembali bekerja seperti biasanya.


"Sayang, abang kerja dulu ya. Mulai hari ini isterinya pak Harto akan menemani kamu di rumah. Mungkin bentar lagi juga datang", jelas Jimmy.


"Iya Bang hati-hati ya", kata Nina seraya mencium punggung tangan suaminya.


Jimmy kembali beraktifitas. Dia baru saja melajukan mobilnya, ada panggilan masuk dari Prili.


"Ada apa?", tanya Jimmy ketus.


"iihh nanyanya gitu sih, ada berita bagus nih, mau tahu gak?", tanya Prili.


"Nggak perlu, aku lagi nyetir nih", kata Jimmy beralibi.


"Sayang, orang tua kita sepakat minggu nanti kita akan di nikahkan. Mereka telah menentukan hari dan bulan resepsinya semalam", ujar Prili.


Jimmy sontak menghentikan mobilnya. Suara berdecit dari ban mobil membuat ngilu di gigi.


"Apa kamu bilang?", tanya Jimmy seakan tak percaya dengan pendengarannya.


"Kita akan menikah sayang, bersiaplah. Aku ingin kita resmi menjadi suami isteri secepatnya ", ujar Prili tanpa basa-basi.


Jimmy langsung memutuskan obrolan mereka secara sepihak. Jimmy melajukan kembali mobilnya menuju kantor.


"Kamu takkan bisa lari dariku sayang", gumam Prili dengan senyum penuh arti.


Sesampainya di kantor, Jimmy di sambut oleh sekretaris barunya, hasil rekrutan Marsel.


"Pagi pak", kata sekretaris baru tersebut.


Jimmy hanya melihat sebentar lalu melenggang menuju ruangannya.


"hmm aku suka gayanya", batin sekretaris tersebut dengan senyum di kulum mengomentari Jimmy.


"Maaf pak, apa ada yang bisa saya kerjakan?", tanya sang sekretaris langsung masuk ke ruangan Jimmy.


"Kamu sekretaris baru?", tanya Jimmy.


"Iya pak, nama saya Marsha pak", kata sang sekretaris ramah.


"Lain kali kalau mau masuk ketuk pintu dahulu",kata Jimmy tanpa menggubris ucapan Marsha.


"Baik pak, maaf atas kelancangan saya",kata Marsha sambil senyum.


"Untuk tugas kamu tanya pak Marsel saja, biar dia yang jelaskan sama kamu",kata Jimmy.


Mata Jimmy tak sengaja melihat belahan rok Marsha yang terlalu tinggi. Jimmy cepat menundukkan pandangannya.


"Mulai besok berpakaian yang sopan, ini kantor bukan tempat pesta", kata Jimmy ketus.


Marsha merasa mukanya merah.


"Baik pak", kata Marsha.


"Ya sudah, silakan temui Marsel, dia akan menjelaskan semuanya padamu", kata Jimmy.


"Baik pak, permisi", kata Marsha.

__ADS_1


Jimmy geleng-geleng kepala melihat penampilan sekretaris barunya tersebut.


****


Sementara itu Marsel belum sampai di kantor. Dia mampir dulu ke rumah Sofi.


"Kalau gak senang lagi sama aku bilang aja, aku takkan marah", kata Sofi kesal.


"Bukan begitu sayang, ponselnya tersilent. Maaf ya", kata Marsel seraya memegang kedua telinganya.


"Trus ngapain pagi-pagi kemari?", tanya Sofi sinis.


"Kangen sama ayang aku", kata Marsel sambil mencolek dagu Sofi.


"Gombal", kata Sofi.


Marsel gemas melihat sikap Sofi. Marsel menarik tangan Sofi dengan hentakan, hingga Sofi jatuh ke dalam dekapannya. Dengan cepat Marsel mengecup bibir merah tersebut. Sofi kaget. Dia mendorong tubuh Marsel hingga tubuhnya lepas dari dekapan Marsel.


"Gila kamu ya, kalau mama lihat gimana?",ucap Sofi kesal.


"Kenapa?paling juga di nikahkan. Makanya marahnya gak usah lama-lama, kalau kamu marah aku jadi gemas loh", canda Marsel.


Muka Sofi bersemu merah. Marsel tersenyum. Tiba-tiba ponsel Marsel berdering.


"Jimmy ", gumam Marsel.


"Iya bro ada apa?",tanya Marsel setelah tersambung.


"Bimbing Marsha, beri dia penjelasan tentang tugas-tugasnya, aku lagi gak mood", ujar Marsel.


"Oke siap, bentar lagi aku luncur", kata Marsel.


"Lagi bersama Sofi", jawab Marsel.


"Pagi-pagi pacaran, ya udah cepatan kemari", kata Jimmy.


"Sayang udahan ya marahnya. Jimmy sudah nelpon nih, yayang mau ke kantor dulu", kata Marsel sambil mencolek dagu Sofi.


Sofi hanya mengangkat kedua bahunya. Marsel meninggalkan Sofi. Dia pergi menuju kantornya. Setelah tiba di kantor, Marsel langsung menuju ruangan Jimmy.


"Kamu ini gimana sih?biasanya juga karyawan baru itu di training dulu. Lah ini... malah banyak tanya, trus..apa kamu gak bilang cara berpakaian di sini?Lihat tuh pakaiannya seperti pencari mangsa",ujar Jimmy.


"Marsha maksudnya?", tanya Marsel.


"Lah iya siapa lagi kalau bukan dia", jelas Jimmy.


Marsel terkekeh.


"Atau kamu sengaja ya nyuruh tuh anak?", tanya Jimmy setelah melihat Marsel malah tertawa.


"Nyuruh kenapa?", tanya Marsel.


"Godain aku", tanya Jimmy.


"Iya nggaklah, mungkin dari sononya suka pakaian begitu", kata Marsel bela diri.


"Training dulu tuh anak, aku gak suka dia tidak sopan seperti itu, takutnya mata lelaki di sini melotot semua ke dia", ujar Jimmy.

__ADS_1


"iya deh, siap laksanakan", ucap Marsel


Jimmy memberi isyarat dengan tangannya agar Marsel keluar dari ruangannya. Marsel mengerti maksud Jimmy. Marsel membawa Marsha ke ruangannya untuk di training.


Jimmy menarik nafasnya berulangkali untuk menghilangkan kesal di dadanya.


Pintu ruangan Jimmy terbuka. Jimmy menoleh ke pintu.


"Papa", ucap Jimmy spontan.


Tak biasanya sang papa datang ke ruangannya pagi-pagi begini.


Purnama langsung duduk di depan meja Jimmy.


"Ada apa papa pagi-pagi datang kemari?", tanya Jimmy.


Walau Jimmy sudah tahu apa maksud kedatangan Papanya datang ke ruanganny tersebut tapi Jimmy pura-pura tidak tahu.


"Ini menyangkut hubunganmu dengan Prili", Purnama menghentikan ucapannya.


"Papa kan tahu kondisi Nina sekarang, bagaimana bisa aku menikah sama Prili sedangkan Nina lagi sakit", ujar Jimmy.


"Kamu selamatkan nama baik keluarga kita dulu, Nina urusan nanti, yang penting Prili sah menjadi isteri kamu dan anak yang di kandungnya sah kepemilikannya ",ujar Purnama.


"Tapi Prili melakukannya dengan cara curang Pa, aku tidak mencintainya ", protes Jimmy.


"Jimmy apapun alasan kamu, anak yang sekarang di kandung Prili adalah anak kamu, darah dagingmu, papa tidak mau nama baik keluarga kita tercemar cuma gara-gara keteledoran kamu, ingat papanya Prili mempunyai saham cukup besar di perusahaan kita, dia punya andil. Kalau mereka menarik sahamnya ,bukan tidak mungkin usaha kita akan anjlok, itu juga harus kamu perhitungkan, papa mohon jangan rusak semuanya ", jelas sang papa.


"Nina belum tahu ini semua Pa, aku takut dia syok jika tahu aku menikah lagi, apa lagi menikahnya secara diam-diam", jelas Jimmy.


"Suatu hari nanti dia akan mengerti, tergantung kamunya sekarang, papa hanya minta sedikit, selamatkan nama baik keluarga kita, itu saja", jelas Purnama.


Jimmy terdiam. Lama Jimmy merenung. Jimmy memijit kepalanya yang terasa sedikit sakit.


"Papa ingin pernikahan ini segera kita laksanakan. Perut Prili aemakin lama semakin membesar. Mumpung perutnya masih rata, belum kelihatan hamilnya, kita harus cepat bertindak, biar tidak timbul isu-isu tak sedap di dengar telinga", ujar Purnama.


"Emangnya kapan sih Pa acara nikahnya?", tanya Jimmy sambil masih memijit dahinya.


"Papa ingin besok kita laksanakan", kata Purnama santai.


"Apa?", Jimmy terperanjat.


bersambung .....


.


.


.


.


Selamat membaca ya readers...


Salam hangat selalu.


Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya readers.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2