
Plaakkk...
Tamparan keras mendarat di pipi Prili yang putih mulus. Prili membelalakkan matanya. Ia seakan tak percaya apa yang baru saja di lakukan sang mama terhadapnya. Prili mengelus pipinya yang terasa panas.
"Bodoh! anak bodoh!kamu pikir dengan mencelakainya kamu bisa merebut hati Jimmy, hhahh!yang ada Jimmy malah akan membenci kamu dan kalau Jimmy tahu maka kamu akan di singkirkan dari kehidupannya. Ngerti kamu!", bentak mama Hanny.
"Tenang aja ma, semua ku lakukan dengan halus. Jimmy tidak akan tahu", jawab Prili enteng.
"Dengar, mama bukan malaikat yang bisa selalu melindungi kamu. Kalau kamu ingin tetap bersama Jimmy selamanya, kamu harus menerima takdir kamu dan berdamai dengan Nina. Kecuali kamu tidak ingin rumah tanggamu bertahan sampai akhir. Ada baiknya berdamai dengan hati, maka kamu akan bahagia", nasihat sang mama.
"Mama sama saja dengan mereka, aku muak",
Prili keluar dari kamarnya seraya membawa kunci mobil, ponsel dan tas kecilnya.
"Prili tunggu!",
Prili pergi begitu saja tanpa memperdulikan sang mama yang sedang memanggilnya. Mama Hanny berusaha mengejar Prili tapi mama Hanny kalah cepat, Prili sudah melajukan mobilnya dengan cepat.
"Prili berhenti! Prili...", panggil sang mama.
Prili dengan rasa kesal di hati, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jalan sore itu terlihat lengang. Tapi karena pikiran Prili yang lagi kalut, ia tidak melihat ada seorang lelaki paruh baya ingin menyebrang jalan. Karena kaget, Prili akhirnya membanting setirnya kekiri. Tak ayal lagi mobil yang melaju sangat kencang tersebut menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Mobil Prili penyok bak kerupuk kena air. Prili masih sempat melihat keadaan mobilnya yang hancur. Pandangan Prili mulai buram. Dan akhirnya pun Prili tersandar di setir mobilnya tak sadarkan diri.
Lelaki paruh baya yang tadi hampir tertabrak oleh mobil Prili masih terduduk di aspal jalan karena kagetnya. Orang-orang yang kebetulan ada di dekat kejadian berbondong-bondong datang untuk memberikan pertolongan. Lelaki paruh baya tersebut akhirnya mendapat pertolongan dari orang-orang itu.
Seorang bapak-bapak berusaha untuk membuka pintu mobil Prili tapi sial pintu mobilnya tidak bisa di buka karena terkunci dari dalam. Bapak tersebut tak kehabisan akal, akhirnya sang bapak mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk memecahkan kaca mobil tersebut. Sang bapak menemukan pecahan batu bata yang tak jauh dari mobil Prili. Dengan sigap sang bapak memecahkan kaca mobilnya Prili. Karena takut pecahan kaca akan mengenai Prili, sang bapak memecahkan kaca mobil tersebut yang sebelah kiri.
Prili yang terjepit antara setir dan tempat duduknya, langsung mendapatkan penanganan dari orang-orang yang datang melihatnya. Bapak yang memecahkan kaca mobil tadi memegang pergelangan tangan Prili.
"Masih hidup", teriaknya.
Prili segera di bawa ke rumah sakit. Pihak polisi yang mendapat teleponan dari warga setempat jika telah terjadi kecelakaan, segera meluncur ke lokasi kejadian. Polisi menemukan barang-barang milik Prili seperti dompet dan ponsel yang berada di dalam sebuah tas kecil. Polisi mengambil identitas Prili di dalam dompet. Polisi mencari keluarga atau teman terdekat Prili melalui ponsel Prili.
Polisi menemukan nama Jimmy yang bertuliskan 'my husband' di panggilan keluar. Polisi langsung menelpon Jimmy.
"Selamat sore pak, ini dari kepolisian. Benar ini dengan suaminya bu Prili?", tanya pak polisi di telepon.
"Iya betul, ada apa ya pak?",tanya Jimmy tak mengerti.
"Kami ingin mengabarkan kalau isteri bapak mengalami kecelakaan tunggal. Sekarang di larikan ke rumah sakit", jelas pak polisi.
"Rumah sakit mana ya pak?", tanya Jimmy cemas.
__ADS_1
"Rumah sakit Bunda pak", ujar pak polisi.
"Baik pak saya akan segera kesana", kata Jimmy sembari mendekati Nina yang masih terbaring lemah.
"Sayang, kamu abang tinggal sebentar ya. Prili mengalami kecelakaan. Nanti akan ada Rinal dan Marsya kemari. Abang gak lama ", kata Jimmy seraya mencium dahi Nina dengan tergesa-gesa.
"Iya bang, semoga Prili gak kenapa-kenapa ", kata Nina.
"Abang pergi dulu ya", kata Jimmy terburu-buru.
Jimmy meninggalkan Nina sendiri di ruangan serba putih tersebut. Nina hanya bisa memandangi kepergian Jimmy.
Jimmy tiba di rumah sakit Bunda. Ia tidak di izinkan masuk ke dalam ruangan. Dokter sedang menangani Prili di dalam. Jimmy menelpon mama mertuanya mama Hanny.
"Halo ma, ma mama ke rumah sakit sekarang ya", kata Jimmy setelah tersambung.
"Ada apa Jim?Nina kenapa?", tanya mama Hanny ketika mendengar suara Jimmy yang sangat cemas.
"Bukan Nina ma tapi Prili. Prili mengalami kecelakaan ma", jelas Jimmy di sela cemasnya.
"Apa?kamu jangan bercanda Jim", kata mama Hanny marah.
"Sebaiknya mama dan papa ke rumah sakit Bunda sekarang", kata Jimmy.
"Papa di mana?", tanya mama Hanny langsung setelah terhubung.
"Sudah dekat rumah, ada apa.ma?", tanya pak Bowo.
"Cepatan pa, kita ke rumah sakit", kata mama Hanny langsung menutup teleponnya.
Pak Bowo menatap layar ponselnya sebentar, lalu menghela nafasnya.
"Ayo pa kita berangkat ke rumah sakit Bunda sekarang", kata mama Hanny tanpa menjelaskan alasannya mengajak sng suami ke rumah sakit.
Mama Hanny hanya diam selama perjalanan, dia takut bercerita pada suaminya karena sang suami sedang menyetir, takutnya pak Bowo tidak bosa mengontrol emosinya.
"Siapa yang sakit ma?", pak Bowo mencoba menetralkan suasana.
"Jimmy sudah menunggu kita di rumah sakit Bunda", kata mama Hanny tanpa menjelaskan sebab mereka ke rumah sakit.
Walau penuh tanda tanya, pak Bowo menuruti kata-kata sang isteri.
__ADS_1
Mereka tiba di rumah sakit. Mama Hanny langsung memburu Jimmy dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana Jim?Prili di bawa kemana?apa yang terjadi sebenarnya? Keadaannya gimana Jim?", tanya mama Hanny.
"Prili?kenapa dengan Prili ma?", tanya pak Bowo yang semakin tidak mengerti.
"Apa mama belum memberitahukannya pada papa, ma?", tanya Jimmy pada mama mertuanya.
Mama Hanny menggeleng. Jimmy paham maksud dari sang mama mertua. Pak Bowo mengidap penyakit jantung. Takut papa mertuanya kenapa-napa.
"Begini pa, tadi polisi memberi tahu bahwa Prili mengalami kecelakaan", ucap Jimmy.
"Apa?", kata pak Bowo seraya memegangi dadanya yang sakit.
"Pa..", ucap mama Hanny seraya memeluk sang suami.
"Prili sudah di dalam ruangan ini pa, dia dalam penanganan dokter sekarang ", jelas Jimmy.
Pintu ruangan tempat Prili di tangani pun terbuka. Sang dokter langsung di serbu oleh tiga orang tersebut.
"Bagaimana isteri saya dok?", tanya Jimmy pada sang dokter.
Sang dokter menghela nafasnya. Satu persatu wajah ketiga orang di depannya tersebut di pandanginya.
"Dengan berat hati harus saya sampaikan, kalau saudara Prili tidak bisa di selamatkan. Saya minta maaf, kami sudah melakukan yang terbaik dan mengerahkan kemampuan kami, kita hanya bisa berusaha penentuannya tetap yang di atas", jelas sang dokter.
Bruukkk..
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku...
Jangan lupa likenya ya, komen dan votenya juga di tunggu.
__ADS_1
Mampir juga yuk ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).