
Prili pulang ke rumahnya. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Ada rasa sakit di perutnya. Namun Prili tak menggubris rasa sakit tersebut. Ia melemparkan tas kecilnya di atas kasur. Lalu melemparkan sepatu pembawa sial tersebut ke sudut kamarnya.
"Brengsek lu, hampir saja aku jatuh dari eskalator itu. Oh memalukan", gumam Prili.
"Sayang apa kamu sudah pulang?", tanya sang mama dari luar setelah mendengar ada suara dari kamar putrinya.
"Iya Ma", jawab Prili singkat.
Pintu kamar Prili terbuka. Muncul sang mama dari balik pintu.
"Apa ada masalah?", tanya sang mama sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan Prili.
"Nggak ada Ma", kata Prili seraya merebahkan tubuhnya di kasur.
Sebagai seorang ibu, Hanny tahu kalau anaknya lagi ada masalah. Hanny mendekat kepada Prili. Ia duduk di pinggir tempat tidur Prili.
"Kamu dari mana?", tanya Hanny sang mama dengan lembut.
Prili diam. Hanny memegang bahu Prili.
"Sepertinya mood kamu lagi gak baik, kasihan loh sama anak kamu. Kalau kamu lagi gak mood, dia juga ikut dengan perasaan kamu jadi gak mood juga", jelas sang mama.
"Prili itu lagi kesal sama Jimmy, dari semalam sampai malam lagi dia tidak kasih kabar apapun padaku, tadi karena kepikiran aku terjatuh kepeleset di mall, malu-maluin banget Ma", kata Prili tambah kesal.
"Apa? jatuh?kamu jatuh gimana, pantat atau perut yang terhempas?sakitnya di mana? sekarang kamu gimana?", tanya sang mama beruntun.
"Aduuhh mama, Prili itu gak papa, hanya pantat terhenyak sedikit", bantah Prili.
"Perut kamu gimana?", tanya sang mama lagi seraya tangannya meraba perut Prili. Ia sangat mengkhawatirkan Prili.
"Tadi sedikit terasa sakit sekarang nggak lagi", kata Prili.
"Tak boleh di biarkan, kita ke dokter sekarang", ajak Hanny pada Prili.
"Prili tidak apa-apa Ma", kata Prili malas.
"Iya kamu memang tidak apa-apa tapi calon bayi kamu dalam bahaya. Ayo cepat kita ke dokter sekarang", ajak mama Prili.
"Mama lihat kan calon bayi Prili gak apa-apa, dia masih bersemayam di tempatnya ", ujar Prili.
"Mama ingin kalian berdua sehat, mama tidak mau ambil resiko, cepat kita berangkat sekarang ", kata sang mama.
Dengan bermalas-malasan Prili akhirnya mengikuti kehendak sang mama. Prili tidak di ijikan mamanya menyetir.
"Kamu duduk manis saja, biar supir yang bawa mobilnya", kata sang mama lagi.
__ADS_1
Prili masuk ke dalam mobil di ikuti oleh sang mama.
"Din di cepatin sedikit", ujar Hanny mamanya Prili ketika melihat Prili meringis.
"Iya Bu", kata sang mang Udin sang sopir.
Mang Udin mempercepat laju kendaraannya. Sang mama mulai bertambah cemas ketika melihat kembali ke arah Prili. Prili menggigit bibirnya.
"Sabar sayang, bentar lagi sampai. Kamu menganggap remeh sesuatu, kalau jatuh saat lagi hamil itu sangat berbahaya", jelas sang mama.
Prili hanya diam. Mang Udin mempercepat lagi laju kendaraannya. Tak lama kemudian mereka sudah tiba di salah satu rumah sakit terdekat.
"Ayo sayang turun pelan-pelan ", kata sang mama prihatin.
Melihat ada pasien yang datang, pihak rumah sakit segera membawa kursi roda untuk sang pasien. Prili cepat di bawa ke ruang unit gawat darurat. Dokter jaga segera mendatangi Prili menanyakan kronologi penyakit pasien. Selanjutnya Prili segera mendapat penanganan dari sang dokter.
"Ibu tunggu di luar dulu ya", ucap seorang perawat pada Hanny mamanya Prili.
"Baik sus", kata Hanny keluar dari ruangan tersebut.
Hanny menelpon suaminya Wibowo.
"Mas, Prili sekarang di rumah sakit. Dia jatuh terduduk waktu pergi ke mall tadi", ujar Hanny cemas.
"Koq bisa?", tanya Wibowo tak mengerti.
Hanny gelisah. Dia mondar-mandir di luar ruangan tersebut. Satu jam sudah dia menunggu. Pak Wibowo datang dengan tergesa-gesa.
"Prili bagaimana Ma?terus hamil gimana?", tanya Wibowo cemas.
Belum sempat Hanny menjawab, dokter yang memeriksa Prili akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter bagaimana anak saya dan kehamilannya?", tanya Hanny cepat.
"Untung cepat di bawa kemari, kehamilannya masih bisa di pertahankan. Anak ibu harus bedrest total selama 2x24 jam, jadi anak ibu harus rawat inap dulu di sini", jelas sang dokter.
"Oohh syukurlah, nggak apa-apa dok rawat inap yang penting anak saya dan calon bayinya sehat. Terima kasih banyak dok", kata Hanny mengucap syukur.
"Silakan menjenguk anaknya. Usahakan jangan stres dan jangan banyak gerak dulu pasiennya, mari saya tinggal dulu ", kata sang dokter.
"Sekali lagi terima kasih dok", kata Hanny.
"Iya sama-sama ", kata sang dokter.
Hanny dan Wibowo suaminya masuk ke dalam ruangan Prili.
__ADS_1
"Pa Ma", sapa Prili.
"Jangan banyak gerak, istirahat saja. Lain kali hati-hati, kamu itu lagi hamil. Tidak bisa di samakan saat kamu belum hamil. Mama sudah larang kamu untuk jalan-jalan. Di samping kamu itu lagi hamil, acara kamu sudah nunggu minggu nanti. Iya semoga cepat membaik, kamu bisa bersanding minggu nanti", kata sang mama menyesalkan kejadian tersebut.
"Sudah tak perlu di sesalkan, semoga dengan kejadian ini anakmu sadar, tak perlu untuk hura-hura di saat berbadan dua seperti sekarang ini ", kata Wibowo menyentil Prili.
"Papa", kata Hanny menyenggol perut Wibowo.
"Iya Prili salah, Prili memang keras kepala", sela Prili.
"Iya sudah kamu istirahat ya, nanti papa dan mama mau pulang dulu mau ambil pakaian kamu. Tidurlah, istirahat ", bujuk sang mama.
"Iya Ma", kata Prili tidak lagi membantah.
Wibowo dan Hanny isterinya meninggalkan Prili. Mereka pulang ke rumah mereka. Prili memandang langit-langit ruangan yang berwarna putih tersebut. Prili menghela nafasnya. Ia ingin memejamkan matanya tapi hatinya tertuju pada Jimmy yang jauh di sana.
"Kemana kamu?hari ini tanpa kabar", batin Prili sambil memejamkan matanya.
"Begini rasanya berbagi cinta, nyesek!pasti dia bersama isterinya, kalau begini anak ini akan tumbuh kurang kasih sayang dari ayahnya," batin Prili lagi.
Prili baru merasakan sakitnya tanpa cinta. Di saat sakit seperti ini tanpa suami di samping terasa ada yang hilang. Tak terasa air mata Prili mengalir membasahi pipinya. Hatinya ngilu membayangkan kemesraan Jimmy dan Nina isterinya.
Sekarang Prili baru tahu rasanya bagaimana pentingnya rasa kasih sayang seseorang yang di cintai.
"Maafkan aku Nin, tapi Jimmy sekarang adalah ayah dari anakku. Aku tak bisa melepaskannya untukmu", gumam Nina.
Nina memiringkan tubuhnya. Ia berusaha untuk menenangkan pikirannya. Ia ingin tidur walau sebentar. Perlahan Prili memejamkan matanya. Dan akhirnya Prili pun tertidur juga. Hari naas ini telah menyadarkan seorang Prili. Tapi ibarat sebuah pepatah, nasi telah menjadi bubur. Penyesalan itu selalu datang di akhir.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readers ku sayang.
Jangan lupa beri likenya ya.
Terima kasih yang sudah like dan komen.
Mampir juga ke karyaku lainnya ya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).