Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Bagai mimpi


__ADS_3

Adel tak memperdulikan perkataan Kevin. Adel melajukan kendaraannya. Ia pergi meninggalkan Kevin. Kevin memakai helmnya dan menyusul Adel. Adel kaget ketika melihat Kevin sudah ada di samping kanannya.


"Pelan-pelan bawa motornya, entar jatuh tuh gado-gadonya", goda Kevin.


Adel tak mengindahkan perkataan Kevin. Ia malah tancap gas. Kevin mengambil jalan pintas. Setelah mendekati persimpangan rumah Adel, Kevin menghentikan motornya. Dia yakin Adel belum melewati persimpangan tersebut. Benar saja, Adel datang. Adel kaget saat melihat Kevin sudah ada di hadapannya dan menghalangi jalannya. Adel rem mendadak. Adel hampir terjungkal. Adel cepat memijakkan kedua kakinya ke tanah.


"Keviiinn!!", seru Adel.


"Tenang gak usah marah-marah gitu, aku bukan perampok atau tukang begal", kata Kevin santai.


"Mau kamu apa sih?", kata Adel kesal.


"Cuma mau ikut pulang", jawab Kevin santai.


"Terserah", kata Adel jutek.


Adel melajukan kembali motornya melewati motor Kevin. Kevin tersenyum penuh kemenangan. Kevin mengikuti motor Adel. Mereka sampai di rumah Adel.


"Kamu mau masuk atau di teras saja?", tanya Adel menahan kesalnya.


"Di luar juga boleh, yang penting kamu ikhlas", kata Kevin sambil senyum.


Adel mengajak Kevin duduk di teras rumahnya. Belum juga keduanya berbincang-bincang, pintu rumahnya terbuka. Muncul ibu Adel dari dalam rumah.


"Eh ada tamu rupanya, ajak masuk Del, tamu koq gak di kasih minum", ujar sang ibu.


Kevin mengangguk hormat pada ibunya Adel.


"Gak usah repot-repot Bu, di sini enak koq, adem", kata Kevin sambil melirik Adel.


"Ooh gitu, iya udah ibu ke belakang dulu ya", kata ibunya Adel.


"Bu, ini ada gado-gado dari kak Jimmy", kata Adel.


"Jimmy?mbak kamu ada juga?", tanya sang ibu penuh kerinduan.


"Nggak Bu, kak Jimmy sendirian. Dia beli gado-gado karena mbak Na pesan minta di beliin. Tadi aku mau beli tapi kak Jimmy yang bayarin", jelas Adel.


"Ohh", kata sang Ibu sambil menerima gado-gado dari tangan Adel.


"Ya udah yuk kita makan sama-sama, kebetulan ini gado-gadonya ada tiga, yuk nak Kevin kita makan bareng, masuk aja gak papa", kata ibunya Adel.


Adel sedikit cemberut mendengar ajakan sang ibu. Kevin tahu itu.


"Iya Bu, terima kasih", kata Kevin.


"Ayolah jangan menolak rejeki, gak baik loh. Ayo Del, di siapin dulu kita makan sama-sama", kata sang ibu.


Adel dengan berat hati masuk ke dalam rumahnya tanpa melihat ke arah Kevin.

__ADS_1


"Ayo nak Kevin, masuk", ajak ibunya Adel.


Kevin masuk ke dalam rumah mengikuti sang pemilik rumah.


Kevin duduk di ruang tamu. Adel kemudian muncul untuk mengajak Kevin menuju meja makan.


Mereka makan bersama. Kevin melihat Adel yang makannya hanya melihat ke piringnya saja tanpa melihat kepadanya. Sang ibu memperhatikan keduanya yang terlihat seperti lagi musuhan.


Setelah selesai makan, ibu Adel buka suara.


"Del, biar ibu yang beresin. Ajak nak Kevin ngobrol nya di ruang tamu saja", kata sang ibu.


"Iya Bu", jawab Adel singkat.


Adel hanya memberi isyarat pada Kevin untuk mengikutinya ke ruang tamu.


"Del, udah dong marahnya. Hilang tuh cantiknya", goda Kevin.


Adel masih diam.


"Jujur, sejak kita pertama bertemu waktu aku tak sengaja mengotori pakaian kamu dengan kejiprat air, aku sudah menyukai kamu Del", kata Kevin lagi untuk mencairkan suasana.


"Del, kamu dengar gak sih?", tanya Kevin.


Melihat Adel tak ada reaksi, Kevin nekad duduk di samping Adel. Adel kaget.


"Kamu apa-apaan sih?", kata Adel bermaksud berpindah tempat. Tapi tangannya di pegang Kevin dengan cepat.


Adel akhirnya duduk kembali.


"Mau bicara apa?", akhirnya Adel respon


Kevin memberanikan diri dengan menggenggam tangan Adel. Adel kaget. Darahnya berdesir.


"Kevin kamu...", kata Adel gugup.


"Maafkan kalau aku lancang, jujur aku suka sama kamu Del, aku...", Kevin turun dari tempat duduknya dan bersimpuh di di kaki Adel.


"Kevin", suara Adel bergetar.


Kevin mencium punggung tangan Adel. Adel gemetar. Tubuhnya panas dingin. Ini terasa bagai mimpi.


"Aku cinta kamu, maukah kamu menerima cintaku?", kata Kevin menatap dalam bola mata Adel.


Adel terkesima. Hatinya tak menentu. Kevin membuatnya seperti tak menginjak tanah. Begitu mendadak bagi Adel.


Adel melepaskan genggaman tangan Kevin. Kevin kembali duduk di samping Adel.


"Del beri aku jawaban", kata Kevin memelas.

__ADS_1


Adel memejamkan matanya. Darahnya masih bergemuruh. Adel menghela nafasnya. Lidahnya terasa keluh.


"Del ayolah", kata Kevin lagi.


Adel menatap bola mata Kevin dalam mencari kekuatan di sana, dan memastikan kalau ini nyata bukan mimpi.


"Kevin, jujur aku juga suka sama kamu tapi maaf aku tidak mau pacaran. Aku mau kelak kalau ada jodoh, aku ingin langsung nikah tanpa melalui pacaran", kata Adel tanpa bermaksud melukai perasaan Kevin.


"Apakah itu artinya kamu menolak cintaku?", tanya Kevin sedikit kecewa.


"Tidak Kev, aku hanya tidak mau pacaran. Itu saja", kata Adel tegas.


"Baiklah, aku janji suatu hari nanti aku akan datang lagi dengan cinta yang lebih banyak lagi", kata Kevin mantap.


Adel mengerjipkan matanya. Kevin menatapnya penuh arti. Lama keduanya saling tatap.


" I love you", kata Kevin pelan.


Adel hanya tersenyum.


"Datanglah padaku kalau kau sudah siap", kata Adel tegas.


"Oke, aku pulang dulu", kata Kevin sambil berlalu.


Walau kecewa tapi Kevin tidak akan menyerah. Dia akan datang kembali suatu hari nanti dengan kekuatan lebih.


Adel menatap kepergian Kevin. Adel baru masuk kembali setelah Kevin menghilang dari pandangannya. Adel masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di pinggir tempat tidurnya. Mengingat kejadian barusan. Adel tersenyum. Kevin gentleman menurutnya.


"Maafkan aku Kev, aku hanya ingin langsung menikah tidak dengan melalui pacaran, kalau kita berjodoh kita akan di pertemukan kembali. Kamu baik, kamu jujur dengan perasaanmu buktikan kalau kamu memang ingin merebut hatiku", gumam Adel.


Adel merebahkan tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang mengingat kejadian tadi. Itu kali pertama ada lelaki menyentuhnya. Adel memejamkan matanya membayangkan sikap Kevin tadi padanya.


Adel membuka matanya. Menatap langit-langit di kamarnya. Pikirannya melanglang buana. Adel senyum-senyum sendiri. Adel membolak-balik tubuhnya. Hingga akhirnya Adel tertidur. Adel tidur dengan sangat pulasnya. Bibirnya menyunggingkan senyum.


Apakah Adel sedang bermimpi? bermimpi tentang Kevin mungkin atau dia sudah bermimpi tentang indahnya cinta. Yang pasti, hidup di alam nyata lebih berarti dari pada di alam mimpi. Tapi tanpa mimpi, hidup takkan ada artinya.


Teruslah bermimpi, agar ada jalan menuju yang lebih nyata. Karena tanpa mimpi juga, hidup tidak akan bergairah. Teruslah mengejar mimpi untuk mewujudkan sebuah impian.


.


.


.


.


Selamat membaca ya...


Jangan lupa bantu like, komen dan votenya ya ..

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2