
"Din kamu susun satu-persatu ya, atur sesuai jenis", kata Nina mengajak karyawannya yang bernama Dina menyusun barang-barang yang sudah di buka dari tempat pengepakannya.
"Baik Bu", kata Dina.
Dina menyusun dengan teratur barang-barang tersebut sesuai jenisnya. Nina menuju barang yang lain, di sana ada juga karyawannya yang sedang sibuk menghitung jumlah barang-barang yang ada di hadapannya.
"Des, selesai menghitung nanti kamu bantu Dina ya", kata Nina pada karyawannya yang bernama Desti.
"Iya Bu", jawab Desti.
"Don, kamu pindahin ini ke dekat Dina gih", kata Nina menyuruh karyawannya yang laki-laki bernama Doni.
"Siap Bu", kata Doni ala tentara.
Nina tertawa. Doni selalu bertingkah lucu. Sejak kehadiran Doni di tokonya Nina merasa selalu terhibur.
Ketiga karyawannya di anggap Nina seperti adiknya sendiri. Tidak ada yang di bedakan.
Cukup menguras tenaga. Setelah beberapa jam akhirnya pekerjaan mereka selesai juga. Nina menyuruh Doni untuk membeli makan siang mereka. Dengan patuh Doni menjalankan perintah sang bos.
Setelah makan siang, mereka kembali bekerja. Nina masuk ke dalam ruangannya.
Ada pembeli yang datang. Pertama-tama satu pembeli, tak lama ada lagi yang datang. Oleh-oleh khas nusantara toko Nina perlahan banyak pengunjung berdatangan.
Dina yang paling lama bekerja dengan Nina di percaya menghandle kasir. Dengan lincah tangan Dina mengoperasikan komputernya.
Doni dan Desi selalu memberikan pelayanan terbaik pada setiap pembeli yang datang.
Nina memantau tokonya melalui cctv di ruangannya. Nina mengucap syukur ketika para pengunjung sangat respon dengan barang-barang yang dijualnya.
"Alhamdulillah semoga selalu lancar luncur", ucap Nina.
Tiba-tiba ponsel Nina berbunyi. Nina mengambil ponselnya yang ada di tas kecilnya.
"Bang Jimmy", gumam Nina.
"Iya Bang ada apa?", tanya Nina setelah terhubung.
"Di mana?", tanya Jimmy.
"Di toko, ada apa?", tanya Nina lagi.
"Abang jemput ya kita makan di luar", ajak Jimmy.
"Yaaahh gak bilang dari tadi sih Bang kalau mau ajak makan di luar, aku baru saja udah makan dengan para karyawan", jelas Nina.
"Ya udah kalau kamu gak mau", kata Jimmy sedikit kecewa.
"Bukan gak mau Abang, tapi ini perut udah kenyang mau di tempatkan di mana lagi makanannya", kata Nina memberi pengertian takut Jimmy marah lagi.
Nina tak mendengar suara lagi dari seberang sana. Nina melihat ponselnya, ternyata Jimmy telah memutus obrolan mereka. Nina menghela nafasnya.
"Makan ajaaa jadi masalah", gumam Nina.
Tiba-tiba Nina merasakan sedikit mualdan kepala agak pusing. Nina mengambil air minum untuk sekedar menghilangkan rasa mual yang tiba-tiba menyerangnya.
__ADS_1
"Koq mual gini ya, perasaan makanku gak pernah telat selalu teratur", gumam Nina.
Nina keluar dari ruangannya.
"Don, kamu ke apotek ya bentar beliin obat maag. Ini uangnya", kata Nina seraya merogoh saku celananya menyerahkan uang seratus ribu pada Doni.
"Nama obatnya apa Bu?", tanya Doni takutnya salah beli.
"Obat maag deh pokoknya, tanya aja pada orang apotek tapi yang pil ya jangan yang sirup, aku gak suka bau sirup", ujar Nina.
"Siap", kata Doni dengan aksinya.
Nina tersenyum sembari menahan mual yang menderanya. Nina kembali ke ruangannya.
Tak lama Doni kembali membawa obat yang di minta Nina. Doni mengetuk pintu ruangan bosnya.
"Masuk", suara Nina dari dalam.
"Ini obatnya Bu, kembaliannya ada di situ", kata Doni.
"Kembaliannya ambil aja buat kamu", kata Nina seraya memberikan uang kembalian tersebut kepada Doni.
"Gak usah, masa' begitu aja di upah. Entar Doni besar kepala loh Bu", ucap Doni.
"Iya udah kalau gitu terima kasih ya", ujar Nina.
"Iya Bu sama-sama, permisi Bu", kata Doni santun.
Nina menganggukkan kepalanya. Doni keluar dan menutup kembali pintu ruangan Nina.
Benar saja mual yang menderanya sedikit berkurang. Nina mengambil permen yang selalu tersedia di atas mejanya. Permen mint kesukaannya.
"Ini pasti akibat gak makan malam kemarin", gumam Nina.
Nina mengambil ponselnya.
"Buka medsos dulu bentar, kali aja ada berita hangat", kata Nina.
Nina membuka Instagramnya. Nina suka lihat video-video lucu di sana. Nina tersenyum dan tertawa sendiri melihat video-video tersebut.
Tiba-tiba air muka Nina berubah. Prili mengunggah kemesraannya bersama Jimmy di salah satu tempat makan bernuansa alam. Terlihat Prili dengan santuynya menyuapi Jimmy. Hati Nina bagai teriris.
"Jadi setelah tadi aku menolaknya, dia langsung mengajak Prili untuk makan bersamanya", batin Nina.
Nina mengusap air matanya yang mengalir begitu saja membasahi pipinya. Hatinya begitu sakit melihat kemesraan mereka.
"Tega kamu Bang", kata Nina di sela isak tangisnya.
Nina menelungkupkan wajahnya di meja kerjanya. Hatinya remuk redam. Nina menonaktifkan ponselnya. Postingan Prili merubah Nina yang tadinya ceria sekarang berubah menjadi 180 derajat di dominasi rasa sedih yang tak terkira. Suasana hati yang tidak bagitu baik.
Nina menghapus air matanya. Ia mengambil ponsel dan tas kecilnya. Nina keluar dari ruangannya dan mengambil beberapa bungkus makanan untuk di bawanya.
"Kalian bertiga, ibu pergi dulu. Tutupnya jangan sampai malam ya. Sore tutuplah", ucap Nina.
Dina, Desi dan Doni serentak menjawab.
__ADS_1
"Baik Bu", ucap ketiganya.
Nina dengan langkah gontai meninggalkan tokonya. Nina masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya menuju jalan hitam yang panjang.
Nina berhenti di depan rumah ibunya. Nina menghapus sisa air matanya yang masih menempel di pipinya. Nina menghela nafasnya dalam-dalam. Setelah menghembuskannya secara perlahan. Nina turun dari mobilnya. Ratmi sang ibu yang melihat kedatangan anaknya langsung mendatangi mobil Nina.
Nina turun dari mobilnya. Ia langsung memeluk sang ibu tercinta.
"Tumben datang jam kerja gini, sendirian lagi. Jimmy pasti masih di kantor ya", kata sang ibu.
"Aku kangen banget sama ibu, makanya datang jam begini. Bang Jimmy masih di kantor. Aku tadi dari toko langsung kemari ", jelas Nina.
"Ayo kita masuk", ajak sang ibu.
"Eehh bentar aku bawa sesuatu buat ibu", kata Nina kembali membuka mobilnya dan mengambil kantong plastik yang berisi oleh-oleh khas nusantara untuk sang ibu.
"Banyak banget, jadi repot", ujar sang ibu.
"Nggak lah Bu, Adel belum pulang ya?", tanya Nina seraya melangkahkan kakinya mengikuti langkah sang ibu.
"Belum, sore baru pulang", kata sang ibu.
"Kalau belum makan, sana makan dulu", kata sang ibu sambil menunjuk ke meja makan.
"Sudah tadi makan di toko bersama karyawan ", kata Nina.
"Ohh gitu, yuuk kita ngobrol di sini aja", kata sang ibu menuntun tangan Nina menuju sofa di ruang keluarga.
Nina duduk di samping ibunya. Ibunya tahu melihat raut muka Nina yang kuyuh pasti telah terjadi sesuatu.
"Kamu baru sudah nangis ya, ada apa?", tanya sang ibu.
"Gak ada apa-apanya Bu, Nina cuma kangen banget sama ibu", kata Nina sambil menyenderkan kepalanya di bahu sang ibu.
"Bener nih? matanya sampai sembab gitu", ujar sang ibu.
"Nggak Bu, benar tidak ada apa-apa", bantah Nina.
Mereka bercerita seputar pekerjaan dan usaha bisnis yang sekarang di lakoni Nina.
Mereka bercerita sampai sore.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku sayang...
Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1