
Seperti biasa, Nina bangun pagi-pagi sekali. Dengan agak malas Nina turun dari tempat tidurnya. Nina bermaksud menuju kamar mandi tapi ponsel Jimmy tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk di ponselnya.
Nina mendekati ponsel Jimmy dan mengambilnya. Nina melihat di layar ponsel Jimmy ada pesan masuk tertera dengan nama 'Gulma'.
"Gulma?ada pesan masuk, sepertinya dari semalam kirim pesan tapi gak di baca, siapa gulma?", batin Nina.
"Jangan lupa besok", isi pesan semalam.
"Jangan telat ya", isi pesan yang masuk barusan.
Nina mengeryitkan dahinya.
"Siapa dia?ada keperluan apa sama suamiku?", gumam Nina.
Nina melihat ke arah Jimmy. Jimmy masih tertidur dengan pulasnya. Nina menscreen shot pesan tersebut dan hasil screenshotnya di kirim Nina ke ponselnya. Nina cepat menghapus pesan-pesan tersebut agar Jimmy tidak dapat melihat isi pesan tersebut dan tentunya Nina aman dari pertanyaan Jimmy karena telah membuka pesan di ponselnya Jimmy. Nina mengembalikan ponsel Jimmy ke tempat semula. Nina menuju kamar mandi.
Nina menyiapkan sarapan untuk sang suami. Setelah selesai Nina kembali menuju kamarnya bermaksud untuk membangunkan Jimmy suaminya. Nina melihat di tempat tidur sudah tidak ada suaminya. Nina mendengar ada gemericik air dari kamar mandi.
"Sudah bangun", gumam Nina.
"Apa itu artinya dia akan pergi sepagi ini", batin Nina.
Nina menyiapkan pakaian suaminya. Walau masih sedikit nyeri Nina tetap bergerak.
Jimmy selesai dengan ritual mandinya.
"Sayang kenapa harus banyak bergerak, biar abang aja yang ambil", protes Jimmy.
Nina diam. Dia tetap menyiapkan segala keperluan suaminya. Itulah salah satu kelebihan Nina yang disukai Jimmy, Nina tetap memperlakukannya dengan baik walau dalam keadaan marah.
Jimmy memakai pakaiannya dengan di bantu Nina.
"Emangnya ada tugas luar ya mesti berangkat pagi-pagi gini", ujar Nina tanpa melihat wajah Jimmy.
"Banyak pekerjaan numpuk, kemarin belum selesai. Marsha belum banyak menguasai, oleh sebab itu sebagai pimpinan kita harus memberikan contoh agar bawahan kita bisa meniru, atau dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik berkat bimbingan kita", jelas Jimmy.
Nina memasangkan dasi di leher suaminya. Jimmy memandangi wajah di depannya.
"Maafkan aku sayang, aku tak bisa berlama-lama di rumah, aku tak tega melihat wajahmu kalau lama-lama di dekatmu", batin Jimmy.
"Sarapan sudah siap, sarapan dulu baru boleh pergi", ujar Nina sambil berlalu.
Jimmy mengambil tas kerjanya, lalu menuju meja makan.
"Bu Sarmi datang gak kemarin?", tanya Jimmy di sela makan mereka.
"Iya datang jam delapan sampai sini, jam empat pulang", jelas Nina.
"Ohh gitu, siang ya? sepertinya harus ada asisten rumah tangga yang standbye di sini", kata Jimmy sambil mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya.
"Untuk apa juga sih bang, masaknya juga sedikit koq gak banyak", kata Nina.
"Kamu butuh istirahat, aku ingin kamu cepat pulih", ujar Jimmy.
"Iya tapi aku juga butuh bergerak lho, bosan juga kalau diam saja", protes Nina.
"Gak ada kata bantahan, urusan rumah serahkan pada asisten, kamu bisa kerjakan yang lain yang lebih ringan biar tidak bosan", jelas Jimmy.
"Iya udah deh terserah abang aja", jawab Nina.
Jimmy menghubungi Marsel.
__ADS_1
"Bro, nanti sebelum menuju kantor, kamu ke agen asisten rumah tangga dulu ya, carikan asisten rumah tangga yang baik, rajin dan tentunya bisa stanbye di rumah dan belum berkeluarga pastinya",kata Jimmy setelah tersambung.
"belum berkeluarga atau sudah pernah berkeluarga?", Marsel menggoda Jimmy.
"Yang sendiri pastinya, jadi bisa fokus dan standbye di rumah", jelas Jimmy.
"Oh gitu, oke siap. Pesanan akan langsung di antar ke rumah ", ucap Marsel.
"Ingat!yang jujur",kata Jimmy mengulang perkataannya.
"Siap", kata Marsel.
Obrolan mereka berakhir. Marsel pamitan pada Sofi.
"Ayang beib pergi dulu ya, maaf banyak iklan yang lewat jadinya terjeda, nanti ayang beib telepon lagi", ucap Marsel pada Sofi.
"Awas bohong, aku akan marah besar", kata Sofi dengan wajah di tekuk.
"Oke sayang, senyum dong biar cantiknya gak hilang", goda Marsel.
Sofi akhirnya tersenyum. Dia memberikan senyum termanisnya.
"Gitu dong, itu baru cantik", goda Marsel lagi.
Sofi mencubit pinggang Marsel.
"Auuuwww sakit beib", kata Marsel menggeliat kesakitan.
"Makanya jangan suka meledek orang", kata Sofi sambil tersenyum.
"Iya maaf, dah ahh nanti pak boss marah, kelamaan", kata Marsel seraya mencolek dagu Sofi.
"hati-hati ya", kata Sofi.
*****
Nina memesan ojol. Pesan-pesan yang di kirim di ponsel Jimmy melalui WhatsApp, mengganggu pikirannya.
Nina menyusul Jimmy ke kantornya. Nina lihatnya dari kejauhan.
"Itu mobilnya ada, artinya dia benar-benar ke kantor", batin Nina.
Nina putar balik. Dia kembali ke rumahnya.
Sementara itu Jimmy cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Dia harus tepat waktu tiba di rumahnya Prili.
Jam sudah menunjukkan pukul 9.00 WIB. Jimmy menyimpan berkas-berkasnya di tempat yang aman. Setelah selesai Jimmy meninggalkan kantornya.
"Marsha, saya keluar dulu, kalau ada apa-apa beritahu pak Marsel", kata Jimmy.
"Baik pak ", kata Marsha tanda mengerti.
Jimmy menuju tempat parkir. Dia masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan kendaraannya.
Rumah Prili agak jauh dari kantor Jimmy. Jimmy terpaksa mencari jalan pintasan biar cepat sampai.
Setelah menempuh waktu 75 menit akhirnya Jimmy tiba di rumah prili.
"Masih ada waktu, sebaiknya aku tunggu di mobil saja", ujad Jimmy.
Baru saja Jimmy bermaksud untuk selonjoran kaki tapi berponselnya kembali berdering.
__ADS_1
Jimmy mengambil ponselnya yang ada di hadapannya.
"Mama", gumam Jimmy.
Jimmy mengangkat ponselnya.
"Iya ma, ada apa?", tanya Jimmy.
"Kamu ini gimana, udah di tunggui dari tadi belum muncul juga", ujar Liana sang mama.
"Aku baru sampai Ma, sekarang udah di depan rumah Prili", ujar Jimmy.
Jimmy mengakhiri panggilan tersebut. Jimmy turun dari mobilnya. Jimmy menutup kembali pintu mobilnya. Jimmy masuk ke dalam rumah. Ternyata tinggal dirinya yang masih belum hadir.
"Duduklah, kita akan segera mulai", kata Liana sang mama.
Jimmy menuruti kemauan sang ibu. Di liriknya Prili yang duduk di sampingnya.
Jimmy menghela nafasnya.
Acara suci itu pun di mulai. Jimmy tidak mau berlama-lama. Dia dengan lugas mengucapkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Prili meneteskan air matanya saat dirinya kini sudah sah menjadi nyonya Jimmy. Pemasangan mahar pun di lakukan. Tangan Jimmy bergetar saat jari ingin memasangkan cincin tersebut ke jari manis Prili. Terlintas wajah Nina sang isteri di benaknya seketika.
Acara pun selesai. Jimmy bermaksud kembali ke kantornya. Tapi Prili dengan sigap menarik tangan Jimmy menuju kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan?aku harus kembali ke kantor sekarang ", protes Jimmy.
"Aku rindu kamu sayang", kata Prili lebih berani dengan mengunci pintu kamarnya.
"Aku sudah menuruti kemauan kamu, tugasku sudah selesai. Anak itu sudah ada ayahnya", jelas Jimmy.
Prili memeluk dan mencium pipi Jimmy.
"Prili hentikan, jangan sampai aku bertindak kasar", ujar Jimmy kesal.
Prili tak peduli. Kini dia bertindak lebih brutal. Ia meremas tongkat Jimmy dengan kasar. Jimmy kaget. Jimmy mendorong Prili hingga Prili terjatuh ke pantai.
Prili menahan sakit di pantatnya. Jimmy terkejut. Jimmy masih punya hati.Di bantunya Prili untuk berdiri.
"Maaf tak sengaja, kamu juga sih nekad", kata Jimmy.
"Kenapa kamu nggak peka sih Jim?", batin Prili.
Jimmy mengangkat tubuh Prili. Prili tidak mau melewatkan kesempatan itu. Di tariknya tangan Jimmy sehingga Jimmy jatuh menindih tubuhnya. Prili cepat melingkarkan kedua tangannya di leher Jimmy. Mata keduanya saling tatap. Darah Jimmy berdesir saat buah kenyal Prili yang lumayan besar menempel di dadanya. Sejenak Jimmy terpana. Namun beberapa detik kemudian dia tersadar. Jimmy ingin melepaskan diri. Tapi kaki Prili sudah melingkari pinggangnya.
"Jangan menolakku suamiku, aku sangat merindukanmu", kata Prili lirih.
Bersambung...
.
.
.
Selamat menikmati ya readers...
Maaf yang sudah panas dingin, lanjut ke bab berikutnya ya...
Jangan lupa bantu like, komen dan juga votenya ya readers.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).