Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Ibu cerdas


__ADS_3

Melihat sikap Nina, Jimmy menjadi gemas. Di raihnya wajah Nina. Tanpa di komando, bibir Nina sudah di lahap oleh Jimmy. Nina terkejut atas perlakuan Jimmy yang sembrono. Jimmy mencium dengan sangat rakusnya. Nina seperti kehabisan nafas. Nina mendorong Jimmy sehingga Jimmy tersandar ke pintu mobil. Nina mengatur nafasnya.


"Kenapa sayang?", tanya Jimmy yang melihat penolakan Nina.


"Kita di tempat umum bang, kalau di lihat orang gimana?", kata Nina kesal. Nina mendengus.


"Baiklah sayangku. Kita makan dulu ke fried chicken tapi selesai makan kita check-in di situ ya. Jangan mau kalah sama Tika", kata Jimmy seraya menunjuk sebuah hotel di samping fried chicken tersebut.


"Kan di rumah lebih nyaman bang?", ucap Nina.


"Cari suasana lain sayang. Ayo kita makan. Abang sudah lapar lahir batin ini", ucap Jimmy sekenanya tapi tak urung membuat Nina tertawa. Nina menjadi gemas dengan ucapan suaminya.


Auuwww...


Jimmy menjerit kecil. Pinggangnya seperti di sengat lebah.


"Kenapa sih sayang?sakit tahu", ucap Jimmy.


"Maaf maaf. Habis abang gemasin banget", kata Nina.


"Awas lho ya. Tunggu selesai makan, akan abang buat kamu bertekuk lutut", ujar Jimmy seraya membuka pintu mobil.


"Siapa takut", jawab Nina sambil terkekeh.


Mereka masuk ke tempat makan. Jimmy memesan makanan yang di maksud Nina isterinya. Setelah mendapatkan pesanannya, Jimmy membawa makanan tersebut menuju meja yang di tempati oleh Nina.


"Demi isteri tercinta", ucap Jimmy seraya meletakkan nampan yang berisi makanan beserta minumannya itu di hadapan Nina.


"Terima kasih cintaku", jawab Nina sedikit manja.


"Hmmm",


Jimmy duduk di kursinya berhadapan dengan sang isteri. Mereka mulai mengeksekusi makanan tersebut.


"Krispi. Enak banget ini bang", ucap Nina tanpa melihat kepada Jimmy.


"Enak atau lapar?", tanya Jimmy.


"Sepertinya kedua-duanya", kata Nina sambil terus menyantap makanannya.


"Lihat kamu makan abang ikut kenyang", ucap Jimmy.


"Syukurlah, jadi jatah abang bisa buat isteri abang yang baik hati ini", ujar Nina sambil terkekeh.


"Tenang aja kalau mau nambah kita pesan lagi", ucap Jimmy seraya menikmati makanannya.


Keduanya menghabiskan makanannya. Setelah selesai mereka menuju mobil.


"Kita istirahat dulu disana, setelah itu baru kita pulang", ucap Jimmy seraya memutar setirnya.


"Modus lagi modus lagi", ucap Nina sambil membuang muka keluar.

__ADS_1


Jimmy hanya terkekeh. Dia melajukan mobilnya menuju hotel yang di maksud. Mereka check-in di hotel tersebut. Seperti pengantin baru, keduanya terlihat bahagia. Setelah memesan kamar, mereka masuk ke dalam kamar yang telah tersedia.


Pintu tertutup. Mereka menikmati hari kebersamaan mereka dengan baik. Cuality time. Tak ada suara terdengar. Hanya mereka yang tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.


****


Wina yang siang itu pulang kuliah tidak langsung ke rumah. Ia melajukan mobilnya menuju rumah Jimmy sang kakak. Wina memarkirkan mobilnya di garasi sang kakak.


Wina baru saja akan memencet bel tapi tiba-tiba pintu rumah terbuka.


"Non Wina, masuk non. Kirain tadi siapa", ujar mbak Yuni sambil tersenyum.


"Koq sepi mbak, mbak Na mana?", tanya Wina pada mbak Yuni tentang keberadaan Nina.


"Pergi non. Kalau gak salah katanya mereka mau pergi ke rumah temannya", ujar mbak Yuni.


"Mereka?maksudnya sama kakak juga?", tanya Wina penasaran.


"Iya non, katanya ke rumah temannya yang mau nikahan",jawab mbak Yuni.


"Oohh gitu. Iza mana mbak?", tanya Wina seraya masuk kedalam rumah.


"Lagi tidur non, non mau minum apa?", tanya mbak Yuni pada Wina.


"Apa aja deh mbak yang penting dingin", ucap Wina seraya menjatuhkan pantatnya di sofa.


"Ini non minumnya. Kalau belum makan, makan dulu non", kata mbak Yuni seraya meletakkan secangkir air sirup dingin rasa jeruk.


"Ma kasih mbak", kata Wina seraya mengambil cangkir yang berisi sirup tersebut dan meneguknya sampai habis.


Mbak Yuni hanya tersenyum.


"Kalau mau makan panggil aja ya non. Saya mau lihat Iza dulu", ujar mbak Yuni.


"Iya mbak. Nggak usah repot-repot. Nanti kalau mau makan aku akan ambil sendiri", jawab Wina.


Mbak Yuni masuk ke dalam. Sedangkan Wina menyalakan televisi. Untuk beberapa saat Wina menikmati film kartun yang di tontonnya tapi lama-kelamaan matanya tidak bisa di ajak kompromi lagi. Wina merebahkan tubuhnya di sofa. Ia pun tertidur dengan pulasnya.


Wina terbangun saat mendengar tangisan seorang bayi.


"Iza", kata Wina seraya mendadak bangun dari tidurnya.


Wina cepat menuju sumber tangisan. Ia melihat mbak Yuni sibuk mengganti popoknya Iza.


"Kenapa dia menangis mbak?", tanya Wina tak mengerti.


"Risih non. Popoknya sudah penuh", ucap mbak Yuni sambil mengganti popok Iza dengan sangat hati-hat


Setelah mbak Yuni selesai mengganti popok si imut, mbak Yuni memberikan susu pada si imut Iza. Seketika si imut menjadi diam. Wina hanya berdiri di samping mbak Yuni.


"Laper banget sepertinya mbak", kata Wina.

__ADS_1


"Iya non. Anak bayi kalau sudah buang air pasti terasa lapar lagi", ujar mbak Yuni.


"Itu susu formula ya mbak?", tanya Wina lagi.


"Bukan non. Ini ASI nyonya. Dia selalu siap ASI kalau mau berpergian", jawab mbak Yuni.


"Oohh", kata Wina singkat.


"Ibu cerdas", gumam Wina lagi.


"ASI nyonya cukup untuk Iza jadi tidak perlu pakai susu formula", kata mbak Yuni lagi.


Wina manggut-manggut. Ia merasa kagum dengan kakak iparnya tersebut. Di jaman sekarang dengan memiliki uang banyak, wanita sekarang kebanyakan lebih memilih susu formula untuk asupan makanan untuk bayinya. Tapi Nina tetap menggunakan ASI nya sebagai makanan utama bayinya.


"Mbak Na bukan hanya cantik dan baik tapi juga pintar. Ia tidak terpengaruh dengan banyaknya produk yang menawarkan promo-promo menarik tentang produk mereka", batin Wina.


"Nyonya itu lebih suka memberikan ASI nya daripada susu formula mula non, katanya sih lebih terjamin. Tidak menimbulkan Alergi. Yang pasti gak repot-repot bangun malam hari non", kata mbak Yuni.


"Memangnya Iza tidur sama siapa mbak?", tanya Wina penasaran.


"Sama nyonya non", ucap mbak Yuni lagi.


"Oohh kirain sama mbak Yuni ', kata Wina.


Diam sejenak tak ada cerita. Mbak Yuni memberikan susu tersebut sampai habis. Si imut Iza kelihatan sudah kenyang. Ia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, ia terlihat sangat senang setelah perutnya sudah kenyang.


"Boleh aku gendongnya mbak?", tanya Wina.


"Boleh non, silakan", kata mbak Yuni pada Wina.


Wina mendekati Iza.


"Halo cantik, kita jalan-jalan dulu yuk. Pasti kamu capek kan berbaring terus. Sini tante gendong. Kita jalan-jalan sore dulu ya", ucap Wina.


Si kecil Iza menggerakkan kaki dan tangannya. Ia terlihat senang. Ia seperti mengerti apa yang sedang di ucapkan oleh Wina tantenya. Wina mengambil si imut Iza dan menggendongnya.


"Kalian disini rupanya",


.


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


Like, komen dan votenya di tunggu ya....

__ADS_1


Terima kasih.


"


__ADS_2