
Nina berangkat ke kantornya dengan jasa gojek. Walau dengan kaki yang masih terasa sakit namun Nina tetap masuk kerja. Nina turun dari ojeknya dan membayar ongkosnya. Dan di saat bersamaan Jimmy turun dari mobilnya.
"Nina?koq naik gojek, motormu mana?", tanya Jimmy.
"Anu pak, kemarin kecelakaan kecil jadi motornya rusak, Sekarang masih di bengkel, maaf ya pak", kata Nina memanggil Jimmy dengan sebutan pak karena banyak karyawan yang lalu lalang.
"Kecelakaan?trus kamunya gimana?",tanya Jimmy cemas.
"Seperti yang bapak lihat, aku gak apa-apa cuma lecet di kaki kiri",jawab Nina.
"Kaki kiri?yang terkilir kemarin kaki kiri juga perasaan?", kata Jimmy.
"Iya pak apes banget kaki kiriku kemarin, sudah terkilir, lecet pula", kata Nina sambil melihat ke bawah.
"Trus kenapa kamu gak kasih tahu kalau kamu kena musibah?aku bisa ngijinin kamu supaya tidak masuk kerja dulu", kata Jimmy.
"Kemarin pak Marsel juga bilang begitu, tapi karena ku anggap cuma lecet biasa saja, iyaaa aku masuk aja pak, lagian kan hari ini jadwal kamu sibuk, jadi ya lebih baik masuk aja deh", kata Nina.
"Marsel sudah tahu kamu kecelakaan, kenapa dia gak bilang?trus kamu ngasih tahu Marsel sementara aku gak kamu kasih tahu?",tanya Jimmy protes.
"Pak Marsel kebetulan lewat di tempat kejadian, dan dia sempat mengantarku pulang ke rumah", kata Nina.
"Sialan sih Marsel, aku keduluan ceritanya nih", batin Jimmy.
"Iya udah yuukk kita masuk", kata Jimmy mengajak Nina masuk menuju ruangan mereka.
"Mulai hari ini aku yang akan antar jemput kamu kerja",kata Jimmy setelah mereka berada di dekat ruangan mereka dan tanpa menoleh ke arah Nina.
Nina melongo.
"Udah jangan kayak ikan kerapu gitu mulutnya", kata Jimmy ketika melihat Nina yang menghentikan langkahnya.
"Tapi pak, aku cuma karyawan bawahan di sini, gak enak nanti di lihat sama yang lain, gimana kalau sampai mereka melihat bos besar antar jemput seorang Nina, pasti timbul gosip tak sedap nantinya", kata Nina menolak secara halus.
"Tenang aja mereka tak akan tahu, walau pun tahu gak apa kan?", kata Jimmy.
"Iya gak enak aja sih", jawab Nina.
"Udah gak usah nolak, aku tak akan melarikan anak gadis orang", kata Jimmy sambil berlalu dari hadapan Nina dan menuju ruangannya.
Jimmy meletakkan tasnya di atas meja. Dan merogoh saku celananya. Jimmy mengambil ponselnya dan menelpon Marsel.
"Ke ruanganku sekarang",kata Jimmy pada Marsel. Jimmy memutuskan teleponnya.
"Hai Nin, gimana kabarmy hari ini?", tanya Marsel ketika melewati tempat kerja Nina.
"Alhamdulillah baik kak", kata Nina.
"Syukurlah, semoga cepat sembuh", kata Marsel lagi.
"Iya kak terima kasih banyak", kata Nina pada Marsel.
"Sama-sama, tinggal dulu ya, mau ketemu bos besar dulu", kata Marsel.
__ADS_1
" Iya kak", kata Nina.
Marsel menuju ruangan Jimmy.
"Ada apa nih?penting banget sepertinya", tanya Marsel.
"Koq kamu gak bilang kalau Nina kecelakaan?", tanya Jimmy kesal.
"Iya lupa sih bro, lagian lukanya bukan luka serius, cuma lecet doang",kata Marsel.
"Kamu ngantar dia pulang kan kemarin?", tanya Jimmy.
"Iya, kasihan karena motornya rusak, jadi ku antar deh sampai rumah",kata Marsel santai.
"Kamu gak pegang-pegang dia kan?", tanya Jimmy penuh selidik.
"Kamu kenapa sih Jim?tanyanya koq gitu, aku memang penyuka wanita-wanita cantik tapi tidak sembarang serobot juga kali, Nina itu pegawai sini, sekretaris kamu, gak mungkin lah aku mau merusak reputasiku di sini", jelas Marsel jutek.
"Kali aja kamu lupa karena ada mangsa di depan mata", ledek Jimmy.
"Brengsek juga lu ya, gini-gini aku juga tahu tempatlah, atau jangan-jangan kamu suka ya sama Nina?", tebak Marsel sambil mengerlingkan matanya.
"Apa sih? sembarang kalo ngomong, situ kan biasanya kalau ada yang kening licin, bening langsung elu sosor aja, seperti magnet langsung nempel", ledek Marsel lagi.
"Itu sih cuma hiburan bro, gak serius amat, tapi sekarang jujur deh aku mau cari calon bini, umur sudah tambah tua, kalau memang si Nina mau denganku, aku sih nerimo dengan senang hati. Dia cantik, baik, dan pintar. Idaman banget", seloroh Marsel.
"Jangan belagu lu ya, mana mungkin Nina tertarik sama playboy kayak kamu, lagian..", Jimmy menghentikan ucapannya.
"Lagian...lagian apa?", buru Marsel
"Kenapa Jimmy jadi aneh gini ya?apa dia suka sama Nina?biasanya juga gak respon kalau aku bisa dekat wanita yang juga di kenalnya",gumam batin Marsel
"Kenapa kamu bengong?apa yang ada di benakmu sekarang?jangan bilang kalau kamu suka sama si Nina?", kata Jimmy.
"Apa sih?udah aahhh aku mau kembali keruanganku, males bahas yang gak penting", kata Marsel sambil memutar tubuhnya meninggalkan Jimmy sendiri.
"Dasar Playboy kelas sarden, tebar pesona mulu", kata Jimmy menggerutu setelah Marsel menghilang dari pandangannya.
"Pak......", kata Nina menyapa Marsel. Marsel selonong boy saja, dia tak menggubris sapaan Nina. Dia terus berjalan sampai menghilang dari pandangan Nina.
"Kenapa tuh kak Marsel mukanya di tekuk gitu?", tanya Nina bertanya pada dirinya sendiri.
"Bodoh amat aahh, apa peduliku", kata Nina sambil kembali ke laptopnya.
Telepon di meja Nina berdering. Nina mengangkatnya.
"Nin ke ruanganku sekarang, bawa berkas-berkas kemarin", kata Jimmy.
"Baik pak", kata Nina menutup kembali telepon tersebut dan nengambil berkas yang di pinta Jimmy.
Nina menuju ruangan Jimmy dengan setumpuk berkas di tangannya. Nina mengetuk pintu ruangan Jimmy.
"Masuk", kata Jimmy.
__ADS_1
Nina masuk dan berjalan menuju meja Jimmy.
"Ini pak berkasnya, semua ada di situ, itu sudah ku gabung dengan berkas yang bapak minta dua hari yang lalu", kata Nina sambil menyodorkan berkas yang di bawanya. Dan kemudian bermaksud berlalu keluar dari ruangan Jimmy.
"Nin", kata Jimmy menatap Nina.
"Iya pak", kata Nina.
"Pulang kerja aku antar ya", kata Jimmy
*Kemana pak…?", tanya Nina polos.
"Ke rumahmu lah, emangnya mau kemana?", tanya Jimmy dengan nada cuek.
"Ooohh eehh pak nanti ada yang lihatkan gak enak", kata Nina menolak secara halus.
"Koq di antar Marsel kamu gak takut ada yang lihat", kata Jimmy sedikit protes.
"Itu beda masalah dan tempatnya pak. Pak Marsel mengantarku karena motor rusak dan posisi aku tidak di kantor", protes Nina.
"Ooohh itu, gak usah di bahas kalau masalah motor dan tempat, kamu itu sekretaris ku, mau aku bawa kemana juga orang tak akan curiga", kata Jimmy.
Nina menatap nanar ke arah Jimmy.
"Serendah itukah aku di mata bapak?", tanya Nina lantang.
Jimmy mengernyitkan dahinya.
"koq ngomongnya gitu?",kata Jimmy tak paham atas pertanyaan Nina.
"Tadi bapak bilang mau di bawa kemana juga orang tak akan curiga, aku di sini kerja pak sesuai disiplin ilmu, bukan penjajak cinta", kata Nina kesal.
"Nina jangan salah paham dulu, maksudku orang tak akan berpikir macam-macam tentang kamu, karena kamu sekretarisku, kita bisa kan ada urusan di luar kantor dan memaksamu untuk ikut, walau mereka melihat kamu pergi bersamaku, mereka yakin itu urusan kantor", kata Jimmy seraya bangkit dari tempat duduk dan memandang keluar jendela.
"Nanti kita lihat ke bengkel, jika motornya selesai kamu bisa membawanya pulang", kata Jimmy melihat sebentar ke arah Nina.
"Satu lagi, jangan panggil pak kalau tidak ada orang", protes Jimmy.
"Jangan Pak, aku akan memanggil kakak di luar kantor saja, aku malah bingung kalau bentar manggil pak bentar manggil kak, jadi panggil sesuai tempat saja ya",kata Nina sambil pamit pada Jimmy untuk kembali ketempatnya.
Jimmy menghela nafasnya. Dan kembali ke mejanya, mulai berkutat dengan kertas yang menumpuk di atas mejanya.
.
.
.
.
Bantu like, komen dan votenya juga ya readers sayang....
Mampir juga ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).