
Rinal mengantar Marsya sampai rumahnya. Marsya mempersilahkan Rinal untuk masuk.
"Kamu duduk dulu ya, ku buatkan minumnya dulu", kata Marsya.
"Boleh", kata Rinal.
Marsya menuju dapur. Rinal melihat-lihat. Matanya berkelana ke setiap sudut ruang tersebut. Marsya tiba dengan membawa se cangkir teh di tangannya.
"Minum", kata Marsya pada Rinal.
"Terima kasih ya", kata Rinal.
Marsya hanya tersenyum.
"Sepi ya yang lain pada kemana?", tanya Rinal.
"Mungkin belum pulang. Sejak ibu meninggal ayah selalu pulang malam, sedangkan Deni pulang kuliah biasanya main dulu ke tempat teman-temannya, malam baru pulang", jelas Marsya dengan raut wajah sedikit sedih.
"Ohhh. Oh iya lupa aku ada sesuatu buat kamu", kata Rinal mengalihkan pembicaraan biar Marsya tidak sedih lagi.
"Apa tuh?", tanya Marsya dengan raut muka berubah seketika.
"Ini",
Rinal mengambil bingkisan kecil yang ada di saku jaketnya dan memberikannya pada Marsya.
"Apa nih?ini bukan bom kan?", canda Marsya.
"Itu memang bom", jawab Rinal cepat.
"Apa?",
Karena takut dan kaget bingkisan tersebut terlempar ke atas terlepas dari tangan Marsya. Rinal cepat menangkap bingkisan kecil tersebut dan berhasil di tangkap oleh Rinal.
"Koq di lempar sih?",tanya Rinal tak percaya kalau Marsya akan melempar bingkisan tersebut.
"Kata kamu bom, aku kan takut", jawab Marsya sekenanya. Raut wajahnya terlihat cemas.
Rinal menghela nafasnya. Rinal memberikan kembali bingkisan kecil itu kepada Marsya.
"Bukalah. Aku cuma bercanda", ucap Rinal.
"Kamu juga sih yang salah, orang aku takut banget sama bom. Waktu aku SMA dulu pernah kerja di salah satu supermarket, tiba-tiba ada pengumuman bahwa di tempat tersebut ada yang menyebar bom. Karena takut, semua lari tunggang langgang keluar dari gedung termasuk aku. Setelah di evakuasi ternyata itu hanya hoaks. Makanya ketika kamu menyebut bom, aku jadi takut. Trauma", jelas Marsya.
"Ohh gitu. Nah sekarang kamu buka ya", ujar Rinal pada Marsya.
Marsya mengangguk. Seulas senyum terlihat di bibirnya yang tipis. Marsya membuka bingkisan kecil tersebut dengan sangat hati-hati.
"Waaww cantik banget ini. Ini serius buat aku?", tanya Marsya tidak percaya dengan apa yang di pegangnya sekarang.
Sebuah jam tangan bermerk keluaran terbaru dengan kilau yang memukau sangat memanjakan mata semua orang yang memandangnya.
"Iya dong buat pujaan hati. Masa' untuk orang lain", kata Rinal romantis menambah berbunga-bunga hati seorang Marsya.
__ADS_1
"Tapi ini pasti mahal. Aku tak pantas memakainya", kata Marsya seraya memasukkan kembali jam tersebut ke dalam kotaknya.
Rinal mendekati Marsya. Di ambilnya kotak tersebut dari tangan Marsya. Rinal mengeluarkan jam tersebut dari tempatnya. Rinal menyingkirkan kotaknya di atas meja. Rinal mengambil tangan Marsya. Rinal merasakan tangan Marsya begitu dingin dan sedikit gemetar.
"Kamu sakit ya?! tangannya dingin amat", kata Rinal.
Marsya memang dulu terkenal dengan genitnya dan gaya berpakaian yang terbilang norak dan ketat tapi dia sangat menjaga hati dan tubuhnya.
Waktu melamar di perusahaan keluarga Rinal, Marsya yang mulai dewasa, mulai merasa ingin mengenal mahkluk yang namanya lelaki. Ketika ia di terima di perusahaan keluarga Rinal, Marsya sempat tertarik pada Jimmy kakaknya Rinal. Ia mencoba menarik perhatian ceo perusahaan yang tampan tersebut. Tapi waktu itu Marsya belum tahu kalau Jimmy sudah punya isteri. Ketika usahanya malah jadi bumerang baginya, Marsya akhirnya berubah sikap. Gaya berpakaiannya yang seronok pun akhirnya di tinggalkannya. Gaya berbicara pun sekarang sudah sangat kompeten. Marsya sekarang berusaha untuk menyesuaikan diri di mana tempatnya berada.
Makanya ketika Rinal menyentuh dan memegang tangannya, Marsya gemetar dan tangannya terasa sangat dingin.
Marsya tergagap saat Jimmy bertanya seperti itu padanya.
"Ahh nggak kenapa-napa", jawab Marsya.
"Dasar bocah tengil, gak tahu apa orang gugup gini", batin Marsya.
Rinal memakaikan jam tersebut ke tangan Marsya. Marsya diam saja. Ia berusaha menetralkan suasana hatinya yang terasa bergemuruh.
"Pas banget di tangan kamu",kata Rinal dengan senyum mengembang.
"Terima kasih ya",ucap Marsya.
"Kita keluar yuk cari makan, laper nih tadi gak sempat makan. Habis kangen banget sama kamu", kata Rinal.
Wajah Marsya bersemu merah bak kepiting rebus.
"Tapi aku mandi dulu ya, bentar koq gak lama", kata Marsya.
Rinal mengangguk. Marsya meninggalkan Rinal sendiri di ruang tamu. Rinal mengambil ponselnya dan membaca berita di majalah online sambil menunggu Marsya. Tak lama Marsya keluar dengan celana jeans di padu dengan kemeja putih. Sederhana tapi sangat cantik di tubuh Marsya yang berisi. Mata Rinal tak berkedip melihat kepada Marsya. Marsya jadi kikuk di pandangi Rinal seperti itu.
"Apa ada yang salah dengan pakaianku?biar aku ganti kalau kamu kurang nyaman melihatnya", ucap Marsya.
"Sederhana tapi mataku terpukau", puji Rinal dalam.
Lagi-lagi hati Marsya meleleh oleh seorang Rinal.
"Dah jangan kebanyakan ngegombal nanti keburu malam", ujar Marsya.
"Ayo",ajak Rinal.
Mereka pergi. Rinal sengaja mencari tempat makan yang agak sepi biar enak bicara sama Marsya. Karena Rinal tipikal orang yang tidak suka dengan kebisingan.
"Kamu mau makan apa?", tanya Rinal setelah memperlihatkan menu yang ada di restoran tersebut.
"Terserah kamu aja deh", kata Marsya pada Rinal.
Rinal memanggil pramusaji dan memesan makanannya. Tak lama pramusaji kembali dengan berbagai menu di tangannya. Setelah siap terhidang, pramusaji mempersilahkan Rinal dan Marsya untuk menikmati hidangan tersebut. Rinal dan Marsya mulai dengan Ritual makan mereka.
Setelah selesai makan Rinal mengajak Marsya ke sebuah taman di pusat kota.
"Kita ke sini bentar ya", kata Rinal menghentikan motor besarnya.
__ADS_1
Rinal dan Marsya turun dari motor. Mereka duduk di sebuah kursi taman. Menikmati sore hari di sebuah taman sangat terlihat sangat indah.
"Indah ya pemandangannya", kata Rinal membuka pembicaraan.
"Iya pakai banget", kata Marsya.
"Sya, ada yang ingin aku sampaikan ke kamu", kata Rinal.
"Tentang apa?", tanya Marsya.
"Mungkin ini terlalu cepat bagi kamu. Hubungan kita belum genap satu tahun dan itupun hubungan jarak jauh. Jujur aku sudah mengenal banyak gadis tapi rasa yang ku miliki selama dengan mereka tidak sama rasanya saat bersama dengan kamu. Kamu tahu selama beberapa bulan ini aku sangat ingin cepat-cepat menyelesaikan studiku biar bisa cepat bertemu dengan kamu. Aku ingin kamu sekarang dan selamanya", ucap Rinal seraya menggenggam erat tangan Marsya.
Marsya menelan ludahnya karena tenggorokannya terasa kering. Marsya melepaskan tangan Rinal dengan lembut.
"Kita baru memulai Nal. Kamu harus berpikir matang-matang dulu. Ingat aku ini lebih tua dari kamu, jangan sampai suatu saat nanti kamu menyesal memilih aku", kata Marsya memandang lekat ke wajah Rinal.
"Aku sudah memikirkan itu jauh sebelum kita jadian. Lagian kamu tidak terlihat lebih tua dari aku, malah aku yang terlihat lebih tua dari pada kamu",jelas Rinal.
"Pikirkan lagi. Masih banyak waktu. Kamu juga tahu kehidupanku tidak sama dengan kehidupan kamu, aku hanya wanita biasa yang bekerja di perusahaan keluarga kamu untuk sekedar mencari makan dan membiayai kuliah seorang adik. Maka dari itu jangan gegabah dalam mengambil keputusan", kata Marsya terus dengan kata-katanya. Marsya tak menyadari kalau Rinal tak lagi mendengar kata-katanya. Rinal fokus dengan bibir tipis Marsya yang menari-nari.
Dengan tanpa di duga, Rinal meraup bibir tipis Marsya dengan segenap rasa. Mendapat serangan mendadak seperti itu membuat Marsya kaget bukan alang kepalang. Marsya melepaskan ciuman Rinal pada bibirnya.
"Rinal kamu sudah gila ya. Ini tempat umum", sergah Marsya.
"Iya kamu benar. Aku gila karena kamu. Baiklah aku akan bilang sama papa dan mama kalau aku akan melamar kamu", kata Rinal mantap.
"Rinal kamu...", Marsya tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena Rinal sudah menempelkan jari telunjuknya di bibir Marsya.
"Aku mencintai kamu. Kita akan menikah secepatnya. Karena kalau tidak, aku bisa gagal mempertahankan benteng pertahananku kalau sudah dekat-dekat sama kamu", bisik Rinal di telinga Marsya.
Muka Marsya merah padam mendengar ucapan yang di bisikkan Rinal di telinganya.
"Ternyata pikirannya lebih dewasa di banding umurnya", batin Marsya.
"Baiklah kita pulang sekarang. Aku akan bicara sama mama dan papa. Kamu siap-siap aja", kata Rinal menggandeng tangan Marsya menuju motor kesayangannya.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku.
Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya.
Terima kasih yang sudah like dan komennya. Tanpa kalian author tak ada artinya.
Mampir juga yuukk ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1