Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Jangan melawan harimau yang sedang lapar


__ADS_3

Kehamilan Nina sudah menginjak bulan kelima. Perut Nina dan pinggulnya mulai terbentuk. Jimmy menganjak Nina untuk kontrol lanjutan ke dokter kandungan tapi Nina menolak secara halus. Nina merasa takut melihat kenyataan hasil USG nya nanti.


"Koq kamu belum siap. Kita kan mau kontrol ke dokter hari ini", sergah Jimmy yang melihat Nina masih bermalas-malasan di tempat tidur.


"Gak usah di kontrol lagi bang, kan kata dokter janinnya sehat", bantah Nina.


"Ini sudah bulan kelima lho sayang, kata dokter usia lima bulan kandungan sudah terlihat jenisnya. Abang pingin tahu jenisnya, laki atau perempuan", ucap Jimmy semangat.


"Justru itu bang, aku takut nanti tidak sesuai dengan harapan kita. Kita tunggu saja sampai dia keluar. Biar suprise gitu", ujar Nina.


"Tapi sayang, kalau di periksa dari awal kan lebih semangat lagi memeliharanya. Minimal kita tidak berharap berkepanjangan", dalih Jimmy.


"Bang, kita berdoa saja semoga dedek bayinya nanti laki-laki. Tidak usah di periksa terus. Yang penting makannya di jaga dan aktif bergerak", sergah Nina.


"Oh tidak tidak abang tidak suka, sebaiknya kita ke dokter saja, soal jenisnya terserah. Mau laki atau perempuan abang tak peduli, yang penting sehat", ucap Jimmy.


"Tapi bang...", ucap Nina terhenti.


"Tak ada tapi-tapian. Cepat bersiap, kita berangkat", ujar Jimmy.


"Bang", kata Nina malas.


"Ayo gak usah malas-malasan, nanti anaknya meniru", kata Jimmy seraya mengangkat kedua tangan Nina agar bangun dari tempat tidur.


Nina terpaksa menuruti kemauan sang suami tercinta. Walau dalam hati Nina takut menerima kenyataan namun dia tidak membantah lagi saat Jimmy mengajaknya untuk pergi ke dokter.


Mereka pergi ke dokter yang biasa menangani Nina. Nina kembali menjalani pemeriksaan. Setelah selesai, dokter memberikan penjelasan kepada Jimmy dan Nina.


"Gimana dok hasilnya, sehatkan? jenisnya apa dok?", tanya Jimmy tak sabar.


Sang dokter tersenyum mendengar pertanyaan Jimmy yang cepat.


"Calon bayinya sehat. Tapi karena tadi posisinya menyamping jadi tidak terlihat dengan jelas jenisnya. Melihat sedikit ke arah bokongnya sepertinya perempuan. Tapi ini baru praduga, belum diagnosa penuh", jawab sang dokter.


Nina merasakan tubuhnya lemas. Ketakutannya benar adanya. Jimmy melihat perubahan air muka Nina. Jimmy menggenggam tangan Nina. Jimmy berusaha memberikan energi positifnya untuk sang isteri. Walau dia juga merasa sangat kecewa, tapi Jimmy berusaha untuk tidak bersedih di hadapan sang isteri. Sang dokter melihat kekecewaan di wajah keduanya.


"Ini baru dugaan. Kita belum melihat jelas jenis kelaminnya. Kita lihat lagi bulan selanjutnya semoga posisinya menghadap ke depan jadi bisa terlihat jelas jenis kelaminnya", ucap sang dokter bijak.


"Baik dok, kalau begitu kami permisi dulu. Mari dok", ucap Jimmy seraya menggandeng tangan Nina.


Mereka pulang. Nina diam saja selama dalam perjalanan. Hatinya kecewa. Tapi apa hendak di kata. Ini adalah kehendak sang maha pencipta.


"Sayang, sudahlah kita terima saja. Bagi abang laki atau perempuan sama saja. Yang penting sehat", ucap Jimmy setelah mereka tiba di rumah.


"Abang sih enak kalau ngomong tapi aku sebagai isteri dan juga sebagai menantu merasa tidak bisa memenuhi permintaan kalian, nyesek bang", ujar Nina dengan mata berlinang.


"Lha koq jadi ngelantur gitu ngomongnya", kata Jimmy seraya memberikan secangkir air putih untuk Nina.


"Ini minum dulu. Sudah jangan di pikirkan. Dokter kan juga bilang kalau posisi bayinya bisa mempengaruhi diagnosa mereka. Jadi bisa jadi dokter itu salah dalam memprediksi jenis kelamin bayi kita", kata Jimmy berusaha menenangkan hati Nina.

__ADS_1


"Jarang salah dokternya bang, sembilan puluh persen USG biasanya akurat", bantah Nina.


"Berarti sepuluh persen ada kemungkinan salah dong, iya kan?", kata Jimmy membesarkan hati.


Nina menghela nafasnya.


"Sudah deh bang jangan mimpi. Mimpi di siang bolong lebih banyak bunga tidurnya", ujar Nina seraya meninggalkan Jimmy sendiri.


Jimmy bermksud menyusul Nina tapi mbak Yuni datang menghampiri.


"Tuan ini ada undangan", kata mbak Yuni sambil menyodorkan sebuah undangan berwarna merah hati kepada Jimmy.


"Dari siapa?", tanya Jimmy seraya menerima undangan yang sangat cantik berwarna merah hati tersebut.


"Kurang tahu tuan", jawab mbak Yuni singkat.


Jimmy membuka undangan tersebut. Dia tersenyum saat membaca nama yang akan menikah. Mbak Yuni berlalu.


"Nova. Akhirnya... setidaknya aku terbebas dari bujuk rayu mama", ucap Jimmy dalam hati. Jimmy menyusul Nina ke kamar.


"Sayang, ada undangan nih. Kamu beli baju baru ya, kita hadir nanti di acara Nova", kata Jimmy seraya menyodorkan undangan tersebut kepada Nina.


"Abang saja yang pergi. Aku mau di rumah saja", jawab Nina ketika tahu siapa yang akan menikah.


"Iya kan gak enak kalau abang sendiri yang datang, sama kamu lah", kata Jimmy meletakkan undangan tersebut di meja kecil samping tempat tidur mereka karena Nina tak mau mengambil undangan tersebut dari tangan Jimmy.


"Bodoh amat. Mau dia nikah, mau nggak aku tak peduli", kata Nina kesal.


"Susah juga jadi orang ganteng ternyata, banyak peminatnya", kata Jimmy sambil bercermin.


"Sombong, Nova aja nggak mau", celetuk Nina.


"Tapi kamu sempat cemburu kan sama dia?", Jimmy memperhatikan wajahnya di cermin.


Mendengar ucapan Jimmy, Nina bangun dari tempat tidurnya dan bermaksud keluar dari kamar. Dia jengah dengan perkataan Jimmy suaminya.


"Hei, mau kemana?", tanya Jimmy seraya menahan tangan Nina dan cepat memeluk Nina dari belakang.


"Sudah jangan marah, abang cuma bercanda. Besok kita beli baju baru, oke?", bisik Jimmy di telinga Nina. Nina tak menjawab. Dia berusaha melepaskan pelukan Jimmy. Aroma sampo dari rambut Nina membuat sensasi khusus bagi Jimmy.


"Sayang", suara Jimmy berubah parau.


Nina merinding. Nina memejamkan matanya saat tangan Jimmy sudah berpindah ke bukit kembarnya. Sensasi indah menyeruak dalam aliran darah Nina. Jimmy meremas daging kenyal tersebut. Sejenak Nina terlena dan terbuai tapi seketika bayang Nova kembali melintas di benaknya. Nina menepis tangan Jimmy dan menjauh dari Jimmy. Jimmy yang sudah terangsang, tidak rela Nina menjauhinya.


"Sayang, lihatlah", kata Jimmy menunjuk bagian bawah celananya yang sudah penuh sesak.


Nina yang tadi masih di penuhi rasa cemburu, seketika menjadi tertawa.


"Dasar mesum", ucap Nina tanpa mendekati Jimmy.

__ADS_1


Dengan gaya merayu, Jimmy mendekati Nina. Nina kembali menjauh.


"Kalau kamu sudah ku tangkap, jangan harap bisa lepas dari cengkramanku", ucap Jimmy melompat menghalau langkah Nina. Nina tersandar di sudut kamar. Jimmy merasa menang. Nina tidak bisa bergerak karena Jimmy sudah mengungkungnya dengan sangat cepat.


"Jangan melawan harimau yang lagi lapar, mengerti!?", ujar Jimmy seraya menyatukan tangannya dengan tangan Nina ke dinding.


Nina merinding mendengar suara Jimmy yang berubah parau. Jimmy cepat meraup bibir Nina dengan mulutnya. Nina tidak bisa berkutik. ******* dan hisapan Jimmy pada bibirnya membuat rangsangan dalam aliran darah Nina. Pelan tapi pasti Nina mulai membalas ciuman Jimmy. Tangan Jimmy berpindah ke area sensitif Nina. Nina mendesah. Tangan Jimmy satunya mendorong kepala Nina untuk lebih mendekat kepadanya. Ciuman Jimmy semakin dalam. Nina sedikit kewalahan. Tangan Jimmy menyelusup ke dalam celana Nina. Nina kembali mendesah. Ciuman Jimmy semakan panas. Bibir Nina yang dingin dan kenyal, menjadi sasaran empuk Jimmy. Bibir Nina di gigit kecil, di isap seperti menghirup teh panas. Nina seperti melayang. Tangan Jimmy berpindah ke bukit kembarnya. Jimmy seringkali gemas dengan dada Nina yang semakin membesar. Jimmy berusaha melepas pengait bra Nina. Tiba-tiba suara Iza memanggil mereka terdengar dari luar kamar.


"Mama, papa kalian di mana?", seru Iza dari luar.


Nina cepat menghentikan aksi Jimmy. Nina menjauh dari Jimmy. Jimmy tersandar di sudur tersebut. Iza datang dan membuka pintu kamar. Bertepatan Nina sedang merapikan rambut dan pakaiannya.


"Ma, papa kenapa?", tanya Iza polos.


"Papa lagi ngukur dinding", jawab Nina sekenanya sambil melirik Jimmy yang sudah duduk di lantai.


"Ohh. Emang dindingnya mau di apain ma?", tanya Iza lagi.


"Kita mau ubah warna catnya", celetuk Jimmy yang melihat Nina bingung untuk menjawab pertanyaan Iza.


"Ohh, nanti Iza mau kamar Iza warna kuning ya pa", ujar Iza.


"Koq kuning sih sayang?bagus juga warna pink", ucap Nina.


"Kuning aja ma, terang", ujar Iza memberi alasan.


"Iya nanti kita cari warna kuning untuk kamar mbak", ucap Jimmy.


"Nah gitu dong", kata Iza seraya merebahkan tubuhnya di kasur sang mama.


Jimmy dan Nina saling pandang. Nina tersenyum. Jimmy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jimmy bangun dari duduknya dan menuju kamar mandi. Terpaksa Jimmy menyelesaikan tugasnya di kamar mandi. Nina menghela nafasnya dan berbaring di samping Iza. Iza bercerita tentang kegiatannya hari ini. Nina menanggapinya dengan senang. Iza semakin semangat bercerita. Keduanya akhirnya tertidur dengan pulasnya. Jimmy keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum ketika melihat dua orang yang sangat di sayanginya sedang tertidur dengan pulasnya. Jimmy keluar dari kamar. Dia lebih memilih untuk menonton televisi.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readersku semuanya.


Like, komen dan votenya di tunggu ya.


Mampir juga yuk ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2