Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Pucuk di cinta


__ADS_3

Bukan Prili namanya kalau tidak menemukan solusinya. Keesokan harinya Prili mendatangi rumah mertuanya, mama Liana. Prili membawakan oleh-oleh untuk memikat hati ibu mertuanya.


"Mama", teriak Prili ketika melihat mertuanya.


"Prili, koq nggak kasih kabar dulu kalau mau kemari sih sayang ", kata mama Liana sambil cipika-cipiki dengan Prili.


"Bukan kejutan namanya kalau ngasih tau terlebih dahulu. Oh iya Ma ini ada oleh-oleh buat mama, kue wingko kesukaan mama", kata Prili.


"Tahu aja kesukaan mama", ucap mama Liana seraya menerima paperbag dari Prili.


"Iya dong Ma", kata Prili sambil tersenyum.


"Jimmy juga suka loh kue wingko", kata mama liana.


"Masa sih Ma? Prili gak pernah lihat dia makan wingko?", tanya Prili penasaran.


"Dulu sih, gak tahu sekarang. Kan dia gak tinggal dengan mama lagi", ujar mama Liana.


Ada perasaan tidak enak menyergap relung hati Prili saat mama Liana menyebut Jimmy tidak tinggal bersamanya lagi. Ada iri dalam hati Prili saat kesukaan suami sendiri tidak di ketahuinya. Raut wajah Prili berubah seketika.


"Ini Jimmy dari kemarin tidak telepon mama, biasanya dia paling rajin telepon mama, sehari bisa dua sampai tiga kali kayak minum obat", gumam mama Liana.


"Apa mama gak tahu ya kalau Jimmy lagi sakit?", tanya Prili.


"Gak tahu. Jimmy sakit apa?koq mama gak di kasih tahu ya", kata mama Liana galau.


"Katanya sih cuma demam biasa. Kemarin Prili ke kantornya makanya Prili tahu kalau Jimmy demam karena dia tidak masuk kantor ", kata Prili sedikit berbohong.


"Iya udah kita ke rumahnya aja yuk", kata mama Liana blingsatan.


"Tapi Ma Jimmy gak ngijinin Prili ke sana", adu Prili.


"Biar mama nanti yang jelasin, ayo kita ke sana sekarang. Wingkonya mama bawa ke sana aja ya", ujar mama Liana.


"Iya Ma ", jawab Prili singkat.


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Prili sangat senang saat sang mertua mengajaknya berkunjung ke Jimmy suaminya.


"Ini saatnya", batin Prili.


"Hati-hati jalannya", kata mama Liana mengingatkan.


Prili hanya mengangguk. Prili mengajak mertuanya dengan mobilnya. Dengan senyum mengembang Prili melajukan mobilnya.


Tiba di rumah Jimmy. Mama Liana dan Prili langsung masuk. Kebetulan Jimmy dan Nina sedang duduk di ruang keluarga.


"Koq kalian tidak kasih kabar ke mama kalau Jimmy lagi sakit?", kata sang mama di tujukan kepada Nina dan Jimmy setelah mereka duduk bersama.


"Cuma demam biasa koq Ma, ini juga udah perlahan sehat. Mungkin cuma karena kecapean. Tidak ada yang perlu di khawatirkan koq. Ini barusan udah minum obat biar cepat sehat", jelas Jimmy.

__ADS_1


"Oh iya ini ada wingko kesukaan kamu, Prili yang bawa", kata mama Liana.


Jimmy melirik Nina. Memberi isyarat untuk menerima kue tersebut. Walau agak berat hati Nina terpaksa mengambil kue tersebut.


"Kamu koq bisa sama mama?", tanya Jimmy pada Prili.


"Tadi dia ke rumah cuma berkunjung. Kamu sakit juga mama tahu dari dia. Trus mama ajak saja sekalian dia kemari", jelas mama Liana mewakili jawaban Prili.


Nina hanya diam seribu bahasa. Dia tidak tahu harus bicara apa. Kedatangan rivalnya ke kediamannya membuatnya syok. Nina bangun dari tempat duduknya dan menuju dapur. Mata Prili mengekor kepergian Nina.


"Kamar mandinya di mana mas?", kata Prili pada Jimmy.


Jimmy melongo di panggil Prili dengan sebutan 'mas'. Biasanya juga cuma manggil nama.


"Lurus dari sini, nanti belok kiri", jelas Jimmy.


Prili mengerti. Prili melihat Nina dan asisten rumah tangganya sedang sibuk mengatur meja makan. Prili tersenyum. Prili masuk ke kamar mandi. Tak lama Prili keluar kembali dari kamar mandi tersebut dan mendekat kepada Nina dan mbak Yuni.


"Ada yang bisa ku bantu?", kata Prili menawarkan jasa.


"Tamu adalah raja sebaiknya kamu ke sana aja. Nanti kamu capek. Kasihan yang di dalam",Ucap Nina tanpa menoleh.


Prili mendekati meja makan. Prili melihat kursi-kursi yang ada.


"Aku yakin ini tempat duduk Nina nantinya. Sepertinya mereka lagi sibuk. Mereka tak melihat aku", batin Prili.


"Ini Prili hamilnya udah besar, sebagai suami kamu harus menjadi suami siaga. Pandai-pandai mengatur waktu. Ingat Prili juga butuh kamu. Jaga kesehatan itu lebih penting. Kerja ada batasannya. Dua isteri kamu sedang hamil. Mereka berdua butuh suami yang siaga. Jadi kamu jaga stamina, jaga kesehatan. Jangan hanya mementingkan kerja", nasihat sang mama Liana pada Jimmy anaknya.


"Iya Ma", jawab Jimmy singkat.


"Ayo kita makan dulu, sudah siang. Ayo Ma", ajak Nina.


"Iya nih mama sudah lapar banget. Pasti enak nih masakan Nina", puji sang mertua.


Prili mencibirkan bibirnya. Tapi gerakannya tak luput dari pengawasan Jimmy. Jimmy hanya geleng-geleng kepala.


"Ayo kita makan", ajak Jimmy pada mama dan Prili.


Nina kembali kemeja makan Jimmy berjalan mengikuti. Sementara mama Liana dan Prili mengekor.


"Waah selera makanku tiba-tiba muncul lihat masakan cuminya. Pasti enak ini", kata Jimmy seraya menggosokkan telapak tangannya satu sama lainnya.


Jimmy duduk tepat di kursi yang air minumnya di kasih Prili obat tadi.


"Koq Jimmy sih yang duduk di situ", batin Prili.


Prili menuju kursi Jimmy.


"Mas biar aku ambilin ya nasinya", kata Prili santai.

__ADS_1


Jimmy memandang ke arah Nina. Nina berdehem.


"Iyaa cuma sekali-kali juga kan, gak tiap hari bisa melayani suami yang lagi sakit", kata Prili seperti mengerti maksud Nina.


Prili mengambilkan nasi untuk Jimmy. Setelah itu mengambilkan lauk pauknya. Setelah selesai Prili sengaja menyenggol gelas yang ada di hadapan Jimmy sehingga air tersebut tumpah kelantai dan membasahi dirinya sendiri.


"Oouww", jerit Prili kecil.


"Kamu gak apa-apa kan?", tanya Jimmy sambil memegang pinggang Prili.


Mbak Yuni yang menyaksikan dari kejauhan cuma bisa ngomel sendirian.


"Modus, dasar wanita ganjen", kata mbak Yuni refleks.


"Mbak Yuni ambil pelnya mbak airnya tumpah ini", pekik Jimmy.


Nina dan mama Liana cuma saling pandang. Mama Liana takut kalau-kalau Nina akan sakit hati melihat adegan yang di perlihatkan oleh Jimmy dan Prili.


Nina mulai menikmati makan siangnya. Tapi baru saja Nina ingin memasukkan makanan tersebut ke mulutnya. Tiba-tiba mereka di kejutkan Jeritan Prili yang jatuh di lantai dengan posisi tertelungkup.


Setelah menumpahkan air, Prili bermaksud kembali ke tempat duduknya tapi kakinya tersandung kaki kursi yang diduduki oleh Jimmy. Tubuhnya limbung dan alhasil Prili jatuh dengan perut menyentuh lantai.


Semua mata memandang tak percaya. Mulut mereka semua membuka lebar. Jeritan Prili menyadarkan semuanya.


"Auww", jerit Prili.


.


.


.


.


.


.


.


Cusss lanjut bacanya ya readersku.


Jangan lupa beri dukungannya ya.


Like, komennya selalu di tunggu...


Mampir juga ya ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2