Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Permintaan mama Liana


__ADS_3

Setelah permintaan gila sang mama, Jimmy mulai sedikit demi sedikit menghindar dari Nova. Jimmy tidak mau mamanya mengira dia dekat dengan Nova karena ada embel-embel lain. Setiap meeting Jimmy selalu menyuruh Marsel untuk mewakilinya. Setelah beberapa kali meeting tidak bertemu dengan Jimmy membuat Nova bertanya-tanya kenapa Jimmy selalu di wakili oleh Marsel, tidak dia yang turun langsung.


"Kenapa selalu Marsel yang mewakili dia ya?", gumam Nova.


Di saat Nova sedang bergulat dengan pikirannya, Nova di kejutkan dengan tepukan di bahunya.


"Nova kan?!", tanya orang tersebut.


"I i iya saya Nova. Ibu siapa?", kata Nova masih dalam keterkejutannya.


"Saya Liana mamanya Jimmy. Bisa bicara sama kamu bentar?!", tanya mama Liana pada Nova.


"0hh, boleh tante", jawab Nova walau masih dalam keadaan bingung.


"Kita duduk di sana aja biar enak", ajak mama Liana pada Nova. Nova hanya mengangguk.


Mereka duduk di sebuah kursi di tempat tersebut.


"Maaf tante ada apa ya?", tanya Nova langsung.


"Hmmm begini, beberapa kesempatan tante lihat kamu dan Jimmy terlihat sangat akrab", ujar mama Liana.


"Tapi tan saya dan pak..", ucapan Nova cepat di potong mama Liana.


"Tante tahu kalian hanya bisa di sebut rekan kerja tapi tante pingin kamu jujur pada tante, apa kamu suka sama Jimmy?", tanya mama Liana tanpa basa-basi.


Nova berpikir sejenak.


"Iya. Pak Jimmy supel, pinter dan ...", ucapan Nova kembali di potong mama Liana.


"Tante sudah tahu kalau kamu memang menyukai Jimmy", ucap mama Liana sambil tersenyum.


"Tante pingin Jimmy punya anak laki-laki tapi sampai saat ini mereka belum bisa mewujudkan keinginan tante. Sepertinya kesalahan ada pada isterinya. Oleh sebab itu sampai saat ini mereka belum lagi bisa mempunyai momongan", ujar mama Liana lebih lanjut.


Nova hanya diam. Ia menjadi pendengar yang baik.


"Tante tidak menginginkan mereka pisah tapi tante menginginkan Jimmy memiliki anak lagi dan tante meminta kamu untuk menjadi isteri Jimmy, kamu mau kan?", tanya mama Liana semangat.


Nova kaget tidak menyangka mamanya Jimmy memintanya dirinya untuk menjadi isteri Jimmy.


"Tante tidak salah bicarakan?!", tanya Nova cepat.

__ADS_1


"Tidak", jawab mama Liana singkat.


"Tante terima kasih atas kepercayaan tante. Saya memang menyukai pak Jimmy. Saya rasa orang seperti dia yang saya cari. Saya sangat mengagumi beliau. Saya selama ini mencari sosok seperti beliau. Beberapa orang pernah di jodohkan papa sama saya tapi tak satupun yang menyentuh hati saya. Pak Jimmy memiliki semua yang saya cari", jelas Nova berhenti sejenak.


"Pas!menikahlah dengan Jimmy. Tante merestui kalian. Berikan tante cucu laki-laki", kata mama Liana cepat.


Nova tersenyum getir.


"Sungguh tante kalau pak Jimmy belum menikah maka saya yang akan meminta dia untuk menikah denganku tapi tidak dengan dia yang sekarang tante. Pak Jimmy sudah berkeluarga. Sudah mempunyai anak dan isteri yang cantik dan baik. Saya tidak mau jadi perusak rumah tangga orang. Maafkan atas penolakan ini. Jujur saya sangat kagum dan suka sama beliau tapi tidak untuk memiliki beliau. Sekali lagi maafkan saya tante. Permisi", kata Nova seraya bangun dari tempat duduknya dan dengan cepat meninggalkan mama Liana di sana.


"Sekarang aku mengerti mengapa pak Jimmy sudah beberapa kali pertemuan selalu di wakili pak Marsel", ucap Nova yang cepat mengerti keadaan.


Nova masuk ke mobilnya dan segera pulang. Setelah tiba di rumah Nova langsung melepas sepatu dan melemparkan tas kecilnya. Nova menuju kamar mandi. Nova melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub nya. Mengisi bathtub nya dengan air dan memberi sabun aromaterapi biar lebih fresh. Nova mulai merendam tubuhnya di dalam bathtub tersebut. Nova memejamkan matanya. Ucapan mama Liana masih terngiang di telinganya.


"Aku memang pingin punya pendamping seperti pak Jimmy tapi tidak suami orang", batin Nova.


"Andai beliau masih sendiri, aku akan menyerahkan segenap hidupku untuknya. Sayang beliau sudah mempunyai isteri", gumam Nova.


Sementara itu mama Liana ngedumel di sepanjang jalan menuju tempat parkir.


"Sombong. Wajar saja jadi perawan tua. Gak laku-laku, gak bisa menghargai orang", ucap mama Liana.


"Kemana Nya?", tanya pak Harto sebelum menjalankan mobil.


"Pulang", ucap mama Liana ketus.


Pak Harto menghela nafasnya. Dia berusaha bersabar karena nyonya besarnya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Pak Harto melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia fokus dengan jalan di depannya. Pak Harto tidak lagi mendengarkan omelan nyonya besarnya yang terlihat masih kesal tersebut.


Tiba di rumah mama Liana langsung menuju kamarnya dan melempar tas tangannya ke tempat tidur.


Pak Purnama yang baru keluar dari kamar mandi tak mengerti apa yang terjadi.


"Sudah pulang shoppingnya?", tanya pak Purnama sambil mengelap rambutnya yang masih basah.


"Gak jadi", ucap mama Liana singkat.


"Lho kenapa? katanya tadi mau shopping, mau refreshing. Koq pulangnya cepat", ujar pal Purnama.


"Tadi ketemu sama Nova", kata mama Liana.


"Trus?", tanya pak Purnama.

__ADS_1


"Iya ku suruh nikah sama Jimmy tapi dia gak mau", ucap mama Liana enteng.


"Apa?", pak Purnama terkejut seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Papa kenapa sih?", tanya mama Liana seakan tak merasa bersalah.


"Mama sudah gila ya. Mikir dulu kalau mau bertindak. Nova itu bukan anak bau kencur. Dia wanita berpendidikan dan sudah dewasa. Bisa-bisanya mama langsung bicara seperti itu padanya. Sepertinya kita perlu ke dokter jiwa. Saraf otak mama sepertinya ada konslit", kata pak Purnama melempar handuk dan menyisir rambutnya. Pak Purnama menggandeng tangan mama Liana dan mengajak mama Liana untuk pergi.


"Papa ini apaan sih. Kita mau kemana?", tanya mama Liana berusaha melepas cekalan tangan suaminya.


"Kita ke dokter. Mama perlu di periksa dan di kasih obat biar gak kebablasan", ucap pak Purnama sambil terus menarik tangan mama Liana.


"Papa lepas!", teriak mama Liana sambil menghentakkan tangannya. Cekalan pak Purnama terlepas.


Wina yang mendengar teriakan sang mama cepat turun menuju kamar sang mama.


"Ada apa ma?", tanya Wina setelah membuka pintu kamar orang tuanya tersebut.


Mama Liana mengelus pergelangan tangannya yang terasa sakit oleh cekalan suaminya. Pak Purnama mendengus kesal.


"Kamu mungkin gak percaya dengan kelakuan mama kamu yang sudah kelewatan itu", kata pak Purnama dengan suara berat karena menahan emosi.


"Emang mama telah melakukan apa pa?", tanya Wina penasaran.


"Mama kamu bertemu dengan Nova dan menyuruh Nova menikah dengan kakak kamu Jimmy", jelas pak Purnama.


"Apa?",


.


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya ...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Like, komen dan votenya di tunggu.

__ADS_1


__ADS_2