Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Long distance relationship


__ADS_3

Rinal merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Kamarnya yang sudah lama tidak di tempati itu terlihat sangat bersih dan rapi. Mama Liana selalu menjaga kebersihan kamar putranya tersebut. Walau tak ada penghuninya, bik Surti selalu membersihkan kamar tersebut setiap harinya. Jadi selalu bersih dan terawat.


Rinal membuka ponselnya. Wajah Marsya terpampang di layar ponselnya. Rinal tersenyum. Rinal. bangun dari tidurannya. Dia membuka koper kecilnya yang tadi di bawanya masuk ke dalam kamarnya.


Rinal mengambil bingkisan kecil yang di belinya waktu akan pulang ke Indonesia.


"Tunggu aku, aku akan datang", gumam Rinal.


Rinal menutup kembali kopernya. Dia meletakan bingkisan kecil tersebut di laci meja kecilnya.


Rinal menuju kamar mandi. Tak lama terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi itu. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil Rinal melakukan ritual mandinya. Tak lama Rinal keluar dengan handuk melilit di tubuhnya.


Rinal mengenakan pakaian lengkap. Dengan jeans berwarna coklat di padu dengan kaos oblong polos berwarna putih menambah aura segar dari seorang lelaki muda dan tampan ini.


Rinal membuka lemarinya. Dia mengambil jaket berwarna cokelat muda. Serasi dengan celana yang di gunakannya. Rinal mengambil bingkisan kecil yang tadi di simpannya di laci.


Rinal menyimpan bingkisan tersebut di saku jaketnya. Setelah menggunakan parfum favoritnya, Rinal keluar dari kamarnya.


"Lho katanya mau istirahat, koq ini mau pergi", kata sang mama yang melihat putra keduanya tersebut sudah berganti pakaian dan memakai wewangian.


"Ada urusan sedikit ma, Rinal pergi ya ma", kata Rinal pada sang mama.


"Wangi amat, urusannya pasti sama cewek ya?", goda Wina.


"Anak kecil pengen tahu aja, pamali nanti pecah bulu", jawab Rinal.


Sang mama hanya tersenyum sedangkan Wina menampakkan wajah yang cemberut ketika di sebut sebagai anak kecil.


Rinal melangkah pergi.


"Orang sudah gede juga. Enak aja di bilang anak kecil", gerutu Wina.


"Kamu kan memang yang paling kecil, paling bontot. Koq protes", sela sang mama.


"Iya deh terserah mau bilang apa", kata Wina.


Mama Liana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah anak-anaknya.


****


Sementara itu Marsya sudah keluar dari kantornya. Ia celangak celinguk di taman kantor seperti ada yang di carinya.


"Hai, lama ya nunggunya?", satu suara menyapanya.


"Rinal. Kamu tuh ya bikin kaget aja", kata Marsya.


Rinal terkekeh. Dia mengajak Marsya untuk naik ke motor besarnya. Marsya dengan senang hati menerima ajakan Rinal. Tanpa keduanya sadari dua pasang mata sedang memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


"Bang itu Rinal bukan ya?", tanya Nina pada Jimmy. Jimmy tak langsung menjawab.


"Apa dia sudah pulang ya?koq gak bilang kalau sudah tiba di rumah", gumam Jimmy.


"Sepertinya itu memang Rinal bang", kata Nina.


"Kita coba telepon mama dulu", kata Jimmy seraya mengeluarkan ponselnya.


Jimmy mendial nomor rumah mamanya.


"Halo ma, apa Rinal sudah pulang ya?", tanya Jimmy langsung pada sang mama setelah terhubung.


"Oh iya mama lupa kasih tahu kamu adikmu sudah tiba sejam yang lalu. Tapi sudah pergi lagi gak tahu kemana. Katanya ada sedikit urusan", jawab sang mama.


"Oh iya syukurlah kalau sudah sampai ma. Assalamualaikum",


"Wa'alaikum salam", jawab mama Liana di seberang sana.


"Tak salah lagi, itu tadi pasti Rinal. Tapi sejak kapan Rinal dan Marsya dekat gitu ya!?", gumam Jimmy dalam bingungnya.


"Mungkin hanya kebetulan lewat sini si Rinalnya bang. Kebetulan lihat Marsya langsung di tawari si Rinal mungkin", kata Nina mencoba menebak.


"Mungkinlah", jawab Jimmy singkat.


"Yuukk ahh bang kita pulang, aku gerah banget hari ini. Panasnya ekstrim ", ucap Nina.


Setelah dalam perjalanan Nina buka suara.


"Bang sepertinya Rinal sama Marsya cocok ya", Nina mencoba menyandingkan.


"Marsya itu seumuran sama kamu sedangkan Rinal lebih cocok sebagai adiknya iya gak mungkinlah", kata Jimmy protes dengan kalimat yang di ucapkan Nina.


"Kalau mereka saling cinta aku rasa umur tak jadi masalah. Banyak yang umur wanitanya lebih tua sedangkan lelakinya lebih muda tapi hidupnya tak ada masalah, mereka bahagia", kata Nina berdalih.


"Yang jadi masalah Marsya nya mau atau tidak dengan lelaki yang lebih muda darinya", ucap Jimmy.


"Apa abang gak lihat cara Marsya begitu hangat dan mesra dengan Rinal tadi?", tanya Nina.


"Iya juga ya. Tapi kalau memang mereka pacaran, kapan jadiannya ya?", Jimmy pusing sendiri memikirkannya.


"Yaelah bang, masa untuk mereka jadian aja abang mau tahu si bang. Mungkin aja udah lama, kita mana tahu. Apalagi sekarang lagi musim LDR(long distance relationship), hubungan jarak jauh. Ya sah-sah saja mereka jadian walau mereka ketemunya hanya lewat ponsel", ujar Nina.


"Marsya sih cantik, tapi aku koq gak rela ya kalau Rinal jadian sama dia", ucap Jimmy.


"Jangan bilang kalau kamu mulai tertarik sama dia", sindir Nina.


"Apa sih sayang, aku cuma gak rela karena Rinal dapat yang umurnya lebih tua darinya. Itu saja", kata Jimmy mulai sewot.

__ADS_1


"Awas ya kalau kamu berulah, ku kebiri nanti", ancam Nina.


"Sejak kapan kamu berubah sadis begini?",tanya Jimmy dengan bercanda.


"Sejak kamu mulai ganjen", kata Nina dongkol.


"Orang hamil gak boleh asal potong ya, bahaya. Pengaruh nanti ke calon bayinya",kata Jimmy.


"Oh jadi kamu memanfaatkan keadaanku yang lagi hamil ini, begitu?trus kamu mau berbuat seenaknya saja tanpa memikirkan perasaanku", cercah Nina ke Jimmy.


"Lhaa koq kamu jadi marah sama aku sih, salahku apa coba?", Jimmy berucap.


"Kamu tuh ganjen amat jadi orang, awas kalau kamu macam-macam ", ancam Nina.


"Ampun nyonya aku tak berani", kata Jimmy dengan nada suara di buat-buat.


Nina menghela nafasnya. Walau Jimmy menjawab dengan candaan tapi sudah membuat Nina lega.


"Sayang besok Marsel kan mulai kerja lagi, kamu boleh gak usah kerja lagi mulai besok. Kamu istirahat saja di rumah",kata Jimmy.


"Kamu yakin gak akan macam-macam tanpa aku?",tanya Nina curiga.


"Aduh sayang koq jadi bahas ini sih. Iya nggaklah. Kaulah segalanya bagiku ", Jimmy menggombal.


"Gak usah diucapkan. Yang penting jaga hati, jaga mata jangan keranjingan", kata Nina.


"Rasanya senang banget hari ini bisa di cemburui", kata Jimmy dengan tertawa.


"Aku hanya mempertahankan hakku", ucap Nina enteng.


"Iya gak usah marah-marah juga kali, kasihan yang ada di dalam. Nanti dia sedih lho", kata Jimmy sambil terus fokus melajukan kendaraannya.


Nina kembali menghela nafasnya. Pandangannya sangat jauh menerawang.


Jimmy tetap fokus dengan mobilnya. Jimmy menyusuri jalan hitam nan panjang seperti tak ada ujungnya tersebut. Tak selang beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah mereka.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku terkasih.


Terima kasih yang sudah like dan komennya.


Mampir juga yuuk ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2