Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Jadi ribet


__ADS_3

Nina hanya mendengus. Hatinya sangat kalut sekarang. Tidak tahu harus berbuat apa. Nina kembali menangis. Air matanya tumpah begitu saja.


Tak lama Jimmy datang. Di lihatnya Nina yang sedang menangis. Jimmy merasa bersalah. Di dekatinya Nina. Jimmy membawa Nina ke pelukannya.


"Maafkan aku, aku janji kita akan segera menikah, bersabarlah", kata Jimmy.


Nina tambah sesunggukan di dada Jimmy. Air matanya membasahi kemeja Jimmy. Jimmy mengendorkan pelukannya. Di hapusnya air mata Nina. Di kecupnya bibir Nina yang bergetar.


"Aku mencintaimu, aku akan bertanggung jawab", kata Jimmy.


Nina tersenyum dan sedikit lega setelah mendengar pengakuan Jimmy.


Nina memeluk Jimmy dan Jimmy pun memeluk tubuh wanita yang di cintainya itu sangat erat.


"hlHhemmm", suara deheman seseorang menyadarkan keduanya.


Jimmy dan Nina melepaskan pelukan mereka.


"Dugaanku benar ternyata kalian punya hubungan spesial, kenapa mesti di rahasiakan sih?", tanya Marsel yang tiba-tiba hadir di antara mereka.


"Masalahnya rumit bro, mama ingin aku sama Prili menikah, sementara aku sudah punya Nina", jelas Jimmy bingung.


"Ribet amat, bilang aja ke mama kamu kalau kamu maunya cuma sama Nina bukan Prili, beres kan?",kata Marsel.


"Kita masuk aja gak enak nanti ada yang dengar,", kata Jimmy seraya menarik tangan Marsel.


"Kamu di sini dulu ya, aku perlu bicara sama Marsel",kata Jimmy pada Nina.


Nina mengangguk tak membantah. Jimmy dan Marsel masuk ke dalam ruangan Jimmy.


"Aku butuh bantuan kamu", pinta Jimmy pada Marsel.


"Kalau aku bisa akan aku bantu", kata Marsel.


"Gimana kalau kamu yang dekatin Prili?", ide Jimmy muncul tiba-tiba.


"Jangan gila loh bro, aku sudah punya pacar kamu tahu itu kan, aku sudah tobat", kata Marsel.


"Cuma dekatin doang, jangan di pacarin, maksudnya kamu bilang ke Prili kalau aku gak cinta sama dia, aku anggap dia cuma teman gak lebih, pokoknya bisa-bisa kamu lah, kamu kan ahlinya", kata Jimmy memelas.


"Iya gimana dong, aku itu gak bisa lihat cewek cantik, kalau kecantol gimana?", kata Marsel enteng.


"Terserah kamu lah yang penting bantu aku dulu", kata Jimmy kehabisan akal.


"Baiklah, tapi jangan berharap banyak dulu ya, aku itu sudah mau insaf, sekarang urusan cinta kamu jadi aku yang terbelit, nasib..", kata Marsel sambil berlalu.


"Semoga berhasil bro", seru Jimmy.


Marsel keluar dan berhenti sejenak di depan Nina.


"Cinta kalian koq jadi ribet gini ya, tapi tenang aja serahkan padaku, semua akan baik-baik saja", kata Marsel sambil tersenyum pada Nina.


"Ma kasih kak", hanya itu yang bisa di ucapkan Nina.


Marsel mengacungkan jempolnya pada Nina dan berlalu dari hadapan Nina. Bunyi telepon di meja Nina mengagetkannya. Nina mengangkatnya.


"Ke ruanganku sekarang", perintah suara dari sebrang sana.


"Baik", kata Nina singkat.


Nina menuju ruangan Jimmy.

__ADS_1


"Duduklah", peritah Jimmy.


Nina duduk di hadapan Jimmy. Nina memandang kekasihnya yang juga bosnya tersebut.


"Kamu jangan sedih lagi ya, secepatnya kita akan menikah walau tanpa restu mama aku akan nikahi kamu", kata Jimmy tegas.


"Aku takut kak, gimana kalau mama kamu tak menganggapku menantu di rumahnya?", kata Nina sambil menunduk.


"Itu urusan nanti, yang penting kita nikah dulu, aku akan bertanggungjawab atas apa yang aku lakukan padamu, aku janji", kata Jimmy.


"Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu", kata Nina seraya bangun dari tempat duduknya.


Jimmy bermaksud menghalangi Nina tapi Nina sudah keluar dari ruangannya.


*****


Sementara itu Marsel di dalam ruangannya.


"Ide Jimmy gila juga, kalau Sofi tahu wahh gawat, mati aku", gumam Marsel.


"Tapi kalau tidak di lakukan, bisa di pecat aku dari tangan kanannya Jimmy", Marsel terus bergumam samvil mondar-mandir di ruangannya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk.


Jimmy : ini nomor ponsel Prili 08**********


hubungi lah sekarang, lebih cepat


lebih baik.


Isi pesan Jimmy.


Telepon pun tersambung.


"Halo, maaf dengan siapa?", tanya Prili dengan suara lembutnya di sebrang sana.


"Marsel, temannya Jimmy. Boleh kita ketemu sebentar ada yang ingin ku bicarakan sama kamu", kata Marsel tanpa basa-basi.


"Baiklah, kebetulan sekarang aku lagi gak ada kegiatan, tentukan saja tempatnya", kata Prili setelah mengetahui sang penelepon.


"blBaiklah akan aku share lokasinya", kata Marsel.


"Oke", kata Prili dan obrolan pun berakhir.


Marsel mengshare lokasi tempat yang akan mereka tuju. Setelah itu Marsel meluncur menuju tempat yang telah di tentukan.


Di lihatnya Prili sudah ada di sana. Berdiri dengan anggunnya.


"Maakk ini sempurna banget, bodinya ckckck, bisa-bisa jatuh cinta beneran nih", batin Marsel.


"Hai Prili, maaf ya sedikit molor", kata Marsel.


"Gak papa aku juga baru tiba koq", kata Prili sambil tersenyum.


"Mari", kata Marsel sambil mengajak Prili untuk mengambil tempat duduk.


Prili duduk berhadapan dengan Marsel.


"Kamu cantik banget ternyata", puji Marsel pada Prili.


Prili tersenyum dengan sedikit manja. Marsel sifat playboynya mulai keluar.

__ADS_1


"Kamu tambah cantik kalau tersenyum, bikin gemes", kata Marsel seraya mengerlingkan sudut matanya.


"Bisa aja kamu", kata Prili tersenyum simpul.


Marsel mendekatkan tempat duduknya kepada Prili.


"Hhmm mau minum apa?", tanya Marsel.


"Apa aja, yang penting gak bersoda", kata Prili anggun.


Marsel memanggil pramu saji. Dia memesan dua cangkir minuman dan dua porsi cemilan.


Pramusaji pun berlalu.


"Prili kamu itu kategori perfect, apa kamu gak merasa risih di jodohkan sama Jimmy yang tidak begitu menyukai perjodohan?", kata Marsel mulai bicara.


"Kalau aku sih its ok, tak masalah karena cinta bisa tumbuh kapan saja", jawab Prili lembut.


"Kamu pasrah saja saat di jodohkan seperti sekarang ini?", tanya Marsel.


"Maaf, kita ke sini cuma mau bahas itu saja begitu?", tanya Prili sedikit ketus.


"Hmm begini Prili, Jimmy itu tidak menerima perjodohan ini, maksud ku Jimmy jatuh cinta dengan wanita lain jauh sebelum kalian di jodohkan, jadi maksudku apa kamu mau menikah dengan orang yang tidak mencintai kamu?", umpan Marsel.


"Hei bung, asal kamu tahu ya, tidak ada lelaki mana pun yang bisa menolakku", katanya ketus.


Marsel tersenyum.


"Aku tahu sekarang kenapa Jimmy tidak menyukainya", batin Marsel.


"Katakan apa maksud kamu sebenarnya?", kata Prili yang sudah tersulut emosi.


Marsel ingin menjawab tetapi pramu saji datang dengan membawa pesanan mereka.


"Silakan mas mbak", kata pramu saji, kemudian berlalu dari hadapan Marsel dan Prili.


"Silakan di minum", kata Marsel pada Prili.


Marsel meminum minuman yang ada di hadapannya. Prili hanya diam.


"Ayo di minum", kata Marsel lagi.


"Jawab pertanyaanku tadi", kata Prili melembut.


"Yang mana?", tanya Marsel lupa.


"Jangan menguji kesabaranku bung", kata Prili sambil meneguk habis minumannya.


.


.


.


.


Tolong bantu vote, like dan komennya ya readers.


Mampir juga ke karyaku yang lain:


Masih Ada Pelangi(tamat).

__ADS_1


__ADS_2