Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Pernikahan Marsel dan Sofi


__ADS_3

Hari pernikahan Marsel dan Sofi pun tiba. Nina terlihat anggun dengan gaun yang ia kenakan. Sedangkan Jimmy terlihat sangat berwibawa dengan batik sutera yang melekat di tubuhnya.


"Kamu cantik sekali sayang", puji Jimmy pada Nina.


"Abang juga tampan dan gagah", puji Nina kembali.


Keduanya tersenyum bahagia. Mereka menuju rumah kediaman Sofi. Orang tua Sofi mempunyai rumah dengan tanahnya yang sangat luas. Sehingga mereka acara cukup di area rumahnya saja tanpa menggunakan jasa gedung.


Tenda yang luas dan besar tersebut sangat terlihat begitu megah. Sofi yang merupakan anak semata wayang dari keluarga yang cukup terpandang dan terkenal di kalangan para pebisnis. Menjadikan pernikahan tersebut seperti ajang reuni para pemburu dolar.


Jimmy dan Nina masuk ke area tenda yang sangat indah dan megah tersebut. Sudah banyak yang hadir di sana. Jimmy menyalami rekan-rekan bisnisnya yang sudah ada di sana.


Adel dan ibunya Ratmi yang baru tiba di sana termangu melihat kemegahan tenda yang begitu memanjakan mata setiap orang yang memandangnya. Di saat Adel masih terkagum-kagum dengan pemandangan di depan matanya, ada seseorang yang menghampirinya.


"Hhmmm",


Orang tersebut berdehem membuyarkan lamunan Adel. Adel menoleh ke sampingnya. Kembali Adel di buat terpana saat tahu siapa orang yang telah menyapanya.


"Hai, apa kabar?ibu apa kabar?", tanyanya pada Adel dan bu Ratmi.


"Alhamdulillah baik. Ini kan...", bu Ratmi mencoba mengingat wajah tersebut.


Adel masih bengong seperti tak percaya dengan penglihatannya.


"Kevin bu", kata Kevin langsung menjawab kebingungan ibunya Adel.


"Eeh iya nak Kevin. Kamu apa kabarnya?", tanya bu Ratmi.


"Baik bu", kata Kevin seraya menyalami bu Ratmi.


"Del, ini nak Kevin lho. Apa kamu gak ingat?", tanya bu Ratmi yang melihat Adel dalam keadaan bengong.


"Kevin", suara Adel hampir tak terdengar.


"Apa kabar?", tanya Kevin seraya mengulurkan tangannya pada Adel.


"Seperti yang kamu lihat", kata Adel membuang rasa kakunya.


"Koq nak Kevin ada di sini? bukannya nak Kevin kuliah di luar kota ya?", tanya bu Ratmi.


"Iya bu, ini lagi menghadiri acara nikah kak Marsel", jawab Kevin.


"Ibu, Kevin ini adiknya kak Marsel", ucap Adel.


"Oohhhh", ucap bu Ratmi panjang.


Kevin tersenyum dan Adel nyengir.


"Mari bu masuk ke dalam", kata Kevin seraya melirik Adel.

__ADS_1


Bu Ratmi dan Adel masuk ke dalam tenda yang megah tersebut di antar oleh Kevin.


"Silakan duduk bu", kata Kevin sopan pada bu Ratmi.


"Kamu ikut aku bentar, biar ibu di sini", bisik Kevin di telinga Adel.


Adel sempat bingung. Kevin buka suara.


"Bu, pinjam Adel bentar ya",kata Kevin pada bu Ratmi.


"Jangan lama-lama ya", ujar bu Ratmi.


"Baik bu", kata Kevin.


Kevin memberi isyarat pada Adel agar mengikutinya keluar dari tenda tersebut. Mau tak mau Adel mengikuti Kevin keluar dari tempat tersebut.


"Ada apa sih?", tanya Adel setelah mereka sampai di luar.


"Aku kangen", kata Kevin langsung tanpa basa-basi.


"Kevin nanti di dengar orang, malu tahu", kata Adel sambil lihat kiri kanan.


"Orang pada sibuk semua, mereka tak akan mendengar obrolan kita", jawab Kevin.


"Kamu kan sudah ku bilangi, datanglah padaku di saat kamu sudah siap. Aku..", kata Adel.


"Kamu sudah punya yang lain gitu?", serobot Kevin.


"Aku selalu teringat sama kamu Del, tolong jangan siksa aku", Kevin memohon.


"Acara akan segera di mulai, sebaiknya kita masuk ke dalam saja", ajak Adel.


"Baiklah, tapi selesai acara boleh ya aku ke rumah kamu?", Kevin memelas.


Adel menatap Kevin.


"Kenapa kamu keras kepala sih Vin?", Adel tak habis pikir dengan kelakuan Kevin.


"Karena kamu penyebabnya", jawab Kevin sekenanya.


"Nggak usah gombal. Di tempat kamu kuliah banyak cewek yang lebih cantik, lebih pintar, lebih segala-galanya dari aku. Gak usah lebay deh Vin", ujar Adel.


"Kenapa sih kamu selalu tidak mau ngerti perasaan aku?", tanya Kevin mulai kesal.


"Karena aku ingin langsung nikah, gak mau pacaran ", jawab Adel seraya ingin melangkah masuk ke dalam.


Kevin cepat menghadang langkah Adel.


"Aku bisa membawa kamu lari sekarang dan menikahi kamu", kata Kevin mantap.

__ADS_1


Mata Adel membulat sempurna. Mulutnya membuka lebar. Rasa tak percaya dengan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Kevin.


"Sepertinya otak kamu mulai gak waras ", kata Adel sambil nyengir.


Kevin mendengus. Ada rasa yang tak bisa di lukiskan saat dia kembali berjumpa Adel disini. Perasaan yang di pendamnya selama ini terbayarkan walau pertemuannya dengan Adel tak semulus keinginannya.


"Kita masuk sekarang, kita selesaikan urusan kita nanti", kata Kevin dengan suara berat.


Adel mengikuti langkah Kevin masuk kembali ke dalam tenda. Adel dan Kevin kembali menjumpai bu Ratmi dan duduk di sana. Di dalam rumah sedang berlangsung akad nikah Marsel dan Sofi. Berlangsung begitu khidmat. Kevin tak henti-hentinya melirik Adel. Adel pura-pura tak melihatnya.


Selesai akad, di lanjutkan dengan acara resepsi. Panggung yang sangat megah dengan pelaminan berukir indah menambah kesan eksotik sebuah karya seni.


Marsel dan Sofi duduk di pelaminan bak ratu dan raja. Sangat serasi. Yang satu tampan dan yang satunya cantik. Jimmy dan Nina yang duduk di kursi depan sangat mengagumi keindahan karya seni yang ada di depan mata mereka.


"Bang, cantik banget panggungnya ya", puji Nina.


"Apa kamu pingin duduk di pelaminan lagi?", seloroh Jimmy.


"Ngomong apa sih bang, orang aku kagum lihat panggung ini. Megah dan indah", kata Nina.


Jimmy hanya tersenyum mendengar jawaban isterinya.


Acara pun di mulai. Satu persatu acara di tampilkan. Dan akhirnya di penghujung acara para tamu undangan menerima santap siang dari yang punya hajatan.


Nina dan Jimmy tidak langsung pulang. Mereka menemui Marsel dan Sofi di rumahnya.


"Selamat ya bro, semoga cepat dapat keturunan. Gaspol ken bro", ucap Jimmy pada Marsel bicara seakan tak ada Nina dan Sofi di situ. Sofi tersenyum simpul mendengar ucapan Jimmy.


"Ini kadonya. Semua sudah di urus. Ini berangkatnya besok ya", kata Jimmy menyerahkan dua buah tiket pada Marsel.


"Cepat banget bos", ucap Marsel.


"Biar cepat dapat keturunan", kata Jimmy sambil tertawa.


Nina dan Sofi saling pandang. Marsel dan Jimmy tertawa tapi tidak dengan Nina dan Sofi mereka hanya senyum-senyum saja mendengar obrolan kedua lelaki tersebut.


Setelah selesai, Nina dan Jimmy meninggalkan tempat tersebut dan pulang.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku semuanya.


Bantu like, komen dan votenya ya readersku.

__ADS_1


Mampir juga yuukk ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2