Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Menepati janji


__ADS_3

Sepulang kerja Jimmy langsung menuju kediaman Wibowo mertuanya. Ternyata Prili sudah menunggu kedatangannya. Melihat Jimmy datang senyum mengembang terlukis di wajah Prili. Dia cepat mendatangi Jimmy.


"Nah gitu dong bersikap adil, aku kan butuh kamu juga",kata Prili seraya menggandeng mesra tangan Jimmy.


"Bagaimana kehamilan kamu, apa ada masalah?", tanya Jimmy.


"Iya ada. Masalahnya anak kamu lagi kangen berat ini sama papanya", kata Prili mengusap perutnya yang masih rata.


"Kapan jadwal kontrolnya?", tanya Jimmy.


"Tiga hari lagi, kamu temanin ya kontrol nanti", kata Prili manja.


"Kalau tidak ada urusan penting akan ku usahakan", jawab Prili.


"Masuk yuukk", ajak Prili.


Jimmy mengangguk pelan. Dengan masih bergelayut mesra, Prili mengajak Jimmy masuk ke dalam rumah.


"Mama mana?", tanya Jimmy yang melihat suasana rumah sunyi senyap.


"Mungkin di kamar, papa belum pulang", jelas Prili.


Prili langsung menuju kamarnya dan Jimmy mengikuti langkah Prili.


"Kamu mau mandi dulu atau gimana?", tanya Prili.


"Aku mau rebahan dulu, capek banget ini", kata Jimmy seraya melepas dasinya.


"Iya udah, kamu istirahat aja. Aku mau mandi dulu", kata Prili.


Jimmy mengangguk dan Jimmy merebahkan tubuhnya di kasur Prili yang kini juga sudah menjadi tempat tidurnya. Prili menuju.kamar mandi. Prili merendam tubuhnya dengan memakai sabun beraroma terapi. Harum dan menyegarkan. Prili ingin Jimmy menyukai aroma tersebut setelah ia habis mandi nanti. Prili senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi Jimmy nanti setelah menyentuhnya. Prili memang suka berlama-lama di kamar mandi.


Prili akhirnya selesai dengan ritual mandinya. Dengan masih menggunakan baju handuk Prili dengan langkah pasti mendekati tempat tidur. Jimmy membelakangi arah kamar mandi. Jadi Prili tidak dapat melihat langsung wajah Jimmy.


Prili mendekat kepada Jimmy dan memanggil Jimmy.


"Sayang, aku sudah mandi ini. Apa kamu tidak mau mandi?", tanya Prili.


Tak ada sahutan. Prili melangkah ke depan wajah Jimmy. Wajah Prili seketika berubah muram. Jimmy ternyata sudah tertidur dengan sangat pulasnya. Prili ingin membangunkan Jimmy tapi takut Jimmy akan marah padanya.


"Apa ku bangunkan saja ya?tapi takut nanti dia marah lagi, dia tertidur sangat pulas. Capek sekali kelihatannya ", ucap Prili.


"Tunggu dia bangun saja, mungkin dia ingin penyegaran dulu", gumam Prili menenangkan hatinya sendiri. Prili mengganti pakaiannya. Ia memoles wajahnya dengan make up tipis agar terlihat segar. Ia juga memakai wewangian khas parfum kesukaannya.


Satu jam sudah Jimmy masih belum bangun dari tidur. Hari sudah mulai gelap malam tapi Jimmy belum juga bangun dari tidurnya. Nafasnya Jimmy masih teratur.


Hari sudah menunjukkan pukul delapan malam, Jimmy belum menampakkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya. Prili mulai gusar. Ia mulai mondar-mandir di kamarnya.


"Sayang udah malam. Bangun dong!", Prili mencoba membangunkan Jimmy.


Jimmy tak bergeming. Prili mencoba menyentuh bahu Jimmy. Dia kembali mencoba untuk membangunkan Jimmy.


"Sayang bangun dong", kata Prili menggoyang-goyangkan bahu Jimmy.


Jimmy menggeliat. Mata membuka sedikit.


"Bangun dong, tidurmu kayak orang sudah gak tidur satu minggu", ucap Prili.


Jimmy kembali menggeliat.


"Jam berapa sekarang?", tanya Jimmy bermalas-malasan.


"Sudah delapan tiga puluh", jawab Prili.


"Apa?", kata Jimmy terlonjak dari tidurnya.


"Kenapa?", tanya Prili tak mengerti.

__ADS_1


"Aku harus pulang, udah malam", kata Jimmy seraya mengambil dasinya dan memasang sepatunya.


"Sayang kita belum bicara apapun, aku masih ingin bersama kamu", ucap Prili memelas.


"Besok-besok kan ada, kamu juga tahu aku juga punya Nina, ini sudah malam aku harus pulang', ujar Jimmy.


"Sayang kenapa kamu tidak peka juga sih?aku juga butuh kamu tidak hanya Nina", ucap Prili.


"Jangan di perbesar, ingat!aku sudah memenuhi keinginan kamu. Jangan memaksakan kehendak ", kata Jimmy.


Prili sangat kecewa dengan ucapan Jimmy. Tapi apa mau di kata., walau bagaimana pun Nina adalah cintanya Jimmy.


"Iya sudah pulang sana tapi ingat, anak kamu juga membutuhkan kamu", ujar Prili.


"Itu pasti. Aku akan ingat . Aku akan selalu menjadi suami siaga. Aku pulang ya", kata Jimmy.


Prili tak punya pilihan. Ia hanya bisa menyetujui permintaan Jimmy. Jimmy pulang dengan di sambut wajah masam Prili.


Sementara itu Nina menunggu kepulangan Jimmy dari rumah Prili.


"Sudah jam sembilan tapi belum pulang juga, lagi ngapain mereka ya?", gumam Nina.


Nina menutup wajahnya tak sanggup membayangkan apa yang sedang di lakukan Prili dan suaminya Jimmy.


"Pasti mereka lagi bermesraan, tuhan sungguh ini sangat menyakitkan", gumam Nina lagi.


Nina masih di ruang tamu. Dia masih menunggu suaminya pulang. Nina ingin memejamkan matanya tapi tiba-tiba bunyi klakson mobil di luar sana. Nina.mengintip dari gordennya. Dengan agak malas Nina membukan pintu untuk Jimmy.


Dengan langkah gontai Jimmy masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Nina tak bicara sepatah kata pun. Nina infin melangkah ke kamar mereka tapi langkahnya terhenti ketika Jimmy memegang tangannya.


"Aku lapar", ucap Jimmy pada Nina.


Nina memutar langkahnya menuju dapur. Jimmy mengikuti langkah Nina. Nina menyiapkan makan malam biat suaminya. Dengan telaten Nina menyiapkan semuanya.


"Buat teh manis dong", kata Jimmy lagi.


Nina menuruti perintah Jimmy. Nina membuatkan secangkit teh hangat untuk Jimmy. Nina bermaksud menuju kamarnya tapi Jimmy kembali memanggilnya.


Dengan sedikit malas, Nina diduk di samping suaminya.


"Kamu sudah makan belum?", tanya Jimmy.


"Sudah kenyang", jawab Nina datar.


"Buka mulutnya, kita makan bareng", ucap Jimmy.


Nina hanya menatap wajah Jimmy.


"Koq natapnya gitu?ayo buka mulutnya, pasti kamu belum makan", kata Jimmy mencoba menebak.


"Ayolah", bujuk Jimmy.


Jimmy tahu pasti Nina lagi kesal padanya. Jimmy membujuk Nina untuk makan. Nina akhirnya membuka mulutnya.


"Nah gitu dong", kata Jimmy.


Mereka makan bersama. Satu piring berdua. Jimmy memberikan suapannya untuk Nina. Nina.menerimanya dengan senang hati. Sampai makan selesai , Jimmy akhirnya bisa membuat mood Nina kembali membaik.


Jimmy meneguk tehnya sampai habis.


"Makan berdua lebih nikmat kan sayang?!", celetuk Jimmy.


Nina tersenyum sambil mengedipkan matanya.


"Aku mandi dulu ya, gerah banget", ujar Jimmy.


"Udah malam lho ini Bang, lap aja atau beraup.aja", kata Nina.

__ADS_1


"Kan ada air panas, gak papalah sekali-kali. Gak tiap hari juga mandi malamnya", kata Jimmy berdalih.


"Kalau abang gak mandi takutnya kamu gak mau dekat abang, repot urusannya", goda Jimmy.


"Mulai deh", ujar Nina.


Jimmy terkekeh. Dia meninggalkan Nina di ruang makan. Jimmy menuju kamarnya untuk mandi. Nina membereskan bekas makan mereka. Lalu Nina menyusul Jimmy ke kamar


Baru saja Nina masuk ke kamar, Jimmy sudah keluar dari kamar mandi.


"Lho Bang nggak jadi ya mandinya?bentar amat", tanya Nina.


"Sudah, cuma buang bau keringat, biar tidurnya nyenyak", ucap Jimmy sekenanya.


Nina duduk di meja riasnya. Jimmy mendekati Nina dan merangkul leher Nina.


"Kamu marah ya?", tanya Jimmy pelan.


"Marah kenapa?aku baik-baik saja", kata Nina memandang wajah Jimmy dari cermin.


"Jangan berprasangka buruk, aku tadi ketiduran, setelah bangun langsung pulang", kata Jimmy seraya mencium rambut Nina yang wangi.


Jimmy mengelus pipi lembut Nina. Nina diam. Tangan Jimmy merambat turun ke leher dan Jimmy mengangkat Nina supaya tegak berdiri menghadapnya.


Jimmy menarik pinggang Nina untuk merapat padanya. Jimmy seperti menghirup aroma segar dari tubuh Nina.


"Jadi tadi ke salonnya?", tanya Jimmy.


"Jadi dong, demi suami tercinta", ucap Nina.


"Manisnya", kata Jimmy mendengar ucapan Nina.


Jimmy menarik dagu Nina. Sehingga wajah Nina mendongak ke atas. Mata keduanya saling tatap. Tak ada suara. Jimmy mendekatkan wajahnya ke wajah Nina. Bibir keduanya bertemu. Nina memejamkan matanya. Jimmy mulai memainkan bibir mungil Nina. Gerakan Jimmy mulai liar. Tangan bergerilya masuk ke dalam baju Nina. Nina melenguh saat tangan itu menyentuh dadanya.


Jimmy tambah bersemangat. Permainan berimbang saat Nina perlahan tapi.pasti membalas setiap aksi Jimmy. Keduanya terbuai dalam nafsu birahi.


Tak ada suara. Hanya bunyi.nafas yang memburu. Letupan-letupan api cinta kian menambah panasnya gairah mereka.


Nina bak cacing kepanasan. Jimmy mencoba sensasi yang berbeda. Dia bermain dengan lihai di daerah intim Nina. Nina meliuk-liuk menahan gairah yang meletup-letup. Jimmy tak ingin permainan cepat berakhir. Dia kini membawa Nina ke tempat tidur. Nina.melenguh panjang saat Jimmy kembali bermain cantik di bawah sana.


"Bang oohhh...", ucap Nina sambil mencengkram rambut Jimmy.


Jimmy mencoba hal-hal baru untuk membuat Nina merasa terbuai. Nina terasa terbang ke langit ke tujuh.


"Lakukanlah Bang, please. Oohhh...", ucap Nina memelas.


Jimmy tersenyum melihat Nina mencapai klimaksnya Jimmy kembali beraksi. Jimmy menyusuri setiap inchi tubuh Nina. tak lupa Jimmy meninggalkan jejak di tempat favoritnya. Sampai tiba waktunya Jimmy tak kuasa menahan hasratnya lagi. Jimmy akhirnya menerobos, dan berpacu bak kuda liar di atas tubuh Nina.


Nina tak henti-hentinya meracau. Tubuhnya terguncang mengikuti hentakan Jimmy. Dan tiba akhirnya...


Aarrrgghhh...


Jimmy mengalirkan lahar panasnya ke dalam goa Nina. Keduanya berpelukan erat menumpahkan segala hasrat mereka. Nafas mereka memburu. Tak ada suara. Keduanya terkulai lemas di kasur empuk tersebut. Keduanya saling pandang. Hanya senyum kepuasan yang tergambar di wajah keduanya.


.


.


.


SELAMAT MENIKMATI CERITANYA YA READERSKU SAYANG...


Jangan Lupa like, komen dan juga votenya dong ya.


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


.


"


__ADS_2