Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Lebih dewasa


__ADS_3

Jimmy bermaksud mengajak Nina untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Dia ingin bertemu dengan adiknya Rinal. Dia penasaran yang tadi siang di lihatnya di area kantornya.


"Sayang kita ke rumah mama yuk, abang penasaran tentang mereka yang kita lihat tadi siang", ajak Jimmy pada Nina.


"Tapi ini udah malam lho bang", ujar Nina beralasan.


"Yang bilang ini siang siapa, ayo siap-siap kita berangkat", ucap Jimmy.


Nina tak bisa menolak. Ia akhirnya mengganti pakaiannya juga.


"Ayo berangkat", ajak Nina setelah selesai mengganti pakaiannya.


Jimmy mengambil kunci mobilnya. Mereka berangkat menuju kediaman Purnama orang tuanya Jimmy.


Jimmy memencet bel yang ada di depan. Muncul Wina yang membukakan pintu.


"Ehh ada tamu jauh. Ma, ada tamu jauh ma", teriak Wina.


"Hussh senang banget ngerjain orang", kata Jimmy mencolek pipi sang adik.


Sang mama muncul dari dalam.


"Ma", sapa Nina pada mama mertuanya.


Nina mendatangi mama mertuanya dan mencium punggung tangan sang mertua.


"Wina ini kalau bercanda suka kelewatan ya", sela sang mama.


Wina hanya terkekeh. Mereka menuju ruang keluarga. Di sana ada pak Purnama yang sedang menikmati siaran televisinya.


"Pa", kata Nina mendekati sang papa mertua dan menyalaminya. Nina mencium punggung tangan mertuanya di ikuti oleh Jimmy.


"Tumben malam-malam kemari", ucap pak Purnama mengalihkan pandangannya kepada Jimmy dan Nina.


"Kangen sama Rinal pa", jawab Jimmy sekenanya.


"Oohh jadi sama mama dan papa gak kangen nih?", celetuk mama Liana.


"Kangen lah ma cuma dengan Rinal kan karena lama gak bertemu jadi pengennya bertemu langsung dengan orangnya", kata Jimmy.


"Wina panggil kakak kamu di kamarnya, suruh kemari", kata sang mama pada si bungsu.


"Baik ma", kata Wina.


"Kak di tunggu mama dan papa di bawah", kata Wina setelah berada di depan pintu kamar kakaknya Rinal.


"Iya bentar", jawab Rinal dari dalam.


Rinal turun bersama Wina adiknya.


"Ehh ada kakak juga ternyata", ucap Rinal pada Jimmy.


"Kamu pulang koq gak ngasih tahu", kata Jimmy.


Rinal memeluk sang kakak dan menyalami sang kakak ipar yaitu Nina.


Rinal duduk di dekat sang mama.


"Aku kan sudah bilang akan pulang bulan ini", dalih Rinal.

__ADS_1


"Iya tapi kamu nggak bilang kalau mau pulang hari ini kan", kata Jimmy lagi.


"Iya juga sih, kan udah selesai ngapain juga lama-lama di sana kalau disini banyak yang sudah nungguin", jawab Rinal sekenanya.


"Banyak yang nungguin termasuk Marsya gitu?", umpan Jimmy.


Rinal terkekeh.


"Jadi benar nih kamu dan Marsya ada hubungan?", tanya Jimmy ingin memperjelas.


"Iya", jawab Rinal mantap.


Semua saling pandang.


"Marsya sekretaris kakak kamu maksudnya?", tanya sang papa.


"Iya pa", Jimmy yang menjawab.


"Iya pa. Rinal mencintainya pa. Mumpung ini lagi kumpul Rinal mau bicara pada kalian semua", kata Rinal tenang.


"Ngomong saja papa dengarkan ", ucap sang papa.


Rinal diam sejenak.


"Rinal ingin melamar Marsya ma pa", kata Rinal enteng.


"Apa?",


Tanya mereka serempak kecuali Nina yang hanya senyum saja mendengar pernyataan Rinal.


"Tidak, kakak tidak setuju", kata Jimmy spontan.


"Kenapa kak, apa karena Marsya bukan orang mampu dan hanya seorang sekretaris?", tanya Rinal kecewa.


"Apanya yang tidak pantas?aku mencintainya. Kami saling mencintai kak. Aku ingin menikahinya pa", kata Rinal mantap.


Pak Purnama menghela nafasnya.


"Apa yang membuatmu ingin cepat menikah?kamu baru saja menyandang gelar dan belum menghasilkan uang, bagaimana kamu bisa menghidupi isteri dan anak-anak kamu nanti?apa sudah terjadi sesuatu dengan kalian berdua?", selidik pak Purnama.


"Umurku sudah lebih dari cukup pa. Aku bisa kerja di perusahaan menggantikan papa kan. Sesuatu sudah terjadi memang, sudah terjalin cinta antara kami berdua pa", kata Rinal.


"Kamu tidak menghamili anak orang kan Nal?", kini sang mama yang bertanya.


"Ya ampun ma iya nggak lah, Rinal hanya ingin menikah cepat agar Marsya tidak di miliki oleh orang lain. Itu saja", jawab Rinal santai.


"Kamu kan bisa tunangan dulu, nggak perlu nikah sekarang. Kamu itu harus kerja dulu, setelah semuanya siap baru melangkah ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Lha ini gelar baru dapat beberapa hari sudah mau nikah, kasihan nanti isteri kamu punya suami pengangguran",kata pak Purnama mengingatkan.


"Kamu kira pernikahan itu cukup cuma dengan bermodalkan cinta semata apa?!", kata Jimmy.


"Aku tetap akan melamar Marsya apapun resikonya", kata Rinal tegas.


"Walau umur Marsya lebih dewasa dari pada kamu?", tanya sang papa lagi.


"Mau dia kecil, mau dia dewasa Rinal tak mempermasalahkan pa, yang penting jenis kelaminnya perempuan",jawab Rinal enteng.


Sontak semua tertawa mendengar jawaban Rinal.


"Ini anak sudah kebelet sepertinya pa ma, sudah nikahkan aja dulu pa. Resepsinya nyusul", kata Jimmy menengahi.

__ADS_1


"Iya sudah kasih tahu Marsya besok kita akan ke rumahnya untuk melamar. Seminggu kemudian kita akan melangsungkan pernikahan", ujar pak Purnama.


"Cepat banget pa?", tanya Rinal bingung.


"Lah tadi kamu yang minta nikah cepat, iya kan?iya udah kita percepat saja. Resepsinya dua bulan mendatang memberi waktu pada keluarga Marsya untuk persiapan resepsi pernikahannya", jelas pak Purnama.


"Iya juga sih. Iya pa lebih cepat lebih baik", kata Rinal enteng.


Nina dan Wina hanya diam. Mereka berdua hanya menjadi pendengar yang baik. Nina takut berkomentar. Ia takut salah omong. Jadi lebih baik diam daripada salah bicara.


Malam sudah kembali ke peraduannya. Jimmy dan Nina pamit untuk pulang ke rumah mereka.


Rinal ingin mengabari Marsya dengan menelponnya tapi karena hari sudah malam jadi Rinal membatalkan untuk menelpon Marsya.


"Besok saja deh, udah malam. Pasti dia sudah tidur", gumam Rinal setelah berada di kamarnya.


Rinal tidur dengan sangat pulasnya. Sampai pagi Rinal masih tertidur dengan nyenyaknya.


Marsya kerja seperti biasa. Ia sudah tiba di kantor sebelum bigbossnya datang. Satu jam kemudian Jimmy tiba di kantor.


"Marsya, koq kamu kerja?", tanya Jimmy setelah melihat Marsya ada di meja kerjanya.


"Kenapa pak, apa ada yang salah?", tanya Marsya bingung.


"Apa Rinal belum memberi tahu kamu?", Jimmy balik bertanya.


Marsya menjawab dengan sebuah gelengan kepalanya.


"Selesaikan pekerjaan kamu sekarang, setelah itu kamu boleh pulang", kata Jimmy.


"Salah saya apa pak. Apa bapak akan memecat saya?", kata Marsya dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Iya", kata Jimmy singkat. Jimmy sengaja ingin melihat bagaimana reaksi Marsya:


Marsya tertunduk lemah. Kakinya terasa kaku.


"Karena Rinal tak akan mengijinkan kamu bekerja lagi setelah menjadi isterinya nanti", jelas Jimmy.


"Maksud bapak?",tanya Nina tak mengerti.


"Selesaikan tugas kamu hari ini, setelah itu kamu boleh pulang. Karena kami akan datang untuk melamar kamu", kata Jimmy dengan senyum.


Marsya terbelalak.Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia seakan tak percaya dengan pendengarannya.


"Ayo cepat selesaikan", perintah Jimmy membuat Marsya tersadar.


"I i iya pak siap", kata Marsya tergagap.


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku terkasih.


Like, komen dan votenya jangan lupa ya.

__ADS_1


Mampir juga yuk ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2