Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Hari resepsi


__ADS_3

Acara resepsi pun tiba. Para tamu mulai berdatangan. Gedung dengan muatan seribu orang tersebut kini terlihat ramai dan perlahan penuh sesak dengan para tamu undangan. Terlihat senyum sumringah dari orang-orang yang datang di gedung tersebut.


Marsya dan Tika yang sama-sama jomblo datang membawa kado yang cukup besar. Rinal yang melihat kedatangan Marsya langsung menyapa.


"Ketemu lagi kita ya", sapa Rinal sok dekat.


"Siapa?", tanya Tika pada Marsya.


"Namanya Rinaldy", kata Marsya singkat.


"Kalian temannya kak Jimmy ya atau...",tanya Rinal.


"Iya, teman Nina juga", jawab Tika.


"Oohh", kata Rinal seraya matanya tak lupa melirik Marsya.


"Udah yuk kita cari tempat duduk, capek tegak mulu", ajak Marsya pada Tika.


"Kalian sudah datang ", suara datang dari belakang.


"Eeh pak Marsel", kata Marsya dan Tika kompak.


"Pak!?", tanya Rinal bingung.


"Mereka berdua ini, orang penting di perusahaan", ucap Marsel pada Rinal.


"Oohh gitu", ucap Rinal manggut-manggut.


"Kalian sudah saling kenal ya?", tanya Marsel.


"Sudah", jawab Marsya cepat.


"Ooh baiklah, Marsya Tika kalian silakan cari tempat duduk ya", kata Marsel.


"Iya Pak terima kasih", jawab Tika.


Marsya langsung menggandeng tangan Tika untuk menempati tempat duduk yang telah di sediakan.


"Hmmm wanita cuek", batin Rinal sambil memandangi dua wanita tersebut yang telah menjauh dari tempat dia berdiri.


Rinal bermaksud memutar tubuhnya tapi.pandangannya kembali melihat wanita yang kemarin sempat beradu mulut dengannya karena hampir menyerempet motor wanita tersebut. Rinal ingin mendekat tapi Rinal menghentikan langkahnya ketika Wina adiknya malah mendekati wanita tersebut.


"Hai, jangan bilang apa-apa. Cuma satu kata "I Miss You" sobat", kata Wina.


Ratmi yang datang bersama anaknya mengangguk dan mengedipkan matanya memberi tanda pada anaknya agar merespon baik terhadap ucapan Wina.


Wina langsung memeluk sahabatnya yang sudah lama tidak saling berhubungan. Kedua wanita cantik itu akhirnya bersatu kembali. Kedua meneteskan air mata. Tak ada suara. Mereka berpelukan sangat erat seakan meluapkan segenap isi hati mereka. Rinal mengerutkan keningnya melihat adegan tersebut. Rinal mendekat perlahan.


"Apa ada masalah?", tanya Rinal mencairkan suasana.

__ADS_1


Kedua gadis tersebut menghapus air mata mereka.


"Eeh kakak, ini lho kak sahabat Wina yang sering Wina ceritain ke kakak. Dan dia adalah adik kandungnya mbak Nina dan ini Bu Ratmi ibunya mbak Nina dan Adel",jelas Wina.


"Jadi ini kak Rinal ya?pantesan aku kayak pernah ketemu tapi di mana gitu?eeh gak tahunya pernah lihat foto kakak, kenalin kak, aku Adel", kata Adel sambil mengulurkan tangannya. Rinal menerima uluran tangan Adel.


"Oohh ini yang namanya Adel, maaf ya yang kemarin. Tapi aku suka gaya kamu yang blak-blakan ", puji Rinal.


"Ooh jadi wanita yang kakak maksud kemarin itu Adel, terus satunya siapa?", tanya Wina.


"Dia juga ada di sini, ternyata dia salah satu orang terbaik kak Jimmy di kantor, sungguh sangat kebetulan bukan?", ucap Rinal.


"Itu namanya sekali mendayuh dua tiga pulau terlampaui, iya gak Del?", tanya Wina pada Adel.


Adel cuma.mengangguk.


"Ayo kita cari tempat duduk, mari Bu", ajak Wina pada Adel dan ibunya.


Mereka bertiga mencari tempat duduk, Rinal mencari keberadaan Marsya tapi Rinal tidak dapat melihat keberadaan Marsya.


"Terlalu ramai, nanti sajalah. Yang penting aku sudah tahu dia kerja di kantor kak Jimmy ", ujar Rinal sambil mendekati Marsel.


"Acara akan segera di mulai, pastikan pengantinnya sudah siap", ujar Marsel pada Rinal


"Akan aku cek kak", kata Rinal seraya menuju belakang panggung.


Jimmy sudah siap. Dia terlihat gagah dan berwibawa.


"Kalau aku sih sudah siap, nunggu pengantin wanitanya, mungkin bentar lagi selesai", ujar Jimmy.


Baru saja Jimmy selesai bicara, Nina keluar dengan gaun pengantinnya. Matanya Jimmy tak berkedip. Nina bak putri dari kayangan. Cantik, anggun dan mempesona. Gaun yang di kenakannya sangat serasi dengan tubuhnya yang tinggi langsing.


"Woooww mbak amazing", ucap Rinal refleks.


Jimmy seperti orang kena hipnotis. Matanya tak luput dari wajah ayu Nina.


"Kak lihat mbak Nina, sungguh luar biasa. Amazing!!!", ucap Rinal lagi.


Mendapat pujian dari adik iparnya membuat Nina tersipu.


Jimmy ingin mendekati Nina, namun wanita keduanya Prili juga keluar juga sama dengan gaun pengantin yang di pakai Nina. Prili juga terlihat waahh. Tapi karena Prili tubuhnya agak pendek dari Nina dan tubuhnya berisi jadi gaunnya terlihat seperti mengembang. Terlihat kurang pas di tubuh Prili. Kedua wanita Jimmy sudah siap naik ke pelaminan.


Tanpa di komando tangan Jimmy sudah merangkul pinggang ramping Nina. Antara bangga dan malu di perlakukan seperti itu, Nina hanya memamerkan seulas senyum di bibirnya. Melihat adegan mesra tersebut darah Prili sedikit meluap.


"Jimmy, ingat aku juga isteri kamu", kata Prili geram.


Melihat suasana agak memanas, Rinal berinisiatif turun tangan.


"Acara sudah di mulai, bentar lagi kalian akan di panggil untuk duduk di singgasana kalian, sebaiknya kalian bersiap", ujar Rinal.

__ADS_1


Tangan kiri Jimmy meraih tangan kanan Prili. Di gandengnya tangan tersebut. Sedangkan tangan kanannya masih merangkul erat pinggang Nina. Melihat itu Rinal hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Benar saja, mempelai pun akhirnya di panggil. Jimmy menggandeng dua wanitanya menuju singgasananya.


Suara-suara bisikan mulai terdengar.


"Keren pak Jimmy gandeng dua wanita sekaligus", ucap seorang lelaki.


"Perempuan doyan duit mah emang gitu, di dua di tigain gak papa yang penting duit", ucap seorang ibu pada salah satu temannya.


"Kasihan ya wanitanya, jadi isteri pengusaha tapi makan hati", celetuk seorang ibu.


"Wanita bodoh, sudah tahu laki-laki itu punya isteri tapi tetap aja mau, emangnya cuma dia saja laki-laki di dunia ini", ucap seorang ibu kesal.


Ada juga yang komentar baik.


"Masyaallah, lelaki beruntung punya isteri-isteri cantik begitu", ucap seorang lelaki.


"Wanita sholeha bersedia di madu demi mempertahankan rumah tangganya", celetuk seorang ibu.


Banyak lagi yang berkomentar. Jimmy duduk di singgasananya di dampingi kedua isterinya. Pemandangan yang tak biasa. Jimmy tak bosan-bosannya memperhatikan wajah Nina. Dia tidak tahu kalau Prili panas melihat akan hal itu.


'Awas kamu ya", batin Prili seraya melihat Jimmy sekilas.


Mata Jimmy dan mata Nina bertemu pandang. Nina tersenyum. Lidah Jimmy seakan mati rasa. Senyum Nina meluluhlantakkan pikirannya.


"Kamu cantik sekali sayang", bisik Jimmy telinga Nina.


Nina tersenyum.


"Kamu juga gagah dan tampan", balas Nina..


Jimmy tersenyum. Hati Prili seakan terbakar. Adegan yang di pertontonkan Jimmy dan Nina padanya telah menoreh luka di hati Prili.


Sampai acara berakhir, senyum sumringah selalu menghiasi wajah Jimmy dan Nina. Berbeda dangan Prili, wajah terlihat masam tanpa senyuman. Prili ingin protes , tapi tidak di lakukannya. Mengingat ini dalam acara resepsi pernikahan mereka. Prili tetap berusaha untuk tenang.


.


.


.


Selamat membaca ya readers ku...Jangan lupa kasih like, komen dan juga votenya ya.


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


"

__ADS_1


__ADS_2