Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Keguguran


__ADS_3

Nina merapikan mejanya yang berantakan. Menyimpan file dan dokumen yang tadi di kerjakannya di tempat yang aman. Nina merasa tugasnya telah selesai semua. Nina bermaksud membuka kembali laptopnya, tapi tiba-tiba Nina merasakan nyeri di perutnya. Nina mengurungkan niatnya untuk membuka laptopnya. Nina memegangi perutnya bagian bawah yang terasa nyeri.


Nina menelpon Jimmy agar Jimmy datang padanya. Jimmy cepat menghampiri Nina.


"Bang perutku rasanya nyeri banget",ujar Nina.


"Kena apa?", tanya Jimmy ikut panik.


"Gak tahu, tiba-tiba saja sakit", jelas Nina sambil menahan sakit di perutnya.


"Apa gara-gara makan brownies tadi kali ya?", tebak Jimmy.


"Gak tahu juga Bang, tapi aku suka koq makan brownies gak pernah sakit perut", jelas Nina.


"Sebaiknya kita ke dokter saja sekarang", kata Jimmy cemas.


"Kita tunggu dulu Bang siapa tahu nanti nyerinya hilang", kata Nina.


"Aku tidak mau ambil resiko, kita berangkat sekarang", kata Jimmy tegas.


Jimmy masuk ke dalam ruangannya sebentar, tak lama kemudian dia muncul kembali.


"Ayo kita berangkat sekarang", ajak Jimmy.


Nina menurut saja saat Jimmy menggandeng tangannya. Nina merasakan perutnya bertambah sakit. Jimmy menoleh sebentar pada Nina. Dengan cepat Jimmy membawa Nina menuju mobil.


"Ahhh sakit banget ini Bang", kata Nina sambil meringis.


Jimmy ikut cemas. Wajah Nina kini telah berubah pucat pasi. Jimmy mempercepat laju kendaraannya.


"Bertahanlah sayang, kita akan segera tiba", kata Jimmy.


Keringat besar-besar keluar di dahi Nina.


Nina merasakan pinggangnya seakan mau lepas.


"Bang ohh sakit", keluh Nina.


"Iya sayang sabar, bertahanlah", kata Jimmy mulai panik.


Jimmy mempercepat laju mobilnya. Di lihatnya Nina sudah pucat pasi dengan keringat besar-besar di wajahnya. Nina terlihat lemas.


Mereka tiba di rumah sakit. Tiba-tiba Nina pingsan. Jimmy cepat meminta pertolongan pada tim medis. Nina menggendong tubuh Nina untuk di bawa ke UGD. Jimmy merasakan ada cairan hangat di tangannya. Jimmy meletakkan tubuh Nina di ranjang yang ada di UGD.


"Darah!?", gumam Jimmy.


Jimmy panik.


"Tolong dok, tolong isteri saya", kata Jimmy ketakutan melihat darah di tangannya.


"Bapak tunggu di luar dulu ya", kata seorang perawat pada Jimmy.


Jimmy mengangguk. Nina segera mendapat penanganan dari sang dokter.


Tiga puluh menit telah berlalu. Tapi belum ada tanda-tanda dari dokter tersebut. Dokter atau perawat belum ada yang keluar dari ruangan tersebut.


Lima belas menit kemudian dokter yang menangani Nina keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana dok?apa yang terjadi pada isteri saya?", kata Jimmy tergagap.

__ADS_1


"Mari ikut saya", kata sang dokter.


Jimmy mengikuti langkah sang doter.


"Begini, maaf kalau ini harus saya katakan, isteri bapak mengalami perdarahan, banyak darah yang keluar sehingga isteri bapak mengalami keguguran. Kami telah berusaha untuk mempertahankan kandungannya tapi dengan berat hati saya katakan kalau kandungan isteri bapak tidak bisa di pertahankan lagi", jelas sang dokter.


Jimmy terhenyak. Hatinya sangat kecewa. Anak yang di harapkannya harus hilang begitu saja.


"Kalau boleh saya tahu, sebelum kejadian ini apakah isteri bapak mengkonsumsi sesuatu?", tanya doter.


"Tadi cuma di kasih brownies dok, tapi dia biasa makan brownies, dia sangat suka makan kue tersebut", jelas Jimmy sedikit takut kalau penyebab keguguran Nina adalah kue tersebut.


"Ohh gitu, sepertinya ada sesuatu yang menyebabkan kandungannya tidak bisa bertahan nanti akan kami cek lagi penyebabnya, untuk saat ini biarkan isteri bapak istirahat dulu", jelas sang dokter.


"Silakan untuk melihat keadaan isteri bapak, tolong isterinya jangan banyak gerak dulu", kata sang dokter.


"Baik dok, terima kasih dok", kata Jimmy lemas.


Dokter tersebut berlalu dari hadapan Jimmy. Jimmy mendatangi Nina yang masih terbaring lemas.


Nina menangis ketika melihat Jimmy datang menghampirinya.


"Bang, anak kita",kata Nina pilu.


Jimmy menggenggam erat tangan Nina. Jimmy berusaha untuk tegar.


"Iya abang sudah tahu, kita harus ikhlas", kata Jimmy sambil mencium punggung tangan Nina.


Nina masih menangis. Jimmy hanya mampu mengelus rambut Nina dan menghapus air mata yang jatuh di pipi Nina. Sunyi tak ada suara. Keduanya diam hanyut dalam pikiran masing-masing.


Sementara itu Prili yang menyaksikan dari kejauhan tersenyum penuh kemenangan. Usahanya tidak sia-.sia.


Prili meninggalkan rumah sakit dengan langkah gontai.


"Dari mana kamu?", tanya sang papa yang sudah menunggu di ruang tengah.


"Jalan Pa", jawab Prili ringan.


"Jangan katakan kalau kamu dari tempat Jimmy", kata Bowo beringas.


"Emangnya kalau dari tempat Jimmy kenapa sih Pa?dia kan calon suami Prili juga", kata Prili berkeras.


"Tidak akan ada pernikahan antara kamu dan Jimmy", kata Bowo sang papa.


"Tapi Pa Prili ingin pernikahan ini tetap di langsungkan", Prili bersikeras.


"Sudah papa bilang, A tetap A tidak akan menjadi B. Masuk sana, jangan sebut lagi nama Jimmy di rumah ini", kata Bowo sambil menepak meja di hadapannya.


Prili kaget. Prili lari menuju kamarnya sambil menangis. Wibowo menghela nafasnya. Dia tahu Prili kecewa. Tapi Wibowo tidak ingin anaknya jadi bahan gosip orang banyak. Baginya Prili bisa bahagia tanpa menikah dengan Jimmy. Tidak ada lelaki yang akan menolak Prili, Prili punya segalanya. Wajah cantik, berpendidikan tinggi dan punya kedudukan.


Wibowo berpikir keras. Dia akan menjodohkan Prili dengan anak temannya yang pengusaha perkebunan teh. Wibowo sudah bertekad akan membatalkan pernikahan Prili dan Jimmy.


Sementara itu Prili menangis sambil menelungkup di kasurnya yang empuk.


Matanya sudah sembab karena kebanyakan nangis. Tiba-tiba Prili merasakan kepalanya sangat sakit. Prili berusaha bangun untuk mengambil air dan obat sakit kepala yang selalu tersedia di kotak P3K di dapurnya.


Sang papa melihat Prili menuju dapur. Ada rasa kasihan di hatinya. Tapi apa boleh buat, keputusannya tidak boleh di ganggu gugat.


Tiba-tiba ada suara gelas jatuh dari dapur. Wibowo cepat menuju dapur. Asisten rumah tangga yang mendengar ada suara dari dapur muncul juga ke dapur. Wibowo dan asisten terkejut saat melihat Prili sudah terbaring di lantai dapur.

__ADS_1


"Bi panggil mamanya Prili", kata Wibowo cepat.


Sang asisten tanpa berpikir panjang langsung menuju kamar majikannya.


"Nya nyonya", kata sang asisten memanggil Hanny dari luar kamar.


Hanny membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Bik?", tanyanya.


"Itu non Prili Nya, dia pingsan", kata sang asisten dengan suara bergetar.


Hanny bak di sambar petir.


"Apa?dimana?", tanyanya beruntun.


"Di dapur Nya", jawab sang asisten.


Tanpa banyak cerita, Hanny langsung menuju dapur.


"Prili kamu kenapa nak?Pa Prili kenapa?", tanya Hanny cemas.


"Papa juga tidak tahu, kita bawa ke dokter saja sekarang", jawab Wibowo.


"Iya kita ke dokter saja", kata Hanny cepat.


Wibowo di bantu Hanny dan sang asisten membawa Prili masuk ke dalam mobil. Wibowo membawa Prili ke rumah sakit terdekat. Prili cepat mendapat pertolongan.


"Keluarga Prili silakan masuk", kata seorang perawat pada Wibowo dan Hanny.


Wibowo masuk di iringi Hanny.


"Silakan duduk", kata sang dokter setelah melihat kehadiran keluarga Prili.


Wibowo dan Hanny duduk di kursi di hadapan dokter tersebut. Dokter tersebut tersenyum pada keduanya.


"Maaf ini dengan siapanya pasien?", tanya sang dokter.


"Kami orang tuanya dok", kata Wibowo.


"Suaminya ada?", tanya sang dokter.


"Maaf ada apa ya dok?", tanya Hanny mamanya Prili.


"Saya hanya ingin ngasih tahu kalau anak ibu sedang hamil sekarang", jelas sang dokter.


"Apa?", kata Wibowo dan Hanny kompak


bersambung..


.


.


Selamat membaca ya, readers


Bantu like dan komennya ya..


Mampir juga ke karyaku lainnya

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2