
Pernikahan Rinal dan Marsya sudah memasuki usia dua tahun, tapi Marsya belum menampakkan tanda-tanda kehamilan. Mama Liana sangat berharap Marsya atau Nina bisa mengandung anak laki-laki agar bisa menjadi penerus dari usaha yang mereka miliki. Namun baik Nina maupun Marsya belum menampakkan tanda-tanda kehamilan mereka. Awalnya Marsya dan Nina hanya menganggap omongan sang mertua hanya sebagai candaan tapi akhirnya menjadi buah pikiran bagi kedua menantu tersebut.
"Mbak, kami sudah berusaha untuk mendapatkan anak tapi Allah belum memberi kesempatan pada kami. Apa yang harus kulakukan mbak?", ucap Marsya pada Nina pada suatu hari.
"Mbak juga bingung Sya. Sekarang umur Iza sudah hampir tiga tahun, mereka juga menuntut agar mbak juga bisa hamil lagi dan mintanya anak cowok lagi, gimana coba?", keluh Nina.
"Mbak pakai alat KB ya?", tanya Marsya pingin tahu.
"Setahun yang lalu sih iya tapi sekarang gak pakai lagi. Pingin buatin adik buat Iza tapi yaa sampai saat ini mbak juga belum hamil-hamil. Tidak tahu salahnya dimana? Menstruasi mbak memang gak teratur akhir-akhir ini. Apa pengaruh hormon kali ya!?", kata Nina juga tak mengerti.
"Mbak sih enak sudah dapat Iza, nahh aku belum dapat sama sekali. Aku gak mau kalau mereka mempermasalahkan rumah tangga kami cuma gara-gara belum punya anak", Marsya terlihat kesal.
"Iya gak mungkin lah Sya, kita harus tetap berusaha atau kalau perlu kamu bisa konsultasi ke dokter kandungan atau cari pengobatan alternatif mungkin", kata Nina memberi semangat pada Marsya.
Marsya mendengus. Ia terlihat putus asa.
"Ternyata gak gampang juga ya mbak bikin anak", ucap Marsya sekenanya.
Mendengar ucapan Marsya, Nina tertawa terbahak-bahak.
"Koq ketawa sih mbak?tapi benarkan? buktinya kita bekerja terus buatnya masih belum dapat-dapat juga", kata Marsya masih terlihat kesal.
Nina menghentikan tawanya.
"Yang penting kan Rinal tak mempermasalahkan itu. Sepertinya mbak lihat dia enjoy aja. Tak terlalu di pikirkan masalah anak", kata Nina.
"Iya sih tapi mama selalu bertanya terus, aku kan malu mbak", kata Marsya.
"Tetap usaha. Dan doa tentunya. Semoga kita cepat di berikan momongan dan dapat bayi cowok tentunya", kata Nina menyemangati dirinya sendiri.
Hari-hari di lalui Marsya dan Nina dengan pertanyaan sang mertua yang sangat menginginkan cucu laki-laki dalam keluarga tersebut.
"Kapan ya bayi laki-laki menghiasi tawa di rumah ini?", kata mama Liana pada suatu hari di rumahnya saat mereka semua sedang berkumpul.
"Gimana Nina, Marsya? kasih mama cucu laki-lakinya dong", kalimat itu-itu lagi yang mereka berdua dengar.
"Bang, mama sangat menginginkan cucu laki-laki di keluarga ini, kita harus gimana?", tanya Nina pada Jimmy.
"Sudah gak usah dengarkan mama, nanti kamu stres lagi", ucap Jimmy.
Ada ketidaknyamanan pada diri Nina selama berada di rumah mertuanya tersebut. Tapi apa hendak di kata Nina dan Marsya hanya bisa mengiyakan pertanyaan dan permintaan sang mama mertua tanpa tahu kapan semua akan terwujud.
*****
Waktu semakin berjalan. Namun Nina belum menunjukkan tanda-tanda kehamilannya lagi. Namun ada kabar baik menghampiri Marsya dan Rinal. Setelah penantian panjang akhirnya Marsya bisa merasakan indahnya menjadi seorang wanita. Ia akhirnya bisa merasakan menjadi wanita seutuhnya.
Marsya terbiasa bangun dengan menggosok giginya terlebih dahulu baru aktifitas lainnya. Tiba-tiba rasa mual menyerangnya. Marsya mencoba kembali untuk menggosok giginya tapi lagi dan lagi mual menyerangnya.
__ADS_1
hoekk...hoekk...
Aksi Marsya membangunkan Rinal yang masih tertidur. Rinal bangun dan mencoba mempertajam pendengarannya.
"Dari kamar mandi", gumam Rinal.
hoekk...hoekkk..
Suara itu terdengar lagi. Rinal turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Di lihatnya Marsya sedang menunduk di westafel.
"Sayang kamu kenapa?kamu sakit?", tanya Rinal tak mengerti.
"Entahlah mungkin hanya masuk angin", jawab Marsya seadanya.
Rinal memijat punggung Marsya isterinya. Walau tidak yakin itu bisa meredakan mual di perut Marsya tapi Rinal berusaha membantu sang isteri agar mual yang mendera isterinya bisa hilang.
"Ayo kita keluar dulu, biar ku panggilin mama biar bisa bantu kamu", kata Rinal.
Mereka keluar dari kamar mandi.
"Mas, tolong ambilin air minum hangat-hangat kuku aja. Gak usah panggil mama. Ku rasa ini cuma masuk angin saja", kata Marsya berusaha untuk menetralkan nafasnya.
"Iya udah kamu duduk saja disini ", kata Rinal menuntun Marsya untuk duduk di pinggir tempat tidur.
Rinal keluar dengan buru-buru. Di dekat dapur Rinal hampir menabrak mamanya. Mama Liana terkejut dan mengurut dadanya.
Bik Ina yang melihat kejadian tersebut cepat menghampiri.
"Ada apa nyonya?", tanya bik Ina.
"Ini si Rinal jalannya seperti di kejar hantu", jawab mama Liana.
"Bik minta air hangat-hangat kuku ya segelas, buruan", kata Rinal.
"Iya baik den, tunggu bentar", jawab bik Ina.
"Tumben kamu nyari air hangat-hangat kuku pagi hari, biasanya juga kopi yang kamu cari", ucap sang mama.
"Untuk ayang beib ma, katanya mual", ucap Rinal seraya mengambil gelas yang berisi air hangat-hangat kuku dari tangan bik Ina.
"Mual? jangan-jangan?!", gumam sang mama.
Rinal tak memperdulikan ucapan mamanya lagi, dia langsung membawa air tersebut ke kamarnya.
"Sayang, kamu di mana?", tanya Rinal ketika tak melihat keberadaan Marsya di tempat tidur.
hoekk...hoekk..
__ADS_1
Suara Marsya dari kamar mandi. Rinal meletakkan gelas tersebut di meja rias isterinya.
Rinal membawa Marsya keluar dari kamar mandi. Mama Liana dan bik Ina datang menghampiri. Mama Liana senyum-senyum melihat semuanya.
"Minum dulu airnya, mama akan panggil dokter", ucap mama Liana sambil tersenyum sumringah.
"Mama kenapa sih senyam-senyum", kata Rinal tak setuju melihat mamanya tersenyum disaat isterinya lagi seperti itu.
"Kamu tak akan mengerti, mama akan telepon dokter dulu", kata mama Liana keluar dari kamar Rinal dan Marsya.
"Ada yang bisa bibi bantu non?", tanya bik Ina pada Marsya.
"Tolong air minumnya bik", kata Marsya dengan nafas sedikit di tahan. Takut mualnya muncul lagi.
Bik Ina memberikan gelas yang berisi air hangat-hangat kuku tersebut kepada Marsya. Marsya meminumnya setengah. Lalu diberikannya kembali gelas tersebut kepada bik Ina.
Tak berapa lama, dokter datang. Dokter dengan cepat melakukan pemeriksaan kepada Marsya.
"Untuk lebih memastikan, saya minta pemeriksaan urinenya sedikit. Ini alatnya. Kamu tampung air seni kamu, lalu gunakan alat ini. Caranya ada di situ. Kami tunggu disini", kata sang dokter seraya memberikan alat tes kehamilan pada Marsya.
Marsya menuruti perintah sang dokter. Rinal yang belum mengerti apa yang terjadi, masih cemas, takut terjadi apa-apa dengan sang isteri.
Marsya keluar dari kamar mandi dan memperlihatkan hasilnya pada sang dokter. Dokter tersenyum.
"Selamat pak Rinal, isteri anda hamil", kata sang dokter langsung.
"Hamil?!",
.
.
.
.
.
.
Lanjut lagi bacanya ya readersku semuanya...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya
Tolong bantu like, komen dan votenya ya
Terima kasih.
__ADS_1