
Tak seperti biasanya Jimmy bangun tidur lebih awal. Dia mencari mamanya dan menemukan mamanya di dapur.
"Ma Jimmy ingin bicara", kata Jimmy seraya menarik tangan mamanya menuju ruang keluarga.
"Jimmy kamu kesambet apa sih nak? pelan-pelan nanti mama jatuh loh", kata Liana mamanya Jimmy.
"Ada apa nak?", kata sang mama setelah duduk di sofa.
"Ma, aku ingin mama menemui Prili hari ini", kata Jimmy cepat.
"Syukurlah akhirnya kamu menerima Prili nak", kata sang mama senang.
"Mama jangan salah sangka dulu, aku ingin mama membatalkan perjodohan antara aku dan Prili", kata Jimmy tegas.
"Loh kenapa nak?Prili punya segalanya, kamu cocok hidup berdampingan dengan Prili",kata sang mama mengarahkan.
"Tapi aku sudah punya calon ma, batalkan saja perjodohan ini, aku hanya mencintai dia ma bukan Prili", jelas Jimmy.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu sudah punya calon, kalau mama tahu dari awal mama tak akan membuat perjodohan ini", kata sang mama.
"Maaf ma, mama juga tak bicara lagi sama Jimmy kan?",kata Jimmy sedikit kesal.
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu nak", kata sang mama.
" Jimmy hanya ingin menikah dengan calon Jimmy ma, Jimmy sangat mencintainya, Jimmy sayang dia ma", kata Jimmy meyakinkan mamanya.
"Siapa gadis itu?", tanya sang mama penuh selidik.
"Mama sudah mengenalnya dengan baik, ku rasa mama tahu siapa orangnya", kata Jimmy masih teka-teki.
"Sudahlah sebutkan saja, mama tak suka teka-teki", kata sang mama tak suka main tebak-tebakan.
Jimmy menatap mata mamanya.
"Dia Nina ma", kata Jimmy pelan.
"Apa?Nina?", tanya sang mama.
"Iya ma dia adalah Nina, hubungan kami sudah lama tapi Nina meminta untuk tidak memberitahukannya pada mama, papa dan semua orang", kata Jimmy.
"Kenapa kamu lebih memilih Nina?", tanya sang mama penuh selidik.
"Karena ku lihat dia orangnya tulus, baik dan juga pintar", jelas Jimmy.
"Kamu tahu konsekuensinya kan punya istri orang dari kalangan biasa?", kata sang mama ketus.
"Kenapa ma?apa status sosial lebih penting buat mama?Nina memang bukan golongan kelas atas tapi aku memilihnya karena dia baik dan bisa mengimbangi aku ma, dia pandai beradaptasi", kata Jimmy membela Nina.
"Dan perlu kamu ingat dia pernah membuatmu hampir mati", ketus sang mama.
__ADS_1
"Itu kecelakaan ma, itu juga salah Jimmy bukan salah Nina", kata Jimmy dengan nada suara meninggi.
"Terserah kamu, mama tidak mau kamu nikah sama Nina", kata sang mama seraya bangun dari tempat duduknya.
Jimmy cepat menghadang mamanya.
"Ma please ma, mama juga pernah jatuh cinta kan ma, gimana perasaan mama kalau menikahi orang yang tidak kita cintai, Jimmy sayang Nina ma, cinta sama Nina", jelas Jimmy.
Liana sang mama memandang wajah putranya sebentar, lalu meninggalkan Jimmy yang masih mematung di tempatnya.
Jimmy terlihat kesal. Dia mengepalkan tangannya.
"Aku tak akan menyerah", batin Jimmy.
Jimmy kembali ke kamarnya. Mengambil ponselnya dan menelepon Nina. Namun beberapa kali di telepon Nina tetap tak ada jawaban. Jimmy bertambah kesal. Di bantingnya kotak tissue yang ada di atas meja kecilnya.
Prakkk...
Terdengar suara benda yang pecah akibat terhempas dari kamar Jimmy. Sang asisten rumah tangga yang lagi berbersih di ruang tengah sempat mendengar bunyi pecahan tersebut.
Liana sang mama yang ingin masuk ke kamarnya mendengar kegaduhan dari kamar Jimmy.
"Anak bodoh", kata sang mama tanpa ingin melihat apa yang terjadi di kamarnya Jimmy.
"Nya sepertinya den Jimmy lagi ngamuk, kenapa ya Nya?", kata sang asisten pada Liana mamanya Jimmy.
"Biarkan saja, bentar lagi juga mereda", kata Liana.
"Dia memang gitu kalau lagi kesal, biarkan saja nanti capek sendiri", kata Liana sambil berlalu.
Sang asisten hanya mengangkat kedua bahunya. Kembali melanjutkan pekerjaannya.
*****
Sementara itu Nina yang berada di kamar mandi tidak mengetahui kalau Jimmy menelponnya. Dia tidak tahu kalau Jimmy kesal dan galau gara-gara dia.
Nina mandi mengguyur tubuhnya. Dia ingat kejadian semalam. Ada ketakutan dalam diri Nina. Tiba-tiba Nina menangis sesunggukan.
"Bagaimana kalau dia tidak mau bertanggungjawab, apa yang harus aku lakukan?", kata Nina sambil memejamkan matanya.
"Harusnya aku menolaknya, apa karena aku juga sangat mencintainya, ohh tuhan apa yang telah aku lakukan", kata Nina.
Air matanya terus mengalir. Nasi telah menjadi bubur. Bagaimana pun sekarang dia tidak suci lagi. Akankah Jimmy akan menikahinya?akankah orang tua Jimmy akan menerima kehadirannya sebagai menantu? batin Nina.
Nina menyirami dan membersihkan tubuhnya yang kotor. Nina merasa jijik dengan dirinya sendiri. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Sampai Nina menyudahi ritual mandinya.
Nina keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian untuk ke kantor. Nina memandangi wajahnya di cermin. Matanya terlihat sembab karena terlalu banyak menangis. Nina tidak mau ibu dan Adel adiknya tahu. Nina berangkat ke kantor melewatkan sarapan paginya.
"Bu, Nina berangkat dulu ya, Adel naik ojol aja, aku buru-buru", Nina memberi alasan tanpa memandang wajah ibunya.
__ADS_1
"Gak sarapan dulu?", tanya sang ibu.
"Gak bu, di kantor aja", kata Nina sambil mencium punggung tangan ibunya.
Nina berlalu. Sang ibu kembali berkutat di dapur tanpa menaruh curiga sedikitpun pada Nina anaknya.
Kantor masih sepi karena memang masih terlalu pagi. Sesampainya di kantor, Nina hanya duduk diam di kursinya. Pikirannya berkecamuk antara takut, malu dan kesal. Semua campur aduk jadi satu.
Telepon genggam Nina kembali berdering. Nina mengambil ponselnya. Di lihatnya Jimmy yang meneleponnya. Nina mengangkat telepon dari Jimmy yang menggunakan telepon whatsappnya.
"Kamu kemana aja sih?di telepon dari tadi nggak di angkat", kata Jimmy kesal.
"Mungkin tadi lagi di jalan di atas motor", kata Nina tanpa memandang ke layar ponselnya.
"Sekarang kamu di mana?", tanya Jimmy.
"Kantor", jawab Nina singkat.
"Iya sudah aku ke kantor sekarang", kata Jimmy memutus obrolan mereka.
Nina hanya mendengus. Hatinya sangat kalut sekarang. Tidak tahu harus berbuat apa. Nina kembali menangis. Air matanya tumpah begitu saja.
Tak lama Jimmy datang. Di lihatnya Nina yang sedang menangis. Jimmy merasa bersalah. Di dekatinya Nina. Jimmy membawa Nina ke pelukannya.
"Maafkan aku, aku janji kita akan segera menikah, bersabarlah", kata Jimmy.
Nina tambah sesunggukan di dada Jimmy. Air matanya membasahi kemeja Jimmy. Jimmy mengendorkan pelukannya. Di hapusnya air mata Nina. Di kecupnya bibir Nina yang bergetar.
"Aku mencintaimu, aku akan bertanggung jawab", kata Jimmy.
Nina tersenyum dan sedikit lega setelah mendengar pengakuan Jimmy.
Nina memeluk Jimmy dan Jimmy pun memeluk tubuh wanita yang di cintainya itu sangat erat.
"Hhemmm", suara deheman seseorang menyadarkan keduanya.
Jimmy dan Nina melepaskan pelukan mereka.
.
.
.
Tolong bantu vote, like dan komennya ya readers.
Maaf kalau author telat terus nulisnya, tapi author akan terus menulis walau lambat. Author harap readers semua maklum.
Mampir juga ke karya author yang lain;
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).