
Sejak tahu Jimmy suaminya menikah, Nina menjadi lebih pendiam. Walau masalah yang dihadapinya sangat menyakiti hati dan perasaannya tapi Nina ingin tetap tegar. Perjalanan hidupnya baru di mulai, banyak hal yang masih harus di lakukannya. Tak di pungkiri air matanya sewaktu-waktu meleleh dengan sendirinya mengingat nasib yang menimpahnya sangat melukainya.
"Sebaiknya aku ke rumah ibu saja", gumam Nina.
Nina akhirnya pergi menuju rumah ibunya. Hati yang bak di iris sembilu, membuat Nina lemah tak berdaya. Nafsu makan pun menghilang. Tatapan matanya pun kosong tapi Nina tetap untuk melanjutkan hidup. Berat memang, tapi itulah takdir. Nina percaya bahwa ini adalah sepenggal cerita yang di tulis tuhan untuknya.
"Ya Allah sesulit inikah hidupku", batin Nina.
Pikiran Nina melanglang buana. Nina tak menyadari kalau ada lelaki separuh baya sedang mendorong sebuah gerobak ingin menyeberang jalan.
Gubrakk...
Nina menabrak gerobak lelaki tersebut. Beruntung Nina tidak dalam keadaan ngebut sehingga gerobak tersebut hanya berputar arah dan lelaki separuh baya tersebut hanya terduduk di jalan.
Nina kaget bukan alang kepalang. Sejenak Nina seperti hilang kesadaran. Nina tersadar saat orang-orang ramai di sekeliling mobilnya.
Nina keluar dari mobilnya. Nina langsung mendatangi lelaki tersebut.
"Maaf pak, apa bapak terluka?", tanya Nina seraya memperhatikan bapak tersebut dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Tidak neng, bapak tidak apa-apa", kata lelaki tersebut.
"Syukurlah kalau tidak apa-apa, tadi ku kira bapak terluka", Nina mengambil sesuatu di mobilnya.
"Ini pak untuk sekedar urut, maafkan kesalahan saya ya pak", kata Nina seraya memberikan uang lima ratus ribu untuk lelaki tersebut.
"Tidak usah neng bapak tidak apa-apa",kata lelaki tersebut menolak.
"Terimalah ini untuk permintaan maafku, mohon di terima", kata Nina seraya mengambil tangan lelaki separuh baya tersebut dan menyelipkan uang tersebut di genggaman lelaki tersebut.
Orang-orang membantu lelaki tersebut dan gerobaknya untuk di bawa menepi ke pinggir jalan. Nina masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.
Nina tiba di rumah sang ibu. Melihat ibunya Nina langsung menghambur kepelukan ibunya. Nina menangis sejadi-jadinya.
"Ayo masuk jangan menangis di luar tidak enak kalau di lihat orang", ucap Ratmi sang ibu.
Nina dan ibunya masuk ke dalam rumah. Ratmi membawa Nina diduk di ruang tengah.
"Menangislah jangan di tahan, setelah itu kamu akan merasa lebih lega dan ringan", ucap sang ibu bijak.
Nina kembali menangis. Ratmi memeluk anak sulungnya tersebut. Ratmi hanya diam. Di biarkannya Nina menangis. Setelah Nina agak tenang barulah Ratmi buka suara.
"Ibu mengerti perasaan kamu. Kamu sudah dewasa, kelanjutan rumah tanggamu ada di tanganmu, ibu tidak dapat berbuat banyak. Jimmy sangat mencintai kamu, jawabannya ada pada kamu",kata sang ibu.
__ADS_1
"Minggu nanti Jimmy menginginkan aku ikut bersanding di pelaminan, ini hal yang sangat memalukan ibu, aku belum memberi jawaban pada Jimmy ",ujar Nina.
"Itu artinya dia memang mencintai kamu, masih menginginkan kamu berada di sisinya", kata sang Ibu.
"Tapi ini memalukan Bu", kata Nina.
"Apakah ini artinya rumah tanggamu berakhir di sini saja?kamu menyerah, begitu?", tanya sang ibu.
Nina terdiam. Ia mencoba mencerna setiap perkataan sang ibu.
"Apakah kamu masih mencintainya?", tanya sang ibu hati-hati.
"Rasa ini sangat menyakitiku Bu", kata Nina tak menjawab pertanyaan sang ibunya.
"Itu artinya masih ada cinta di hatimu untuknya, bersandinglah minggu nanti. Jimmy menginginkan kamu ada di sampingnya di pelaminan, itu berarti hubungan kalian sudah di restui orang tua Jimmy. Bersabarlah, Allah bersama orang-orang yang sabar. Semua ada hikmahnya ", kata Ratmi sang ibu bijak.
Nina menghela nafasnya. Nafas itu terasa sangat berat. Dada Nina terasa penuh.
"Turuti kemauan suamimu. Lakukan sebisamu. Kalau memang masih ingin rumah tanggamu selamat, bersandinglah. Ibu yakin kamu bisa, kamu kuat. Berhentilah menangis, tangisan tak akan menyelesaikan masalah. Berdoa dan bangkit. Jangan terpuruk. Masa depan menantimu. Hidupmu masih panjang. Berusahalah untuk tegar dan selalu optimis. Hanya kamu sendiri yang bisa membuatmu bahagia", ucap Ratmi memberi nasihat.
Nina menghapus sisa air matanya.
"Senyum", kata Ratmi.
"Nah gitu dong, kan lebih rileks", kata Ratmi lagi.
"Rasanya aku tidak kuat Bu, aku benci mereka, aku muak dengan semua ini, aku ingin mati saja", kata Nina. Kembali air mata mengalir di pipinya.
"Kamu harus kuat. Perjuangkan cintamu. Setelah itu nanti kamu harus kerja biar pikiran kamu jernih tidak terfokus dengan masalah yang ada, sibukkan diri", kata sang ibu sambil menghapus air mata di pipi Nina.
Nina mengangguk. Ia memeluk ibunya kembali. Mencari kekuatan dari sang ibu.
Ratmi melepaskan pelukan Nina. Di pegangnya wajah Nina.
"Setiap orang mempunyai masalahnya masing-masing, Allah itu tak akan memberi cobaan di luar kemampuan hambanya. Sabarlah", nasihat sang ibu.
Ratmi bangun dari tempat duduknya menuju ke belakang. Tak lama ia kembali lagi dengan membawa segelas air putih.
"Minum dulu, nanti kita makan. Ibu yakin pasti kamu belum makan", tebak sang ibu.
Nina tersenyum kecut. Nina mengambil alih gelas dari tangan ibunya. Nina meneguk habis air yang ada di gelas tanpa sisa.
"Tarik nafas dalam-dalam melalui hidung dan hembuskan pelan-pelan melalui mulut, lakukan beberapa kali biar dadamu plong", jelas sang ibu.
__ADS_1
Nina menuruti kata sang ibu. Setelah itu Nina memejamkan matanya sebentar mengumpulkan seluruh tenaganya.
"Enakan?", tanya sang ibu.
Nina mengangguk.
"Ikhlas itu lebih membuatmu tenang. Oh iya bagaimana toko kamu apa sudah buka?", tanya sang ibu mengalihkan pembicaraan.
"Rencananya hari ini mulai buka tapi karena aku masih gak mood mungkin besok atau lusa baru mulai buka", kata Nina mulai tenang.
"Cari karyawan biar ada teman ngobrol", kata sang ibu lagi.
"Sudah Bu kebetulan anaknya pulang sekitaran situ juga jadi walaupun tutupnya agak malam mereka tidak takut untuk pulang", jelas Nina.
"Iya kamu benar, jaman sekarang takut kalau anak perempuan pulang malam-malam bahaya. Kamu juga jaga kesehatan makan, tidur yang cukup", kata sang ibu lagi.
"Iya Bu", jawab Nina singkat.
"Iya udah kita makan dulu yuk, ibu udah lapar ", kata sang ibu menggandeng tangan Nina menuju meja makan.
"Apa tidak menunggu Adel dulu makannya?", tanya Nina.
"Adik kamu pulangnya sore, kalau kita makan nunggu dia dulu yang ada kita malah pingsan nanti. Apalagi ibu sudah tua gini, kalau udah lapar lutut ikut gemetaran", kata sang ibu berseloroh.
Nina tertawa mendengar candaan ibunya. Ratmi senang melihat Nina sudah mulai ceria kembali.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komennya ya readersku sayang.
...Tolong bagi yang tidak suka jangan di buli, ini hanya sebuah cerita. Melihat sisi lain sebuah kehidupan. Beri komentar yang baik dan memotivasi๐๐๐๐....
Mampir juga ke karyaku lainnya ya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1