
Prili menarik Jimmy ke dalam rumah. Hampir saja Jimmy terjatuh karena tak siaga. Prili membawa Jimmy ke kamarnya.
"Jim, aku ...", kata Prili yang tak mengerti akhir-akhir ini hasratnya sangat kuat untuk selalu berhubungan intim dengan suaminya Jimmy.
"Iya ada apa?", tanya Jimmy yang tak peka.
Entah seperti ada kekuatan yang menggerakkan tangan Prili untuk membuka kancing baju Jimmy yang ada di depannya.
"Prili aku mau kerja, jangan gila", kata Jimmy blingsatan.
"Aku juga bingung apa yang sedang terjadi, tapi aku selalu pengen melakukannya dengan kamu Jim, tolong mengertilah", kata Prili.
"Kalau ngidam jangan ke bablasan Prili", kata Jimmy.
"Entahlah aku juga gak ngerti, tapi sekarang aku sangat menginginkannya", kata Prili seraya membuka kancing bajunya sehingga terlihatlah pemandangan yang menakjubkan.
Jimmy menelan ludahnya saat Prili menampakan dua buah gundukan yang nampak segar dan ranum tersebut. Wajah keduanya saling mendekat. Jimmy tak mau mengecewakan Prili.
Akhirnya pergulatan itu pun terjadi kembali. Hanya *******-******* kecil yang terdengar. Prili menikmati permainan yang di ciptakan oleh Jimmy. Pergumulan pun tak dapat di hindarkan lagi.
Prangggg.....
Ponsel Jimmy terjatuh. Prili sempat kaget. Jimmy sempat menoleh ke lantai. Di lihatnya ponselnya yang sudah terjatuh ke lantai. Jimmy tak memperdulikan ponselnya lagi, Prili sudah sangat menggoda di hadapannya.
Ritual perang pun berlanjut. Jimmy tak ingin berlama-lama. Jimmy segera mempercepat ritme permainan karena Jimmy akan segera ke kantor.
Prili menjerit lirih saat Jimmy melepaskan lahar panasnya. Keduanya berpelukan erat. Sungguh Prili sangat merasa puas. Keinginannya terbayarkan. Senyum kepuasan tersungging di sudut bibirnya.
"Terima kasih sayang", bisik Prili lirih.
Jimmy hanya tersenyum. Dia senang melihat Prili merasa terpuaskan.
Jimmy bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Jimmy kembali mengguyur tubuhnya dan membersihkan dirinya.
Tak butuh waktu lama, Jimmy menyudahi ritual mandinya. Jimmy segera berpakaian dan setelah rapi Jimmy pun meminta untuk pergi ke kantor. Prili mengangguk. Prili tak mungkin mengantar Jimmy sampai ke depan dengan keadaannya seperti itu. Jimmy keluar dari kamarnya dan menutup pintunya.
Prili dengan hati riang gembira menuju kamar mandi. Gemericik air terdengar seiring irama nyanyian yang di lantunkan Prili.
****
Jimmy bernyanyi-nyanyi kecil di ruangannya.
"Senang banget kelihatannya?!", goda Marsel pada Jimmy.
"Kamu?senang banget masuk tanpa ketok pintu ", ledek Jimmy.
"Sebenarnya dari tadi aku di sini, cuma karena kamu asik nyanyi jadi aku masuk saja tanpa ketok pintu lagi ", ujar Marsel.
"Ada apa?", tanya Jimmy.
"Ada yang mau aku tanyakan, soal Nina", ucap Marsel.
"Kenapa dengan Nina?", tanya Jimmy penasaran.
__ADS_1
"Semalam kami, maksudku aku dan Sofi berbincang-bincang tentang hubungan kami, dia ingin segera minta di lamar", ujar Marsel.
"Lah terus apa hubungannya dengan Nina?", tanya Jimmy.
"Sofi sering chattingan sama Nina, kalau Nina sangat mendukung hubungan kami, karena katanya Sofi orangnya apa adanya, Nina juga sangat terbuka dengan Sofi tentang pernikahan kalian ", jelas Marsel.
Jimmy mulai panas dingin mendengar penjelasan Marsel.
"Trus?", tanya Jimmy ingin tahu kelanjutan cerita Marsel.
"Begini, aku tak tahu apa masalah kalian tapi sebagai seorang isteri Nina bisa merasakan ada perubahan yang signifikan dari dalam diri kamu", tunjuk Marsel pada Jimmy.
"Jangan ngarang luh bro, hubungan kami baik-baik saja", Jimmy beralibi.
"Sebagai sahabat aku hanya mengingatkan, pecahkan masalah dengan baik sebelum menjadi besar, kalian sudah ku anggap seperti saudara sendiri, aku tak mau salah satu dari kalian tersakiti", jelas Marsel.
Jimmy memainkan bibirnya. Jimmy memandang lekat bola mata Marsel. Jimmy mengusap kepalanya. Sebagai orang yang sangat mengenal Jimmy, Marsel tahu ada masalah besar yang di sembunyikan oleh Jimmy.
"Aku tidak menuntut elu terus terang padaku, tapi ingat segala sesuatunya akan muncul kepermukaan seiring waktu, jadi berbuatlah sebelum parah", ujar Marsel.
Marsel tak sengaja melihat ke dada Jimmy yang kancing kemejanya bagian atas tidak terkancing.
"Sepertinya kamu dapat stempel ya? siapa yang kasih?", goda Marsel.
Jimmy kaget.
"Oohh ini, ini bukan apa-apa, ini hanya bekas kerokan", kata Jimmy sambil mengancingka kemejanya yang terbuka bagian atas.
"Iya aku tahu, suatu saat kamu juga akan tahu semuanya ", ujar Jimmy.
"Jangan berteka -teki, jujurlah, siapa tahu aku bisa membantu, kasihan Nina", ucap Marsel.
"Kamu yakin bisa memegang rahasia ini?", tanya Jimmy kemudian.
"Rahasia? sebesar itukah masalah kalian sampai harus di rahasiakan", tanya Marsel.
"Ini di luar kemampuanku bro, Prili hamil", kata Jimmy jujur.
Marsel kaget dengan mata membulat sempurna. Marsel menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Aku tak punya pilihan, aku harus bertanggungjawab dan menikahi Prili secara diam-diam", jelas Jimmy.
"Oh my god", kata Marsel tak percaya.
"Iya bro, Nina belum mengetahuinya. Aku tak sanggup memberitahukan semau ini padanya dan tanda ini...ahh kamu pasti sudah bisa menebaknya", jelas Jimmy sambil mengelus tanda yang di berikan Prili di dadanya.
"Artinya kalian sudah sering begituan kan", tebak Marsel.
"Aku juga lelaki normal bro, lagian aku juga tak mengerti Prili terus menginginkannya", jelas Jimmy.
"Lagi ngidam tuh si Prili, kamu juga sih main embat aja, bunting kan anak orang", ledek Marsel.
"Ini semua juga gara-gara kamu, coba kalau waktu itu kamu nurut perkataanku, pasti kamu yang jadiaan sama dia", kata Jimmy.
__ADS_1
"Orang dianya cuma maunya sama kamu, lagian sepertinya sekarang kamu bahagia dapat servis dari Prili. Sudah mau gimana lagi, semua sudah menjadi bubur gak mungkin bisa di jadiin beras lagi, cari cara bagaimana caranya kamu bisa menyampaikannya pada Nina. Kasihan Nina, korban perasaan gara-gara kamu. Jangan mentang-mentang Nina lagi gak bisa di pakai, kamu malah cari yang bisa di pakai", kata Marsel.
"Brengsek luh, aku tak sejahat itu. Ini kecelakaan", bantah Jimmy.
"Kecelakaan yang mengasyikkan ", goda Marsel sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sompret luh", kata Jimmy seraya menonjok bahu Marsel.
"Aku jadi pengen cepat nikah juga nih", kata Marsel.
"Iya sudah cepatan lamar si Sofi, di jamin kamu akan nyesal, menyesal lambat nikah", kata Jimmy menggoda Marsel.
"Baiklah pulang dari kerja aku akan ajak Sofi nikah", kata Marsel semangat.
"Lamar dulu, jangan sampai ribet urusan seperti aku", ujar Jimmy.
"Oke, siapkan kado istimewanya buat kami, yang spesial", ucap Marsel.
"Iya itu pasti", kata Jimmy.
Marsel mengacungkan jempolnya dan bangun dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan Jimmy.
Jimmy menghela nafasnya. Wajah Nina melintas di benaknya.
"Maafkan aku sayang", batin Jimmy.
Tiba-tiba pintu ruangan Jimmy di ketuk dari luar.
"Masuk", kata Jimmy.
Marsha masuk dengan membawa banyak berkas di tangannya.
"Letakkan di atas meja, kamu boleh keluar", ucap Jimmy.
"Baik pak, permisi", kata Marsha sembari memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan Jimmy.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readers ku sayang...
Jangan lupa like, komen dan juga kasih votenya ya.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1