
Menjelang pernikahan Rinal dan Marsya, mama Liana mendatangi kediaman keluarga Wibowo. Ia ingin mengajak besannya sekeluarga untuk hadir di acara pernikahan anaknya Rinal nanti.
"Maksud kedatanganku kemari mau mengundang kalian sekeluarga untuk hadir di acara pernikahan Rinal Minggu nanti",kata mama Liana pada mama Hanny, pak Bowo dan Prili.
"Dua minggu kemudian kita baru adakan resepsinya. Jangan tidak hadir lho", kata mama Liana lagi.
"Jadi kalau Prili selama seminggu ini ke rumah mama boleh dong ya?", tanya Prili semangat.
"Iya boleh dong sayang. Mau nginap juga boleh koq", kata mama Liana.
"Nantilah ma, Prili cuma pingin bantu-bantu kali aja ada yang bisa Prili bantu kerjakan", ucap Prili.
"Iya boleh terserah kamu saja", kata mama Liana.
"Emangnya acara nikahnya di mana sih Li?",tanya mama Hanny.
"Di tempatnya Marsya, ayahnya ingin pernikahannya di adakan di rumahnya saja", kata mama Liana.
"Oohh gitu. Iya mudah-mudahan tidak ada halangan. Kami akan usahakan, semua akan hadir di acara pernikahan Rinal nanti", kata mama Hanny pada mama Liana.
Setelah satu jam disana, akhirnya mama Liana mohon pamit.
"Kalau begitu permisi dulu, di tunggu kedatangannya nanti",Ujar mama Liana.
"Salam untuk mas Purnama", ucap pak Bowo.
Mama Liana tersenyum sambil mengangguk. Setelah bersalaman akhirnya mama Liana meninggalkan kediaman Wibowo.
Keesokan harinya Prili datang ke rumah mertuanya. Di lihatnya Jimmy dan Nina sudah ada di sana. Prili dengan langkah gontai mendekati Jimmy dan Nina yang sedang menyiapkan barang-barang untuk hantaran tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Hai, boleh aku nimbrung di sini?", tanya Prili langsung duduk di samping Nina.
Nina dan Jimmy saling pandang. Jimmy memalingkan wajahnya, dia menghela nafasnya. Prili tersenyum dengan wajah di buat seceria mungkin.
"Apa kamu sudah sehat sepenuhnya mau nimbrung di sini?ini bukan tempat rekreasi lho", kata Jimmy.
"Aku juga bisa bantu mas, Nina yang lagi hamil aja bisa kerjakan masa aku gak bisa", protes Prili.
"Dia sudah biasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri, jangan samakan kamu dengan dia",kata Jimmy tanpa melihat ke arah Prili.
"Kamu meremehkan aku mas", ucap Prili.
Melihat ada ketegangan yang sedang terjadi antara Jimmy dan Prili, Nina berusaha melerai.
"Bang, sudah biarkan saja Prili membantu kita disini. Kan bisa cepat selesai juga kerjaan kita", ujar Nina.
"Terserah kamu deh, tapi kamu jangan dekat-dekat dengan dia ya",kata Jimmy pada Nina.
__ADS_1
"Bang..", Nina berusaha menenangkan suaminya Jimmy.
"Cuma untuk jaga-jaga jangan sampai dia macam-macam lagi sama kamu", kata Jimmy seraya melirik Prili.
Prili pura-pura tidak mendengar. Dia duduk berhadapan dengan Jimmy.
"Kasihan banget kamu Nina cuma jadi budak bagi Jimmy. Tapi tenang aja aku akan jadi warna dalam hidupmu ", batin Prili.
Nina akhirnya bisa menghadapi suasana yang tadinya tidak nyaman menjadi aman, damai, sentosa.
Nina dan Prili akhirnya bisa berteman kembali. Walau tidak seperti dulu tapi mereka akhirnya bisa akur kembali. Mama Liana yang melihat mereka berdua akur, menjadi sangat senang. Mama Liana tersenyum bahagia.
"Kamu ngapain memberi dia hati lagi?dia itu musang berbulu domba. Aku yakin dia tidak akan berubah", kata Jimmy setelah mereka tiba di rumah mereka.
"Bang, dia itu manusia sama seperti kita. Ada saatnya dia jahat dan ada saatnya dia baik. Jangan terlalu menghakimi orang. Dia mungkin berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Beri dia kesempatan untuk untuk mengubah diri", kata Nina.
"Abang cuma mengingatkan", kata Jimmy seraya menuju kamar mandi.
Nina menghela nafasnya.
****
Acara pernikahan Rinal pun tiba. Pihak keluarga kedua belah pihak telah berkumpul. Pak penghulu pun sudah datang. Acara segera di laksanakan. Marsya terlihat sangat cantik dengan kebaya warna krem melekat sang pas di tubuhnya. Rinal yang tampan duduk di samping Marsya.
Ketika acara akad berlangsung Rinal yang berhadapan langsung dengan pak Surya ayahnya Marsya sedikitpun dia tidak merasa gugup. Dengan tenang dan mantap Rinal mengikuti ritual nikahnya. Setelah selesai akad, semua tamu di persilakan menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
"Iya dong, biar cepat dapat keturunannya", kata Rinal seraya melirik Marsya.
"Sepertinya ada yang sudah gak sabar ini, kita sepertinya mengganggu ini bang", kata Nina menyeletuk.
Muka Marsya bersemu merah tapi tak urung ia menjawab candaan Nina.
"Ibu bisa aja. Kita kan masih banyak tamu gak mungkinlah mau meninggalkan tamu", kata Marsya.
"Koq ibu sih Sya?kamu kan sudah jadi adik ipar aku, isterinya Rinal. Iya panggil mbak dong ya", seloroh Nina.
Marsya terkekeh. Wajahnya kembali bersemu merah. Rinal yang gemas melihat Marsya, langsung menarik pinggang Marsya dan merangkulnya.
"Rinal banyak orang malu tahu", kata Marsya berusaha melepaskan tangan Rinal yang berada di pinggangnya.
"Gak apa-apa kan sudah sah juga, iya gak kak?", tanya Rinal seraya melihat ke arah Jimmy.
"Suka-suka kamu lah, sudah punya kamu juga. Yuukk sayang, sepertinya kita juga harus pulang", kata Jimmy seraya menggandeng tangan Nina.
Rinal tertawa. Marsya mencubit pinggang Rinal. Rinal kesakitan dan melepaskan pelukannya pada pinggang Marsya.
"Galak amat jadi orang, kita lihat saja nanti apa kamu segalak ini kalau di kamar", goda Rinal di telinga Marsya.
__ADS_1
"Rinaalll", jerit Marsya refleks.
Semua orang yang ada di dekat mereka menoleh ke arah mereka. Tak terkecuali Jimmy dan Nina, mereka kembali membalikkan badannya ke arah Rinal dan Marsya.
"Lho ada apa Sya?", tanya Jimmy.
"Nggak ada apa-apa kak cuma kaget sedikit", ucap Rinal.
Orang-orang yang melihat hanya tersenyum. Ada yang geleng-geleng kepala melihat ulah pengantin baru tersebut. Jimmy mengajak Nina untuk makan tapi baru saja akan melangkah Prili sudah ada di depan mereka.
"Sayang, aku sama kalian aja ya, boleh ya?", kata Prili langsung memegang lengan Jimmy.
Jimmy menghela nafasnya.
"Iya sudah yuukk kita makan dulu, udah lapar ini tapi lepasin dulu tangannya gak enak di lihat orang", kata Jimmy seraya melepaskan gandengannya pada tangan Nina agar Prili melepaskan tangannya dari lengan Jimmy.
Jimmy melangkah menuju meja makan di ikuti kedua wanitanya.
Jimmy tidak mau Prili merasa iri dengan Nina. Jimmy membiarkan Nina mengambil makanannya sendiri. Saat giliran Nina mengambil makan, Prili sengaja menyantelkan kakinya pada karpet yang terpasang di bawah. Tak ayal lagi tubuhnya menubruk tubuh Nina. Dan perut Nina menabrak sudut meja.
"Auwww" pekik Nina.
Piring Nina terlepas seketika. Jimmy yang ada di depannya langsung melihat ke belakang.
"Sayang kamu kenapa?", tanya Jimmy seraya meletakkan piringnya di atas meja prasmanan.
"Aahh", kata Nina seraya menahan perutnya yang terasa sakit.
"Rinal siapkan mobil, kita bawa mbak kamu ke rumah sakit", teriak Jimmy pada Rinal.
"Baik kak", jawab Rinal.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku. Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya.
Mampir juga yuk ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1