Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Mengkhawatirkan Jimmy


__ADS_3

"Del, pulang nanti kita ke mall yuk?", ajak Wina ke Adel di jam istirahat mereka.


"Tapi aku gak punya uang nih, kamu tahu sendiri kan kakakku sendiri yang kerja, semuanya kakakku yang tanggung, iya aku gak seperti kamu yang duitnya banyak, aku mana bisa hura-hura seperti kamu", kata Adel sambil menyandarkan tubuhnya di dinding kelas mereka.


"Jangan gitu dong kita kan sahabat, tenang aja aku yang traktir, gimana mau kan?", tanya Wina.


"Benaran nih?", tanya Adel berbinar.


"Iya benaran", kata Wina meyakinkan.


Begitulah persahabatan Wina dan Adel. Wina orangnya baik, suka menolong dan tidak pilih-pilih teman.


Wina tahu Adel bukan orang kaya tapi Wina tahu Adel orangnya baik dan tulus dengan siapa pun. Wina berteman dengan seseorang tak pernah memandang status sosial mereka.


Adel dan Wina sama-sama cantik dan baik hati. Mereka berdua sangat cocok jadi teman. Banyak yang iri melihat pertemanan keduanya. Perbedaan status sosial keduanya sangat berbanding jauh. Tapi keduanya tak memandang itu. Adel suka dengan Wina karena Wina baik, tidak sombong dan tak pilih-pilih teman. Sedangkan Wina suka sama Adel karena Adel ramah, pintar dan tak pernah minder dengan teman-teman yang berstatus sosial tinggi. Wina juga tak suka mengumbar kekayaan orang tuanya di depan teman-temannya, itu salah satu yang membuat pertemanan mereka langgeng.


*****


"Wiihh motor baru nih ceritanya", kata Adel setelah melihat kakaknya pulang dengan membawa sepeda motor.


"Motor kantor, inventaris. Cuma pinjaman biar gak telat", jawab Nina ringan.


"Sepertinya mbakku ini pegawai kesayangan ya", kata Adel sambil mengelus sepeda motor tersebut.


"Huuss kalau ngomong itu harus di atur jangan sembarang nyeplos", kata Nina pada sang adik.


"Lah iya kan, belum genap tiga bulan kerja udah dapat motor, kalau satu tahun mungkin dapat mobil kali ya, baik banget ya bosnya mbak", celoteh Adel.


"Iihh udah ahh, ngomong tambah ngelantur, ayo masuk", ajak Nina pada Adel.


Nina masuk ke dalam rumah di ikuti Adel dari belakang.


"Bu ada berita hangat dari dunia perbisnisan", kata Adel sambil melirik kakaknya.


"Apa sih ibu gak ngerti?",tanya ibu mereka.


"Adel", kata Nina dengan mata mendelik.


"Apa sih mbak?koq sewot", kata Adel pada Nina.


"Ini bu mbak Na dapat motor dari kantornya, masih baru", kata Adel sambil menggandeng tangan ibunya. Mbak Na panggilan Adel untuk sang kakak.


"Bukan dapat tapi di pinjami", protes Nina.

__ADS_1


"Anggap saja dapat", kata Adel tak mau kalah.


"Terserah deh", kata Nina.


"Benar nih?", tanya sang ibu pada Nina.


"Iya bu, tadi Nina telat pada hal berangkatnya udah pagi-pagi sekali, jadi biar gak telat lagi di kasih pinjaman motor, gitu ceritanya bu", jelas Nina.


"Enak ya punya bos baik gitu", kata Adel sambil melirik Nina.


"Udah ahh, mbak capek, Nina ke kamar dulu ya bu", kata Nina tak mau memperpanjang cerita. Nina berlalu menuju kamarnya.


Adel membawa sang ibu melihat motor yang tadi di bawa Nina.


"Baru ya bu?Keluaran terbaru lagi", kata Adel sambil mengelus motor tersebut.


"Iya baru, kamu mau?", tanya sang ibu.


Adel sangat mau bu, tapi uangnya dari mana, bisik batin Adel.


"Mau banget bu, tapi nanti kalau Adel udah kerja Adel akan beli motornya", kata Adel semangat..


"Sekolah aja yang rajin, nanti kalau udah selesai baru mikirin kerja", kata sang ibu sambil mengucek rambut putrinya.


*****


Sementara itu di kediaman Purnama Wijaya


"Win, kakak kamu mana?", tanya mamanya pada Wina.


"Sepertinya belum pulang Ma, ada apa Ma?", tanya Wina.


"Nggak apa-apa cuma ingin mastiin keadaannya saja", kata mama Liana.


"Bentar lagi kali ma", kata Wina sambil menikmati film kartun yang ada di televisi.


"Tuan putri asik banget ongkang-ongkang kakinya", kata Jimmy yang tiba-tiba muncul di hadapan Wina.


"Eehh kakak, dah pulang, di cariin mama tuh", kata Wina sambil menunjuk ke arah kamar mamanya.


"Ada apa mama nyariin kakak?", tanya Jimmy seraya duduk di samping adiknya Wina.


"Mama khawatirin kakak sepertinya", kata Wina tanpa melihat ke arah kakaknya Jimmy.

__ADS_1


Paakk..


Telapak kaki Wina di tepak oleh Jimmy. Wina terpekik kaget.


"Auwww",


Wina mau protes tapi Jimmy cepat menunjuk pada kaki Wina supaya kakinya di turunkan ke bawah.


"Bilang aja kenapa sih, gak usah main pukul gitu", kata Wina cemberut.


"Kamu itu perempuan, harusnya sopan duduknya, kaki di letakkan di atas gitu, turunin!", perintah Jimmy.


"Iya iya bawel", kata Wina sambil menurunkan kakinya ke bawah dan membetulkan tempat duduknya.


"Nah gitu kan cantik, gak kayak preman", kata Jimmy sambil tersenyum melihat wajah Wina yang cemberut.


"Pergi sana, ganggu aja, di cariin mama tuh", kata Wina sambil membelakangi kakaknya.


"Baiklah, awas kalau kakinya naik lagi, kakak ikat tuh di kaki meja", kata Jimmy seraya menunjuk meja di depan Wina.


"Bodoh amat", kata Wina kesal.


Jimmy mendengus. Jimmy berlalu dari hadapan Wina. Jimmy menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Mamanya muncul dari belakang dan duduk di samping Wina.


"Tadi mama mendengar suara kakak kamu, apa dia udah pulang?", tanya sang mama.


"Sudah ma, mungkin di kamarnya", kata Wina tak melihat ke arah mamanya, film kartun yang di tontonnya tak mengalihkan perhatiannya.


"Kamu itu gak bosan-bosannya nonton film seperti itu udah gede juga",kata sang mama.


"Seru Ma, lagian film anak-anak lebih asik dan lucu-lucu, bisa ketawa ketiwi, bisa buat kita rileks", kata Wina memberikan alasan. Cukup masuk akal.


Sang mama hanya geleng-geleng kepala melihat anaknya yang sangat menyukai film kartun tersebut. Wina walau sudah remaja masih suka nonton film anak-anak. Katanya film kartun bisa membuatnya lebih rileks karena sering tertawa karena lucu.


"Iya deh yang penting jangan lupa belajar, ingat kamu udah kelas tiga loh", kata sang mama mengingatkan.


"Iya mama sayang", kata Wina sambil memeluk sang mama.


"Iya udah mama mau ke kamar kakak kamu dulu, mama mau mastiin apa luka bekas operasinya sudah benar-benar sembuh", kata sang mama seraya bangun dari tempat duduknya.


Sang mama menaiki tangga dan menuju kamar Jimmy. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sang mama langsung membuka pintu kamar Jimmy putra sulungnya tersebut. Jimmy kaget setelah mengetahui ada yang membuka pintu kamarnya.


"Mama", kata Jimmy sambil melompat ke tempat tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2