
Malam harinya seperti yang di janjikan Jimmy, Jimmy akan berkunjung ke rumah Nina. Nina terus melihat ke arah jam bekernya. Nina mondar-mandir di kamar sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya. Suara ketukan di pintu kamarnya mengagetkan Nina. Nina membuka pintunya.
"Ibu, ada apa?", tanya Nina yang berusaha menahan rasa gugupnya.
"Ada nak Jimmy di depan, temui gih", kata sang ibu.
"Iya Bu bentar",kata Nina.
Sang ibu meninggalkan kamar Nina. Nina masuk kembali ke kamarnya. Nina bercermin memoles bedak tipis di wajahnya dan memakai sedikit lipgloss di bibirnya. Dia ingin Jimmy tidak melihat wajahnya yang nampak cemas. Nina menuju ruang tamu. Di lihatnya Jimmy sedang asik bermain ponsel.
"Maaf kalau lama nunggunya", kata Nina sambil duduk di hadapan Jimmy. Jimmy tersenyum. Nina membalas senyuman Jimmy walau terasa tidak sempurna.
"Mau minum apa kak?", tanya Nina basa-basi.
"Gak perlu, aku mau ajak kamu keluar, mau?", tanya Jimmy.
"Mau ngapain keluar kak?", tanya Nina dengan polosnya.
"Mau makan kamu", jawab Jimmy sedikit kesal.
"Kak Jimmy", kata Nina dengan mata melotot.
"Kita keluar untuk makan Nina, keluar biar lebih santai", jawab Jimmy sambil terkekeh.
"J j j ja di kedatangan kak Jimmy bu bu bukan untuk memecat Nina ya?",tanya Nina polos.
"Ya ampun Nina, kamu ini kenapa sih?aku ke sini cuma ingin bertemu kamu, cuma ingin main ke sini, gak ada sangkut pautnya dengan kerjaan", jelas Jimmy.
Wajah Nina memerah seketika.
"Udah yuk kita keluar, pamit dulu sama ibu", kata Jimmy.
"Kirain. Baiklah, aku ganti baju dulu ya bentar nanti langsung pamit sama ibu", kata Nina.
Jimmy geleng-geleng kepala di buat Nina. Nina masuk ke kamarnya. Dan mengganti pakaiannya lalu mengkuncir rambutnya. Nina mengambil ponsel dan dompet kecilnya. Kemudian Nina pamitan sama ibunya. Lalu kembali ke ruang tamu. Jimmy terpana. Nina agak kikuk di pandangi Jimmy seperti itu.
"Jadi gak ni keluarnya?", tanya Nina pada Jimmy.
Jimmy tersadar.
"Jadi dong, ayo", ajak Jimmy.
Sementara itu Marsel di kamarnya sedang membuka aplikasi facebooknya.
"Dah lama gak buka Facebook, kali aja ada berita baru dan viral", kata Marsel bicara sendiri.
"Banyak juga yang ngirim pertemanan, eeh bentar ini sepertinya aku kenal, Sofi. Iya aku ingat ini teman kuliah dulu. Terima aja dulu siapa tahu dia lagi aktif", kata Marsel.
"Bener dia lagi online, chat aja kali ya", kata Marsel.
Senyum nakalnya mulai mengembang.
"Hai Sofi masih ingat ya sama aku?maaf ya baru di konfirmasi, maklum jarang buka Facebook", kata Marsel.
"Siapa sih yang gak kenal dengan playboy seperti kamu, iya aku ingatlah, masa' sama teman gak ingat", jawab Sofi enteng.
"Heheee betul juga, apa kabarnya kamu sekarang?", tanya Marsel.
__ADS_1
"Baik, predikat kamu sudah di lepas ya?😁",tanya Sofi sambil terkekeh.
"Predikat apa?", tanya Marsel tak mengerti.
"Kura-kura dalam perahu, itu predikat playboy kamu?", tanya Sofi.
"Oohh itu sih alami Sofi bukan playboy, aku laki-laki klo lihat yang cantik masa gak tertarik", kata Marsel santai.
"Dasar buaya darat", kata Sofi pada Marsel.
"Jangan gitu dong, buktinya kamu sekarang mau temanan sama aku", kata Marsel.
"Temanan gak apa-apa juga kali", jawab Sofi.
"Emangnya kamu gak takut kalau jatuh cinta sama aku?", tanya Marsel dengan senyum nakalnya.
"Paling juga kamu yang akan klepek-klepek sama aku", goda Sofi.
"Nantang ni ceritanya, oke kita lihat saja nanti siapa yang akan jatuh cinta, kamu atau aku?", tantang Marsel.
"Pede amat kamu Sel, asal loh tahu ya aku gak mempan rayuan", kata Sofi.
"Baiklah, minta nomor ponsel kamu", kata Marsel.
"Ini xxxx xxxx xxxx", kata Sofi.
"Oke nanti aku hubungi", kata Marsel.
Chatting mereka berakhir.
*****
"Terserah kak Jimmy aja lah", kata Nina.
"Baiklah", kata Jimmy seraya memanggil pelayan dan memesan dua porsi makanan dan minuman.
Tak lama pesanan mereka datang.
"Ayo kita eksekusi", ajak Jimmy pada Nina.
Mereka melahap makanan yang tadi di pesan. Jimmy sesekali melirik ke arah Nina. Nina pura-pura tak melihat.
"Enak ya?mau nambah gak?", tanya Jimmy pada Nina.
"Gak kak udah kenyang, kamu aja kalau mau nambah", kata Nina pada Jimmy.
Jimmy tersenyum. Jimmy membayar tagihannya dan kemudian mereka ke alun-alun kota. Di situ sangat ramai. Banyak orang-orang yang sengaja datang untuk menikmati pemandangan di sana.
"Turun yuk", ajak Jimmy.
Nina mengangguk. Jimmy turun dari mobilnya di ikuti oleh Nina.
"Indah ya kak", kata Nina.
Jimmy memandang wajah Nina di bawah sinar lampu taman.
"Kamu sungguh cantik Nina, aku semakin hari semakin mengagumi kecantikanmu", batin Jimmy.
"Kak ke sana yuk", ajak Nina pada Jimmy.
__ADS_1
"Dengan senang hati sayang", batin Jimmy.
"Ayo", kata Jimmy.
Nina menarik tangan Jimmy. Jimmy sangat senang di perlakukan Nina seperti itu. Jimmy senyum-senyum sendiri. Nina terus menarik tangan Jimmy.
"Lihat kak lampu-lampunya indah sekali, ayo kak kita naik ke tangga itu", kata Nina lagi.
"Iya tapi lepasin dulu tangannya", kata Jimmy pada Nina.
"Eehh iya maaf kak aku lupa", kata Nina tanpa dosa.
"Kamu tuh ya kalau lagi happy gak ingat lagi dengan apa yang di pegang, jangan-jangan kalau nanti udah bersuami gak mau di lepas juga",goda Jimmy.
"Iiihh kak Jimmy ngomong apa sih, ayo kita naik tangga itu kak, lampu di situ indah sekali", ajak Nina.
"Apa kaki kamu udah sembuh?", tanya Jimmy sambil melihat ke arah kaki Nina.
"Udah koq, udah gak sakit lagi",kata Nina.
"Ooh gitu, ayo kita naik tapi hati-hati ya sepertinya tangganya licin", kata Jimmy mengingatkan Nina.
"Siap bosku", kata Nina lagak seorang tentara.
Nina berjalan di depan Jimmy. Nina menikmati pemandangan tersebut. Satu demi satu anak tangga itu di naikinya. Jimmy mengiringi langkah Nina. Tiba-tiba kaki Nina terpeleset dan tubuhnya limbung.
"Aauuwwww", jerit Nina.
Keseimbangan Nina hilang. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Jimmy yang ada di anak tangga di bawah Nina menjadi tumpangan empuk tubuh Nina. Nina jatuh dalam pelukan Jimmy. Jimmy merenggangkan kakinya agar tubuh Nina tidak jatuh ke bawah. Sesaat pandangan mereka beradu. Wajah keduanya sangat dekat. Hembusan nafas Jimmy menyapu wajah Nina. Nina tersadar. Nina cepat melepaskan dirinya dari pelukan Jimmy.
"Ma kasih ya kak", cuma kalimat itu yang keluar dari mulut Nina. Nina membetulkan kembali pakaiannya.
Jimmy mengajak Nina turun kembali dari tangga tersebut.
"Ayo turun, aku tidak mau kamu jatuh lagi nantinya", kata Jimmy menggandeng tangan Nina.
Seperti gajah di cucuk hidungnya, Nina menurut saja saat Jimmy dengan santai menggandeng tangannya. Nina mengikuti langkah Jimmy menuju mobilnya.
Jimmy membukakan pintu mobil untuk Nina. Nina masuk ke mobil. Jimmy menutup kembali pintunya dan Jimmy juga masuk ke dalam mobil. Jimmy melihat ke arah Nina.
"Kamu tidak apa-apa kan?apa kaki kamu sakit?", tanya Jimmy sedikit cemas.
Nina hanya menggeleng.
"Kamu yakin gak papa?", tanya Jimmy lagi.
Nina kembali menggeleng.
"Lama-lama aku jadi gemes dengan nih anak, dari tadi di ajak bicara cuma geleng-geleng doang bisanya", batin Jimmy.
"Iya udah kita pulang saja ya", kata Jimmy lagi.
Nina cuma mengangguk tanpa bersuara.
"Hadeehh", batin Jimmy seraya menghela nafasnya.
.
.
__ADS_1
.Jangan lupa bantu votenya ya readers. Like dan komennya juga ya, Terima kasih...