
"Papa lepas!", teriak mama Liana sambil menghentakkan tangannya. Cekalan pak Purnama terlepas.
Wina yang mendengar teriakan sang mama cepat turun menuju kamar sang mama.
"Ada apa ma?", tanya Wina setelah membuka pintu kamar orang tuanya tersebut.
Mama Liana mengelus pergelangan tangannya yang terasa sakit oleh cekalan suaminya. Pak Purnama mendengus kesal.
"Kamu mungkin gak percaya dengan kelakuan mama kamu yang sudah kelewatan itu", kata pak Purnama dengan suara berat karena menahan emosi.
"Emang mama telah melakukan apa pa?", tanya Wina penasaran.
"Mama kamu bertemu dengan Nova dan menyuruh Nova menikah dengan kakak kamu Jimmy", jelas pak Purnama.
"Apa?",
Mata Wina terbelalak mendengar penuturan sang papa. Wina seperti tak percaya dengan pendengarannya.
"Kita perlu membawa mama kamu ke dokter, sepertinya urat syarafnya ada yang konslit. Kamu ikut papa. Kita bawa mama kamu ke dokter sekarang juga agar tidak bertambah parah", ucap pak Purnama tanpa basa-basi.
"Sebenarnya ada masalah apa sih ma pa?", tanya Wina belum mengerti betul dengan duduk permasalahannya.
"Mama kamu pingin kakak kamu memberikan cucu laki-laki buat keluarga kita. Tapi sampai saat ini Nina belum hamil-hamil juga. Mamamu mengambil jalan pintas dengan menyuruh kakak kamu menikah dengan Nova anak dari rekan bisnis papa. Dan itu tanpa rundingan terlebih dahulu ", jelas pak Purnama.
"Ya ampun mama. Kenapa mama melakukan itu? bagaimana kalau posisi mbak Na ada padaku?apa mama mau aku di perlakukan seperti itu?", kata Wina dengan penuh penekanan.
"Mama melakukan semuanya juga untuk kepentingan keluarga ini koq", dalih mama Liana sambil bersungut.
"Nina itu anak baik ma. Jimmy banyak berubah karena dia. Jimmy sangat mencintai Nina. Masa mama tega mau menyakiti mereka", ujar pak Purnama.
" Mama tidak untuk memisahkan mereka. Mama hanya ingin Jimmy punya keturunan lagi dan mama yakin Nova adalah wanita subur yang bisa memberikan Jimmy banyak anak", ucap mama Liana kesal.
"Cukup! apapun alasannya papa tidak setuju Jimmy menikahi Nova cuma alasan agar mendapatkan anak laki-laki. Seandainya Nina memang tidak bisa lagi hamil, Marsya baru hamil anak pertama dan Wina masih ada. Wina belum menikah, siapa tahu nanti Wina bisa mewujudkan keinginan mama", ujar pak Purnama seraya melirik Wina.
"Iihh papa, Wina belum kepikiran nikah. Masih lama. Tapi Wina juga tidak setuju dengan pernikahan kakak dan mbak Nova", ucap Wina.
"Lah iya, Nova nya aja gak mau. Dasar mama kamu aja yang gak jelas. Bisa-bisanya langsung ngomong sama Nova soal nikah. Orang yang punya badan aja gak mau", kata pak Purnama sambil berkacak pinggang menahan emosinya.
"Iya terserah kalian. Mama hanya ingin ada penerus dalam keluarga ini. Tidak ada maksud lain", bantah mama Liana.
__ADS_1
"Jangan ulangi lagi kelakuan mama. Jangan pernah meminta Nova lagi untuk menikah dengan Jimmy. Papa tetap tidak setuju, apapun alasannya, titik!", ucap pak Purnama sambil berlalu.
Mama Liana menuju tempat tidurnya dan terduduk disana. Wina mendekati sang mama.
"Ma, anak itu adalah rejeki dari tuhan. Kalau kakak belum di karuniai anak lagi, itu berarti belum rejeki mereka. Semua sudah nenjadi ketentuan yang maha agung. Jadi mama jangan memaksakan sesuatu yang belum bisa mereka berikan untuk mama dan keluarga kita", kata Wina berpetuah.
"Sok tahu kamu. Kamu itu ngerti apa, nikah aja belum. Anak kecil gak usah komentar", kata mama Liana yang masih menganggap Wina anak kecil.
"Wina sudah dewasa ma. Wina sudah bisa membedakan mana yang baik mana yang tidak baik. Mbak Na bukan tidak bisa hamil lagi tapi belum lagi. Sabar aja. Mungkin belum saatnya", ujar Wina.
"Sudah sana!mama tambah pusing dengan ocehan kamu", usir mama Liana pada Wina.
Wina menghela nafasnya. Ia kemudian keluar dari kamar sang mama.
*****
Nina baru saja ingin melihat Jimmy sedang bermain dengan Iza putrinya di taman belakang, tiba-tiba ada pesan masuk di ponsel Jimmy dan itu dari Nova. Nina membuka pesan tersebut. Alangkah terkejutnya Nina membaca pesan dari Nova.
"Pak Jimmy, Bu Liana meminta saya untuk menjadi isteri pak Jimmy. Tapi maaf saya tidak bisa memenuhi permintaan bu Liana. Saya memang pingin punya suami seperti bapak, tapi tidak suami orang. Sekali lagi maafkan saya pak".
Wajah Nina merah padam membaca pesan tersebut. Nafasnya bergerak cepat. Hatinya panas. Nina mendatangi Jimmy dan putrinya yang sedang asik bermain. Nina berusaha menetralkan suasana hatinya. Iza yang duduk membelakangi rumah tidak melihat kedatangan sang mama.
"Ayo ma sini kita main", kata Iza senang melihat kedatangan sang mama.
Nina tersenyum walau ia merasa kalau senyumannya terasa patah. Nina mendekati Iza.
"Sayang, minta minum dulu ya sama bude. Tadi mama lupa bawa minum kemari", ucap Nina sambil mengelus rambut Iza.
"Iya ma Iza haus nih", ucap Iza manja.
"Minta minum dulu sana", kata Nina yang sedang melirik Jimmy.
Iza bangun dari duduknya. Ia setengah berlari masuk ke dalam rumah. Nina memberikan ponsel suaminya. Jimmy menerimanya.
"Ada yang nelpon ya?", tanya Jimmy pada Nina sang isteri.
"Buka aja ponselnya", jawab Nina cepat.
Jimmy tak membantah. Dia membuka ponselnya. Dia membaca pesan yang langsung tertera saat dia membuka ponselnya. Jimmy mengerutkan alisnya. Dia langsung memandang wajah sang isteri yang sudah merah padam.
__ADS_1
"Kamu ingin menikahi Nova?", tanya Nina pelan walau hatinya sangat panas.
"Ini hanya ulah mama, ia terobsesi menginginkan cucu laki-laki. Ini di luar pengetahuanku sayang", jawab Jimmy meyakinkan Nina.
"Kalau abang mau menikah dengannya tolong lepaskan aku, aku tidak mau di madu", jawab Nina mulai terisak.
"Hei siapa juga yang mau menikah, abang tidak mau membuat kesalahan kedua kali. Ini hanya sebuah kesalahan. Abang yakin kamu hanya belum hamil lagi. Abang takkan menikah dengan Nova, apalagi sampai meninggalkan kamu. Sudahlah tak usah di bahas", ucap Jimmy seraya merengkuh Nina dalam pelukannya.
"Tapi mama sangat menginginkan Nova menjadi isteri kamu", ucap Nina dwngan airmata terus mengalir di pipinya.
"Yang punya badan itu abang bukan mama, jadi tak usah risau", kata Jimmy berusaha menenangkan Nina.
Jimmy melerai pelukannya pada Nina. Jimmy mengangkat dagu Nina. Dia mengecup bibir Nina yang sedikit bergetar menahan emosi. Iza melihat adegan tersebut.
"Iihh papa, gak malu apa di lihat orang", ucap Iza yang sudah berdiri di belakang mereka.
Nina cepat menepis tangan Jimmy dan bermaksud menggeser tempat duduknya. Tapi Jimmy malah menarik Nina ke dalam pelukannya.
"Tadi bibir mama ke jedot kepala papa, untuk mengurangi rasa sakitnya papa cium biar gak sakit lagi", ucap Jimmy sambil memeluk Nina dan menarik Iza ke pangkuannya.
"Ohh gitu. Mama sih gak hati-hati", ucap Iza sambil mengelus bibir sang mama.
Nina dan Jimmy saling pandang. Ada kehangatan di rasakan Nina. Terlihat ketulusan Jimmy pada keluarga kecil mereka. Nina menghela nafasnya. Dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Jimmy.
.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku semuanya.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya.
Mampir juga yuk ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).