
Pak Purnama dan mama Liana lebih dulu tiba di rumah sakit. Mama Liana yang tak sabar untuk melihat sang cucu melangkahkan kaki dengan sangat cepat agar lekas tiba di ruangan tersebut.
Setelah tiba pada ruangan yang ditempati oleh Nina dan anaknya, mama Liana langsung memberikan pelukannya untuk Nina.
"Selamat ya sayang, akhirnya mama di kasih cucu laki-laki. Terima kasih ya", kata mama Liana seraya mencium pipi Nina.
"Itu pasti cucu mama", kata mama Liana langsung menuju tempat tidur sang bayi.
"Ma, biarin aja dulu, kan cucu kita masih tidur", sergah pak Purnama.
"Justru itu pa, kalau dia sudah bangun yang ada perawatnya akan datang mengambilnya untuk di kasih asupan", dalih mama Liana.
Nina dan Jimmy saling pandang. Pak Purnama menghela nafasnya.
"Halo ganteng, sini ya sama omah. Omah kangen banget sama kamu muaacchh", mama Liana mencium pipi cucunya tersebut dengan hati gembira.
"Jim, pulang nanti kita adakan syukuran ya yang meriah", kata mama Liana tanpa sungkan-sungkan.
"Tapi ma apa tidak sebaiknya saat aqiqahnya saja sekalian", kata Jimmy menolak.
"Kamu tuh ya nggak bersyukur banget, ini berkah Jimmy. Pokoknya kalau kamu tidak mau, biar mama yang adakan syukurannya di rumah mama", kata mama Liana semangat.
"Ma, itu anak mereka lho. Mama gak bisa semaunya saja", kata pak Purnama.
"Ini cucu mama, mama punya hak", kata mama Liana tak peduli.
Nina memberi isyarat pada Jimmy suaminya agar menyetujui kemauan sang mama.
"Iya udah nanti kita adakan syukuran tapi biasa aja ya ma, jangan berlebihan", ucap Jimmy mengingatkan.
"Iya pokoknya adakan syukuran", kata mama Liana sambil terus memeluk sang cucu.
Pintu ruangan terbuka. Adel dan ibunya muncul dengan wajah sumringah.
"Wah ternyata kalian sudah disini, itu cucu kita ya?", tanya bu Ratmi mendekat pada mama Liana.
"Iya dong masa cucu orang ada disini", kata mama Liana santai.
"Kalau gitu gantian dong gendongnya", kata bu Ratmi sambil mengulurkan tangannya.
"Bentar lagi lah, baru juga di gendong", kata mama Liana.
Bu Ratmi menarik kembali uluran tangannya.
"Oh iya udah deh, biar aku lihat Nina dulu", kata bu Ratmi seraya berjalan menuju putri sulungnya tersebut.
"Selamat ya nak", kata bu Ratmi dengan memeluk dan berkata pada Nina.
"Iya bu ma kasih", kata Nina.
"Mbak Na sudah lengkap sekarang. Cowok cewek udah punya, doain aku ya mbak biar cepat dapat", celetuk Adel.
"Pasti dong aamiin", jawab Nina.
"Mbak Na melahirkan normal kan mbak?", tanya Adel pingin tahu.
Nina tersenyum dan mengangguk.
"Syukurlah, aku juga nanti maunya normal aja, nggak mau caesar", kata Adel.
__ADS_1
"Semoga cepat di kasih yang maha kuasa", kata Nina.
"Del, mungkin mbakmu mau makan, itu kasih yang tadi kamu bawa", celetuk bu Ratmi.
"Eh iya sampai lupa", Adel membuka rantang yang tadi di bawanya. Ia mengambil beberapa dan di suapkannya pada Nina.
Sedangkan mama Liana sendiri sibuk dengan cucunya.
"Sudah ma letakin aja cucunya, kasihan di gendong terus", ucap pak Purnama mengingatkan.
"Bentar pa, lihat dia juga nyaman koq di gendong omahnya", dalih mama Liana.
"Kata orang jangan sering di gendong nanti bau tangan. Susah nanti mamanya, entar dianya minta di gendong terus", kata pak Purnama.
"Iya iya udah tahu", kata mama Liana seraya meletakkan kembali cucunya di ranjang bayi.
Mereka masih betah di dalam ruangan Nina. Sudah beberapa jam mereka masih ingin di dalam ruangan tersebut. Sampai waktu kunjungan pun berakhir.
"Kami pulang dulu ya sayang", kata mama Liana pada Nina.
"Iya ma", kata Nina singkat.
"Kalau kamu mau pulang, pulang aja dulu biar ibu yang jaga Nina. Kasihan Iza lama di tinggal", kata bu Ratmi pada Jimmy.
"Iya Jim sebaiknya kamu pulang dulu, nanti malam kesini lagi gantian sama mertua kamu", kata mama Liana pada Jimmy.
Jimmy mendekat pada Nina.
"Sayang, abang pulang dulu ya. Nanti kesini lagi", ujar Jimmy.
Nina hanya mengangguk. Pak Purnama, mama Liana dan Jimmy keluar dari ruangan tersebut. Tinggal bu Ratmi dan Adel yang menunggui Nina.
"Iya bu. Mbak, aku pulang dulu ya. Nanti malam aku sama Kevin kesini lagi", ucap Adel.
"Iya hati-hati ya", kata Nina.
"Iya mbak", kata Adel seraya meninggalkan ruangan tersebut.
"Gimana perasaan kamu sekarang?", tanya bu Ratmi kepada Nina setelah mereka tinggal berdua saja.
Nina tersenyum.
"Alhamdulillah bu senang banget. Awalnya gak percaya dapat anak cowok, setelah dokter memperlihatkan kepadaku ternyata benar laki-laki baru aku percaya. Sebenarnya kemarin-kemarin itu udah pasrah. Iya sudah, kalau memang perempuan lagi iyaa tak masalah. Bang Jimmy juga tak mempermasalahkan mau itu cowok atau cewek, yang penting sehat", jelas Nina.
"Kalau kamu rutin USG, pasti hasilnya sudah tahu dan mertua kamu pasti sayangnya tidak terhingga pada kamu dan anakmu dari awal", ujar bu Ratmi.
"Iyaa namanya juga udah pasrah bu. Tapi ya Alhamdulillah walau mertua tahunya setelah lahir, setidaknya rasa cinta dan sayang untuk Jimmy kecil tak berkurang", ujar Nina.
"Iya kentara sekali kalau mertua kamu itu benar-benar menginginkan cucu lelaki. Setidaknya ucapannya adalah doa. Tuhan maha mendengar dan maha pengasih", ucap bu Ratmi.
"Rezeki sudah ada yang ngatur, maka pandai-pandai bersyukur saja", tambah bu Ratmi lagi.
"Iya bu, yang penting selalu ingat sama sang pencipta. Karena semua sudah ada ketentuan dan sesuai takarannya", kata Nina.
"Istirahatlah kamu pasti capek", kata bu Ratmi.
Nina yang memang merasakan tubuhnya sakit semua, akhirnya tertidur dengan pulas setelah berjuang melahirkan sang buah hati.
Melihat keadaan Nina dan bayinya tak ada keluhan dan kelainan, keesokan harinya Nina sudah diperbolehkan untuk pulang.
__ADS_1
"Sekarang cucu omah sudah sampai di rumah", celoteh mama Liana setelah mereka tiba di rumah Jimmy.
"Adek mbak ganteng ya omah", celetuk Iza.
"Iya dong kayak papa", Jimmy tak mau kalah.
"Aku pingin", ucap Adel.
"Nanti kita buat setelah pulang dari sini", kata Kevin tanpa malu-malu.
Semua orang ketawa.
"Kita masih punya satu tugas lagi, kita resmikan hari baik Wina dan Andre secepatnya", ucap Jimmy sambil melirik adiknya Wina dan Andre yang kelihatan malu-malu.
Wina dan Andre saling pandang. Pancaran bahagia terlihat jelas dari pandangan mereka.
"Sabar, nanti juga merasakan", ucap Adel nyeplos melihat pandangan Wina dan Andre begitu lekat.
Semua tertawa mendengar ucapan Adel. Wina dan Andre tersenyum malu.
Semua orang sibuk untuk mengadakan syukuran karena kedatangan sang arjuna. Semua sibuk ria. Nina dan Jimmy hanya mengawasi aktivitas orang-orang yang sibuk di rumahnya.
Rasa bahagia tak bisa di sembunyikan mama Liana. Ia lebih sibuk dari Jimmy dan Nina sebagai orang tua. Makanan, buah, susu dan vitamin tak lupa ia belikan untuk Nina.
"Kamu harus banyak makan biar anak kamu sehat", ucap mama Liana pada Nina.
"Iya ma", jawab Nina singkat. Seulas senyum terukir indah di wajah Nina.
Hidup itu indah. Jadi nikmatilah selagi nafas di kandung badan. Begitu juga dengan Nina, ia sekarang menikmati hasil dari kesabarannya. Kebahagiaan kini menghampirinya. Mempunyai sepasang anak, suami yang baik dan mertua yang perhatian. Membuat kebahagiaan Nina lengkap sudah.
Mempunyai keluarga yang saling mendukung akan terasa rukun dan damai. Kebahagiaan akan terasa lebih indah jika di lalui dengan berbagai perjuangan.
Semua berakhir baik jika hati ikhlas dan tulus menjalani alur kehidupan. Bersabarlah maka kebahagiaan akan menanti disana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
S E K I A N.
Terima kasih semuanya. Kita akan jumpa lagi di episode yang lain.
Wassalam,
__ADS_1