
Pernikahan kecil yang di laksanakan oleh Jimmy di rumah pak Harto sopir keluarganya berjalan dengan khidmat. Jimmy bernafas lega karena akhirnya dia bisa menikahi Nina secara sah. Pak penghulu minta pamit karena masih ada pekerjaan yang menantinya.
"Maafkan aku bu, aku tidak bisa berbuat banyak saat ini, aku ingin Nina menjadi isteriku yang sah di mata hukum dan agama dulu. Nanti aku akan bicara sama mama dan papa", kata Jimmy setelah sungkem dengan ibunya Nina.
"Kenapa tidak bilang sama ibu kalau kalian ingin menikah?ibu pasti merestui kalian", kata ibunya Nina sambil memandang Nina dan Jimmy secara bergantian.
Jimmy dan Nina saling pandang.
"Aku juga takut ibu akan menolakku, maafkan kalau aku sudah bersikap lancang bu, tapi aku janji setelah ini kita akan adakan resepsinya", kata Jimmy berjanji.
"Mintalah restu pada kedua orang tuamu, karena menjalani biduk rumah tangga itu perlu doa orang tua agar rumah tangga kalian adem dan berkah", kata ibunya Nina berpetuah.
"Iya bu pasti", kata Jimmy sambil tersenyum kepada Nina.
"Terus kita gimana dong?", Nina protes
"Kita ke rumah kamu dulu, antar ibu pulang setelah itu kita tinggal di apartemen ku aja dulu",kata Jimmy pada Nina.
"Apa tak sebaiknya kamu bilang dulu sama papa dan mama kamu?", tanya ibunya Nina.
"Mama lagi marah sama aku bu, jadi belum bisa di ajak bicara", kata Jimmy.
"Iya udah kalau gitu, mana bagusnya saja, sekarang Nina sudah jadi tanggungjawab kamu, ibu terserah kalian saja", kata ibunya Nina.
"Kalau aku tinggal di apartemen kamu, trus ibu dan Adel gimana dong? mereka butuh aku, butuh biaya", kata Nina bingung.
"Itu sudah jadi tanggungjawab aku sayang, gak usah di pikirkan. Segala kebutuhan ibu dan Adel tetap jadi prioritas", kata Jimmy sambil menggenggam tangan Nina.
"Baiklah terserah kamu saja", kata Nina pada Jimmy.
"Pak Harto kita pulang dulu, terima kasih sudah membantu, ibu ma kasih untuk semuanya", kata Jimmy pada pak Harto dan pada isterinya.
"Sama-sama nak Jimmy, jaga isterimu, dia cantik, takutnya masih ada yang ngelirik dia loh nantinya", seloroh bu Sarmi.
"Bu Sarmi bisa aja", kata Nina malu-malu.
Jimmy hanya tertawa. Manaf dari tadi hanya diam di tempat duduknya.
"Naf, kalau kamu mau pulang silakan, bawa saja mobilnya, besok bawa ke kantor, aku pulang sama pak Harto saja, kalau ada yang tanya tentang mobil, bilang saja aku yang suruh ", kata Jimmy.
"Baik bos, ini kameranya", kata Manaf sembari memberikan kamera pada Jimmy.
__ADS_1
Jimmy mengambil kamera digital tersebut. Kemudian mengajak Nina dan ibu mertuanya untuk pulang.
Mereka meninggalkan rumah pak Harto secara bersamaan. Bu Sarmi hanya memandangi kepergian dua mobil yang mulai menjauh dari rumahnya.
Bu Sarmi dan pak Harto tidak mempunyai anak. Maka dari itu mereka sangat menyayangi Jimmy dan Wina anaknya majikannya. Mereka menganggap Jimmy dan adiknya seperti anak mereka sendiri.
"Semoga rumah tangga kalian langgeng", gumam bu Sarmi setelah mobil yang di kendarai Jimmy menghilang dari pandangannya.
*****
"Bu, maafkan Nina ya acaranya seperti ini, Nina tak bisa memberi kebahagiaan pada ibu", kata Nina ketika dia dan Jimmy akan pergi ke apartemennya Jimmy.
Sang ibu menarik nafasnya dalam-dalam. Walau terasa berat, sang ibu tidak bisa berbuat banyak. Kecewa dan sedih begitu terlihat jelas di wajah sang ibu.Tapi sebagai seorang ibu, dia harus rela kalau Nina akan di bawa suaminya pergi dari rumahnya. Yang pasti Nina sudah menjadi seorang isteri, sah di mata hukum dan agama.
"Ibu tak apa-apa yang penting kamu bahagia, itu sudah cukup buat ibu", kata sang ibu bijak.
Nina memeluk ibunya. Wanita yang selalu jadi panutannya. Nina menangis di pelukan sang ibu.
"Ini hari bahagiamu jangan menangis", kata ibunya Nina seraya menghapus air mata yang mengalir di pipinya Nina.
Nina tersenyum walau terlihat patah.
"Selamat ya mbak semoga samara, doain Adel ya biar jadi orang sukses bisa gantiin mbak cari uang buat ibu", kata Adel memberi selamat pada sang kakak.
"Jaga ibu ya, mbak yakin kamu anak hebat", kata Nina sambil mencubit pipi sang adik.
"Nina pergi dulu ya bu, jangan lupa obatnya di minum, Nina sayang ibu", kata Nina sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Kami pergi dulu ya bu", kata Jimmy mengikuti apa yang di lakukan Nina.
Sang ibu dan sang adik mengantar lepergian Nina sampai di depan mobil. Jimmy membuka bagasi dan memasukkan koper pakaian Nina. Jimmy membukakan pintu untuk Nina kemudian Jimmy juga masuk ke dalam mobil.
"Titip mbak Na ya kak", kata Adel pada Jimmy.
"Siap", kata Jimmy sambil tersenyum.
"Pergi dulu ya", kata Nina pada ibunya dan Adel.
"Hati-hati ya mbak", kata Adel.
Nina tersenyum. Pak Harto mulai menjalankan mobilnya. Perlahan mobil tersebut meninggalkan sang ibu dan Adel yang masih berdiri memandang kepergian mobil yang membawa Nina pergi menjauh.
__ADS_1
"Kita langsung ke apartemennya atau pulang dulu nih ke rumah?", tanya pak Harto kepada Jimmy.
"Langsung saja pak, di rumah juga pasti tak nyaman", kata Jimmy sambil memandang Nina.
Nina yang pandangannya dari tadi keluar jendela tak begitu menggubris apa yang di ucapkan oleh Jimmy.
Tak butuh waktu lama mereka tiba di sebuah apartemen.
"Ayo turun, kita sudah sampai", kata Jimmy pada Nina.
Pak Harto mengambil koper milik Nina dan membawanya ke apartemen Jimmy.
Jimmy membula apartemennya. Nina tercengang. Isi apartemen itu sangat lengkap. Jimmy sangat memperhatikan perabotan-perabotan yang ingin dia lengkapi di apartemennya.
"Bapak pulang dulu ya nak udah malam, besok bagaimana?", tanya pak Harto.
"Pak Harto jemput aku di sini besok, antar aku ke kantor karena Manaf tadi aku suruh langsung ke kantor saja besok", jelas Jimmy.
"Baiklah kalau begitu bapak pulang dulu",kata pak Harto berpamitan.
Pak Harto pergi. Jimmy menutup pintu apartemennya. Nina masih mematung di tempatnya berdiri.
"Apa kamu masih ingin tegak di situ sampai besok?", tanya Jimmy pada Nina.
"Aku harus gimana?", tanya Nina bingung.
"Ya ela sayang, sudah jadi isteri kamu masih juga bingung, ke kamar atau apa gitu", kata Jimmy sembari menggandeng tangan Nina menuju kamarnya.
Nina hanya menurut saja. Jimmy membawa koper masuk ke dalam kamar. Kemudian menarik tangan Nina untuk masuk ke dalam kamar.
"Ini kamar kita, itu kamar mandinya, kalau mau mandi tinggal geser saja pintunya", kata Jimmy.
Nina tidak berkomentar. Hanya matanya saja yang mengikuti arah telunjuk Jimmy.
.
.
.
.
__ADS_1
Tolong beri komentarnya ya readers. Jangan lupa kasih vote dan likenya juga ya....