Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Putri cantik


__ADS_3

Jimmy tidak mau Prili merasa iri dengan Nina. Jimmy membiarkan Nina mengambil makanannya sendiri. Saat giliran Nina mengambil makan, Prili sengaja menyantelkan kakinya pada karpet yang terpasang di bawah. Tak ayal lagi tubuhnya menubruk tubuh Nina. Dan perut Nina menabrak sudut meja.


"Auwww" pekik Nina.


Piring Nina terlepas seketika. Jimmy yang ada di depannya langsung melihat ke belakang.


"Sayang kamu kenapa?", tanya Jimmy seraya meletakkan piringnya di atas meja prasmanan.


"Aahh", kata Nina seraya menahan perutnya yang terasa sakit.


"Rinal siapkan mobil, kita bawa mbak kamu ke rumah sakit", teriak Jimmy pada Rinal.


"Baik kak", jawab Rinal.


. "Ada apa ini?", tanya pak Purnama.


"Jimmy juga gak ngerti pa. Tiba-tiba dia menjerit, aku tak melihat persis kejadiannya", jelas Jimmy.


"Iya udah kita bawa saja ke rumah sakit sekarang", kata pak Purnama


"Iya pa", jawab Jimmy singkat.


Pak Purnama membantu Jimmy membawa Nina ke mobil. Prili tersenyum penuh arti. Nina cepat di bawa ke rumah sakit. Suasana jadi berubah. Beruntung akad nikahnya sudah selesai dan tinggal acara makan-makannya saja. Rinal sang pengantin pria ikut membawa Nina ke rumah sakit sebagai sopir bagi Nina dan Jimmy. Pak Purnama dan mama Liana menyusul dengan memakai mobil lain.


Tiba di rumah sakit, Nina cepat di bawa ke ruang instalasi gawat darurat. Nina di bawa ke ruangan khusus.


"Maaf keluarganya harap menunggu di luar dulu ya", kata seorang perawat kemudian menutup pintu ruangan tersebut. Jimmy dan Rinal terpaksa menuruti kata-kata sang perawat.


Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Jimmy dan Rinal cepat menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan isteri saya dok?", tanya Jimmy langsung.


"Isteri bapak mengalami kontraksi hebat, tapi keadaan isteri bapak sangat lemah. Kami memerlukan persetujuan untuk mengadakan operasi pada isteri bapak agar bayinya dapat di selamatkan", ucap sang dokter.


"Apapun itu, ku mohon lakukan yang terbaik untuk isteri dan anak saya dok", ucap Jimmy sambil menangis.


Rinal yang melihat kakaknya menangis menjadi ikut merasa sedih. Karena baru kali ini Rinal melihat sang kakak mengeluarkan air matanya. Rinal mengelus punggung sang kakak untuk memberikan support agar kakaknya tidak terlalu bersedih hati.


"Baiklah kami akan melakukan operasi sekarang juga, permisi",kata sang dokter.


Kondisi Nina sudah sangat lemah. Dia tidak sanggup menahan rasa sakit yang teramat sangat. Perawat dan dokter bertindak cepat. Karena kalau tidak nyawa sang jabang bayi adalah taruhannya.


Nina di bawa ke ruang operasi. Jimmy mondar-mandir di depan ruang operasi. Rinal memaklumi suasana hati sang kakak.

__ADS_1


"Kak, duduklah. Tenangkan hati kakak", kata Rinal.


Jimmy mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Maaf ya, acara kamu jadi berantakan", kata Jimmy pada Rinal.


"Tidak apa-apa kak, ini kecelakaan. Tidak usah di permasalahkan. Acaranya juga udah selesai kan, tinggal makan-makannya saja", ujar Rinal.


Pak Purnama, mama Liana dan Wina datang dengan tergesa-gesa.


"Bagaimana Nina? bagaimana anak kamu? sekarang Nina di mana?", tanya mama Liana beruntun.


"Mbak Nina di ruang operasi ma. Kita disini hanya bisa berdoa untuk mbak Nina dan bayinya", kata Rinal mewakili Jimmy sang kakak.


"Ya Allah semoga mereka berdua baik-baik saja",ucap mama Liana.


Wina terlihat tegang. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa cemas terlihat jelas di wajahnya. Mata Jimmy terlihat berkaca-kaca. Pak Purnama melihat jelas kesedihan di wajah putra sulungnya itu.


"Berdoa saja. Minta yang terbaik. Semoga isteri dan anak kamu selamat dan sehat", ujar pak Purnama menepuk-nepuk pundak Jimmy.


Jimmy kembali mengusap wajahnya. Baru kali ini dia merasakan takut yang teramat sangat. Takut kalau terjadi sesuatu pada isteri dan anaknya.


Satu jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi. Jimmy cepat menghampiri sang dokter.


Wajah tegang terlihat sangat jelas di wajah mereka. Dada Jimmy terasa sesak menahan rasa takutnya.


Sang dokter tersenyum. Sang dokter mengulurkan tangannya pada Jimmy.


"Selamat, anak anda sangat cantik. Untung anda bertindak cepat. Jadi bayinya bisa di selamatkan. Beratnya normal tapi sekarang masih dalam inkubator karena anak bapak mengalami trauma dan umurnya belum mencukupi jadi paru-parunya belum bekerja sempurna. Tapi gak apa-apa bayinya sehat koq", jelas sang dokter.


Jimmy penasaran dengan keadaan isterinya, dia kembali bertanya pada dokter tersebut.


"Isteri saya gimana dok?", tanya Jimmy.


"Isteri bapak masih lemah. Dia belum siuman tapi gak apa-apa semua akan kembali membaik. Untuk saat ini belum bisa di jenguk. Biarkan pasien istirahat dulu. Setelah siuman baru boleh di jenguk", jelas sang dokter lagi.


"Alhamdulillah syukurlah ", jawab Jimmy kembali mengusap wajahnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu", ujar sang dokter.


"Iya dok. Terima kasih banyak dok", kata Jimmy dengan senyum mengembang.


"Iya sama-sama. Mari", kata sang dokter.

__ADS_1


"Iya dok",kata Jimmy.


Sang dokter berlalu. Jimmy memegang tangan sang mama.


"Ma, anakku lahir ma. Anakku hidup", kata Jimmy dengan segala rasanya.


Sang mama tak kuasa menahan rasa harunya. Di peluknya putra sulungnya tersebut. Sang mama meneteskan air matanya karena bahagia. Wina yang berdiri di samping sang mama ikut menangis. Beberapa kali ia menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya yang putih.


Jimmy melerai pelukannya pada sang mama. Rinal memeluk sang kakak.


"Selamat ya kak. Aku jadi pengen cepat-cepat punya anak juga jadinya", seloroh Rinal.


"Kerja aja belum udah pingin punya anak", celetuk papa Purnama.


Semua tertawa mendengar candaan sang papa.


"Ini pasti ulah Prili lagi pa, aku yakin dia penyebabnya", ujar Jimmy setelah merasa tenang.


"Mungkin dia gak sengaja", jawab sang papa.


"Dia itu terobsesi pada kebahagiaan kami pa, dia ingin menyingkirkan Nina dan anak kami. Aku akan buat perhitungan dengannya nanti", kata Jimmy kesal.


"Kejahatan jangan di balas dengan kejahatan. Kalau kamu balas dengan kejahatan artinya kamu tak ada bedanya dengan dia. Dia hanya ingin kamu secara utuh tapi untuk kejadian hari ini kita tidak bisa mengatakan dia penyebabnya karena kita tidak ada bukti untuk mengatakan Prili adalah tersangka", kata papa Purnama.


"Papa benar kak. Sebaiknya kita fokus pada kesehatan dan kesembuhan mbak Nina dan bayi kakak. Soal Prili kita urus nanti", ucap Rinal membenarkan kata-kata sang papa.


Jimmy menghela nafasnya. Dia mengangguk membenarkan ucapan papanya dan adiknya Rinal.


"Baiklah aku menuruti saran kalian tapi kalau terbukti dia melakukannya, aku tak akan tinggal diam lagi", ucap Jimmy emosi


"Yang penting urus Nina dan anak kamu, biar cepat pulih dan sehat", ucap sang mama.


"Iya ma", jawab Jimmy.


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku terkasih...

__ADS_1


Yuukk tinggalkan jejaknya. Jangan lupa like, komen dan juga like nya ya.


__ADS_2