
Pagi itu Jimmy ke kantor sebentar untuk menemui Marsel. Dia ingin memberi mandat pada Marsel untuk menghandle segala urusan selama tiga hari ke depan.
"Halo bosqu, ada yang bisa aku bantu?", canda Marsel setelah melihat kedatangan Jimmy ke ruangannya.
"Jangan kura-kura dalam perahu, aku lagi gak mood ini", kata Jimmy seraya duduk di kursi di depan meja Marsel.
"Baiklah katakan, aku siap mendengar", ucap Marsel.
"Acara tinggal dua hari lagi, aku mau tiga hari ke depan perusahaan kamu yang handle. Tika dan Marsya bisa bantu kamu, kalau ada yang penting kamu bisa hubungi aku", jelas Jimmy.
"Apa tak sebaiknya papa kamu saja yang handle, aku kan hanya tangan kanan kamu saja, papa kamu lebih berhak", ujar Marsel.
"Papa akan tetap mengontrol tapi tidak full, tetap kamu pelaksananya ", ucap Jimmy.
"Sebenarnya ini berat loh tapi baiklah karena ini adalah tugas maka aku siap mengemban tugas ini demi sahabat, sekaligus saudaraku ini", ujar Marsel mantap.
"Nah gitu dong", kata Jimmy sambil menepuk pundak Marsel.
"Ngomong-ngomong, Nina gimana? hatinya pasti hancur", kata Marsel turut prihatin.
"Prili menyetujui kalau Nina ikut bersanding, aku bilang ke dia kalau Nina tidak ikut aku juga tidak mau bersanding bersamanya", jelas Jimmy.
"Widiiihhh berita macam apa lagi ini?", tanya Marsel bingung.
"Terpaksa bro, ini memang sulit tapi inilah pilihan, aku juga tidak pernah membayangkan kalau jalan hidupku akan seperti ini ", kata Jimmy.
"Iya juga sih, itu pilihan. Apa semua karyawan di sini mau di undang?", tanya Marsel pada Jimmy.
"Karena ini acara di gedung takutnya undangan dari keluarga Prili banyak yang di undang otomatis gedungnya gak nampung. Kalau semua karyawan di sini kita undang, mereka mau di letakkan di mana? sebaiknya pentolan-pentolannya saja yang di undang dan itu juga bagian dari tugas kamu", jelas Jimmy.
"Nambah deh tugasnya", gerutu Marsel.
"Tenang bro cuma tiga hari, aku tak akan berlama-lama di sana", kata Jimmy pada Marsel.
"Entahlah, rasanya aku kurang yakin. Buktinya baru kena rayuan sedikit dari Prili elu udah klepek-klepek di buatnya ", ledek Marsel.
"Itu sih masih normal", kata Jimmy sekenanya.
"Penyaluran hasrat", canda Marsel seraya tertawa.
"Sok tahu, cepat elu nikah biar tahu gimana rasanya ", jawab Jimmy.
"Sompret lu", kata Marsel kesal.
Jimmy hanya terkekeh.
"Selamat bekerja, aku ada urusan. Jangan lupa setelah ini lamar Sofi ya. Jangan lama-lama pacarannya ", kata Jimmy menepuk bahu Marsel.
"Pasti!", jawab Marsel mantap.
__ADS_1
Jimmy mengacungkan dua jempolnya. Dia keluar dari ruangan Marsel dan meninggalkan kantornya. Jimmy masuk ke dalam mobilnya, dia mengambil ponselnya. Jimmy mengaktifkan ponselnya yang dari siang kemarin sengaja di nonaktifkannya. Jimmy melihat banyak panggilan masuk, terutama dari Prili.
"Ada apa lagi ni anak?, kangen kali ya", seloroh Jimmy.
Jimmy menelpon balik Prili. Telepon tersambung.
"Ada apa koq nelpon sampai puluhan kali gitu?", tanya Jimmy pada Prili di sebrang sana.
"Apa?rumah sakit mana?", tanya Jimmy kalut.
"Oke aku ke sana sekarang", kata Jimmy melajukan mobilnya setelah obrolan mereka berakhir.
Jimmy mencemaskan nasib calon anaknya. Bagaimana pun anak itu adalah darah dagingnya. Jimmy mempercepat laju kendaraannya. Beberapa kendaraan di lewatinya.
"Ceroboh banget sih si Prili",ucap Jimmy kesal.
Jimmy tiba di rumah sakit. Dengan langkah cepat Jimmy mendatangi pusat informasi. Jimmy menanyakan keberadaan Prili. Setelah mengetahui ruangan Prili, Jimmy dengan langkah cepat menuju ruangan dimana Prili berada.
Prili tersenyum senang saat melihat kedatangan Jimmy.
"Sayang akhirnya kamu datang juga", ucap Prili.
"Bagaimana keadaan kamu?anak kita gimana?", tanya Jimmy.
"Kata dokter sudah aman, aku di haruskan istirahat total", jelas Prili.
"Kamu ngapain juga ke mall, pakai jatuh segala. Kamu itu lagi hamil, gak bisa apa di rumah saja dulu, kalau belanja kan bisa suruh orang, asisten rumah tangga kamu kan ada", ujar Jimmy.
"Koq jadi aku yang salah ", protes Jimmy.
"Aku tuh nyariin kamu, dari kemarin tidak ada kabar berita. Di telepon nomornya gak aktif, aku tuh kesal. Orang lagi hamil gini di cuekin", kata Prili merajuk.
"Untuk apa nyariin aku, acara kita dua hari lagi, aku pasti ada untukmu", ujar Jimmy.
"Jim, anak ini butuh kasih sayang kamu, ia tidak minta untuk berada di perut ini, peka dikit kenapa", kata Prili merasa tersinggung dengan ucapan Jimmy.
"Oke aku ngerti tapi lihat keadaan kamu sekarang, dua hari lagi acara akan di laksanakan. Coba kamu pikir, kalau kamu belum sembuh di hari H nanti, apa yang akan kamu lakukan? harusnya kamu mikir, jangan menuruti hawa nafsu semata", kata Jimmy.
"Koq kamu malah marah bukannya empati sama aku", ucap Prili kecewa.
"Bukannya marah tapi mengingatkan, lain kali kalau bertindak harus di pikir dulu", ucap Jimmy.
"Iya bawel ", jawab Prili.
Jimmy mendekati Prili.
"Mama mana?",tanya Jimmy menanyakan ibu mertuanya.
"Belum datang, paling bentar lagi. Mama kamu juga sudah di kasih tahu, tapi belum datang juga. Mungkin gak lama lagi mereka datang", jawab Prili.
__ADS_1
"Aku mau minum, ambilin dong", kata Prili lagi pada Jimmy.
Jimmy mengambil segelas air minum dan di berikan kepada prili. Prili menerima gelas berisikan air tersebut dan meneguknya habis.
Pintu terbuka dari luar. Jimmy dan Prili menoleh ke arah pintu. Mama Hanny dan mama Liana datang membawa banyak buah dan makanan. Jimmy dan Prili saling pandang.
"Koq bengong gitu, bantuin mama dong sayang", celetuk Liana mamanya Jimmy.
Jimmy yang tadi bengong segera membantu.
"Ini bawaannya banyak banget sih Ma seperti orang mau hajatan", ucap Jimmy.
"Iya Ma, kita kan besok pulang. Ini seperti orang mau makan satu RT", ujar Prili.
"Kamu itu harus banyak makan biar anak kamu sehat dan cepat besar", celoteh mama Hanny.
"Ini masih janin mama, sekarang ini Prili cuma perlu istirahat, makan gak segitu juga kan", bantah Prili.
"Biarin sajalah, kalau gak habis kasihkan sama suster-suster yang merawat kamu itu nanti. Bereskan!?", ujar mama Hanny.
Jimmy dan Prili tak protes lagi.
"Kamu dari mana saja? isteri sakit bukannya di tungguin", tanya mama Liana pada Jimmy anaknya.
"Di rumah, cuma karena ponselku lowbat dan baru di aktifkan tadi jadi baru tahu kejadiannya", kata Jimmy memberi alasan.
"Isteri kamu ini lagi hamil, dia butuh kamu. Jangan sering di tinggal", kata mama Liana.
"Aku juga punya Nina Ma, dia juga butuh aku", batin Jimmy.
Jimmy hanya diam. Dia tak menjawab perkataan sang mama. Pandangannya tertuju pada perut Prili.
"Seandainya Nina tidak keguguran, pasti perutnya sudah mulai membesar", batin Jimmy.
Bersambung....
.
.
.
.
.
Jangan lupa kasih likenya ya readersku sayang.
Komen dan votenya juga dong ya..
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).