Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Suasana hati


__ADS_3

Jimmy dan Nina tiba di rumah baru mereka. Rumah minimalis dengan gaya eropa itu sangat elegan dan cantik. Nina terkagum-kagum melihat arsitektur rumah tersebut.


"Bang ini rumah kita?", tanya Nina tak percaya.


"Iya sayang, kalau rumah orang ngapain kita ke sini", jawab Jimmy.


Jimmy mengajak Nina turun dari mobil.


"Gimana masuknya kuncinya saja kita belum ada?", kata Nina.


"Kita tunggu bentar lagi orang yang bawa kuncinya pasti datang", jawab Jimmy.


Benar saja, saat Jimmy dan Nina asik melihat-lihat, sebuah mobil nissan juke keluaran terbaru datang menghampiri mereka.


"Maaf ya nunggu lama, tadi ada pekerjaan mendadak, jadi di selesaikan dulu", kata lelaki muda seumuran dengan Jimmy dengan logat bataknya.


"Ahh gak juga, kami juga baru tiba koq di sini", kata Jimmy.


"Ini ya isterinya?resepsinya nanti jangan gak ngundang ya", kata Lelaki tersebut.


"Oh iya sayang kenalin ini temanku yang punya usaha rumah ini, orangnya muda, tampan, berbakat dan isterinya 4", Jimmy berseloroh.


"Ngawur", kata lelaki tersebut.


Lelaki tersebut menyodorkan tangannya pada Nina. Nina menyambut uluran tangan lelaki tersebut.


"Tomi", katanya.


"Nina", sahut Nina sambil tersenyum.


"Ala mak manis kali senyumnya", batin Tomi.


"Jangan lama-lama jabatan tangannya", kata Jimmy menyadarkan Tomi.


Tomi terkekeh. Tomi merogoh sakunya.


"Oh iya ini kuncinya, mari kita periksa dulu", kata lelaki yang bernama Tomi tersebut.


Jimmy dan Nina mengikuti langkah Jimmy memasuki rumah tersebut.


"Gimana suka gak?", tanya Tomi memperlihatkan setiap sudut ruang dalam rumah tersebut.


"Kalau aku sih suka, gimana sayang?", kata Jimmy mengalihkan pertanyaan kepada Nina.


"Suka bang", kata Nina singkat sambil matanya menjelajah setiap sudut dalam rumah tersebut.


"Oke kalau gitu aku pulang dulu, ini surat menyuratnya, silakan lihat-lihat dulu", kata Tomi seraya menyerahkan sebuah map yang sedari tadi di pegangnya.


"Oke Tom makasih ya, hati-hati", kata Jimmy.

__ADS_1


"Oke sama-sama", kata Tomi.


Tomi meninggalkan Jimmy dan Nina. Jimmy menutup pintunya dan tak lupa untuk menguncinya.


"Gimana sayang?kamu suka kan?",kata Jimmy sambil memeluk tubuh Nina dari belakang.


"Suka banget bang, rumahnya cantik, tata ruangnya pas banget", kata Nina.


Jimmy membalikkan tubuh Nina untuk menghadap padanya. Mata keduanya saling pandang. Jimmy tersenyum penuh arti. Jimmy menggendong Nina dan membawanya ke kamar utama mereka. Nina yang tahu keinginan suaminya, membiarkan Jimmy membawanya ke kamar tersebut.


Tanpa menutup pintu lagi Jimmy sudah tak sabar untuk mereguk surga dunianya.


"Bang pintunya", kata Nina protes.


"Biar sajalah, gak ada orang lain juga di rumah ini", kata Jimmy.


Jimmy merebahkan tubuh Nina di kasur empuk mereka. Jimmy seperti singa yang kelaparan tak ingin lagi melepaskan mangsanya. Nina membiarkan aksi Jimmy yang kian brutal.


Akhirnya rumah baru tersebut menjadi saksi atas permainan cinta pengantin baru yang lagi kasmaran tersebut.


****


"Mana Jimmy pa?", tanya Liana saat melihat suaminya pulang sendiri.


"Kita tunggu saja sampai malam, kalau dia tidak pulang baru kita ke apartemennya", jawab Purnama sambil berlalu dari hadapan isterinya.


Liana menyusul suaminya ke kamar.


"Pa, gimana kalau kita nikahkan Jimmy secepatnya, kita ke rumah Hanny besok melamar Prili", kata Liana semangat.


"Mama ini gimana? Jimmy itu pengen nikah sama pilihannya sendiri bukan di jodohkan", kata Purnama melepaskan dasi yang di pakainya.


"Makanya kita nikahkan dia secepatnya biar dia tidak banyak protes", kata Liana cepat.


"Terserah mama sajalah, aku mau mandi dulu", kata Purnama seraya menuju kamar mandi.


"Jimmy kenapa sih tuh anak padahal Prili tak ada celanya, anaknya baik, pinter, berpendidikan tinggi, cantik lagi, eehh di cuekin", gumam Liana.


Liana keluar dari kamar untuk memasak makan malam buat mereka. Dengan di bantu asisten rumah tangganya Liana dengan sigap menyiapkan menunya. Walau ada asisten rumah tangga, Liana tak lepas tangan. Dia ingin memberi makanan pada keluarganya dengan hasil tangannya sendiri. Walau lebih patut duduk santai, tapi Liana tak melakukannya. Dengan banyak aktivitas maka tubuh akan lebih enerjik dan bugar. Itu prinsip yang selalu di pegang oleh Liana. Dengan umurnya yang tidak muda lagi tapi Liana tetap segar dan bersemangat.


Setelah selesai memasak, Liana menyuruh asisten rumah tangganya untuk menata hasil masakannya di atas meja. Liana kembali ke kamarnya untuk mandi. Di lihatnya suaminya sedang berbaring di kasur sedang memainkan ponselnya.


Liana menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandinya.


****


Sementara itu di kediaman Jimmy.


"Sayang aku pulang dulu ya bentar, mau bicara sama mama dan papa dulu, kamu baik-baik di rumah, jangan buka pintu selain aku, paham?", kata Jimmy.

__ADS_1


"Iya bang, jangan lama-lama ya aku takut tinggal di rumah sendirian", kata Nina bergelayut manja di lengan suaminya.


"Pasti sayang, siap-siap saja nanti malam ada serangan susulan", kata Jimmy seraya mencolek dagu Nina.


"Ganjen amat sih", kata Nina sambil mencubit pinggang Jimmy.


Jimmy tertawa. Jimmy pulang ke rumah orang tuanya. Dia ingin mengclearkan suasana hatinya yang masih kacau. Jimmy memencet bel yang ada di depan rumahnya. Pintu terbuka.


"Eh den Jimmy", kata sang asisten rumah tangga mereka.


"Mama dan papa mana bik?", tanya Jimmy sambil masuk ke dalam.


"Ada den, masih di kamarnya, nanti bibi panggilkan", kata sang bibi sambil menuju kamar tuannya. Ia mengetuk pintu kamar tersebut.


"Tuan , nyonya ada den Jimmy baru pulang", kata sang bibi.


Tak ada sahutan. sang bibi akhirnya berlalu. Purnama dan isterinya keluar dari kamar mereka menuju meja makan.


"Bik panggil Jimmy ya, makan malamnya dulu", kata Liana pada asisten rumah tangganya.


"Baik Nya", katanya. Kemudian langsung menuju kamar Jimmy.


"Den di ajak tuan sama nyonya makan bareng", kata sang bibi dari luar kamar Jimmy.


"Iya bik bentar", jawab Jimmy dari dalam.


Sang bibi meninggalkan kamar Jimmy dan menuju dapur.


Jimmy keluar dari kamarnya dan menuju meja makan. Jimmy mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan sang adik. Wina melirik sang kakak.


"Kakak dari mana?", tanya Wina sambil menikmati makan malamnya.


Jimmy mengambil nasi beserta lauk pauknya tapi tidak banyak seperti biasanya. Dia hanya mengambil sedikit saja. Untuk menghargai sang mama yang sudah bersusah payah memasak untuk mereka. Wajahnya Jimmy fokus pada makanannya. Dia tak menggubris pertanyaan Wina.


"Jimmy nanti selesai makan papa mau ngomong sama kamu", kata Purnama tanpa melihat ke arah Jimmy. Purnama fokus ke makanan yang ada di piringnya.


Suasana hening. Hanya bunyi dentingan sendok dan garfu yang terdengar. Tak ada yang bicara sampai makan selesai.


.


.


.


Komen, like dan votenya ya readers...


Mampir juga ke karyaku yang lain ya;


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2