
Jimmy berkali-kali memijit kepalanya yang terasa sakit. Jimmy menelpon Marsel untuk datang ke ruangannya. Tak butuh waktu lama Marsel pun tiba.
"Perlu tukang pijit pak?", seloroh Marsel.
"Kepalaku rasanya mau meledak, pusing!", ujar Jimmy.
"Sepertinya ada hal besar yang belum terpecahkan", selidik Marsel.
"Mama memaksaku menikah dengan Prili, gimana coba?", kata Jimmy seraya menyadarkan kepalanya di kursi.
"Enak dong", canda Marsel.
"Marsel aku serius ini, aku bingung harus bagaimana", kata Jimmy bingung.
Marsel memajukan kursinya lebih mendekat kepada Jimmy.
"Sebenarnya kamu itu suka gak sama Prili?", tanya Marsel setangah berbisik.
"Nggak", jawab Jimmy ketus.
"Dia cantik loh, pinter, bohay lagi", canda Marsel.
"Semua orang juga tahu itu, masalahnya aku sudah punya Nina dan sekarang Nina sedang mengandung anak aku, semua sudah ku jelaskan sama mama tapi mama tak peduli, mama lebih mengedepankan persahabatannya ketimbang perasaan Nina", Jimmy menengadahkan kepalanya dan memejamkan matanya.
"Gimana kalau kamu ancam mama kamu, bahwa kamu akan pergi dan tidak akan kembali lagi ke rumah, aku rasa tante Liana akan luluh dan akan membatalkan pernikahan tersebut", arahan Marsel.
Jimmy mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Gimana?ku rasa itu ide bagus", ucap Marsel.
"Marsel, ada masalah lain yang tak bisa aku atasi. Pernikahan ini akan tetap terjadi", kata Jimmy sendu.
"Masalah?masalah apa maksudnya?", tanya Marsel tak mengerti.
"Aku dan Prili, oohh tuhan...", kata Jimmy seraya meremas rambutnya.
"Aku belum menangkap arah bicara kamu, tolong sedikit lebih jelas biar aku bisa membantumu", kata Marsel.
Jimmy menghela nafasnya. Menariknya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya secara kasar. Jimmy membetulkan posisi duduknya.
"Aku sudah meniduri Prili, Sel", kata Jimmy penuh penyesalan.
"What?!", Marsel terperangah.
"Itu masalahnya, aku tak tahu harus bagaimana", kata Jimmy sedih.
"Bagaimana bisa?kamu bilang tidak menyukainya tapi kamu sudah menidurinya, omong kosong macam apa ini", kata Marsel ikut bingung.
"Hari itu Prili memaksaku untuk menemaninya jalan, tiba-tiba hari sangat mendung, kami makan di tempat tersebut, entah kenapa setelah makan mataku sangat mengantuk dan parahnya lagi aku merasakan libidoku naik, aku menginginkan nya di saat aku sedang melawan kantuk. Entahlah kepalaku pusing sekali saat itu. Prili membawaku ke penginapan di tempat tersebut. Dalam setengah sadar aku masih ingat waktu aku mencengkram tangan Prili. Selanjutnya aku tak ingat lagi. Yang aku tahu saat aku terbangun, Prili ada di sampingku", jelas Jimmy.
"Truss, kamu yakin telah meniduri Prili?", tanya Marsel.
"Awalnya aku membantah, tapi Prili punya videonya, dia sempat merekam kejadian tersebut", jelas Jimmy.
"sebelum makan apa kamu dan Prili selalu bersama?maksudku kamu tidak berpisah dengannya?", tanya Marsel seperti detektif.
__ADS_1
"Sebelum makan?waktu itu aku pamit ke toilet sebentar, Prili tetap di meja makan", jelas Jimmy.
"Hmm aku sekarang mengerti, Prili yang merencanakan itu semua, waktu kamu ke toilet di gunakan Prili untuk mencampur sesuatu di dalam makanan kamu tanpa kamu sadari, ia benar-benar menginginkan kamu sampai dia rela kamu tiduri", jelas Marsel yang selalu cepat mengerti situasi.
"Serius kamu?terus aku harus bagaimana Marsel?apa aku harus menolak Prili atau menikahinya?aku mencintai Nina, dia pasti hancur mendengar ini semua", sesal Jimmy.
"Kamu juga sih ngapain nemani dia jalan, isteri nungguin di rumah, malah asyik dengan wanita lain", ledek Marsel.
"Sembarangan kalau bicara, siapa juga yang asyik-asyikan", kata Jimmy protes.
"Lah itu niduri anak perawan orang", goda Marsel.
"Aahh sudahlah, kamu juga tak bisa memberikan solusi", kata Jimmy kesal.
"Yaaa ngambek deh, menurut aku sih nikahin aja, soal Nina itu resiko kamu, yang pasti tanggungjawab itu harus!", Marsel berkata enteng tapi menyengat.
Jimmy menatap langit-langit di ruangannya.
"Sudahlah jangan kelamaan mikirnya, entar Prili keburu hamil tambah ribet urusannya", kata Marsel menenangkan Jimmy.
"Aku kembali ke ruanganku dulu,masih banyak yang harus aku kerjakan, semenjak Nina gak masuk tugasku numpuk", kata Marsel seraya bangun dari tempat duduknya.
"Ma kasih bro", ucap Jimmy.
"Iyaa sama-sama, nikahin secepatnya. Gak pakai lama", kata Marsel.
Marsel meninggalkan Jimmy yang masih bingung harus ngomong apa sama Nina. Jimmy tak fokus bekerja. Pikirannya berkecamuk. Wajah Nina yang polos tak rela rasanya Jimmy mengubah air muka itu menjadi sedih.
"Oohh tuhan kenapa ini harus aku alami", batin Jimmy.
"Nina", kata Jimmy agak gugup.
Jimmy menerima panggilan dari Nina.
"Bang, kita makan gado-gado yuk di tempat bu Darsi",ajak Nina.
"Kamu kan harus istirahat sayang, gimana kalau Abang beliin kita makan di rumah aja?", tanya Jimmy.
"Iya udah, cepatan ya, ku tunggu", kata Nina sumringah.
Jimmy berkemas. Dia meninggalkan ruangannya menuju tempat parkir. Jimmy meluncur menuju tempat bu Darsi gado-gado langganan Nina.
Jimmy turun dari mobilnya. Bu Darsi yang melihat kedatangan Jimmy langsung tersenyum.
Di saat yang bersamaan muncul Adel adiknya Nina yang juga mampir ke tempat tersebut untuk membeli gado-gado juga.
"Kak Jimmy ke sini juga",seru Adel.
"Iya nih, mbak kamu minta di beliin gado-gado tapi maunya gado-gado bu Darsi ini gak mau yang lain", seloroh Jimmy.
"Pasti... gado-gado bu Darsi emang mantul", puji Adel.
Mendengar Adel menujinya bu Darsi tersenyum senang.
"Kamu sama siapa?", tanya Jimmy celangak-celinguk mencari sesuatu.
__ADS_1
"Sendirian kak, Adel kebetulan lewat sini jadi sekalian mampir.
"Oohh gitu", kata Jimmy.
Jimmy dan Adel memesan gado-gadonya.
"Biar kakak aja yang bayar", kata Jimmy pada Adel.
"Ma kasih kak, jadi ngerepoti", kata Adel malu.
"Gak papa sama kakak sendiri juga, salam buat ibu maaf belum bisa main ke sana", ujar Jimmy.
"Iya kak, nanti ku sampaikan sama ibu", jawab Adel.
Jimmy cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut. Dia cepat berlalu dari hadapan Adel. Jimmy takut nanti Adel melihat perubahan sikapnya. Adel memandangi punggung kakak iparnya sampai masuk ke dalam mobilnya.
"Kak Jimmy koq buru-buru gitu, pasti mbak Na yang buat ulah, biar suaminya cepat pulang kali ya", gumam Adel.
Adel ingin menuju motornya tapi tiba-tiba Adel di kagetkan sebuah moge berhenti tepat di depannya.
"Kevin", kata Adel kesal.
Kevin membuka helmnya.
"Mau pulang ya?", tanya Kevin lembut.
"Nggak!mau ke arab", kata Adel kesal.
Adel menuju motornya.
"Aku ikut ya", seru Kevin.
Adel tak memperdulikan perkataan Kevin. Adel melajukan kendaraannya. Ia pergi meninggalkan Kevin. Kevin memakai helmnya dan menyusul Adel. Adel kaget ketika melihat Kevin sudah ada di samping kanannya.
"Pelan-pelan bawa motornya, entar jatuh tuh gado-gadonya", goda Kevin.
Adel tak mengindahkan perkataan Kevin. Ia malah tancap gas. Kevin mengambil jalan pintas. Setelah mendekati persimpangan rumah Adel, Kevin menghentikan motornya. Dia yakin Adel belum melewati persimpangan tersebut. Benar saja, Adel datang. Adel kaget saat melihat Ke.,vin sudah ada di hadapannya dan menghalangi jalannya. Adel rem mendadak. Adel hampir terjungkal. Adel cepat memijakkan kedua kakinya ke tanah.
"Keviiinn!!", seru Adel.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readers....
Jangan lupa beri like, komen dan votenya juga ya..
Salam penuh cinta.
Jangan lupa mampir juga ke karyaku yang lain ya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).