Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Rapat penting


__ADS_3

Di dalam kamar Nina mulai menaiki tempat tidurnya. Ia mendekati si imut Iza yang masih terjaga.


"Sudah malam sayang, bobo yuukk", kata Nina seraya mengusap rambut si imut Iza. Si imut Iza hanya tersenyum seraya memainkan kaki dan tangannya.


Jimmy yang baru masuk ke dalam kamar langsung mendekati Nina isterinya dan si imut Iza.


"Tumben belum bobo anak papa, biasanya jam segini udah tidur pulas", kata Jimmy memegang kaki si imut Iza.


"Belum pa, kan nunggu papa dulu", kata Nina menirukan suara anak kecil.


"Anaknya yang nungguin atau mamanya?", ledek Jimmy.


"Anaknyalah. Mamanya mau bobo dulu", ucap Nina sembari beringsut ke pinggir tempat tidur.


"Iya udah kamu tidur aja dulu. Nanti kalau Iza sudah tidur kita kerja ya", ujar Jimmy.


"Kerja apa sih bang?aku ngantuk banget ini", ucap Nina seraya merebahkan tubuhnya.


"Iya udah tidurlah. Biar abang yang jaga Iza", ucap Jimmy.


"He-eh", jawab Nina yang sudah memejamkan matanya.


Jimmy mulai mengajak si imut Iza bermain. Dan lama kelamaan Jimmy pun akhirnya tertidur. Si kecil Iza pun akhirnya ikut tertidur juga.


****


Di tempat lain Tika sedang teleponan sama Dedi sang calon suami. Mereka video call.


"Mas, kamu kenal gak sama isterinya bos aku?", tanya Tika pada Dedi.


"Nggak, kenapa emang?namanya siapa?", tanya Dedi beruntun.


"Apa iya?dia kenal sama mas. Namanya Nina", sebut Tika.


Deg...


Denyut jantung Dedi seakan terhenti. Dedi terdiam.


"Mas koq diam, kamu kenapa?", tanya Tika.


"Gak kenapa-kenapa. Kalau Nina yang kamu maksud adalah Nina Saraswati, iya mas kenal", kata Dedi.


"Kalian cerita apa aja?", tanya Dedi cemas. Dia takut Tika akan berubah pikiran kalau tahu cerita sebenarnya. Cerita bahwa dia pernah mencintai Nina walau cinta bertepuk sebelah tangan. Itu karena Nina hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat tidak lebih.


"Cerita macam-macam sih. ketika ku perlihatkan photo mas, dia kaget. Dia bilang mas adalah temannya. Dia sangat bahagia dengan pernikahan kita", kata Tika.


"Pasti Nina senanglah, karena dia tidak akan ada lagi yang mengganggunya", batin Dedi.


"Dia teman yang baik", puji Dedi sambil tersenyum.

__ADS_1


Tika tersenyum.


"Mas, udah dulu ya udah ngantuk. Besok telepon lagi oke!", kata Tika.


"Oke. Mimpiin mas ya", ucap Dedi.


Tika mengacungkan jempolnya. Dedi tersenyum.


"Bye",


"Bye",


Obrolan pun berakhir. Tika mulai mengatur tidurnya. Rasa kantuk yang menderanya tak sanggup lagi di tahannya. NafasTika mulai teratur. Tika akhirnya tertidur dengan pulasnya.


****


Nina terbangun di tengah malam. Dilihatnya Jimmy tertidur dengan masih memeluk tubuh mungil si Iza. Dengan sangat hati-hati Nina menjauhkan tangan Jimmy dari tubuh mungil Iza.


"Semoga kamu selalu menjadi suami dan ayah yang baik bagi mas", batin Nina yang pandangannya tertuju pada wajah Jimmy yang sedang tidur nyenyak.


Dengan sangat pelan, Nina menggeser sedikit tubuh Jimmy agar dia bisa mendekati si kecil Iza. Nina kembali merebahkan tubuhnya. Iza tertidur dengan sangat pulas. Nina mencium pipi gembul si Iza. Setelah itu Nina pun akhirnya kembali tertidur lagi.


Ketiganya tidur dengan tenang. Nafas yang teratur menandakan kalau ketiganya sudah berada di alam bawah sadar mereka.


Suara tangis Iza membangunkan Nina dari tidurnya.


"Jam empat, belum subuh. Tidur lagi aja deh", gumam Nina.


Nina tidur kembali. Tidurnya begitu pulas sampai ia tidak tahu kalau hari sudah siang dan Jimmy sudah akan berangkat ke kantor.


"Sayang, sudah siang. Abang berangkat dulu ya", ucap Jimmy seraya mencium pipi Nina.


Nina menggeliat. Setelah tersadar Nina langsung bangun dan turun dari tempat tidur.


"Berangkat?", tanyanya pada Jimmy.


"Iya, sudah hampir jam delapan lho ini", ujar Jimmy.


Nina mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menuju kamar mandi. Sesaat kemudian ia kembali lagi dengan wajah yang sudah basah.


Pikirannya sudah jernih kembali setelah menyentuh air.


"Abang sudah sarapan?", tanya Nina.


"Sudah. Abang berangkat dulu ya. Pagi ini ada meeting", ucap Jimmy seraya mengambil tas kerjanya.


"Kamu gak usah ke toko kalau lagi gak ada perlu. Iza lebih penting", ujar Jimmy lagi.


Nina hanya mengangguk kecil. Nina mengantar Jimmy ke depan. Jimmy masuk ke dalam mobil dan memberikan klakson pada Nina yang masih tegak di teras rumah. Nina baru masuk setelah mobil yang dikendarai suaminya sudah tidak terlihat lagi di pandangannya.

__ADS_1


Jimmy tiba di kantor. Melihat sang bos datang, Rini langsung menghentikan langkah sang bos besar.


"Hmm pak, pak Hadi Kusuma direktur Citra Lestari tidak bisa hadir di meeting nanti tapi beliau bilang beliau akan di wakili oleh anaknya", jelas Rini.


"Nggak profesional banget tuh orang, anak koq di bawa-bawa", gerutu Jimmy.


Mendengar omelan Jimmy, Rini hanya bisa tersenyum kecut.


"Jadi gimana pak, apa meetingnya di batalkan?", tanya Rini hati-hati.


"Ini rapat penting, kita meeting tidak hanya dengan satu perusahaan saja. Ada beberapa perusahan yang turut andil dalam rapat ini. Meeting tetap kita laksanakan. Soal hasil kita lihat saja nanti", kata Jimmy.


"Baik pak", kata Rini manut.


Jimmy melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Setelah beristirahat sejenak, Jimmy mengambil laptopnya dan beberapa file yang di simpannya dengan sangat rapi. Kemudian Jimmy kembali keluar dari ruangannya.


"Ayo kita ke ruangan meeting sekarang", ajak Jimmy pada Rini.


Rini yang memang sudah siap dari tadi, langsung mengikuti langkah Jimmy bosnya tersebut.


Tiba di ruangan tersebut Jimmy sambut oleh para peserta rapat. Jimmy melihat masih ada satu kursi yang kosong.


Marsel dan Rinal yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan mengerti maksud dari pandangan Jimmy pada kursi yang masih kosong tersebut.


"Apa rapatnya sudah bisa di mulai?", tanya Jimmy setelah menempati tempat duduknya.


"Tunggu bentar lagi pak, karena tadi beliau sudah memberi tahu kalau perwakilannya akan datang walau agak lambat", suara Rini terdengar nyaring di ruangan yang tidak terlalu besar tersebut. Jimmy mendengus kesal. Yang seharusnya rapat sudah di mulai, terpaksa menunggu kedatangan peserta rapat lainnya. Tinggal satu orang yang belum datang.


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka.


"Maaf saya terlambat",


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya....


Yukk lanjut bacanya ya readersku semuanya. Like, komen dan votenya di tunggu ya.


Terima kasih sudah mampir kesini. Mampir juga yuk ke karyaku yang lain:


Masih Ada Pelangi (Tamat).

__ADS_1


__ADS_2