
Malam harinya semua anggota keluarga Purnama telah berkumpul di ruang keluarga. Wina dan Jimmy duduk berdampingan.
"Kak, ada apa kita di suruh mama kumpul begini?", tanya Wina yang belum tahu maksud dan tujuan sang mama.
"Tanya saja sama mama langsung", kata Jimmy sedikit sewot.
"Jutek amat jadi orang, cepat tua loh", kata Wina kesal.
Pak Purnama asik dengan televisinya. Liana sang mama mulai buka suara.
"Pa bisa gak tivi nya di matiin dulu", pinta Liana pada suaminya.
"Kan gak berisik juga ma, papa lagi nonton berita nih", kata Purnama tanpa menoleh.
Liana mengambil remote dari tangan suaminya Purnama.
"Eeiitt koq di ambil sih ma?",kata Purnama tak terima.
"Bentar aja Pa, paling juga setengah jam, kita bahas ini dulu ya nanti baru lanjut nontonnya", kata Liana pelan.
Liana mematikan televisi tersebut dengan menggunakan remote di tangannya. Purnama menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar. Jimmy dan Wina hanya saling pandang.
"Emangnya mau bahas apa sih Ma?", tanya Wina penasaran.
"Baiklah kita mulai. Begini, ini menyangkut Jimmy", Liana menghentikan kata-katanya sebentar.
"Emangnya kak Jimmy ada masalah apa sih ma?", tanya Wina semakin penasaran.
"Bukan masalah tapi sebuah kewajiban. Kakak kamu sekarang umurnya sudah hampir kepala tiga kan, mama dan papa juga sudah perlahan tua, mama dan papa pingin rumah ini rame, mama pingin nimang cucu. Tapi mama perhatikan kakak kamu ini belum ada wanita spesialnya sepertinya. Oleh karena itu mama ingin kakak kamu segera menikah dengan gadis pilihan mama. Dia cantik, baik berpendidikan tinggi, dan dari keluarga terpandang", kata sang mama semangat.
"Sebaiknya tanya yang punya badan dulu Ma, bagaimana baiknya", sela sang papa.
"Mama yakin Jimmy pasti setuju, iya kan sayang?", tanya sang mama percaya diri.
"Ma aku pengennya tanpa perjodohan, ku akui Prili punya segalanya tapi aku belum bisa memastikan kalau aku mau menikah dengan Prili, dan aku belum menemukan yang aku cari dari Prili ma", jelas Jimmy.
"Prili itu sangat sempurna sayang, tidak ada yang tidak di milikinya, sudahlah jangan menolaknya, dengan sering melihatnya maka rasa cintamu akan tumbuh dengan sendirinya" jelas sang mama.
"Jimmy belum siap ma", kata Jimmy mempertegas.
"Jimmy kamu jangan bikin malu mama sama papa dong, mama sudah berjanji sama tante Hanny, mereka menyetujui perjodohan ini", kata Liana kesal.
Purnama hanya mendengus mendengar perdebatan mama dan anak tersebut. Wina yang tadi hanya diam akhirnya buka suara.
"Mama juga sih nggak bilang-bilang dulu sama yang empunya badan, ini jaman udah modern mama bukan jaman Siti Nurbaya lagi, setidaknya tanya dulu setuju atau tidaknya. Kalau udah begini siapa yang bisa di salahkan", kata Wina membela sang kakak.
Jimmy menoleh ke Wina sambil tersenyum.
"Tumben elo baik sama kakak", bisik Jimmy di telinga Wina.
Wina tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
"Anak kecil tahu apa, ini urusan orang dewasa, jadi lebih baik diam saja", kata sang mama kesal.
"iihh mama koq jadi sewot gitu sih, ini jaman reformasi mama, semua bebas mengutarakan pendapat, termasuk anak kecil seperti Wina ini, iya kan Pa?", kata Wina seraya melirik sang papa yang dari tadi juga hanya berdiam diri saja.
"Yuupp", kata sang papa singkat.
"Anak sama papa sama saja, pokoknya Jimmy harus menerima perjodohan ini, titik!!", kata sang mama tegas.
"Ma untuk sementara ijinkan Jimmy berteman biasa saja dulu dengan Prili, setidaknya mereka saling mengenal karakter diri masing-masing dari mereka dulu", kata Purnama memberi pendapat.
"Jimmy itu bukan anak kecil lagi pa, mereka bisa saling mengenal setelah menikah, banyak koq yang menikah awalnya tanpa cinta namun akhirnya mereka hidup bahagia atau lebih pasnya pacaran setelah menikah", kata sang mama tak mau kalah.
"Jimmy belum siap ma", kata Jimmy sambil berlalu meninggalkan mereka dan menuju kamarnya.
Tak lama Jimmy keluar kembali berpakaian lengkap dengan memakai jaket hitam kesayangannya.
"Mau kemana kamu?kita belum selesai", kata Liana pada anak sulungnya Jimmy.
"Mau nenangi diri dulu ma", kata Jimmy sambil berlalu.
"Gak sopan banget jadi anak, orang tua masih bicara dia pergi begitu saja", kata Liana ngedumel.
"Wina mau ke kamar juga ma, mau ngerjain PR", kata Wina.
"Ya sudah sana, selesai ngerjain PR langsung tidur ya", kata Liana pada Wina.
"Iya ma", jawab Wina sambil berlalu.
"Ma sebaiknya jangan memaksa Jimmy, biarkan dia menentukan pilihannya", kata Purnama sambil mendekat pada isterinya Liana.
Liana sangat terlihat di wajahnya kalau dia masih sangat kesal.
"Jangan mentang-mentang pengen nimang cucu, perasaan Jimmy di abaikan", kata Purnama.
"Pa, mukaku mau di letakkan di mana?Hanny pasti membenciku kalau perjodohan ini di batalkan", ucap Liana kesal.
"Gimana kalau kita percepat perjodohannya pa biar Jimmy tak dapat menolaknya lagi", kata Liana menatap sang suami.
"Bicara dulu sama Jimmy ma, kamu mau kalau di hari perjodohannya dia menolak mentah-mentah di depan orang tuanya Prili", kata Purnama memberi pengertian pada sang istri.
"Papa juga sih gak respon, jadi Jimmy ngelunjak", kata Liana sedikit kesal.
"Udah kita lanjut nanti urusan Jimmy, sekarang urusan kita", kata Purnama seraya menggandeng tangan Liana menuju kamar mereka.
"Papa mau apa?", tanya Liana sambil mengikuti langkah suaminya.
Purnama mengajak Liana masuk ke dalam kamar, menutup dan mengunci pintunya. Tidak ada yang tahu apa yang di lakukan Purnama pada Liana. Hanya mereka berdua yang tahu.
*****
Sementara itu Jimmy menuju rumahnya Nina. Jimmy.mengetuk rumahnya Nina. Ibu Nina membukakan pintunya.
__ADS_1
"Eeh nak Jimmy, ayo masuk", kata ibunya Nina.
"Iya bu ma kasih", kata Jimmy seraya melangkahkan kakinya masuk ie dalam rumah.
"Silakan duduk, ibu panggilkan Nina dulu", kata ibunya Nina sambil menuju kamarnya Nina.
Ibunya Nina mengetuk pintu kamarnya Nina.
"Nin, ada nak Jimmy tuh", kata ibunya Nina.
Nina yang hampir memejamkan matanya terpaksa turun dari tempat tidurnya. Nina membuka pintu kamarnya.
"Ada nak Jimmy di depan, cepatan gih", kata sang Ibu samvil berlalu.
Nina masuk sebentar ke kamarnya, merapikan pakaian dan rambutnya yang berantakan. Setelah itu Nina menuju ruang tamu. Di lihatnya Jimmy sedang duduk memainkan ponselnya. Nina duduk di samping Jimmy.
"Koq gak ngasih tahu dulu kalau mau kemari",kata Nina.
"Emangnya gak boleh aku ke sini?", tanya Jimmy.
"Iya bukan gitu juga sih, cuma aku kan gak siap, gimana kalau aku lagi gak ada di rumah?repot juga urusannya kan", kata Nina.
"Justru itu aku suka, aku suka lihat kamu apa adanya, itu juga yang buat aku tertarik sama kamu, kamu jadi diri kamu sendiri", kata Jimmy seraya menggenggam tangan Nina.
Nina melepaskan genggaman tangan Jimmy.
"Kenapa?", tanya Jimmy.
"Gak kenapa-kenapa",kata Nina.
"Ijin sama ibu ya kita keluar sebentar", kata Jimmy pada Nina.
"Kau kemana?", tanya Nina malas.
"Cari angin saja, pikiranku lagi suntuk", kata Jimmy.
"Baiklah aku ganti baju dulu ya bentar", kata Nina.
Jimmy mengangguk.
Tak butuh waktu lama, Nina kembali ke depan Jimmy. Mereka berdua pergi setelah mengantongi ijin dari ibunya Nina.
.
.
Bantu vote, like dan komennya ya readers...
mampir juga ke:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1