Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Buat lagi yang banyak


__ADS_3

Prili perlahan membuka matanya. Langit-langit kamar menjadi pemandangan pertama yang di lihatnya. Prili memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


Jimmy yang tertidur menelungkupkan wajahnya di pinggir tempat tidur, terbangun saat merasakan ada pergerakan di dekatnya.


"Syukurlah akhirnya kamu siuman juga",ucap Jimmy setelah melihat Prili membuka matanya.


Prili memandang ke wajah Jimmy suaminya. Jimmy memegang tangan Prili untuk memberi rasa nyaman pada Prili.


"Kenapa kamu tidak meminta dokter untuk mempertahankan anak kita?", tanya Prili. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Dokter bilang hanya bisa menyelamatkan salah satu dari kalian dan mama ingin kamulah yang harus di selamatkan ", jelas Jimmy.


"Kamu tahu kan aku sangat menginginkan anak itu", kata Prili sambil terisak.


"Sudahlah yang penting kamu selamat. Andai aku bisa aku pingin kamu dan anak kita selamat. Aku juga sangat sedih kehilangan anak kita tapi apalah dayaku. Kamu selamat sudah membuatku sangat bersyukur. Sudahlah jangan bersedih lagi, yang lebih penting kesehatan kamu dulu ", kata Jimmy membujuk Prili.


Prili masih menangis. Jimmy mengelus rambut Prili. Menggenggam tangan Prili. Dia ingin memberi kehangatan hati pada Prili. Dia ingin Prili mau menerima kenyataan bahwa calon bayinya sudah tiada.


"Mungkin tuhan masih menunda untuk kita mempunyai anak, sabarlah. Kita masih banyak waktu", ujar Jimmy.


" Mungkin iya bagiku tidak bagi kamu. Nina sekarang lagi hamil dan kamu akan mempunyai anak dari dia, sedangkan aku?!kamu tak akan mengerti perasaan wanita yang kehilangan anaknya ", kata Prili kesal.


"Paham. Tapi mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa berbuat melebihi kuasa tuhan. Sudahlah kita nanti bisa buat lagi yang banyak", kata Jimmy sekenanya.


Prili menghapus air matanya. Kata-kata Jimmy mampu membuat tangis Prili sedikit mereda.


"Kamu bilang apa tadi? buat lagi yang banyak?apa itu artinya kamu tidak akan meninggalkan aku?", tanya Prili beruntun.


"Yang mau ninggalin kamu siapa?", Jimmy balik nanya.


Prili berusaha untuk bangun. Jimmy membantu Prili untuk duduk. Setelah merasa pas dan nyaman, Prili melanjutkan bicaranya.


"Kamu yakin tidak akan meninggalkan aku karena aku belum bisa memberimu anak!?",ucap Prili sanksi.


"Kamu ini ngomong apa sih?iya nggak lah. Kamu mau anak berapa pun nanti kita bikin lagi, yang banyak!", kata Jimmy penuh penekanan.


Prili memeluk Jimmy. Jimmy mengelus punggung Prili untuk menenangkan hati isterinya tersebut.


"Istirahatlah, kamu masih butuh banyak istirahat. Jangan banyak gerak dulu. Kamu mau makan apa?", tanya Jimmy seraya melepaskan pelukan Prili.


Prili menggeleng. Jimmy mengambil air minum.


"Minumlah kamu pasti haus", kata Jimmy.

__ADS_1


Prili meminum air tersebut walaupun cuma sedikit.


"Sekarang berbaringlah",pinta Jimmy.


Prili menurut saja saat Jimmy membantunya untuk kembali berbaring. Jimmy membetulkan selimut Prili. Tiba-tiba pintu ruangan Prili terbuka. Jimmy dan Prili refleks melihat ke arah pintu.


"Kebiasaan amat masuk gak ketok pintu terlebih dahulu", ujar Jimmy.


"Kan mau cepat mas bro",ucap sang tamu sambil nyengir.


"Koq tahu kami disini?", tanya Jimmy penasaran.


"Tadinya aku nelpon nanya kabar kamu tapi yang angkat adalah Nina, ternyata kamu gak bawa ponselnya. Ini ponsel kamu di bawain oleh Nina beserta pakaian dan juga makanan. Katanya kamu belum makan dari tadi siang", jawabnya.


Jimmy menerima ponsel dan juga tas berisi pakaian dan juga makanan tersebut. Prili menunjukkan wajah tidak suka ketika nama Nina di bawa-bawa.


"Kamu bawa apa buat aku Sel?", tanya Prili mengalihkan pokok pembicaraan.


"Oh iya lupa ini ada roti paling enak sekota ini, pokoknya bikin nagih deh", jawab Marsel dengan candaannya seraya menyerahkan kantong plastik yang berisikan roti dengan berbagai varian.


"Terima kasih ya. Baik banget", kata Prili seperti tak ikhlas.


Marsel hanya mengangguk. Marsel ingin menanyakan kronologi kejadian jatuhnya Prili. Tapi ketika melihat Prili seperti tak menyukainya, Marsel mengalihkan arah pembicaraan.


"Oh iya bro sebenarnya aku juga mau kasih tahu bahwa minggu depan acara kita akan di langsungkan", kata Marsel pada Jimmy.


"Acara apa maksudnya?", tanya Jimmy belum nyambung.


"Aku dan Sofi", kata Marsel sedikit malu.


"Ohhhh. Akhirnya...selamat ya bro", kata Jimmy bersemangat.


"Ucapan selamatnya simpan dulu, kan belum ijab kobulnya", jawab Marsel.


"Iya sih tapi setidaknya kamu telah berani melangkah untuk nyusul kami. Jadi harus ucapin selamat juga", kata Jimmy.


Marsel terkekeh. Wajahnya sedikit bersemu merah.


"Doakan semoga kami cepat keluar dari rumah sakit ini, jadi bisa datang acara kamu nanti", ujar Jimmy.


"Iya pasti itu. Oh iya kalau gak salah tadi Nina juga nitip obat kamu. Makan dan minum obatnya biar acaraku nanti kamu sehat dan fit", kata Marsel lagi.


Marsel terus bicara tanpa melihat reaksi Prili.

__ADS_1


"Nina sangat memperhatikan kesehatan kamu, hargai perhatian orang. Jaga kesehatan diri itu sangat penting, jadi jangan anggap enteng masalah kesehatan. Jaga sehat sebelum sakit. Makan yang teratur, istirahat yang cukup, pola tidur harus di jaga", nasihat Marsel.


"Kamu koq malah nasihati aku, kamu itu juga harus jaga kesehatan karena bentar lagi akan jadi raja sehari. Sehari penuh lho itu. Jadi harus berstamina. Minum vitamin. Dan yang penting minum jamu jossnya jangan lupa di MP nya nanti", jelas Jimmy.


"Eehh kalian malah sibuk berdua. Aku tak di anggap. Yang sakit tak di hiraukan", protes Prili.


Jimmy dan Marsel saling pandang. Marsel terkekeh sedangkan Jimmy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bukan tak di hiraukan, cuma karena memang ini urusan laki-laki jadi kamu pura-pura tidak tahu ajalah", kata Jimmy pada Prili.


"Kami ngobrol di luar aja ya, biar kamu tak terganggu. Kamu istirahat saja dulu. Kalau perlu apa-apa panggil saja. Kami duduk di depan samping pintu", ucap Jimmy pada Prili.


Prili terpaksa mengangguk. Karena Jimmy kalau sudah bertemu Marsel pasti ceritanya banyak dan panjang. Jimmy dan Marsel keluar dari ruangan tersebut.


Jimmy dan Marsel asik bercerita. Dari urusan nikah sampai urusan kantor. Banyak hal yang mereka bahas.


Tanpa terasa sudah dua jam lebih mereka mengobrol. Prili yang berharap obrolan keduanya berakhir, harus rela menunggu. Dan karena efek obat masih ada dalam tubuhnya akhirnya Prili kembali tertidur dalam penantian.


Wibowo datang bersama isterinya Hanny. Jimmy dan Marsel tegak dari tempat duduknya ketika melihat kedatangan keduanya.


"Ma Pa silakan masuk", kata Jimmy.


Wibowo dan Hanny masuk di iringi Jimmy dan Marsel.


"Dia masih belum siuman ya Jim?", tanya Hanny mama mertuanya.


"Sudah Ma, tapi ini tidur lagi. Sepertinya pengaruh obat biusnya masih ada", jawab Jimmy.


"Ya udah biarkan saja Ma, mama duduk di sofa aja. Kami bertiga ngobrol di luar saja. Ayo kita di luar aja ngobrolnya", ajak pak Wibowo pada Marsel dan Jimmy.


Mama Hanny duduk di sofa yang ada dalam ruangan tersebut.


.


.


.


Maaf ya readersku baru update lagi...


Jangan lupa like dan komentarnya ya.


Salam bahagia selalu. Semoga kita selalu di beri kesehatan. Aamiin ya rabbal alamin.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya ya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2